Eshajori

“Aku ingin bertanya tentang kekasihku dan hubungan kami di masa depan.” tanya gadis muda itu malu-malu.
Bau besi berkarat menerpa hidungku seketika. Aroma kebohongan-kebohongan.
” Aku tak menyukai kekasihmu,” bisikku seketika.
“Mengapa?” Ia menuntut penuh selidik menatap tumpukan kartu yang kugenggam.
Kartu itu bahkan belum kuacak.
Aku menarik napas sebentar dan mulai mengacak.
“Siapa namanya?” tanyaku seiring gerakan tanganku.
Wajahnya tampak ragu-ragu.
“Jangan kuatir. Aku akan melupakan nama-nama begitu sesi ini berakhir.”
Ia akhirnya menyebutkan sebuah nama. Aku mengulang nama itu di kepalaku, bau amis karat  semakin tajam dan membuatku mual.
“Karena ini.”
Kutunjukkan kartu yang baru saja kutarik. Kartu bergambar Justice terbalik ke hadapannya.
“Semua orang dekatku tak menyukainya.” keluhnya.
“Well, tampaknya aku bersepakat dengan mereka dalam hal ini.”
Sebuah kisah cinta yang impulsif rumit meluncur tak terbendung sesudahnya. Aku menyimak dengan tenang.
“Eh, ngomong-ngomong kartu itu apa artinya?” wajahnya sedikit memerah oleh rasa sungkan sebab memotong giliranku berbicara.
Aku tersenyum.
“Kau sudah menjelaskan sendiri melalui ceritamu barusan.”
“Oh maafkan aku. Aku tidak bermaksud tidak sopan.” Wajahnya semakin merah.
Aku tertawa kecil.
“Kau bukan tidak sopan. Manusia memang begitu, seringkali mereka sudah tahu jawabannya. Hanya ingin mendengarnya dari orang lain. Saat jawaban itu pedih, seakan orang lain yang memaksa mereka menerima kepedihan itu. Manusia tidak ingin disalahkan oleh kepedihan yang memang harus mereka tanggung.”
Gadis di depanku membulatkan matanya.
“Aku baru tahu manusia begitu pengecut.”
Aku mengedikkan bahu.
“Ada pertanyaan lain?” tanyaku lagi. Aku mulai lelah. Sudah hampir tiga jam sesi ini berlangsung.
“Tidak ada. Terimakasih. Aku senang kita bertemu.” jawabnya manis sekali. Gadis ini baik dan murni.
“Sama-sama.”

Kutatap punggungnya yang menghilang bersamaan dengan bel pintu yang berdenting. Sebentar lagi program penghapusan memori mulai bekerja di kepalaku. Menghapus nama-nama orang dan tempat yang datang padaku pada setiap sesi.

Sengaja aku mengaturnya demikian. Siapa yang sanggup membawa ingatan-ingatan milik orang lain sepanjang hidupnya?

Sejauh ini pengaturan itu berjalan baik. Bahkan mungkin terlalu lancar. Belakangan aku mulai melupakan nama-nama yang tadinya kuanggap penting. Namun di lain pihak ingatanku akan peristiwa semakin menguat dan detil.

Aku mengingat desir di punggungku saat pertama kali lelaki itu menatap mataku.
Aku mengingat udara yang manis dan lembut saat pesan-pesannya tiba.
Aku mengingat setiap kerut  di wajahnya yang bergerak ketika berkata aku tampak bagus dengan rambutku yang panjang. Bagus, bukan cantik. Toh tetap membuatku tersipu canggung sesudahnya.

Tanganku kini bergerak ingin mengabarkan tentang rambutku yang kini memendek sebahu.
Untuk apa?
Kepalaku bertanya. Sengit.
Aku tak bisa menjawab, malah mengulang pertanyaannya dalam hati. Untuk apa?
Tak ada yang menyahut.
Rasanya aku kini memasuki ruang kedap suara.
Mataku semakin lama semakin berat. Tarikan napasku semakin teratur.

Hai, hari ini aku memendekkan rambutku.

Akhirnya kuketikkan juga kalimat itu.
Di udara.

Eshajori ~ People meet, always part.

Photo by Alexandre Perotto on Unsplash

Yang Dikabarkan Hujan

Lika bertemu lelaki itu di sebuah kedai kopi yang ia lupa namanya. Saat itu hujan turun dengan deras di tengah cuaca yang sedang cerah-cerahnya. Ia yang tengah melenggang santai menyusuri trotoar menikmati deretan toko tua terpaksa berlari menghindar. Lika hampir berlari menyeberangi persimpangan untuk berteduh di emper sebuah toko yang tutup bersama sekumpulan orang-orang, kalau saja kalimat ‘kedai kopi’ yang tercetak di jendela kaca itu tak tertangkap ekor matanya. Dan dirinya berbalik, membuka pintu yang berdenting. Disambut aroma kopi yang menguar hatinya seketika menghangat. Itu sebabnya ia mencintai kopi. Tak peduli apapun yang tengah ia hadapi atau bagaimanapun suasana hatinya, segelas kopi selalu bisa membuatnya tenang.

Coffee is a hug in a mug. Lika tertawa kecil membaca hiasan yang tergantung di langit-langit kedai kopi itu. Ya, persis seperti itu. Kopi selalu bisa mengerti.

Akhirnya Lika memilih duduk di satu-satunya meja kosong yang tersisa. Ruangan kedai kopi itu tidak sempit meski juga tidak bisa dikatakan luas. Namun saat ini meja-meja yang seharusnya diisi oleh dua atau tiga orang hanya diduduki oleh satu orang saja. Mungkin kedai kopi ini tempat berkumpulnya para kesepian, pikirnya. Atau mungkin hujan yang turun tiba-tiba yang akhirnya memaksa untuk berteduh kemari, seperti dirinya. Lika memandang ke luar jendela, hujan masih turun dan cuaca masih cerah.

“Hujan yang turun di tengah cuaca cerah adalah pertanda yang tidak baik.” Begitu kata Pak Yosef, guru matematika-nya semasa masih bocah SD dulu. Lelaki keturunan Dayak itu memanggilnya masuk saat hujan turun di tengah sore yang cerah seperti sekarang.

“Pertanda yang tidak baik itu seperti apa?” Ia balik bertanya.

“Seperti pesan langit pembawa kabar yang akan membuat hatimu bersedih.” Gurunya menjawab sambil tersenyum dan mengusap rambut Lika. Lelaki-lelaki Dayak berhati lembut. Lika mengangguk. Tak sepenuhnya mengerti, tapi mata coklat teduh milik Gurunya menenangkan isi kepalanya. Hingga ia sangat yakin meski mengabarkan kesedihan, hujan yang turun di tengah cuaca cerah tak akan menyakitinya.

Pintu berdenting sekali lagi. Seorang lelaki dan perempuan yang bisa jadi adalah kekasihnya masuk sambil tertawa-tawa. Meja di hadapan Lika rupanya telah kosong. Mereka berdua segera menempatinya tanpa punya pilihan lain. Tak lama keduanya telah menentukan pesanan.

“Aku coklat panas saja.” Putus si wanita. Lelaki itu mengangguk dan mengulangi pesanan mereka berdua. Pelayan berbalik dan meninggalkan mereka kembali dengan percakapan-percakapan yang sepertinya menyenangkan. Lika menangkapnya dari sorot mata yang dipancarkan lelaki itu. Sesekali bibir lelaki itu tertarik mengembang dan bahu kurusnya berguncang karena tawa. Lika ikut tersenyum melihatnya. Entah mengapa. Ia suka melihat cara lelaki itu tertawa.

Lika tak tahu berapa lama ia tenggelam dalam novel yang sengaja ia bawa untuk dibaca sewaktu-waktu. Sore telah beranjak menuju senja sementara hujan telah benar-benar berhenti. Lika memasukkan kembali novelnya ke dalam tas, menyesap sisa kopinya yang dingin dan siap beranjak. Ketika sebuah kesedihan menahannya pergi. Lika meletakkan kembali pantatnya ke kursi. Pasangan di depannya kini terlibat pembicaraan yang serius. Raut lelaki itu tegang. Rahangnya terkatup rapat, senyumnya menguap entah kemana. Mungkin lenyap bersama hujan yang tadi berhenti tanpa sepengetahuan Lika. Gadisnya pasti tak kalah tegang. Lika melihat tangannya terus bergerak seolah menandaskan sesuatu. Kursi yang didudukinya bergeser, perempuan itu beranjak dan berlalu dengan gegas. Lelakinya membuang wajah ke jendela. Dan Lika merasakan kesedihan lagi-lagi menombak jantungnya. Perih.

Kejar. Lika berucap dalam hati.

Demi Aphrodite, kejar!

Lika merasa perlu menyebut nama Dewi Asmara itu. Berharap berkahnya bisa melunakkan hati lelaki keras kepala yang duduk di seberang mejanya. Tapi lelaki itu masih bergeming menatap ke luar jendela sampai sepuluh menit berikutnya. Jalanan mulai terang oleh lampu-lampu. Trotoar kembali ramai oleh lalu lalang. Lika menghela napas. Ia menyentuh dadanya yang masih terasa mampat.

