Pilihan

“Kamu mencintainya?”  suara lelaki itu terdengar sedikit bergetar.

Aku tercekat. Bertahun-tahun telah kusiapkan diri untuk pertanyaan ini namun toh hatiku mencelos juga saat mendengarnya.  Sekujur punggungku seakan tersiram hawa dingin. Aku diam. Mengambil jeda. Mataku terpejam mencoba mengingat kalimat yang juga telah kusiapkan bertahun-tahun untuk menjawabnya.

“Ya, aku mencintainya.” Ujarku tenang.

Lelaki yang telah membagi hidupnya bersamaku belasan tahun itu terhenyak. Bahunya lemas menyandar pada punggung sofa. Suara obrolan pengunjung kafe menjadi dengung di telinga kami. Pada meja kami detik seakan berhenti. Hening.

Lelaki itu, suamiku, memajukan badannya, matanya tajam menatapku. Lalu katanya,

“Aku tak bisa hidup bersama seseorang yang tak pernah bisa mencintaiku, Nishi.”

Sekarang giliran hatiku terhantam. Terkejut? Harusnya tidak,  aku sudah tahu kemungkinan ini akan terjadi. Mungkin harga diriku yang tak rela ia bisa melepasku begitu mudah. Begitu cepat.

“Anak-anak?” tanyaku. Entah sekedar mengulur atau menahan.

“Mereka tetap anak-anak kita, Nishi.  Aku akan menjaga mereka hingga mereka mandiri. Dan kau akan mendidik mereka tumbuh dewasa. Seperti  yang telah kita lakukan selama ini.”

Aku mengangguk.

“Baiklah, jika itu maumu.”

“Ini bukan mauku, Nishi!”, sergahnya gusar.

“Kau yang membuat pilihan sejak awal. Kau yang tak bisa bersetia!”

Aku memandang wajahnya. Kulihat kesedihan, kemarahan, kekecewaan  berpendar di bola matanya yang hitam. Ada pijar kesakitan di sana. Kupalingkan wajah, menahan lidahku yang ingin balas menggugat. Aku tak bisa lebih kejam lagi.

—–

Perceraian kami berjalan dengan cepat dan tenang. Tidak terlalu tenang sebenarnya. Karena sumpah serapah mama berdentam-dentam di telingaku. Laksmi yang tak henti menangis dan Abram yang menjadi semakin pendiam. Kami seperti tersedot dalam pusaran tifun. Masing-masing sibuk mencari pegangan untuk bertahan. Bertahan dengan cara kami masing-masing. Aku yang tersedot paling dalam. Menahan sakit karena hantaman disana-sini.

Aku tak berusaha melawan. Tak ada pembelaan. Karena nyatanya aku yang bersalah. Suamiku benar, aku telah membuat pilihan. Dan inilah resiko yang harus kutanggung dari pilihanku. Sepahit apapun aku harus berani menerimanya. Mungkin kelak, Mama, aku, Laksmi , Abram  bahkan suamiku Tora bisa berdamai. Setidaknya berdamai dengan diri kami masing-masing. Bukan karena kami terlalu lelah menanggung jeri tapi karena kami akhirnya sadar bahwa kami semua berhak untuk bahagia.

“Atas nama siapa, Bu?” suaranya memecah lamunanku.

“Nishita Laks… ah maaf.  Nishita Padmi.” Sahutku sembari tersenyum.

Nishita Padmi. Bukan lagi Nishita Tora Laksana. Bibirku belum terbiasa rupanya.

Gadis cantik petugas ticketing itu mengulang ..

“Penerbangan Jakarta – Denpasar, Hari Jum’at  10 Desember atas nama Ibu Nishita Padmi.”

Aku mengangguk. Lagi-lagi melemparkan seulas senyum. Tak tahan menunjukkan pada dunia, sebentar lagi aku akan bahagia.

Kukenakan gaun terbaikku sore ini. Bukan, ini bukan gaun terbaikku sebenarnya. Tapi Bayu sangat menyukainya. Berulangkali ia memujiku cantik setiap kali aku  mengenakannya. Sore ini aku akan datang sebagai Nishita Padmi. Mengabarkan padanya tentang statusku yang baru. Lalu kami bisa bersama. Saling mencintai seperti impian yang telah kami rajut berdua beberapa tahun terakhir dengan diam-diam.

Angin sore meriapkan anak rambutku. Aku melepas scarf yang melilit di leher dan menggunakannya untuk mengikat rambut. Sore ini aku tak ingin diusik bahkan oleh rambutku sekalipun. Ini pertama kali aku bisa memandang wajah Bayu sepuasnya. Selama apapun kumau. Tanpa harus khawatir ada yang memergoki bahasa tubuh kami yang terlalu mesra. Atau harus merasa cemas karena terlalu lama keluar rumah. Aku telah memilih kebebasanku.

