Perempuan Bumi

Wanita yang jatuh dari langit. Demikian kami menyebut mereka dari zaman ke zaman.

Tak ada seorangpun di desaku mengetahui dari mana ia berasal. Sebagian dari orang tua kami mengatakan ia sudah ada sejak mereka kanak-kanak. Sebagian lain malah berkata wanita ini tumbuh bersama kakek dan nenek kami. Entah mana yang benar. Yang jelas dari mulutnya mengalir kisah-kisah tentang leluhur kami, para pemburu. Dari nyanyian yang dilagukannya setiap purnama, kami mengenal nama-nama yang ia sebut dengan pelindung suku kami.

Tak semua orang di desa kami menyukai wanita ini. Para ibu yang tengah mengandung anaknya sangat ketakutan jika suatu ketika berpapasan dengannya. Wanita itu akan memandang tajam perut mereka yang membuncit dengan matanya yang kelabu. Kabarnya ibuku yang tengah mengandung diriku saat itu menjadi salah satu korbannya. Ibu terpaksa harus ke hutan dalam keadaan hamil tua mencari dedaunan sebagai obat bagi nenek yang tengah sakit keras. Desa kami kosong, para lelaki tengah berburu. Ibuku perempuan pemberani dan anak yang berbakti, dengan tabah ia berjalan ke tengah hutan seorang diri. Malang baginya, bayi yang dikandungnya tak ingin bekerjasama. Aku mendesak ingin dilahirkan. Tak tahan menanggung rasa mulas dan kesakitan, ia berbaring bersandar pada sebuah pohon besar. Pada saat itulah entah kebetulan entah tidak, perempuan itu muncul begitu saja dari ujung setapak yang gelap.

Waktumu sudah tiba, katanya sambil menyeka keringat dingin yang membasahi kening ibuku yang kesakitan sekaligus ketakutan. Malam semakin larut ketika ibu mengeluarkan teriakan nyaring dan panjang. Tangisku nyaring menyusul beberapa detik kemudian. Perempuan itu dengan sigap menyelimuti tubuh kecilku yang telanjang dengan mantel yang dikenakannya saat itu. Darah terus mengalir diantara kaki ibuku yang kini tergolek pucat. Perempuan itu duduk disampingnya sambil menggendongku. Pandangannya terpaku ke arah desaku seolah menunggu sesuatu.

Ayahku datang tergopoh-gopoh dengan seorang Hataali. Entah siapa yang memanggilnya untuk pulang dari perburuan. Tabib segera memeriksa nadi ibuku.

Dia sudah pergi, ujar Hataali tua itu pelan. Ayahku tertunduk sedih bahunya berguncang  menahan isak. Pada saat itulah perempuan tua  menyodorkan lengannya.

Putrimu sangat cantik, Kepala suku. Dia akan tumbuh kuat dan bijaksana. Langit dan aku akan menjaganya.

Ayahku memandang wajahku untuk kali pertama. Bias bulan keperakan  menimpa wajahku. Ayahku tersenyum lalu berkata, “Aku memberimu nama, Yue.”

Yue, Sang Bulan. Itulah aku

“Lalu mengapa perempuan-perempuan desa membencinya? Apakah benar ia membunuh ibumu seperti yang mereka katakan?” Mata bulatnya membundar. Menuntut. Aku mencolek  pipi kemerahan itu dengan gemas.

“Kemana perginya kesabaranmu, Gadis Kecil?”  Aku tersenyum menggodanya.

“Tidak. Perempuan itu tidak membunuh ibuku. Ibuku meninggal karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Tubuhnya terlalu lemah untuk bertahan. Ramuan obat yang dibawa perempuan itu tak cukup kuat.”

“Hanya karena itu?”

“Hanya karena itu.”

“Tak ada misteri? Tak ada pembunuhan?”

“Tak ada misteri. Tak ada pembunuhan.”

“Aah.” Rona kecewa muncul di wajah mungilnya. Aku tertawa.

“Senja sudah menjemputmu, Kachina. Pulanglah.” Aku menunjuk garis lembayung kemerahan di batas cakrawala.

Kachina mengangguk.

“Aku akan datang lagi esok hari, Yueee!” Teriaknya melambaikan tangan. Aku membalas lambaiannya dan tersenyum.

“Boleh aku menemuimu lagi, Ataentsic?”

Aku bertanya sambil menjinjing sekeranjang penuh daun-daun obat. Kami baru pulang dari padang rumput di atas tebing. Ataentsic mengajariku helai demi helai daun dari tanaman obat yang tumbuh di sana. Tanaman-tanaman berkhasiat ini sengaja tumbuh di padang yang luas agar siapapun bisa memetiknya, katanya suatu hari.

“Kelak, siapapun berhak  mendapatkan penyembuhan darimu, Yue. Musuhmu sekalipun.”