 

Loving can hurt

Loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

 

Pintu kedai kembali berdenting-denting. Sepasang demi sepasang masuk dengan senyum. Dengan tawa. Dengan cinta. Membawa kelebat-kelebat merah jambu yang membuat bibir Lika kembali tersenyum. Kali ini ia benar-benar harus pergi. Lika pelan-pelan menggeser kursinya dan lelaki di depannya menoleh. Mereka bertatapan. Pikiran lelaki itu tak benar-benar terpusat padanya namun Lika merasa waktu miliknya berhenti sesaat. Ia memperhatikan raut lelaki di depannya dengan cermat. Pada rambut ikalnya yang berantakan, sepasang alis yang bertaut juga sorot kesepian yang menatapnya dalam. Lika bisa melihat kilas merah jambu membias dari tubuhnya sendiri dan merasakan kesedihan milik lelaki itu sekaligus. Memunculkan rasa yang aneh di tenggorokan Lika. Mirip syrup obat batuk yang kerap diberikan ibu saat ia masih kanak-kanak. Manis yang pahit atau pahit yang manis? Entahlah.

Mereka masih bertatapan. Lika menghadiahinya senyuman manis yang ringan. Seringan kecupan di kening. Untuk lelaki itu sebelum ia beranjak pergi.

 

So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans

Holding me closer ‘til our eyes meet

You won’t ever be alone wait for me to come home.

 

Pintu kedai berdenting lagi saat Lika melangkah keluar kedai dan meninggalkan lelaki itu bersama kesedihan yang memerihkan dadanya. Tak akan ada yang benar-benar bisa menyakitimu, Sayang. Bahkan juga kesedihan yang dikabarkan hujan yang turun tiba-tiba pada cuaca cerah. Lika berbisik lamat-lamat sementara kakinya terus melangkah lincah melewati genangan-genangan sisa hujan.

 

Loving can heal

Loving can mend your soul

And it’s the only thing that I know.

 

Lyric : Photograph by Ed Sheeran.

 

Credit:

https://stocksnap.io/photo/7K97QSBRNI

 

Ingatan Pukul Empat Pagi

Telah diunggah di http://www.tamanfiksi.com

 

Aku tahu beberapa ruh masa lalu memang tak pernah bisa benar-benar berdamai dengan takdir kehidupan. Sesekali mereka menyelinap menembus gerbang waktu untuk sekedar melampiaskan yang tertinggal. Amarah, kecemburuan, kesedihan pun juga kepahitan.

Aku tak pernah terkejut jika mereka tiba-tiba saja muncul di hadapanku hanya dengan suara letupan ringan mirip gabus penutup anggur yang terbuka. Dengan tubuh berdarah-darah akibat luka menganga dan sebilah pedang milikku yang masih menancap di dalamnya sembari melontarkan sumpah serapah. Atau terusik dengan serombongan hantu-hantu perempuan yang bergosip dengan suara nyaring seraya menatap dengan api kecemburuan. Percayalah, jangan pernah menyepelekan kecemburuan perempuan. Mereka rela bergentayangan untuk sekedar menghantuimu. Berharap melihatmu menangis tersedu ketakutan dan mengiba-iba meminta maaf. Sial bagi rombongan perempuan bergaun penuh renda itu, mereka tak akan mendapatkan hal itu dariku meski ratusan tahun menghantui.

Ruh-ruh yang menderita itu biasanya mengunjungiku pada kesunyian-kesunyian yang melelapkan sebagian besar manusia. Sesekali mereka berusaha memegahkan diri dengan mengirimkan aroma yang mereka sukai melalui angin yang hembusannya terlalu dingin sebagai penanda. Aku sebagai pihak yang menjadi sumber kekesalan sekaligus nasib buruk mereka, tentu memahami keinginan ini. Tak ada salahnya menyenangkan mereka yang telah mati. Terlebih bila semasa hidup mereka, kau adalah sosok yang mereka benci. Begitulah pikiranku dulu. Jadi kusiapkan dupa-dupa terbaik untuk menyambut dan kudaraskan mantra dengan segenap kasih sayang. Namun yang terjadi malah sebuah lingkaran besar berwarna merah muda keemasan bersinar mengelilingi melindungiku. Ruh-ruh masa lalu tertahan di sisi luarnya. Tak bisa mendekati, mereka lantas memandangku tajam sebelum membalikkan punggung tanpa suara. Mereka kesal dan aku iba.

Berikutnya kubiarkan saja mereka datang sesukanya tanpa sambutan ini dan itu. Kuijinkan mereka berteriak mencaci maki atau bergosip mencela penampilanku dengan suara yang mengalahkan dengung koloni lebah. Sampai mereka sendiri yang memutuskan meninggalkanku dengan perasaan puas dan lega. Begitulah caraku ‘meminta maaf’ pada mereka.

Tapi dini hari kali ini terasa sedikit asing dan membuatku gelisah.  Udaranya tak mengabarkan kedatangan ruh-ruh masa lalu, namun aku mencium wangi apak ingatan dari masa yang entah. Kuputuskan untuk mengunjungi tendaku di arena Gigir Perigi. Di sana aku bisa lebih tenang menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Aku menyelinap di antara tenda-tenda yang masih tertutup rapat. Saat ini nyaris seluruh penghuni Gigir Perigi terlelap tak menyadari apapun. Nyaris, karena satu dua penghuninya terlihat melintas sesekali. Aku kadang berpapasan dengan mereka namun lebih sering melihat dari kejauhan. Jika kalian menjalani ratusan bahkan mungkin ribuan episode kehidupan dengan mata, isi kepala dan perasaan yang sama, kalian pasti mengerti. Menjaga jarak dengan orang lain adalah hal yang harus dilakukan. Mereka yang bisa tahu dan mengerti benar apa itu “keabadian” sungguh bisa dihitung dengan jari. Satu di antaranya adalah Bejo, Pemilik GigirPerigi.

Aku melihatnya pertama kali di sebuah bangku panjang sebuah taman. Memandang lurus ke depan, menikmati senja yang kemerahan. Begitu tenang, begitu hening. Isi kepalanya tak terbaca olehku. Ia tenggelam dalam kebersamaan bersama jiwa istrinya yang duduk tak kalah tenang di sampingnya. Hanya mereka berdua.

Tak ingin mengganggu, aku memilih berdiri di samping bangku panjang menanti sampai Bejo dan istrinya menuntaskan perjumpaan.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” ujarnya pada akhirnya. Bejo menoleh ke padaku dan tersenyum begitu pun istrinya. Aku mengangguk dan membalas senyum Istri Bejo sebelum akhirnya perempuan itu perlahan memudar dan menghilang.

Aku kemudian duduk di samping Bejo.

“Tidak terlalu lama,” jawabku. Buatku waktu tak pernah benar-benar memberikan perbedaan.

Awal percakapan yang aneh untuk orang-orang yang tak pernah berjumpa sebelumnya. Tapi untuk beberapa orang termasuk aku dan Bejo, itu adalah hal yang biasa. Kami bisa saling mengenali dengan cepat. Pintu ingatan di kepala kami tak pernah benar-benar tertutup rapat. Sesekali ingatan-ingatan lampau menyelinap pelan atau melesat cepat  membuat tumbukan besar pada sel-sel syaraf yang menciptakan denyar-denyar hebat di kepala.

“Aku tak terlalu jelas mengingat, tapi rasa-rasanya penampilanmu tak berubah banyak.” Bejo menatapku keheranan. Kerut-kerut di dahinya bertambah.

“Aku memang tak berubah. Tak pernah berubah,” jawabku dengan tenang.

“Jangan bilang legenda itu benar. Astaga! Lalu, siapa namamu kali ini?”

Aku tertawa melihat ekspresi Bejo saat itu. Antara takjub, tak percaya sekaligus ngeri. Ekspresi matanya masih sama seperti yang kukenal beratus silam.

“Legenda jika kau tak pernah melihatnya. Namun jika dia ada di depan matamu, kau percaya atau tidak tentu kau sendiri yang memutuskan. Namaku, Milam.”

“Aku, eh… maksudku, namaku…,”

“Bejo.” Aku menukas menyebut namanya.

Bejo tergelak.

“Kau mengerikan.”

“Aku tahu.” Aku menjawab dengan cengiran lebar.

Detik berikutnya kami tenggelam dalam percakapan tentang impian Bejo akan Pasar Malam keliling. Tentang menemukan kembali mereka yang pernah berada dalam matriks kehidupan Bejo di masa lampau. Sore itu juga aku menyatakan diri untuk bergabung. Dalam perjalanan waktu, Bejo berhasil mengumpulkan mereka yang dicarinya dan menamai kumpulan ini dengan Gigir Perigi.

Jadi, sekarang kau pasti lebih paham alasanku enggan berakrab-akrab. Selain karena aku telah mengetahui sejarah ujung rambut sampai ujung kaki seluruh penghuni Gigir Perigi, ada hal yang lebih penting dari segalanya. Karena tak ada yang benar-benar mengerti dan kuat menanggung arti keabadian.

Aku melintasi tenda lumba-lumba. Kudengar kecipak air yang tak biasa. Suara nyanyian Namira menenangkan kawan-kawannya itu sayup-sayup sampai di telinga. Sesekali gadis itu membujuk dengan nada suaranya yang manis. Cam dan Bria tengah gelisah, terlalu gelisah hingga Namira, gadis laut yang nyaris tak pernah berbicara itu terpaksa bersenandung. Aku mengerti kegelisahan Lumba-lumba milik Namira itu. Aku pun merasakan hal yang sama.

