Kilau Tara

Diterbitkan oleh nulisbuku dalam antologi “Don’t Stop Me Now” 

Di sebuah resto di suatu sore.

“Aku membatalkan pertunangan kita, Leo.” Tara melepas selingkar platina berhias berlian mungil dari jari manisnya dan meletakkannya di meja.

“Kau gila, Tara. Pernikahan kita tinggal sebulan lagi!” Leo mendesis menahan amarah. “Apa yang harus kukatakan pada orangtuaku? Keluargamu? Belum lagi semua persiapan yang sudah kita lakukan. Demi Tuhan, Tara!” Leo memegang keningnya yang mulai berdenyut nyeri.

“Maafkan  aku, Leo.” Tara merasakan dadanya memberat. Ia sudah menghabiskan beberapa malam untuk mengambil keputusan ini. Sebaik yang ia bisa. Namun, berhadapan langsung dengan Leo tak semudah yang dipikirkannya.

“Aku akan berbicara dengan orangtuamu dan mengganti semua yang sudah kamu keluarkan untuk persiapan ini. Mungkin tidak sekaligus. Tapi aku pasti akan mengembalikannya.” Janji Tara penuh kesungguhan.

“Tidak perlu. Sudahlah lupakan saja. Aku yang akan berbicara dengan orang tuaku.” Ucap Leo lemah.

“Baiklah, rasanya aku tak perlu berlama-lama di sini. Terimakasih atas pengertianmu, Leo.” Tara menggeser kursinya dan berdiri. Leo mencekal tangannya  tiba-tiba, matanya menatap tajam Tara.

”Cinta kita?”

Tara diam. Perlahan dilepasnya cekalan Leo pada pergelangan tangannya. Mata gadis itu melembut.

“Segalanya bisa berubah, Leo.” Ujarnya sebelum membalikkan badan dan berlalu.

Angin lembut menghantarkan awan kelabu yang perlahan menutup langit sore yang mulai samar menguning jingga. Sebentar lagi hujan mungkin turun namun Tara tak peduli. Ia berharap hujan turun dengan deras . Ia membutuhkan hujan melarutkan sesak yang menggumpal dada saat ini.

Kaki Tara melangkah tak jelas arah tujuan. Tadinya  ia berencana akan langsung pulang ke hotel kecil tempatnya menginap sejak  semalam. Namun Tara sadar,  berada di kamar sempit dan bergelung diatas kasur sembari menangis hanya akan memperburuk suasana hatinya. Dia membutuhkan udara segar membiarkan angin menerbangkan perih hati. Menyilakan hangat matahari memantapkan tekadnya. Dan berharap hujan datang tiba-tiba melarutkan kesedihannya. Seperti sore ini.

Tara menengadahkan wajahnya menantang langit. Membiarkan hujan melebur dengan airmata yang mengalir deras di pipinya. Hatinya hancur teringat teriakan lantang yang mengusirnya keluar dari rumah. Teriakan lantang milik ayahnya yang membahana. Pedih hatinya mendapati ibunya hanya terisak meratapi nasib sialnya memiliki putri yang memberontak.

Gemetar Tara menghapus air matanya. Wajah dan rambutnya kini kuyup oleh hujan yang turun menderas. Kakinya terus melangkah menyusuri trotoar. Abaikan angin yang mulai gigilkan tubuh kurusnya. Ia hanya ingin berjalan terus berjalan meninggalkan semua di belakang.  Menjadi kenangan.

Namanya Ben. Mereka bertemu tak sengaja di sebuah pameran fotografi. Ben seorang fotografer sekaligus traveller. Ben dan Tara terlibat percakapan kecil yang mengasyikkan. Ben yang bersemangat menghidupkan jiwa Tara. Tara terpukau setiap kali mendengar Ben menceritakan  petualangan-petualangannya. Sementara Ben menatap takjub saat Tara menceritakan hidupnya yang lurus dan terencana sejak kecil. Sekolah dimana, jurusan apa yang harus dipilih bahkan lelaki mana yang harus dinikahinya.