Aku mengangguk. Ataentsic sangat jarang berbicara. Aku selalu mencari cara untuk mendengar suaranya dengan memberinya pertanyaan-pertanyaan konyol. Tak semua pertanyaanku ia jawab. Seperti dulu saat aku bertanya siapa namanya. Setiap pagi aku datang ke pondoknya di pinggir hutan selama seminggu penuh. Aku menyapanya dengan sapaan hormat bagi para tetua suku kami. Lalu dengan sigap membersihkan pondok kecil tua itu sambil terus mengoceh bercerita tentang apa saja. Di tengah-tengah cerita selalu  kuselipkan pertanyaan tentang siapa namanya. Dan perempuan itu tetap diam di kursinya sambil lekat-lekat memandangku yang bergerak kesana kemari. Hingga di hari ke tujuh.

“Namaku Ataentsic.”

Tanganku berhenti mengayunkan sapu.

“A-ta-ent-sic.” Lidahku kesulitan membunyikan namanya.

“Mengapa namamu sulit sekali diucapkan?” Aku mengeluh.

“Apalah arti sebuah nama, Yue. Lebih penting peran yang kau bawa sejak lahir. Kau bisa menyebutku apa saja. Bahkan kelak kau pun  boleh menyebut dirimu, Ataentsic.”

Aku tak mengerti kata-katanya. Namun sejak hari itu aku tak pernah berhenti mengunjunginya. Ayahku tak pernah keberatan dengan hal ini.

Dia yang menyelamatkan hidupmu, Yue. Perempuan itu pantas menjadi gurumu.

Perempuan-perempuan di suku kami tak setuju dengan hal ini. Mereka menganggap Ataensic seorang penyihir perempuan yang gila.

Apakah kau akan membiarkan Yue menjadi gila seperti perempuan itu, Kepala Suku? Mereka menggugat.

Langit telah memberitahuku, Ayahku berkata pendek. Mereka terdiam. Ayahku tak pernah salah membaca isyarat langit yang dikirimkan melalui asap-asap pemujaan. Ayahku selalu benar, Ataentsic adalah guruku.

Ataentsic mengajariku banyak hal. Sejarah leluhur , tradisi yang menjadi takdir kami, pengobatan bahkan sedikit sihir meskipun aku sama sekali tak berbakat.

“Jangan kuatir, Yue. Sihir tak akan berguna banyak untukmu. Engkau Sang Perawan Penyembuh, itulah peranmu.” Lalu Ataentsic melanjutkan pelajarannya.

Hari itu kulalui dengan gundah. Aku seorang gadis belasan tahun, putri seorang kepala suku. Jantungku mulai berdebar dan pipiku memerah setiap kali bertukar  pandang dengan Quail, pemburu terbaik di suku kami. Kini, perkataan Ataentsic  tentang Sang Perawan Penyembuh, terdengar sedikit mengerikan.

Ataensic memahami ketakutanku seperti seorang ibu memahami putrinya yang beranjak dewasa. Ia tak pernah lagi mengungkitnya. Melainkan dengan telaten menceritakan banyak kisah dan sejarah. Aku menemukan kebijaksanaan di sana dan membagikannya sebanyak aku bisa. Menjadi dewasa dari hari ke hari, tahun demi tahun. Ataensic sudah lama meninggalkan kehidupannya. Setelah menurunkan semua kebijaksanaannya dan mewariskan Bumi kepadaku. Sama seperti Aetentsic, aku terus hidup sampai penerus berikutnya tiba.

Keberuntungan bagiku, waktu tak terlalu lama membiarkanku menunggu. Kachina lahir dari rahim perempuan yang  suaminya meratakan hutan tempat  kami berdiam. Desaku, tempat yang telah dijanjikan leluhur bagi suku kami.  Namun aku tetap membantunya menyuburkan kembali rahim yang kering itu. Persis seperti yang dipesankan Ataentsic kepadaku, siapapun berhak mendapatkan penyembuhanku. Perempuan itu lalu membawa bayinya kepadaku untuk diberi nama. Aku terpana melihat jemari mungil milik bayi perempuan lucu itu. Selingkar cahaya halus terpasang di sana. Aku mendongak menatap mata sang ibu.

“Putrimu bernama Kachina.”

Penerusku bernama Kachina. Penguasa Sihir.

Ataentsic, Aku, Kachina dan kelak seorang perempuan istimewa dari tiap generasi manusia, yang akan mewarisi Bumi.  Jatuh dari langit, membawa kebijaksanaan dan pengetahuan.  Kami menjaga, memelihara, menyembuhkan dan menyuburkannya seperti seorang Ibu. Ruh Gaia mengurat nadi di tubuh kami dan perempuan-perempuan pilihan bumi berikutnya. Selamanya.

Hataali : Shaman/Tabib/Dukun (Navajo)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s