Aku kembali meneruskan langkah, kali ini lebih cepat. Sampai tak sengaja aku menyenggol kumparan berbulu yang tengah meringkuk. Oreo, kucing itu menegakkan diri dengan cepat dan kesal. Namun setelah mata kami bertatapan ia mengeluarkan dengkur yang manja.

Tidak. Tidak malam ini Oreo.

Aku berbicara pada matanya.

Tidakkah kau sadar, malam ini terasa aneh? Oh kucing malas, kau sudah terlalu lama tak berlatih! Cam dan Bria bahkan jauh lebih baik darimu saat ini.

Kata-kataku mungkin terlalu pedas. Oreo mengeong pelan dan membuang muka. Berbalik memunggungi dan melesat menghilang meninggalkanku sedetik kemudian. Entah karena sakit hati atau rasa malu. Aku tak ambil pusing. Ada hal yang lebih penting yang akan terjadi padaku dan mungkin juga Gigir Perigi.

Wangi sisa aroma dupa yang tertinggal menyambutku begitu aku menyibak tenda yang berwarna marun dengan bahan serupa beledu.

“Bahan sebagus ini kau jadikan tenda?” Bejo mengusap-usap gulungan bahan yang kuberikan padanya untuk dijahit sebagai tenda saat  dulu kami hendak memulai perjalanan Gigir Perigi yang pertama.

“Hei, kau akan membawaku berkeliling keluar dari rumahku yang nyaman. Maka hal pertama yang ingin kupastikan tentu adalah tenda dan karavan yang layak untuk kutinggali.” Aku bersikeras.

“Lagipula aku memiliki beberapa bahan serupa di gudang bawah tanahku. Kalau mau kau boleh mengambilnya satu. Tak ada yang bisa mengalahkan Bangsa Mongol dalam keindahan tekstil,” ujarku penuh perasaan.

“Mereka bangsa yang besar dan kuat. Menyebar menginvasi segala arah dengan megah.” Bejo membentangkan gulungan bahan yang kubawa. Mengukurnya dengan seksama.

“Namun sejarah tak pernah hitam putih. Selalu ada penderitaan di balik kemegahan. Persis seperti bisul-bisul yang disembunyikan para Kaisar di balik jubah agung mereka. Borok-borok yang tak pernah mereka sadari kelak akan terlahir kembali untuk menanggung yang telah ditutupi.”

Bejo mengakhiri kalimatnya yang panjang dengan satu helaan napas berat. Pandangannya menarawang menatap satu titik. Aku mengikuti arah mata Bejo.  Kulihat tubuh raksasa Igor di kejauhan. Pada DNA-nya rahasia-rahasia kelam leluhurnya tersimpan.

Aku duduk diam beberapa saat lamanya di tendaku. Mencoba menyelaraskan diri dengan sekitar. Mencoba mencari  tanda-tanda.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Sebuah guci kecil berwarna merah dengan lukisan bunga peony bergoyang pelan. Guci itu milik seorang selir Maharaja Tiongkok yang gantung diri entah oleh sebab apa. Sebagai benda kesayangan, guci merah peony itu dikubur bersama jasad sang putri. Sebuah banjir besar terjadi bertahun kemudian, makam yang kurang kuat dibuat itu menjadi rusak dan mudah dibongkar. Kemiskinan yang akhirnya mendorong para perampok makam merajalela.

Sang Putri mendatangiku pada suatu malam, menangisi guci merah peony miliknya. Esoknya kuperintahkan pelayan-pelayanku mencari guci yang kugambar dengan terkantuk-kantuk dengan sosok yang tak berhenti menangis di sampingku di malam sebelumnya.

Guci merah peony itu bergoyang lagi. Mengeluarkan desir udara yang hanya bisa didengar dan dimengerti olehku.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Guci merah peony itu mengulang keluhan yang sama. Lirih dan sarat kesedihan.

Aku mengabaikannya. Kubiarkan ia mengulangnya terus-menerus di sudut tenda.

Wangi apak ingatan semakin kuat berkumpul di ujung hidung. Kali ini bercampur dengan aroma anyir yang tajam. Darah. Kepalaku mendadak terasa berat. Denyar-denyar berdentam semakin hebat di kepala. Sebuah ingatan meluncur cepat siap mendobrak pintu yang selama ini kugembok dengan kuat. Aku menahan sebisaku. Aku tak ingin ingat. Tidak!

Ingatan itu masih berputar terus dan kuat. Seperti mata bor yang melubangi kepala. Tubuhku berguncang mulai tak terkendali. Punggungku mulai basah oleh keringat dingin. Dengan gemetar jari-jariku melepas simpul ikatan di leher dan membiarkan begitu saja jubah panjangku lolos jatuh ke tanah. Jantungku mulai terasa nyeri. Segumpal kesedihan dan rasa bersalah merangsek naik ke tenggorokan dan mencekikku di sana. Napasku tersengal.

Sebuah cahaya terang menyergap isi kepala. Pintu ingatanku terbuka sudah.

Sepasang mata kanak-kanak berwarna biru terang menatapku. Membelalak dan ketakutan.

Aku jatuh tersungkur.

“Pasar Malam ini seperti kumpulan orang-orang sakit, Bejo.” Aku menggeleng melihat daftar nama dan riwayat penghuni Gigir Perigi. Kusesap kopiku dengan putus asa.

Bejo tak menanggapi keluhanku. Ia masih terus mencorat-coret sesuatu di atas kertas.

“Lihat ini, Milam.” Ia menyorongkan kertasnya ke arahku. Penuh coretan anak panah ke sana ke mari dengan tulisan Paradoks dalam huruf kapital.

“Beginilah hidup yang kupahami. Sebagai satu kesatuan paradoks yang harmonis dan seimbang. Kamu benar, Gigir Perigi adalah sekumpulan orang-orang sakit. Orang-orang sakit yang berkumpul dengan satu tujuan. Menyembuhkan. Menyembuhkan diri sendiri dan orang-orang yang datang mengunjungi Gigir Perigi. Paradoks yang manis.” Bejo menatapku tajam.

Untuk pertama kalinya aku salah tingkah.

“Kau tidak akan bisa terus-terusan bersembunyi dan menolak kedatangannya, Milam.”

Aku tercekat. “Kau ingat?”

“Ingatan itu datang malam tadi.” Bejo merapikan kertas-kertasnya dengan tenang.

“Aku tidak menyangka dia ada di sana saat aku dengan tenang menancapkan belatiku di jantung perempuan itu.” Suaraku terdengar sedikit bergetar.

“Aku tahu. Kau hanya menjalankan tugasmu, Milam.”

“Tapi membunuh seorang perempuan di depan mata anaknya adalah perbuatan yang keji, Bejo!” Aku mulai tak terkendali.

“Milam, dalam ingatan itu aku melihatmu lagi. Saat kau masuk dengan mabuk. Meracau kesana-kemari tentang pekerjaanmu sebagai mata-mata yang berulangkali kau kutuk, perempuan yang kau bunuh dan anaknya yang memergoki kalian dan kau tinggalkan.” Bejo menyenderkan tubuh dan menatap mataku lekat-lekat. Matanya berkabut.

“Tak ada yang salah dengan tugasmu saat itu, Milam. Ratusan kelahiran lagi pun aku akan tetap mengatakan hal yang sama.”

Aku kembali menyesap kopi mencoba menenangkan diri. Ada banyak masa aku dan Bejo bersahabat baik. Dia mengenalku lebih baik dari beberapa orang di lingkaran dekatku.

“Tapi kali ini aku akan mengingatkanmu satu hal. Bukan pembunuhan itu yang mengejarmu. Tapi rasa bersalah karena meninggalkan bocah itu begitu saja di samping jasad ibunya. Kau meninggalkan yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.”

Kau meninggalkan apa yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.

Suara Bejo yang terngiang di telinga adalah hal pertama yang kudengar saat kesadaran mulai memanggil.

Tubuhku masih lembab oleh keringat. Jadi rasa-rasanya aku hanya beberapa menit kehilangan kesadaran. Sepasang mata yang membelalak ketakutan itu akan datang menemuiku hari ini. Hidupnya yang sarat kesedihan di setiap kelahiran dimulai saat aku membunuh ibunya di depan matanya. Menerimanya datang ke hadapanku pasti membuka borok rasa bersalah yang selama ini kusembunyikan baik-baik.

Aku takut.

Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari bibirku. Kupejamkan mata menahan seberkas bening yang akhirnya tak terbendung meluncur menuruni pipiku yang tak pernah tersentuh kerut. Aku mulai terisak dan lambat laun bahuku berguncang sesenggukan.

Membuka ingatan agar bisa menutupnya kembali dengan baik. Menemui untuk melepaskan. Hidup adalah kesatuan paradoks yang indah, Milam.

Suara Bejo kembali terdengar dibawa angin. Bocah dari masa silam, ia akan datang hari ini. Apapun yang akan terjadi harus kutemui pemilik sepasang mata yang pernah kutinggalkan itu dengan berani.  Agar tuntas segala yang tertinggal.

Credit Photo:

https://stocksnap.io/photo/J3AE9LEMN3

Ladang Bunga Matahari

Telah diunggah di http://www.inspirasi.co

 

 Ini Negeri Dongeng.

Satu-satunya tempat  Aku dan Kamu bisa bersama.

Atau setidaknya bisa saling bertukar tawa dengan leluasa.

Tempat aku dan  kamu bisa jadi segala.

“Pondokku ada di kaki bukit.”