Sosok  jangkung berjalan menuju ke arahku. Lelakiku tercinta. Ingin aku berlari dan menghambur ke pelukannya. Tapi aku harus tenang. Ini harus menjadi kejutan yang menyenangkan untuknya. Jadi aku hanya berdiri dan menyambutnya dengan seulas senyum.  Bayu mendekat ke arahku, tangannya memeluk pinggangku. Sekilas dan cepat. Begitulah caranya dia menyambutku setiap kali bertemu.

Bayu membimbingku ke sebuah meja lalu kami duduk berhadapan. Kami berpandangan beberapa saat meluahkan rindu yang tertahan beberapa bulan ini.

“Apa kabar cantik?,” Sapanya padaku.

“Seperti yang kau lihat,” sahutku diplomatis.

“Selalu cantik seperti biasa,” Katanya menyimpulkan. Aku tertawa.

Lalu kami mengobrol kesana-kemari tak tentu arah. Entah mengapa aku tak juga memberitahunya. Sore kian beranjak menuju senja. Langit sudah menoreh jingga kemerahan. Aku masih terpukau melihat bola kemerahan tadi  tenggelam sedikit demi sedikit ketika Bayu tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Nishi, ada yang ingin kubicarakan,”

Aku menatap wajahnya yang berubah serius dengan heran.

“Tentang?”

“Tentang Rana,” sahutnya pelan.

Rana. Hatiku seketika gelisah setiap kali Bayu menyebut nama itu. Perempuan dari masa kecilnya. Cinta pertamanya.

“Beberapa minggu lalu suaminya meninggal. Kecelakaan.”  Bayu menghela nafas. Aku berdebar.

“Dan ternyata Rana ternyata sakit, Shi. Kanker. Aku baru mengetahuinya seminggu yang lalu.” Mata Bayu mengabut.

Aku semakin takut.

“Lalu?”

“Dia membutuhkankanku, Shi. Rana tak punya siapa-siapa lagi. Rana membutuhkan aku,”  Suara Bayu sedikit bergetar.

“Bagaimana dengan aku? Apa  aku tak membutuhkanmu? Apa kau mencintainya?” tanyaku bertubi-tubi dengan suara tercekat.

Bayu meremas tanganku yang sedari tadi masih digenggamnya. Hangat. Tangisku nyaris pecah.

“Aku mencintaimu, Nishi. Selamanya mencintaimu. Tapi aku laki-laki. Aku telah berjanji di depan mendiang ayahnya untuk menjaganya, tidak meninggalkannya seorang diri. Sekarang Rana sebatang kara dan ia sakit. Aku tak bisa meninggalkannya.”

Mata Bayu berkaca. Entah untukku atau untuk Rana.

Dadaku terasa sesak. Nyaris tak bisa bernafas. Aku ingin menangis, berteriak, namun semua tertahan di tenggorokan. Rasanya sakit. Sakit sekali.

“Kamu  masih memiliki Tora, Laksmi dan Abram. Cuma aku yang dimiliki Rana saat ini.”

Tora? Dia menyebut nama Tora. Aku bahkan belum sempat bercerita tentang Tora. Tapi untuk apa? Bayu sudah memilih. Seribu Rana tak akan berarti jika cintanya cukup kuat untukku. Aku tak ingin dia datang padaku karena belas kasihan.

Perlahan kutarik tanganku dari genggaman Bayu. Gemetar tanganku mengangkat secangkir earl gray yang belum sempat kuminum sejak kupesan tadi. Aku menyesapnya seteguk. Membiarkan alirannya yang hangat melewati tenggorokanku dan melonggarkan dada. Pandanganku mengabur.

Lalu tanpa kusadari bibirku bergerak. Begitu saja tak mengindahkan hatiku yang meronta-ronta.

“Pergilah Bayu. Aku membebaskanmu.”

Aku setengah tak percaya mendengar suaraku sendiri. Kuangkat wajahku memandang  Bayu. Kami bertatapan.  Aku mengangguk padanya. Menegaskan sikapku atas pilihan yang dibuatnya.

“Maafkan aku, Nishi,” Ujarnya sebelum beranjak pergi. Sekilas kulihat ujung matanya membasah, menangiskah ia?  Kutatap punggungnya yang menjauh pergi. Lelakiku. Bibirku berbisik memangilnya untuk yang terakhir kali.

Langit menggelap. Lampu-lampu kafe mulai dinyalakan. Satu-persatu bintang mulai berkedip genit. Earl gray di cangkirku mulai terasa dingin. Tapi aku terus menyesapnya sedikit-sedikit.

Memilih cintaku dan meninggalkan orang-orang yang menyayangiku.

Menjemput kekasihku.

Membebaskannya dan membiarkannya pergi.

Memilih perempuan lain yang mungkin masih dan akan selalu dicintainya.

Begitu banyak pilihan yang telah aku buat. Pilihan-pilihan yang ternyata mengubah hidupku selamanya. Yang membuatku merasa menjadi perempuan pemberani.

Sekaligus tolol.

 

Dunia lirang, 24/09/11

Advertisements

One thought on “Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s