Lelaki Kecil Kami

Matahari pagi menelusup malu-malu melewati kisi-kisi jendela. Semburatnya yang keemasan memantulkan rona kuning pada dinding dapur. Hangat. Aroma kopi yang mengepul bercampur wangi roti dari panggangan. Wangi yang kukenal bertahun-tahun. Menjadi denyut di dapur ini setiap pagi. Istana kecilku. Aku telah menyiapkan hidangan bagi semua penghuni  rumah ini selama bertahun-tahun. Mengenal dengan detil semua kesukaan mereka masing-masing. Semua kulakukan dengan segenap cinta. Terlebih pada saat istimewa seperti hari ini. Aku telah menyiapkannya dengan sempurna.

Cake coklat kesukaannya sejak kecil juga domba muda panggang  favoritnya. Aku biarkan segenap cinta mengalir melewati jari-jariku. Menjalinnya dalam adonan roti yang kuaduk. Meresapkan setiap rempah yang kutaburkan di serat daging domba yang kumasak . Aku ingin cintaku ia rasa. Aku mau kasihku merasuk di alir darah dan tubuhnya. Aku tersenyum melihat karya cintaku semalaman. Kuseka ujung mataku. Basah.
“Wow! Ini luar biasa, Carla. Terimakasih!” Suara Matthew mengagetkanku.Kecupannya ringan mendarat di pipiku. Kami tertawa bersama. Aku, Matthew dan Nyonya.
“Carla membuatnya semalaman, seharusnya tidak hanya ucapan terimakasih yang diterimanya.” Nyonya menyenggol lengan Matthew.

Matthew mengulaskan senyum termanisnya. “Bukan pipi mempelaiku yang pertama kali kukecup pagi ini Carla. Melainkan pipimu.”

Aku merona. “Aku tahu anak bodoh. Kau ingin sarapan? Telur dadar isi sosis?” Kusorongkan sepiring dadar bercampur sosis yang telah kubuat nyaris seumur matthew. Menu yang sama yang dimintanya setiap pagi semenjak ia bisa mengunyah makanan padat. Lewat sepiring telur dadar sosis aku mengirimkan doa untuk Matthew setiap pagi.

Matthew mengunyahnya telur dadar sosisnya dengan  lahap.”Kau yang terbaik Carla.” Katanya sambil mengacungkan jempol.

Kini di dapur hanya ada aku dan Nyonya. Matthew telah berangkat terlebih dahulu menuju gereja di ujung desa. Kami berjanji akan segera menyusulnya.
“Waktu begitu cepat berlalu Carla.” Nyonya mengeluh pelan.
Aku mengangguk. Tenggorokanku tercekat oleh haru.
“Aku tak akan pernah bisa membalas kebaikanmu Carla. Matthew adalah hadiah terindah yang pernah kudapatkan dalam hidupku” Nyonya meremas lembut tanganku. Kami bertatapan dengan mata berkaca.
Teringat sebuah peristiwa 27 tahun yang lalu. Aku menangis menggendong bayiku di depan pintu rumah ini di tengah hujan deras. Akan kutinggalkan bayi lelakiku yang tampan ini ketika pintu rumah tiba-tiba terbuka. Nyonya berdiri di sana dengan terkejut. Begitu juga aku.

Lalu katanya, ” Tinggalah disini Carla. Biarkan aku menjadi ibunya namun jangan kau tinggalkan dia.”

Lonceng gereja berdentang menyadarkan lamunan kami. Waktunya hampir tiba. Kami harus segera menuju di gereja. Hari ini lelaki kecil kesayangan kami akan menikah.

Dunia lirang, 06/10/11

Advertisements

One thought on “Lelaki Kecil Kami

  1. setelah menikah, mathew menjadi milik istrinya. bukan milik carla, bukan pula milik nyonya. he he

    dilema punya menantu… :p Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan komen, sering-sering mampir ya. Ditunggu! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s