Aku menunjuk bukit yang terlihat dari kejauhan. Matanya memicing mencoba melawan matahari mengikuti arah telunjukku.

“Kamu setiap hari datang kemari untuk berjualan susu?”

Aku mengangguk.

“Berjualan apa saja,” ralatku.

“Aku bisa menjual apa saja. Terkadang aku juga menjual bunga-bunga liar bahkan juga syal rajutanku.”

Ia menggeleng. Keningnya sedikit berkerut. Mungkin heran, mungkin juga tak setuju. Entahlah. Tapi yang jelas wajahnya jadi kelihatan sedikit terlalu serius. Aku menertawai tampang seriusnya.

“Anak perempuan seusiamu seharusnya tak tinggal sendirian di kaki bukit.”

Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh. Ah, rupanya benar. Ia sedang serius. Aku mulai memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kulit pipinya cerah bersemu kemerahan. Sepasang berwarna coklat madu  cemerlang yang kuyakini tak pernah sekalipun berkabut oleh sisa airmata. Rambut mengilat rapi. Bahkan kuku jemarinya pun dipotong bersih.

Aku buru-buru menggenggam milikku. Mengkhawatirkan sisa-sisa tanah yang mungkin tertinggal di kuku.

“Lalu kenapa kau sekarang ada di sini? Bukankah seharusnya kau berlatih pedang bersama anak-anak lelaki kaum ksatria lainnya?” Aku mencoba mengalihkan perhatianku sendiri.

Ia mengedikkan bahu. Sebuah cengiran lebar terkembang di wajahnya. Mata yang cemerlang itu semakin berkilau oleh kilatan nakal.

“Aku bosan. Aku ingin tahu apa rasanya berada di luar pada jam seharusnya aku berlatih.”

Dia menjawab sebelum menandaskan isi botol susu terakhirku.

“Kau mau pulang?”

Aku mengangguk. Menerima botol sekaligus kepingan koin yang ia sodorkan untukku sebagai bayaran sebotol susu.

“Boleh kutemani?”

Ia mengambil alih keranjang kayu berisi botol-botol susu kosong yang kujinjing. Bahkan sebelum aku sempat mengiyakan permintaannya.

Kami berjalan bersisian menyusuri pinggiran desa menuju ke lembah tempat pondokku berada.

Hari itu kami habiskan bersama dengan riang. Kami bercerita tentang apa saja. Cerita kami mengalir di sela-sela tawa dan sesekali tiupan seruling rumput yang ia buat. Mungkin hanya perasaanku saja tapi sepertinya hari itu matahari terlalu cepat bergulir ke barat.

Warna jingga pekat menghiasi puncak bukit saat ia beranjak dengan wajah enggan.

“Terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini, eng… siapa namamu?”

Ia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Mungkin merasa bersalah karena tak menanyakan namaku sebelumnya.

“Aimee.”

Aku menyebutkan namaku dengan malu-malu. Tersipu tanpa alasan yang jelas.

“Panggil aku, Kato. Nah, Aimee sampai jumpa lagi.”

Ia mengecup pipiku ringan sebelum meninggalkan pondok. Aku memandang punggungnya dan menyadari satu hal. Saat bertemu orang yang tepat, kau akan merasakan pada detik pertama kalian bersama. Bahkan sebelum kau mengetahui namanya.

Aku dan Kato semakin sering bertemu di hari-hari selanjutnya, di bulan-bulan berikutnya juga di tahun-tahun berikutnya.

“Waktu yang cukup lama.”

Aku menjawab pertanyannya tentang waktu kebersamaan kami sambil menyisiri rambut panjangku yang terurai sepinggang. Dalam tradisi kami, seorang gadis pantang menguraikan rambutnya di depan lelaki. Tapi beberapa waktu lalu, Kato tak hanya melihat rambutku. Ia bahkan telah menyusuri setiap lekukan yang kumiliki.

“Kau mengukurnya dengan panjang rambutmu?”

Kato menatapku dengan geli.  Aku mengangguk dan tersenyum.

“Bagaimana jika kita bersama dalam hitungan tak terbatas?”

Matanya kini penuh rasa ingin tahu.

“Akan kupintal jaring dari rambutku. Mungkin aku akan jadi Perempuan Laba-laba.”

Kato tertawa lepas mendengar jawabanku. Ia menatapku lekat-lekat. Aku yakin sekali pipiku kini berubah warna. Ada semburat rasa hangat yang melintas.

“Tak ada yang lebih bercahaya selain dirimu, Aimee.”

Langit mendadak gelap usai Kato berbisik. Begitu gelap hingga kami merasa takut dan dengan tergesa mengenakan pakaian.

Di tengah desa orang-orang sudah berkerumun. Melingkar mengelilingi  Nami, tetua di desa kami. Aku dan Kato berada di antara kerumunan. Tapi kami tak bersama. Kato berada di sana, bersama keluarga-keluarga berdarah ksatria. Sementara aku, Aimee si gadis desa berdiri di sisi lain bersama kaumku.

Nami duduk dengan takzim dengan memejamkan mata. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra-mantra yang aneh bunyinya. Genderang ditabuhkan mengikuti irama mantra Nami.

Aku menatapnya tak berkedip. Tanpa kusadari pikiranku menelusup masuk mendatangi Nami yang merasuk perlahan padaku.

“Aimee…,”

Suara tua milik Nami memanggilku di kepala. Aku menyahut panggilannya tanpa bersuara.

“Seharusnya kau tak boleh jatuh cinta sepanjang usiamu, Nak. Matahari akan cemburu. Lihatlah kulitmu yang berkilauan. Rambut panjangmu yang keemasan. Cinta membuatmu begitu cantik hingga Matahari mencemburuimu, Aimee.”

Matahari cemburu padamu.

Suara Nami bergema berulang-ulang di kepalaku. Menggasing seperti putaran angin yang mengamuk. Kepalaku berdenyar semakin cepat. Sementara telingaku menangkap irama tetabuhan yang semakin liar dan menghentak. Aku mendengar suara Nami di mana-mana. Udara mendadak terasa berat. Keringat dingin melengketkan rambut dan punggungku. Persendianku melunglai, aku ambruk ke tanah. Samar-samar aku menangkap suara Nami sesaat sebelum kegelapan memerangkap.

”Korbankan gadis itu pada Dewi Matahari!”

Pasti bukan aku yang ia maksud.

Saat aku membuka mata, aku telah berada dalam pondok Nami. Wangi udara pondok Nami sungguh mistis. Aroma  yang berasal dari aneka macam herbal kering yang digantung di langit-langit. Bercampur dengan asap dupa yang menguar kuat. Perempuan-perempuan tetua pasti telah mengganti pakaianku. Gaun panjang abu-abu katun kasar yang biasa kukenakan telah berganti dengan sutra muslin. Gaun yang khusus dikenakan oleh para gadis persembahan. Bergemerisik halus saat aku berusaha bangun dari lempeng batu yang halus dan dingin. Tempat tidur milik Nami.

Nami menoleh ke arahku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu kembali menekuri kuali berisi ramuan yang meletup-meletup di depannya.

“Kapan?”

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirku setelah beberapa saat keheningan tercipta di antara aku dan Nami.

Kepalaku masih sedikit berdenyut. Nami menyorongkan mangkuk batu berisi air yang ia tuang dari kendi dengan galur emas untuk merekatkan retakkannya. Aku menerima dan segera menandaskan air dari mangkuk batu itu. Rasa dingin yang menyegarkan menjalar dari kerongkongan ke syaraf-syaraf di kepala.

Nami duduk di bangku kayu berhadapan denganku.

“Kapan saatnya, Nami?”

Aku mengulangi pertanyaanku.

“Tiga hari dari sekarang.”

Aku menatap wajah Nami yang penuh kerut dan mencari rasa iba dari mata abu-abunya. Tapi kedua mata itu berkabut. Terlalu misterius untuk bisa kutebak. Raut wajahnya tenang tak menciptakan riak perasaan apapun. Aku menghela napas dengan berat. Pasrah.

Suara derap dan ringkik kuda terdengar dari luar pondok Nami membuyarkan keheningan kami. Perempuan tua itu bergegas ke luar.

“Berkati aku, Nami!”

Suara Kato! Aku menajamkan telinga.

“Kau akan pergi ke kuil?”

“Ya. Aku akan ke sana dan memasuki labirin rahasia untuk menemui Dewi Matahari.” Kato berkata lantang dan tegas.

“Tak seorang pun bisa memasuki labirin rahasia meskipun ia Putra Tahta Matahari.”

Suara Nami terdengar datar. Ia pasti memiliki ketenangan yang dalamnya tak terukur. Seperti kedalaman sungai kehidupan yang airnya baru saja kuminum.

“Tak seorang pun boleh merebut Aimee dariku, Nami!”

Jantungku berdentam. Dadaku sesak mampat oleh rasa cinta. Pipiku mulai lembab karena aliran air mata.

“Kalau begitu kau boleh pergi tanpa restuku.”

Nami bergeming.

Pintu pondok terbuka. Nami kembali masuk dan kembali sibuk menyibukkan diri pada ramuannya. Tak menghiraukan tatapanku yang mengejarnya dengan rasa panik. Di luar derap kasar dan ringkik kuda menjauhi pondok.

“Kita tak punya banyak waktu.”

Nami menggunting ujung rambutku. Menaburkan serbuk perak di atasnya dan menghujaninya dengan nyanyian mantra-mantra semalaman.

