Sampai Maut Mempertemukan

Malam minggu ini gerimis kecil yang mulai mereda menemaniku berdiri di pinggir jalan. Bintang mulai bermunculan satu persatu setelah angin malam perlahan menyingkap mendung yang sedari tadi bertahan tak mau mengalah. Aku berjalan mondar-mandir dan mulai merasa bosan. Malam ini malam minggu ke 24, entah sampai malam minggu ke berapa aku diharuskan berdiri di sini seolah menunggu sesuatu. Seharusnya aku tak berada di sini. Mungkin bergelung dibalik selimut tebal di kamarku yang hangat atau berkencan dengan seorang gadis yang cantik meski sedikit membosankan. Atau apa sajalah. Yang penting bukan disini.

Lantas kenapa aku tidak pergi saja dari tempat keparat yang sudah menahanku berbulan-bulan ini? Yah, andai saja aku bisa. Seandainya aku bisa pergi kesana kemari menakuti orang-orang seperti  di film-film horor yang aku tonton. Itu berkali lipat lebih menarik dibandingkan berdiri di satu tempat seakan kakimu melekat pada tanah selama berbulan-bulan tanpa kamu tahu untuk apa.

Aku sudah bertanya pada Tuhan (yang ternyata memang ada) saat aku tak diijinkan melewati pintu itu. Dia menyuruhku menunggu. Entah menunggu siapa. Dia tak menjawab dan aku tak ingat. Ya, aku kehilangan banyak ingatanku. Aku terbangun begitu saja di malam yang basah oleh gerimis seperti malam ini. Sesuatu yang mirip tubuhku tergeletak di pinggir pagar pembatas jalan yang penyok. Sepertinya mobil yang kukenali sebagai mobilku dan terbalik di tepi jurang itu yang menghantamnya. Tak lama situasi menjadi hiruk- pikuk oleh polisi dan petugas ambulans. Mereka mengangkat satu sosok lagi dan membawanya  pergi. Sejak malam minggu yang basah itu aku terperangkap disini.

Aku mulai menguap bosan. Bulan bergeser menandai dini hari. Aku hendak meneruskan hitungan ke ke 58 pada bintang ketika cahaya lampu mobil itu berkilat menerpa wajahku. Laju mobil itu terlalu kencang, ujarku dalam hati. Tikungan ini tajam, panik aku menatap pagar pembatas yang penyok kuhantam beberapa bulan yang lalu. Sedetik kemudian aku mendengar bunyi berdecit dari ban yang memekakkan telinga. Diikuti bunyi hantaman keras dan jeritan nyaring. Lalu hening.

Pengemudi  mobil itu terbangun meninggalkan tubuhnya yang berlumuran darah. Wajahnya sesaat bingung menatap sekeliling. Lalu pandangannya terpaku pada diriku. Kami bertatapan dan senyumnya terkembang. Ia menghampiriku, aku menyambutnya. Kami berpelukan erat. Sudah 24 malam minggu kami tak berjumpa.

Akhirnya aku tahu siapa yang kutunggu selama ini.

Kekasihku yang dulu selamat.

 

Dunia lirang, 30/09/11

Advertisements

2 thoughts on “Sampai Maut Mempertemukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s