Sang Lirang

Hujan dan sore hari. Tidak ada paduan yang lebih sempurna dari itu. Semesta mendadak hening. Tak ada kicau burung-burung yang  menandai kepulangan mereka ke sarang. Tak ada pekik riang sekumpulan bocah yang bermain berkejaran. Bahkan jalan depan rumahku pun terlihat lengang. Semua memilih meringkuk mencari hangat di rumahnya masing-masing.

Aku menyesap pelan pinggiran cangkir porselin. Paduan sempurna yang kedua, teh cina dalam cangkir porselin mungil. Sulungku membelikannya khusus untukku.

“Kopi tak baik buat orang-orang seusia mama,” ujarnya saat itu.

aku menurut.

Jadi, disinilah aku, duduk dipinggir jendela rumahku pada suatu sore. Ditemani secangkir kecil teh cina yang konon katanya berkhasiat dan hujan yang menyisakan gerimis. Akan kuceritakan kepadamu kisah tentang seseorang yang mungkin pernah kau temui atau kau kenal. Bahkan sebagian dirinya bisa jadi kau kenali sebagai dirimu sendiri. Entah dalam tawa atau kepedihannya. Atau pada cinta dan rindunya yang mengekal hangat layaknya nyala api. Mungkin juga pada mimpi-mimpinya yang terkadang absurd namun tak pernah bosan untuk dironcenya.

Ya, ini kisah  tentang kehidupan. Hidup milik seorang perempuan biasa yang bernama Lirang. Aku menyebutnya Sang Lirang.

 

Dunia lirang, 20/09/11

Advertisements

One thought on “Sang Lirang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s