Sihir Hujan

Aku bosan. Sekarang sudah bulan ke sepuluh dalam peredaran matahari. Waktuku seharusnya sudah tiba. Ini saatnya aku bermain-main ke bumi. Bukannya bermalasan-malasan seperti sekarang. Setiap hari hanya duduk diam di depan cermin, menunggu Lilian menyisiri rambutku. Pekerjaan yang semakin hari semakin lama saja dikerjakannya.  Lihat! Bahkan rambut perakku sudah demikian panjang sekarang.  Sebentar lagi  kilau keperakan itu akan berubah menjadi seputih kapas. Saat itu aku tak bisa lagi bermain sebagai hujan. Hanya duduk tenang dan anggun sampai saudariku yang lain datang meneruskan tugasku.

Bukan, aku bukan dukun india tua yang rambutnya panjang penuh uban. Sebaliknya aku sangat cantik. Emm, tidak terlalu cantik sih. Tapi cukup cantik. Oh, oke baiklah! Aku tidak cantik. Sama sekali tidak cantik. Pipiku tidak bersemu kemerahan, aku juga tidak berkulit coklat keemasan atau berpenampilan mempesona seperti saudara-saudaraku lainnya. Penguasa-penguasa ke empat musim .  Aku  gadis kurus dan pucat dengan rambut perak yang panjang.  Menjelang akhir tahun aku akan berubah semakin pucat.  Kulitku, rambutku, gaunku, semuanya berubah menjadi putih. Pada saat itu aku duduk di singgasanaku dan tertidur. Sementara ujung-ujung rambut dan jemariku meneteskan bulatan-bulatan lembut putih yang mereka sebut Salju. Bisa kau bayangkan,  tertidur selama kurang lebih 3 bulan. Sungguh menjemukan!

Itu sebabnya aku lebih suka dipanggil Hujan.

Menjadi hujan adalah saatku yang tercantik. Rambutku masih berkilauan perak dan gaunku masih bertabur kristal cantik. Seperti saat ini. Ini saatku bermain-main tapi entah mengapa gerbang istana belum juga dibuka untukku. Mmm, mungkin sahabatku, angin utara bisa membantu. Ditambah sejumput bubuk sihir hujan, aku pasti bisa kabur melewati  jendela menara.

—-

Huaaa..!! Ini sangat menyenangkan!  Aku melebur bersama angin utara. Tubuhku nyaris tidak berwujud kecuali kau memiliki penglihatan yang luar biasa tajam. Kau akan bisa melihat gugusan lembut kristal-kristal air yang  bergerak seiring liuk angin yang dingin. Ya, itu aku!

Tentu saja, membujuk Angin Utara bukan pekerjaan mudah. Aku berjanji memberinya sesendok bubuk sihir hujan. Ditambah sumpah perlindunganku untuknya jika kami ketahuan. Jadi, inilah aku meliuk bersama Angin Utara yang membawaku terbang. Aku menyuruhnya mencari tempat yang tenang di  Bumi. Pada dimensi waktu dimana manusia tak sebanyak sekarang dan suara hati masih bisa mereka dengar dengan jelas.

Aku melihatnya. Lebih tepatnya aku mendengarnya. Lamat-lamat telingaku mendengar suaranya yang mendaraskan mantra. Tertutup oleh deras air terjun dan kecipak gerimis yang mengiringiku turun ke bumi. Penasaran aku mencoba mencarinya. Angin Utara masih bersamaku, ia membantu mencari asal suara.

Hati-hati, bisik Angin Utara. Aku mengangguk .

Dan kulihat dia, duduk bersila diatas batu besar pada gua dibalik air terjun. Matanya terpejam namun bibirnya tak henti mendaraskan mantera, semacam puja-puji bagi Ayahku. Aku mendekatinya perlahan. Sebagian tubuhnya basah terkena cipratan air terjun. Tapi dia bergeming. Aku tersenyum.

Jangan kau ganggu dia, bocah nakal! Angin Utara berdesis di telingaku.

Aku tidak mengganggu, Kakek bawel! Aku membalas tak kalah galak.

Angin Utara terkadang bisa sangat menyebalkan. Bawel seperti  seorang kakek tua. Aku berputar mengitari  lelaki itu. Kurasakan punggungnya dengan jemariku.

Panas. Bisikku pada Angin Utara.

Tentu saja, dia kan manusia.

Punggung lelaki itu meremang karena sentuhanku.  Mantera yang didarasnya semakin cepat seiring debar jantungnya. Aku bisa merasakannya.

Kau gila! Angin Utara terlihat gusar.

Dia pertapa?

Belum. Dia baru mencoba menjadi pertapa sampai kau datang dan mengganggunya. Lelaki muda yang malang. Angin Utara prihatin, bibirku merengut.