Tak ada yang salah dengan Leo. Ia pemuda yang baik, dengan latar belakang pendidikan dan keluarga yang tentu saja diatas rata-rata. Ayah dan ibu Tara sudah memastikan hal ini jauh-jauh hari. Leo memperlakukannya dengan manis dan sopan. Tara menyukainya. Bahkan ia pikir ia telah jatuh cinta, tak ada gadis yang tak menyukai Leo, pikir Tara saat itu. Tanpa ragu diterimanya cincin platina bermata berlian yang dipasangkan Leo di jari manisnya. Ia gadis yang beruntung, begitu kata semua orang  dan Tara membenarkan dalam hati.

Tapi Ben dan kehangatannya mengubah segalanya. Tara melihat dunia yang luas dari cerita-cerita Ben. Ben memuji obyek-obyek foto yang dibidiknya. Untuk yang pertama kali Tara merasa menjadi dirinya sendiri. Ketika mereka bersama, mengobrol dan tertawa, waktu terasa begitu cepat. Tara seperti hidup kembali. Wajahnya berseri dan  matanya berbinar. Bersama Ben, jiwanya hidup.

“Kamu lihat Tara,” kata Ben suatu malam ketika mereka berbaring berdampingan diatas rumput. “Jika langit cerah seharusnya kita bisa melihat bintang yang berpijar terang ditengahnya. Namanya Antares, jantung scorpio.” Tangannya menunjuk pada gugusan bintang yang berbentuk kalajengking.

“Antares itu seperti kamu.” Ben berguling. Berbaring miring menghadap ke arah Tara.

“Aku?” Tara menatap Ben dengan bingung.

“Antares itu menyilaukan. Lebih terang daripada matahari. Tapi dia bintang yang dingin. Sama seperti kamu. Berkilau tapi dingin. Kamu bahkan sama sekali nggak sadar kalau kamu itu menyilaukan.”

Tara menatap Ben tanpa kedip. Ben salah tingkah. “Eh gombal banget, ya?” Ben nyengir.

“Menurutmu begitu? Kamu yakin  aku  bisa berkilau dengan cahayaku sendiri?” Tanya Tara bertubi dengan ekspresi serius. Ben mengangguk mantap. Hening tercipta diantara mereka.

“Ben.” Panggil Tara tanpa melepaskan pandangannya dari  angkasa.

“Yup.”

“Setelah ini kamu mau pergi kemana?” Tanya Tara pelan.

“Ke Alaska. Memburu Aurora Borealis.” Ben tertawa. “Mau ikut?”

Tara mengangguk mantap.

“Ya. Aku ikut!”

Begitu saja. Percakapan sederhana di malam hari merubah segalanya. Sejak malam itu Tara memutuskan untuk terbang melihat dunia luar. Mencari jati dirinya sendiri. Seperti kata Ben, berkilau dengan cahayanya sendiri. Lepas dari bayang-bayang orang-orang disekitarnya. Meski kebebasannya menuntut harga yang mahal. Terusir dari rumahnya sendiri. Namun Tara telah memantapkan langkahnya. Ia tak mau lagi mundur ke belakang.

Malam semakin gelap. Mendung berangsur menipis. Satu-persatu kerlip bintang terlihat. Tara masih berjalan menyusuri trotoar. Tapi kini langkahnya terasa jauh lebih ringan. Hujan telah melarutkan kesedihannya.

Lampu-lampu jalanan memantulkan cahaya pada jalan yang Tara susuri. Bibirnya menyunggingkan senyum membayangkan hebatnya pengalaman yang akan dilalui bersama Ben. Sebuah motor menderum, menepi mengiringi langkahnya. Tara menoleh.

“Ben!” Serunya.

“Butuh tumpangan, cantik?” Ben  tersenyum menggoda. Tara tertawa. Dengan sigap ia membonceng di motor Ben.

Motor Ben menderum membelah jalan yang  terang oleh lampu penerang. Rambut Tara meriap diterjang angin malam. Tara memejamkan mata menikmati sensasi dingin angin di wajahnya. Tubuhnya setengah menggigil akibat basah yang disisakan hujan pada pakaiannya. Namun hatinya membuncah hangat.

Dunia, tunggu aku.  Tara tersenyum.

Dunia lirang, 21/10/2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s