Pagi hari berikutnya aku melihat perempuan tua itu masih menggumamkan mantra dengan mata terpejam. Namun sebuah jaring-jaring laba-laba yang halus dan berwarna perak berkilauan kini terbentang lebar di hadapannya. Seakan tahu aku tengah memperhatikan dirinya, Nami menghentikan nyanyian mantranya. Ia membuka mata.

“Sementara ini pemuda itu aman. Ia tak akan pernah sampai di Kuil Matahari. Labirin itu akan membunuhnya. Tapi jaring laba-laba yang kusihir dari rambutmu ini akan menjaganya. Selama jaring ini membentang, pemuda itu hanya berputar-putar sesuai pola. Jaring rambutmu hanya bertahan sampai esok hari. Jika jaring ini robek maka sihir pelindungku pun lenyap. Katakan padaku Aimee, apa cintamu sebesar miliknya?”

Aku menganggukkan kepala cepat-cepat.

“Tentu. Aku tak ingin berpisah dengan Kato, Nami.”

Tiba-tiba saja aku merengek seperti bocah kecil yang takut kehilangan. Aku tak peduli. Aku tumbuh seorang diri dan kesepian. Kato satu-satunya yang kumiliki. Aku tak ingin kehilangan lagi.

“Tolonglah aku,” rengekanku berubah menjadi isak.

Nami menggelengkan kepala dan berdesah berat.

“Hanya ada satu cara, Nak. Tapi kau sungguh tak ingin berpisah dengannya apapun yang terjadi?”

Aku menjawab ‘Ya’ tanpa suara. Nami memandang lurus-lurus ke kedalaman mataku. Pada mata abu-abu miliknya aku melihat harga yang harus kubayar jika terus bersama Kato.

Apapun itu, Nami. Asalkan aku bersamanya, lakukan untukku.

Kali ini suara di kepalaku yang bicara. Nami mengangguk.

Malam itu aku berbaring di tengah pola bintang segi lima yang digambar Nami dengan kapur sihir di lantai dapurnya. Kristal dan nyala lilin di letakkan di titik-titik tertentu. Cahaya purnama menelusup melalui lubang udara di dinding batu. Nami akan memulai ritual.

Kita membutuhkan bantuan Dewa Bulan. Nami berujar saat mulai menggambari lantai dapurnya.

Aku mulai memejamkan mata. Nami duduk bersila berseberangan dengan tubuhku. Terdengar gumaman aneh dari bibirnya. Sayup-sayup lalu semakin nyaring menyerupai dengung dari segala penjuru. Ketimbang ucapan mantra, suara Nami lebih mirip dengung yang biasa kudengar pada malam yang hening. Dengung yang menghipnotisku perlahan-lahan.  Waktuku akhirnya tiba.

Kupandangi sekali lagi tubuhku yang terbaring tenang di lantai. Rasanya aku belum pernah melihat diriku secantik malam itu. Terlelap dengan wajah damai dan segurat senyum tipis. Esok tubuhku akan dihantarkan pada altar di Kuil Dewi Matahari. Tubuh yang detaknya samar namun tak berjiwa.

Dengung yang mengisi udara mulai meliuk mengajakku menari. Aku berputar ringan menyambut. Setiap putaran meluruhkanku menjadi serbuk-serbuk keemasan. Tubuh halusku kini menjelma butiran serbuk yang melayang di udara. Terpencar di antara partikel-partikel melayuk mengikuti desir angin. Kembali pulang ke bukit, kepada Kato.

Cahaya pertama mengilaukan embun. Aku meliukkan diri mengikuti arah datangnya silau keemasan. Kudengar langkah-langkah mendekat. Suara yang telah kukenal puluhan tahun. Langkah kaki kekasihku terdengar melambat. Tahun-tahun belakangan ini ia menua dengan cepat.

Ia tersenyum. Kerut-kerut di ujung matanya bertambah. Telapak tangannya yang kisut kasar dengan lembut membelai kelopakku. Ia menunduk menyentuhkan bibirnya. Kami bersentuhan. Ciumannya masih semanis yang kuingat.

“Berpuluh tahun ini kau pasti mengira aku tak mengenalimu.” Kato berbisik. Tangannya masih membelai kelopak-kelopakku.

“Hanya ada satu cahaya yang rela meredupkan dirinya demi diriku. Dan itu pasti kamu, Aimee.” Suara Kato bergetar. Ia terbatuk keras dengan tiba-tiba. Sesaat berusaha menarik napasnya yang berat dengan susah payah. Tangan rentanya tampak gemetar. Mata coklat madunya yang memesona  berkabut. Tatapannya melembut kemudian perlahan meredup  terkatup. Tubuh tua Kato ambruk ke tanah dengan bibir mengulumkan senyum. Aku memanggil namanya berulang kali dengan panik. Mencoba merunduk ke tanah untuk menggapainya. Sia-sia.

Senja hari penduduk desa menemukan Kato. Mereka menguburkannya di ladang bunga matahari yang tumbuh di kaki bukit. Mengembalikannya ke pelukanku. Aku menyambut tubuh kekasihku dengan sukacita.

Kelak jika kau melintas ladang bunga matahari di kaki bukit, berhentilah sejenak. Pikirkanlah tentang kami. Maka akan kau pahami, bahwa cinta akan selalu bersama apapun cara dan wujudnya.

“Tunggu, Aimee meleburkan dirinya menjadi bunga matahari untuk menyelamatkan Kato dan menemaninya menua sampai ajal, begitu?”

Riga menaikkan sebelah alisnya menghentikan kisahku. Aku mengangguk.

“Katamu Negeri Dongeng  akan menyatukan segalanya.”

Protesnya yang terdengar kekanakan membuatku tertawa.

“Mereka memang bersatu, kan?” jawabku masih tertawa.

Gawai Riga bergetar diiringi dering nada panggilan menghentikan tawaku. Dering nada yang sangat kami kenali. Riga memberi kode untuk menyingkir, aku mengangguk. Penuh pengertian seperti biasa.

“Sepertinya aku batal menginap Thena,” ujarnya beberapa menit kemudian. Ia  menghampiri dan memeluk pinggangku dari belakang.

“Raisa dan anak-anak mempercepat liburan mereka. Maafkan aku,” bisiknya di sela-sela rambut yang menutupi tengkukku. Bahuku merosot lemah. Kegembiraan sepagian karena akan bersama Riga  sepanjang akhir pekan ini pupus sudah.

Sekali lagi, selalu seperti ini.

“Tak apa,Riga. Aku mengerti,” bisikku lelah.

Kutepuk lembut punggung tangannya yang masih memelukku.  Menggigit bibir menahan genangan dari ceruk mata yang mendesak ingin tumpah.

Tak apa, Sayang. Hanya di Negeri Dongeng, kau dan aku bisa bersama  menjadi  segala.

 

 

 

Perempuan Yang Menggerutu Sepanjang Hari

Perempuan itu gemar menggerutu. Kemarahannya terlihat jelas dari nada gerutuannya yang naik turun seperti kelokan tajam ngarai yang merontokkan jantung. Kali lain ia menggerutu dengan nada memelas pasrah. Bibit kemarahan yang ia semai di kepala berkecambah rindu di jantungnya.

“Bahkan perasaanku sendiri mengkhianatiku!” Ia menggerutu dengan gumam yang tak putus.

Esok dan esoknya lagi, perempuan itu masih saja menggerutu. Sambil terus menyirami bibit yang mengkhianatinya. Sampai suatu ketika bibit itu menjelma sebatang pohon yang berakar kuat di jantungnya. Setiap kali pohon itu bertumbuh, akarnya bergerak merobek jantung perempuan itu. Namun ia masih terus menggerutu sembari menahan nyeri jantungnya yang berderak berdarah-darah.

Semalaman tadi kudengar tangis dan gerutunya saling bersahutan tak berhenti. Tekadku membulat.

Pagi ini kuayun kapak dengan mata paling tajam sekuat tenaga. Pohon ini harus rubuh! Perempuan itu menangis melolong memintaku berhenti. Aku tak peduli. Harus kuakhiri segala gerutu dan tangis nyeri dari jantungnya yang terluka. Aku terus mengayun kesetanan.

Pohon keparat itu tumbang sudah. Napasku tersengal-sengal. Perempuan itu terdiam tak lagi menggerutu. Bibirnya lekat terkatup rapat. Tatapan matanya kosong dan kelam. Sehitam lubang yang ditinggalkan akar pohon yang kurenggut kasar dari jantungnya. Perempuan yang gemar menggerutu perlahan memudar dari balik cermin.

Kuraba dadaku yang berlubang menganga. Kurasakan sunyi yang gigil.

Aku telah salah mengeja gerutu sendiri.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/BG7CZQ5JRN

 

Senja Merindu Pulang

Pulang.

Kata itu seperti mantra yang merasuk dalam pikiran bawah sadarku. Memompa semangat hidup yang mengalir dalam aliran darah. Membuat tubuh tua ini mendadak bugar dan bergas. Perawat-perawat  menggoda perubahan aura ini. Kutanggapi guyonan mereka dengan senyum kecil. Perawat di klinik ini mungkin usianya sebaya anak lelakiku, Trisno. Baru belakangan aku memperhatikan mereka dengan seksama, lalu timbul kerinduanku lagi pada anak semata wayangku itu. Menghabiskan nyaris seluruh hari untuk menghadapi sekumpulan orang gila dan depresi berat sepertiku tentu bukan pilihan yang menyenangkan.