Kini aku menatap wajahnya lekat. Mereka-reka bentuk dan warna sepasang bola mata yang bersembunyi di balik barisan bulu mata yang pendek-pendek dan kaku. Mengamati bentuk bibirnya yang bergerak-gerak. Bertahan mendaraskan syair mantera. Debaran di dadanya kembali normal. Aku mengangkat jemari kiriku dan menjentikkannya. Debu bubuk sihir hujan keluar beterbangan, aku merangkumnya dengan tangan. Perlahan bubuk sihir hujan yang terkumpul itu kuhembuskan ke wajah lelaki di depanku. Kristal-kristal  gerimis yang menyertaiku berdenting. Sihirku dimulai.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kusentuh  bahunya dan perlahan sekali kukecup ujung hidung lelaki itu. Denting kristal-kristalku semakin nyaring. Bibirku menyentuh ujung hidung miliknya. Aku merasakan aliran hangat nafasnya yang menerpa wajahku. Mataku terpejam beberapa detik sebelum kudengar  Angin Utara melengking.

Gadis bodoh! Apa yang kau lakukan!

Terkaget kubuka mataku. Dan sepasang mata berbentuk badam itu tengah menatapku dengan ekspresi terkejut. Sebelum kemudian jatuh tersungkur.

Sontak aku melangkah mundur. Bibirku bergetar.

Oh Dewa, apa yang telah aku lakukan? Sihirku… bukankah sihir hujanku seharusnya bekerja? Seharusnya lelaki itu tak merasakan apapun. Aku menutup wajahku dengan tangan. Ya ampun, tanganku berwujud. Samar tapi berwujud. Kristal-kristal di tubuhku meredup oleh aliran gelombang hangat yang lembut mengalir di tubuhku.  Aku pasti tidak sengaja telah menghirup gelombang kehidupannya!

Apakah dia juga menghirup energiku. Aku mulai panik.

Kau sungguh sembrono, gadis muda! Amuk Angin Utara. Berputar disekitarku dengan bising.

Sekelebat cahaya terang tiba-tiba berkilat menyambar tempat kami berdiri. Petir menggelegar beberapa detik kemudian. Angin ribut terdengar kencang  menggoyang pohon-pohon besar di luar sana. Aku mendengar beberapa diantara tumbang. Badai besar.

Ayahku tahu!

Aku gemetar ketakutan membayangkan amarahnya.  Kucoba  melebur bersama Angin Utara. Tapi ia menjauh dan tubuhku terlanjur berwujud.

Maafkan aku. Angin Utara berbisik pelan sebelum meliuk meninggalkanku.

Aku hendak menahannya, namun kulihat tubuh lelaki itu menggigil hebat.  Energiku terhisap olehnya terlalu banyak. Ia pasti tak kuat menahannya!  Aku berlari ke arahnya. Panik aku memeluk tubuhnya yang menggigil. Hawa dinginku kurasakan mengalir di tubuhnya. Tubuh manusianya menolak dengan mengeluarkan energi panas berlebihan.

Aku menangis. Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan airmata. Butiran-butiran kristal kecil berjatuhan dari pipiku. Melumer begitu menyentuh kulit lelaki yang kudekap erat-erat. Di luar gua, badai masih mengamuk. Ayahku mengamuk.

Ampuni aku, Ayah. Tolonglah, dengarkan aku sebentar saja. Tolong aku…

Langit jernih. Bintang-bintang bertaburan cemerlang. Badai tak bersisa. Usai bersamaan kepergian ayahku. Aku duduk memeluk lutut.  Lelaki itu berbaring di dekat  api unggun. Nafasnya teratur, tubuhnya tak lagi menggigil. Suhu badannya kembali normal meski  ia masih terlalu lemah untuk siuman.

Bukankah ayah sudah melarangmu keluar menara, Nak?

Aku mengangguk tersedu.

Seharusnya aku tahu ini akan terjadi.  Aku tak akan bisa mengubah takdirNya. Ayahku mengeluh dengan suaranya yang berat dan dalam.

Jalanmu sudah kau pilih, Nak. Jalanilah hingga ujungnya.

Sendirian? Mendadak aku merasa ketakutan dan kesepian.

Bersamanya. Lelakimu. Mata Ayah tertuju pada tubuh yang terbaring di tengah gua.

Lelakiku?

Ya lelakimu. Kalian telah berbagi energi hidup. Kau tak bisa kembali sampai nanti waktumu tiba.

Bagaimana aku bisa tahu waktuku?

Kau terlalu banyak bertanya.

Ayah menarik kedua tanganku dan mengecupnya dengan sayang. Jemariku berpendar terang. Kemudian meredup. Ayah membiarkan sihir hujan menetap di jemariku. Identitasku terakhir sebagai  Penguasa Hujan.

Bunyi api merepih diiringi gemeretak kayu bakar. Aku memandangi wajah damai lelaki itu. Kini aku hanya memilikinya. Dia, aku dan takdir kami.  Mungkin kami akan bersama sebagai kekasih. Atau  malah akan berhadapan dengan tatapan penuh benci sebagai musuh. Apapun itu kami ditakdirkan untuk bersama. Bahkan di kehidupan berikutnya aku  tetap datang mencarinya. Sihir hujan mempertemukan kami. Sekarang dan di masa depan.

NotaBene:

@sihirhujan: nama yang sangat menginspirasi. Terimakasih! 🙂

 

Advertisements

One thought on “Sihir Hujan

  1. imajinasi yang luar biasa…

    terimakasih sihirhujan.. 🙂 Jangan bosan mampir dan memberi komentar ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s