Mention or Not Mention

07.45 WIB

Noona  mengoleskan ulasan terakhir lipstik merah muda ke bibirnya dan tersenyum puas memandang pantulan wajahnya sendiri di cermin mungil. Cantik. Bergegas kaki jenjangnya melangkah ke ruang direktur. Cekatan ia merapikan meja sang atasan, memilah-milah dokumen.

“Untuk dibaca, untuk ditandatangani, nota kecil jadwal meeting dan secangkir kopi.” Bibir mungil dan ranum itu mengeja satu-satu rutinitas paginya.

Ah, kopi. Pipinya memerah teringat twit di timelinenya  pagi ini.

Sajak _cinta Pagi, adalah saatnya mencicipi aroma kopi, dari bibirmu..~ @Zeventina

Masih tersenyum malu-malu, Noona melirik arlojinya. 5 menit lagi. Dibukanya ubersoc dari blackberry, retweet. Send.

Noona mengangkat wajahnya dari  monitor di depannya.

“Siang Noona, Bapak sudah kelar meetingnya? Saya ada janji makan siang sama Bapak,” Suara merdu itu mengusik konsentrasi noona.

“Oh Ibu Mieke. Iya Bu, tadi Bapak sudah berpesan. Silahkan langsung ke ruangan beliau saja,” Noona mempersilahkan dengan sopan. Mieke mengangguk, tersenyum ramah. Tubuh langsingnya melenggang anggun. Noona mengawasi punggung tegak  itu dengan kagum.

Mieke. Siapapun akan sepakat dia cantik. Cantik kelas atas. Dengan keanggunan yang terpancar keluar didikan sekolah kepribadian ternama. Tutur katanya halus dengan gerak-gerik tubuh tertata dan penampilan tanpa cela. Sempurna.

Noona menghela nafas, perutnya belum sempat diisi sejak pagi. Ia melihat ke pergelangan tangannya, 12.30. Noona memutuskan menunggu atasan dan tunangannya itu keluar ruangan lebih dulu.

New tweet. Klik.

Menunggu dan lapar.

Send tweet. Klik.

12. 40

“Kamu sudah makan siang?” Krisna berhenti di meja Noona. Mieke menggamit di lengannya. Serasi.

“Emm, belum Pak. Sebentar lagi.”

“Noona… Noona kan saya sudah  bilang, kalau sudah waktu makan siang, istirahat saja. Tidak usah menunggu saya selesai.” Raut wajah Krisna khawatir. Mieke melirik tajam. Senyum pengendalian diri terkembang cepat.

“Mau bareng kami, Noona?” Tawar Mieke masih tersenyum. Noona waspada.

“Ah tidak bu, terimakasih.” Ujarnya buru-buru. Tahu diri. “Saya ada janji dengan teman.”

Noona balas tersenyum dan berdusta.

12.47

Sajak_cinta Jauh hari, sebelum kata-kata lahir dalam puisi, cinta telah menuliskan kesedihan yang paling nyeri; di jantung ini ~ @Bemz_Q

Retweet. No mention. Send.

18.30

“Loh kamu kok belum pulang?” Krishna heran melihat Noona yang masih duduk manis di kursinya.

Noona tertawa pelan.

“Biasanya Bapak kan bikin report. Khawatir masih membutuhkan dokumen lain.”

Wajah Krishna melembut.

“Saya duluan ya. “ Krishna melangkah pergi. Noona menatap punggungnya diam-diam. Dalam hati menghitung langkah Krishna. Satu, dua, tiga, empat, lima.. Krishna tiba-tiba berbalik. Noona nyaris tersedak, terkejut tertangkap basah.

“Noona,”

“Eh, iya Pak, ada apa? Noona tergagap. Krishna memandangnya lekat.

“Mmm, … anu eh,  kamu pulangnya hati-hati ya.” Krishna terbata dengan wajah salah tingkah.

Noona heran. Mereka bertatapan. Canggung.

18.45

Sajak_cinta  Aku merindukanmu seperti denyut jam, yang terlalu lambat menghampiri senja. ~@socrateslover

Retweet. No mention. Send.

23.30

Noona berbaring dengan gelisah di kamar tidurnya. Dia tak menyangka saat ini akan tiba. Saat ketika rindu yang ditata dan disembunyikannya dengan hati-hati selama ini meronta-ronta. Memaksa untuk keluar. Dia sungguh tak mengenal dirinya sendiri dengan baik. Ia membolak-balikan tubuhnya, lalu matanya menatap kosong langit-langit kamar.

Noona menghela nafas dengan berat. Matanya terpejam.

Que sera sera, ujarnya lirih. Tangannya meraih Blackberry  di samping bantal.

23.45

Mieke menjerit nyaring. Dengan gusar ditepisnya lengan Krishna yang memeluk dirinya. Krishna yang tidur di sampingnya terlonjak kaget. Ditatapnya Mieke dengan bingung setengah  mengantuk. Mieke masih meradang garang. Bibir yang biasanya manis itu mengeluarkan sumpah serapah. Berebut berhamburan. Sambil terus menerus menunjuk Blackberry yang digenggamnya kencang. Histeris. Tak ada jeda untuk bicara.

Mieke memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kamar, berpakaian dengan cepat. Lalu menghambur keluar dengan isakan nyaring. Pintu kamar dibanting keras. Dari luar terdengar derum mobil melaju kencang.

00.00

Krishna termangu. Tangan kanannya memegang cangkir kopi. Mengepul hangat. Diteguknya sekali. Caffein obat terbaik bagi syaraf-syarafnya saat ini. Pelipisnya masih berdenyut. Tegang karena gelombang keributan yang terjadi beberapa menit yang lalu.

Beberapa saat berlalu. Krishna masih terdiam. Membiarkan caffein yang diteguknya bekerja. Menyadarkan syaraf-syarafnya. Perlahan sel-sel kelabunya mulai bekerja. Merangkai  sinyal demi sinyal. Lalu bibirnya tersenyum.

n0_0n  @KriS_hna RT @sajak_cinta Bibirmu perlahan berlayar. Tubuhku perlahan berombak, mengganas lalu jinak. ~@PrincessNatta
Dunia lirang, 03/10/11

NotaBene:

@sajak_cinta, @Zeventina, @Bemz_Q, @socrateslover & @PrincessNatta : Puisi-puisi yang menginspirasi. Terimakasih! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Mention or Not Mention

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s