Trisno, bocah lelaki satu-satunya hasil cinta antara aku dan istriku, Lastri. Perempuan yang kucintai sepenuh hati. Meski berpuluh tahun bersama, kami kerap bertatapan penuh kerinduan. Bagiku, Lastri bukan sekedar simbol keberhasilan seorang pemuda yang berhasil menyunting gadis paling cantik di kampung.  Ada energi kehidupan yang mengalir dari sosoknya yang hilir-mudik membereskan ini dan itu di setiap sudut rumah kami. Saat Trisno masih kanak-kanak, Lastri kerap mendongeng dengan kisah yang entah berasal dari mana. Mungkin ia merekanya sendiri, karena aku tak pernah mendengar  kisah-kisah itu sebelumnya. Saat itu, suaranya ringan mengalun naik-turun menghantarkan kehangatan yang menyihir. Tak hanya Trisno kecil, aku pun menatapnya tak berkedip. Terkesima.

Aku memuja istriku. Kenyataan yang menjadi sumber ejekan diantara kaum pria di desa kami. Mungkin di lubuk hati kawan-kawanku itu sebenarnya tumbuh bibit kecemburuan karena istri-istri mereka tak pernah menatap seperti Lastri menatapku.  Namun, tak hanya mereka, Tuhan pun kerap cemburu pada kebahagiaan yang Ia ciptakan sendiri.

Pada pagi yang buta, Ia memanggil Lastri pulang dengan lembut. Namun merenggut kebahagiaanku dengan kasar. Seolah tangan besar yang gaib, Ia mencerabut satu-satunya pohon tempatku meneduhkan segala kesah dan lelah. Hatiku rekah berdarah shubuh itu.

“Pak Darmo sudah bersiap untuk pulang, ya?” Perempuan berkulit terang dan berjas putih  itu menghampiriku di kamar. Di belakangnya seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berwajah ramah mengikuti.

“Iya, Dok,” anggukku sambil menarik resleting tas.

Perempuan yang kupanggil ‘Dok’ dan lelaki tadi saling bertatapan.

“Begini Pak Darmo, saya sudah berbicara dengan pemilik yayasan klinik ini. Beliau mengijinkan jika Bapak menetap di klinik ini. Bapak bisa melakukan apa saja untuk membantu di sini. Seperti yang sudah Bapak lakukan selama ini.” Lelaki yang menjadi Kepala Klinik itu memegang pundakku. Setiap kata diucapkannya perlahan seolah takut menyakitiku. Aku menunduk, beberapa saat menekuri lantai kamar yang menguarkan aroma karbol.

“Terima kasih Pak Kemal, Dokter Linda,” Akhirnya kuangkat kepala dan tersenyum pada dua manusia berhati malaikat di depanku. “Hari ini sudah tahun ketiga saya di sini. Saya yakin, tahun ini Trisno akan menjemput saya pulang seperti janjinya.”

Terdengar tarikan nafas Dokter Linda.

“Tahun ini, Trisno akan datang menjemput. Saya yakin. Saya tahu itu,” ujarku sungguh-sungguh. Kugenggam telapak tangan kanan Dokter Linda agar ia bisa merasakan kuatnya keyakinanku. Sorot mata perempuan muda itu melembut, ganti ditepuknya genggamanku dengan sebelah tangannya yang lain.

“Saya mengerti, Pak. Saya mengerti.” ujarnya lamat-lamat.

“Sampai kapan pun, klinik ini terbuka untuk Pak Darmo.” Pak Kemal menyambung perkataan Dokter Linda.

“Boleh saya menunggu Trisno di beranda klinik?” tanyaku padanya sembari merapikan letak peci.

“Tentu. Tentu, Pak Darmo. Silahkan.”

Entah sudah berapa jam aku duduk di bangku panjang berwarna putih di teras klinik. Secangkir kopi hitam telah tandas isinya. Ujang, salah seorang pasien yang dikaryakan di klinik ini setelah sembuh, datang menawarkan secangkir lagi. Aku menolak dengan ucapan terimakasih. Lastri tak suka jika aku meminum kopi terlalu banyak.

Sudah empat tahun lebih Lastri meninggalkanku tapi aku masih mengingat semua hal kecil tentang dirinya. Mungkin diamku selama setahun setelah kepulangannya itu berhasil mengendapkan segala keping kenangan. Sejak sehari setelah Lastri dimakamkan, bibirku seperti terkunci. Sepanjang hari aku berkeliaran di sudut-sudut rumah. Membisu meresapi setiap partikel udara yang menggumamkan aroma Lastri. Dengan tekun memungut ulang semua cerita bersama Lastri yang pernah terjadi di setiap penjuru rumah. Menyusunnya kembali menjadi sepotong kenangan yang utuh. Aku melakukannya dalam diam. Aku takut, jika aku bersuara maka kenangan itu akan ambyar keluar bersama suaraku. Persis seperti kepingan puzzle yang ditumpahkan seorang bocah.

Trisno terus mencoba mengajakku bicara. Aku bergeming. Aku telah kehilangan Lastri, aku tak ingin kehilangan kenangannya. Tetangga-tetangga, kawan-kawanku di kedai kopi datang silih berganti untuk memancingku membuka mulut. Mereka bergantian mengisahkan cerita lucu berharap aku terbahak. Kali lain mulut mereka berbusa dengan kalimat penghiburan untukku. Suatu hari mereka datang dengan gosip dan guyonan cabul tentang janda kembang dari desa sebelah.  Saat itu ingin kuhardik mereka karena telah lancang memadankan Lastri dengan perempuan yang sosoknya mengendap dalam pikiran liar setiap lelaki. Dengan mulut tetap terkunci, aku memukul meja dengan keras. Cangkir kopiku melompat, menumpahkan isinya yang tinggal setengah. Rupa-rupa kaget menatapku terperangah. Aku bangkit dengan kasar hingga kursi rotan yang kududuki terjengkang. Kutinggalkan tamu-tamu kurang ajar itu di teras rumah.

Dari ruang tengah, kudengar derum halus motor Trisno memasuki halaman. Lalu seperti dengung lebah, lelaki-lelaki yang kotor pikirannya itu menyambut kedatangan anakku dengan cerita tentang kemarahanku tadi.

“Bapakmu wis edan, Le!” pungkas mereka di ujung cerita. Tak ada sahutan dari Trisno. Dadaku berdebar menanti jawaban yang keluar dari anakku itu. Mungkin ia akan mengiyakan perkataan itu dengan rasa malu.

“Bapak tidak gila. Bapak mungkin terguncang dengan kepergian Ibu, tapi Bapak tidak gila.” ucap anakku jelas dan tegas. Hatiku seketika bungah mendengar bela rasa yang dilakukan anakku satu-satunya itu. Sosoknya yang jangkung kemudian memasuki rumah, menghampiri dan mencium tanganku. Tersenyum dan mulai bercerita tentang harinya seperti biasa. Sejak hari itu, tak ada lagi tamu yang mengunjungiku.

Hari semakin sore. Angin yang bertiup semilir semakin terasa teduh. Satu dua flamboyant berwarna senja gugur terbawa angin. Udin, satpam klinik mengawasiku dari posnya di gerbang pagar. Sesekali kulihat ia menggelengkan kepala.  Beberapa perawat yang sepertinya sengaja diperintah Pak Kemal melintas menyapaku. Bahkan Dokter Linda sesore ini belum juga pulang. Padahal jam kerjanya di klinik ini telah usai.

“Saya menunggu Pak Darmo benar-benar telah dijemput,” jawabnya saat kutanya. Aku terharu mendengarnya. Beberapa orang di dunia ini memang beruntung. Hidupnya dikitari oleh orang-orang yang penuh kasih. Aku termasuk mereka yang beruntung itu.

Aku tahu, separuh penghuni klinik mengkhawatirkanku sore ini. Ini pertengahan April yang ketiga aku seharian duduk di bangku panjang putih di teras klinik. Menanti Trisno datang menjemput dan mengajakku pulang ke rumah seperti janjinya. Setelah ia menitipkanku di klinik ini saat akan memulai pekerjaannya di sebuah kapal pesiar.

Malam itu Trisno tiba-tiba bersimpuh di kakiku. Dengan terbata ia menceritakan tentang panggilan kerja di kapal pesiar yang ia terima. Juga kekhawatirannya jika meninggalkanku seorang diri selama berbulan-bulan.

“Kalau Bapak tidak berkeberatan, saya ingin menitipkan Bapak di sebuah klinik rehabilitasi gangguan mental dan kejiwaan. Saya ingin Bapak dirawat, dijaga dan mendapatkan pengobatan di sana selama saya berlayar.”

Aku terkesiap. Gangguan mental dan kejiwaan?

Aku menunduk mencari wajah Trisno dan kembali terkesiap. Kedua tangan anak itu gemetar mencengkram ujung sarungku.

“Maafkan Trisno, Pak. Sa-sa-saya rindu ngobrol dengan Bapak lagi seperti dulu,” ujarnya takut-takut. Lalu bahunya berguncang pelan lalu telingaku menangkap tangisannya yang lirih. Hatiku remuk. Anak laki-lakiku menangis oleh sebab aku. Aku pun  sebenarnya merindukan masa-masa itu. Beberapa  kali sempat aku ingin membuka percakapan. Namun kata-kata seolah tertahan di ujung tenggorokan. Rasanya seperti sebongkah kepedihan menjepit pita suaramu usai tangisan yang panjang.

Kuraih bahu tegap milik anakku itu. Kutatap dalam-dalam matanya dan kuanggukan kepala. Trisno benar, aku butuh perawatan dan pengobatan. Telah kubuat luka sendiri dan kukorek dari hari ke hari hingga meradang. Harus segera kuobati luka itu jika tak ingin bagian hidupku hilang diamputasi.

Jika waktu lalu anakku dengan tegas dan jelas membela kewarasanku maka hari itu kubela anakku dari cibiran tetangga sebagai anak durhaka. Kutegakkan punggung  dan  sekali lagi kuanggukkan kepala sembari tersenyum. Esoknya, aku resmi menjadi penghuni Panti sekaligus Klinik Urip Asih.

Senja semakin jingga. Angin sepoi kini terasa menggigiti tulang dan persendianku. Aku sudah semakin tua, Lastri, bisikku dalam hati. Anak lelaki kita mungkin terlalu sibuk untuk menjemputku. Sudah tiga tahun, barangkali ia sudah berkeluarga saat ini. Ah, kita mungkin sudah memiliki menantu atau bahkan cucu. Seorang cucu perempuan yang cantik dan periang. Itu yang kau rindukan, kan?

Aku memejamkan mata. Kelopak mata yang kendur dan penuh kerut itu semakin berat saja karena menahan genangan yang ingin tumpah.

Rupanya aku sungguh-sungguh telah menua Lastri. Seorang tua yang cengeng. Tapi ini sudah tiga tahun, Lastri. Aku kangen anakku. Aku ingin pulang…

Tubuhku berguncang. Aku terisak tanpa sanggup kutahan lagi. Bendunganku bertahun-tahun jebol sudah.  Bahuku melorot dan punggungku meringkuk bungkuk.

“Aku ingin pulang. Aku ingin pulang…” ucapku lirih di antara sedu sedan yang mirip tangisan bocah ketika sepasang lengan hangat penuh kasih sayang memeluk dan menuntunku kembali masuk ke klinik.

Di balik batang pohon Flamboyan, sepasang sosok tak kasat mata menatap tubuh tua Darmo dari kejauhan. Sosok mereka perlahan berangsur mengabur seperti kabut yang menipis di pegunungan. Lembut angin sore meniupkan wangi khas yang menandai kehadiran Lastri dan Trisno sepanjang sore itu. Pesan  untuk Darmo yang tak pernah sampai.

 

 

 

 

Rikam Utan Along

Gong mulai dibunyikan, berpasang mata kini terpaku ke panggung sederhana. Menanti dara yang perlahan-lahan melenggang mengikuti irama gong. Rikam meliukkan pinggulnya lembut dan anggun. Selangkah demi selangkah mendekati gong  berukuran sedang yang diletakkan di tengah panggung. Rangkaian Bulu-bulu Enggang terjepit di sela jemarinya.Tangan gadis itu seakan bersayap pada ujungnya. Sepasang mata kelam di antara penonton diam-diam merekam setiap gerakan gadis itu dari balik lensa kamera.

Suara Gong terakhir menandai usainya Tari Kancet Ledo*. Rikam merapikan rangkaian Bulu Enggang yang tadi dipakainya lalu beranjak meninggalkan panggung menuju ke Lamin *. David menjejeri langkah gadis belia itu.

“Pemuda itu tak lepas memandangimu sedari tadi,” David membuka percakapan. Rikam tak menyahut. Hanya mengedikkan bahunya sekilas.

“Kapan rombongan fotografer dari  Jakarta itu akan pulang?” Suara pemuda itu terdengar sedikit gusar.

“Mana aku tahu. Lagipula apa salahnya ia memandangiku. Kami menari untuk mereka tonton, kan?”

“Tapi sudah lima hari ini yang dia lihat hanya kamu, Rikam! Ia mengikutimu kemana saja seperti anak kucing. Memotret setiap gerak-gerikmu dari pagi sampai senja. Semacam tak ada lagi gadis lain di kampung ini!” Suara David meninggi. Langkah Rikam seketika terhenti di undakan pertama Lamin.

“Apa sekarang kau hendak bilang, kau sedang cemburu, David?” Sepasang mata badam itu menyorot tajam. Suaranya dingin menyengat. David tercekat tak menjawab.

Rikam membalikkan tubuh meneruskan langkahnya menaiki tangga Lamin. Di kejauhan, riuh bilah bambu Penari Pampaga* menandai akhir pertunjukan seni  di Desa Wisata hari ini.

Bram memperhatikan satu demi satu slide foto Gadis Dayak yang menjadi obyek di sebagian besar fotonya. Mata sipit gadis itu menghilang saat tertawa, juga dekik lesung pipinya yang dalam saat tersenyum malu-malu.

“Hati-hati Bram, gadis itu sudah ada yang punya,” ujar Reno dengan suara bassnya. Bram tersentak kaget. Lamunannya buyar.

“Sialan. Merusak suasana saja kamu.”

Reno terkekeh, sembari membaringkan tubuhnya di kasur.

“Aku serius. Jangan bermain-bermain dengan Gadis Dayak. Kecuali kau ingin pulang tinggal nama.”

“Kalau  begitu, tak perlu pulang sekalian,” balas Bram santai.

Reno memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Bram.

“Lalu bagaimana dengan Maya, Natasha, Rima dan satu lagi Gadis Arab itu, siapa namanya? Kau suruh aku mengatakan apa pada mereka? Bram tak pulang ke Jakarta. Tergila-gila ia pada gadis di Kampung Dayak yang ditemuinya selama seminggu. Begitu? Bah! Kau ini…,”

Sebuah bantal  melayang ke arah Bram yang segera ditangkis oleh pemuda itu.

“Apa salahnya kalau aku menetap disini?” ujar Bram kembali acuh tak acuh. Matanya menekuri editan foto Rikam di laptopnya.

“Tak ada salahmu. Selain menyukai seorang gadis yang telah ditunangkan dengan putra kepala adat desa ini. Itu saja. Sederhana tapi cukup kuat untuk menebaskan sebilah Mandau*.”

Bram mengangkat wajahnya. Reno menatapnya serius.

“Bukan ke lehermu tentu saja. Tapi cukup ke batang pisang yang telah dimantrai. Sekali tebas, habislah dirimu.”

Suasana hening beberapa detik.

“Gosip.” Bram menjawab pendek tak peduli.

“Keras kepala,” sahut Reno kesal.

Rikam  menatap pada bangunan mess khusus tamu di kejauhan dari jendela biliknya yang terbuka. Angin malam yang dingin memucatkan kulit wajahnya yang putih.  Seseorang menyibakkan tirai  pembatas bilik.

“Rikam,” suara ibunya memanggil. Lebih mirip bisikan daripada panggilan.

Rikam menutup jendela dan membalikkan tubuh.  Bersimpuh di lantai Lamin bersisian sangat dekat dengan ibunya. Mereka harus melakukannya jika tidak ingin angin mengabarkan pembicaraan pada seluruh penghuni Lamin. Dinding Lamin ini bertelinga. Nyaris tak ada pembicaraan yang berhasil dirahasiakan di sini.

“Seminggu lagi pesta panen, Nak,” Perempuan tua bertelinga panjang diberati anting-anting logam itu berkata lirih. Asei, satu dari beberapa perempuan tersisa yang masih meneruskan tradisi telinga panjang di kampungnya, menggenggam tangan putri bungsunya. Rikam mengangguk, pandangannya menunduk tertumbuk lengan keriput  ibunya yang dipenuhi rangkaian tato bermotif tanduk.  Serupa motif ukiran di tiang Lamin mereka.

“Berhati-hatilah. Jaga sikapmu pada Pemuda Jawa itu.”

Rikam mengangkat wajahnya, “Ibu tahu?”

Asei terkekeh pelan menertawai pikiran naïf putrinya. Meludah sebentar pada kaleng pengganti tempolong. Bibir keriputnya menyirih jingga.

“Rikam, kau anakku yang ke sepuluh. Lahir setelah hampir lima belas tahun dari kelahiran kakak laki-lakimu, Jantur. Ibu sudah setua itu ketika kau lahir. Kelahiran yang teramat sulit.”  Mata Asei yang mulai abu-abu karena rabun menerawang.

Rikam menyimak penuh perhatian. Kisah kelahiran yang berpuluh bahkan mungkin beratus kali telah ia dengar. Namun Asei tak hanya seorang ibu, ia juga wanita bijak dari Lamin mereka. Rikam dengan takzim mendengar kisah itu lagi. Serupa kaset yang terus diputar ulang di telinganya.

Kisah kelahirannya melegenda di Lamin mereka. Tentang ibunya yang tiga hari tiga malam tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir setelah melahirkan Rikam. Juga dirinya yang enggan menangis. Bertahan dengan tarikan nafas satu-satu yang lemah. Berdua mereka dibaringkan di tengah Lamin dalam upacara pengobatan yang dipimpin seorang Dayung*. Tepat saat Dayung tua hendak berucap Sio diman menyat tolong lait nyengau*, Luhung , putra bungsu Amai Pebulung* yang masih balita tiba-tiba berlari ke tengah lingkaran dan menyentuh pipi Rikam. Dan sontak dirinya menangis keras. Gong segera ditabuh dengan riuh menyamarkan tangis pertamanya. Agar binatang-binatang hutan tak mendengar tangisannya dan selamatlah hidup Rikam dari bala seumur hidup.  Entah karena pekikan tangisnya atau karena keriuhan gong yang ditabuhkan, ibunya turut siuman. Lamin geger. Ayah Rikam tersungkur sesenggukan penuh syukur.  Mata tua milik Dayung berkaca-kaca. Bahkan Amai Pebulung pun tak sanggup berucap sepatah kata. Menyaksikan Luhung, putranya duduk bersila mengusap-usap pipi Rikam yang masih terus menangis. Sejak malam itu, langit telah menentukan. Rikam adalah milik Luhung. Selamanya.

Rikam tekun menunduk mendengarkan Asei terus bercerita seolah memberikan penguatan bagi kegelisahan putrinya. Beberapa tahun lalu, Rikam masih mendengarkan kisah ini dengan hati berdebar dan mata berbinar. Menanti kepulangan Luhung yang meneruskan sekolahnya di Samarinda. Gelisah dan debar dara belasan tahun menanti kekasih hati yang telah ditetapkan langit untuknya.

Lalu awal tahun lalu, Luhung pulang. Membawa ijazah bertuliskan nama David Nigau. Nama baru Luhung. Amai Pebulung tak berkomentar apapun. Asalkan Luhung pulang dan bersedia meneruskan tradisi, itu lebih dari cukup. Kemajuan jaman menghilangkan pemuda suku mereka satu demi satu. Membuat mereka tersesat, lupa jalan pulang ke kampung. Luhung atau David, pemuda itu tetaplah putranya.

Rikam menyambut kepulangan Luhung dengan suka cita. Memanggilnya dengan nama baru seperti yang diinginkan pemuda itu. Semua terasa manis bagi Rikam, ia percaya sepenuhnya langit telah menjodohkan mereka berdua. Hingga pada malam yang meriah seusai pesta panen tahun lalu, David bercerita tentang Grace. Gadis Manado teman kuliah yang dicintainya.

Malam itu sape*  dipetik mengiringi ngendau*. Riuh gelak tawa pemuda-pemudi dari halaman Lamin. Di biliknya, Rikam menangis sendirian. Meratapi hatinya.

Tak seorangpun di Lamin mengetahui kisah tentang Grace. Aku akan tetap menikah denganmu, janji David malam itu. Rikam ingin meludah mendengarnya. Apa artinya hidup bersama seorang lelaki yang tak pernah mencintai dirinya? Apa maksud lelaki itu bercerita tentang perempuan lain di hadapannya?

Rikam tak pernah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hanya kesadaran yang membuka mata hatinya bahwa ia tak dicintai. Sikapnya berubah dingin pada David meski pemuda itu selalu bersikap baik pada Rikam. Beberapa kali  Jantur, kakaknya menegur sikapnya. Namun Rikam enggan bercerita apalagi membela diri. Ia lebih suka berkutat dalam diam.

Kemudian Amai Pebulung mengabarkan serombongan tamu dari  Jakarta yang akan datang menginap di desa mereka yang kini berjuluk Desa Wisata. Rombongan fotografer dan jurnalis perjalanan  dari dalam dan luar negeri. Mereka akan menginap seminggu meliput kehidupan Masyarakat Dayak. Saat itulah Rikam mengenal Bram.

Awalnya Rikam terganggu dengan tingkah pemuda itu yang mengikutinya kemanapun ia pergi. Merekam setiap gerak-geriknya. Namun lambat-laun Rikam merasa tersanjung. Ada banyak gadis cantik di desanya, Nilam, Tunjung, juga Kori. Tapi Bram hanya memilih dirinya.

“Kenapa mengikutiku terus?” tanyanya suatu pagi. Mereka berjalan bersisian hendak menyisir ladang mencari akar-akaran.

“Kenapa kau mau kuikuti?” Bram balik bertanya. Rikam meliriknya, kesal.

“Aku sudah bertunangan.”

“Aku tahu. Sayang sekali.”

“Sayang sekali?” Rikam menaikkan sebelah alisnya. Tak mengerti.

“Iya. Sayang sekali matamu tak menyiratkan kebahagiaan itu. Kau mau menikah atau mau bunuh diri, sih? Berat sekali nampaknya.”

Rikam tercekat. Ia menoleh memandang lelaki yang sibuk memotret di sebelahnya.

“Sejelas itukah?” suara Rikam pelan.

“Sejelas itu. Ingat,  aku menatapmu setiap saat dengan ini,”Bram mengangkat kamera yang terkalung di lehernya. “Tak sekalipun matamu bercahaya. Coba tersenyum,” Bram memberi perintah.

Rikam menarik sudut bibirnya sedikit.

“Sedikit lagi. Lebih lebar, kau sedang tersenyum, bukan hendak buang angin, kan?”

Rikam tergelak. Bram dengan gesit membidiknya dengan kamera. Hari itu membawa kehangatan bagi hati Rikam. Begitu pun hari-hari selanjutnya.

“Rikam,” seraut wajah menyembul dari balik tirai bilik. Asei dan Rikam menoleh bersamaan.

“David mencarimu.” Kori menatapnya dengan pandangan menggoda. Rikam menghela nafas. Asei menggenggam tangannya.

“Temuilah sebentar, mungkin ada yang hendak ia bicarakan.”

Rikam mengangguk lalu beringsut keluar menuju tangga Lamin tempat David menunggu seperti yang dikabarkan Kori.

David dan Rikam duduk bersisian dalam hening. Suara jangkrik nyaring memecah malam. Sementara Rikam menerawang menatap lampu mess tamu di kejauhan, menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Bram di sana.

“Rikam, seminggu lagi pesta panen digelar.”David membuka percakapan.  Rikam mengangguk. Ucapan David persis seperti perkataan ibunya. Seperti sengaja mengingatkan bahwa tiga hari setelah pesta panen mereka akan menikah.

“Maafkan aku. Mengenai Grace, seharusnya aku tak menceritakannya padamu. Saat itu aku hanya ingin bersikap jujur.” David meremas tangannya sendiri dengan gelisah.

“Kau mencintai Grace. Aku menyukai Bram. Lalu masihkah kita harus menikah?” Rikam menatap David lurus-lurus. David tak menjawab. Benaknya dipenuhi wajah Grace yang terus mengisi mimpinya setiap malam. Ia berusaha melupakan gadis itu namun tak berhasil hingga detik ini.

“Aku tak ingin menikah denganmu!” sergah Rikam tajam. Teringat ia akan Bram.

“Aku tahu. Tapi langit telah menetapkan kita, Rikam. Kau pikir aku suka kembali kemari, menghidupkan Lamin, menyalakan tradisi yang hampir lenyap ini?” David membalas tatapan Rikam dengan tajam.

“Dunia di luar begitu luas, Rikam. Aku ingin terbang menghampirinya. Tapi aku tak bisa. Kakiku tertancap di sini. Pada akarku aku harus pulang. Dan hanya denganmu, Rikam, aku bisa membagi beban ini. Mengertikah kau?”sorot mata David melunak.

Wajah Rikam memerah menahan tangis. Tenggorokannya tercekat.

“Lalu kehidupan  seperti apa yang akan kita jalani, David?”suara Rikam tersendat isak yang mulai mendesak keluar.

“Entahlah Rikam. Aku tak bisa menjanjikan. Namun ada yang lebih kuat daripada hidup itu sendiri. Ialah takdir. Percayalah Rikam, akulah takdirmu dan kamulah takdirku.”

Tangis Rikam pecah.

Hari ini rombongan tamu dari Jakarta akan pulang. Rikam melenggok di panggung diiringi sape dan nyanyian Leleng Utan Along*. Tak pernah sekalipun Leleng ditarikan sendirian, tapi David berhasil membujuk Amai Pebulung untuk mengijinkan Rikam menarikannya sendirian seperti permintaan gadis itu. Rikam berputar terhanyut suara penyanyi yang merintih melukiskan kepedihan Utan Along*.

Leleng … leleng  Utan Along

Leleng… leleng Utan Along… leleng…

Airmata perlahan turun membasahi pipi Rikam. Gadis itu berputar. Berputar dan terus berputar. Siang itu,  Rikam menjelma  Utan Along.

***

Keterangan:

*Kancet Ledo : Tari Gong. Tarian yang melukiskan keindahan batang padi yang tertiup angin. Ditarikan di atas gong.
*Lamin : Rumah Panjang. Rumah adat Suku Dayak.
*Pampaga : Tarian muda-mudi Suku Dayak yang menggunakan bilah bambu.
*Mandau : Senjata khas Suku Dayak. Terbuat dari bijih besi. Ujungnya beracun. Pegangannya berhias ukiran dan rambut manusia.
*Dayung : Dukun pemimpin upacara untuk penyembuhan.

* Sio diman menyat tolong  lait nyengau

: Mantra penyembuhan. Artinya kurang lebih, Tolong berikan air yang dapat menyembuhkan.
*Amai Pebulung : Kepala adat.
*Sape/Sampe : Alat musik petik khas Dayak
*Ngendau : Nyanyian berbalas-balasan muda-mudi Dayak
*Leleng  Utan Along : Lagu untuk mengiringi Tari Leleng. Ditarikan berkelompok, menceritakan kisah kesedihan Utan Along.
*Utan Along : Nama seorang gadis yang dipaksa menikah dengan lelaki yang tak disukainya. Lari ke tengah hutan. Dan menari berputar-putar di tengah hujan sembari menangis.