Pertanda

Rayun mempercepat langkahnya menyusuri setapak kecil di pinggir hutan. Senja mulai menurunkan tirainya yang jingga keemasan. Batang-batang pohon mulai menggelap. Rayun merasakan debar dadanya semakin mengencang. Tanpa menoleh ke belakang pun Rayun tahu lelaki itu mengikutinya.

Rayun memergoki pandangan lelaki itu menatapnya tajam ketika ia mengambil sisa penganan yang dititipkan ibunya di kedai kopi milik Bu Sumi di ujung kampung dekat terminal. Pandangan penuh selidik dari lelaki asing itu membuat Rayun jengah. Berulangkali ia melirik ke pakaiannya sendiri. Tak ada yang salah. Pakaiannya sopan dan tertutup. Namun tatapan tajam itu menimbulkan ketakutan di hati Rayun.

Dengan ekor matanya Rayun tahu ia diikuti sejak keluar dari warung kopi. Ia berusaha untuk memperlebar jarak namun lelaki itu selalu berhasil mengikuti langkahnya. Sialnya, hari ini tak satupun ojek  mangkal di pangkalan. Rayun terpaksa berjalan kaki melintasi setapak kecil di pinggir hutan ini.

Tapak kaki  itu kini semakin terdengar jelas di telinga Rayun. Setengah berlari Rayun berusaha melepaskan diri. Lelaki  itu ikut mempercepat langkahnya mengikuti ayunan kaki di depannya. Keringat dingin mulai membanjiri kening Rayun. Ia tersaruk-saruk sambil merutuk dalam hati, mengapa ujung setapak ini tak jua terlihat. Sementara jarak antara dirinya dan lelaki asing itu kini semakin dekat.

Rayun melihat ujung atapnya di kejauhan. Pondok kecil milik almarhumah Nek Ipah. Dukun beranak yang konon kata ibunya membantu kelahiran Rayun. Pondok itu kosong sejak pemiliknya wafat setahun yang lalu. Sebuah pikiran melintas di kepala Rayun.

Pintu berderit membuka tepat ketika Rayun berdiri di depannya. Sesosok perempuan berdiri di balik pintu. Nek Ipah! Jantung Rayun mencelos, wajahnya pias seputih kapas. Bagaimana mungkin nenek berdiri disana, bukankah ia sudah meninggal? Pikiran Rayun mulai kacau. Masuklah! Rayun seolah mendengar suara Nek Ipah kendati bibir wanita itu terkatup rapat. Rayun menoleh ke belakang sejenak. Hari mulai gelap, lelaki menakutkan itu terus mengejar sementara entah mengapa setapak ini tak kelihatan ujungnya. Berputar-putar saja sedari tadi.

Enggan berpikir terlalu lama Rayun segera mengangguk dan memasuki pondok. Nek Ipah menunjuk sebuah meja besar di tengah ruangan. Permukaan meja itu penuh dedaunan obat dan rempah-rempah. Rayun membungkukan badannya berusaha bersembunyi di kolong meja yang ditunjuk perempuan tua itu. Nek Ipah menutup pintu pondok lalu kembali meneruskan pekerjaan meramu obat di atas meja besar tempat Rayun bersembunyi di kolongnya.

Lelaki itu datang! Rayun mendengar tapak kakinya persis di balik dinding pondok ini. Badan Rayun gemetar. Pondok ini tua, sekali dobrak lelaki itu pasti akan sanggup menjebol pintunya. Langkah-langkah kaki terdengar mengitari pondok Nek ipah. Rayun tak mendengar gerakan halus sekalipun dari Nek Ipah. Terbawa keheningan Rayun sedapat mungkin tak bergerak. Lelaki itu masih mengitari pondok.

Tiba-tiba Rayun melihat sebuah kisi kecil di dinding. Bayangan hitam berdiri disana. Rayun terkesiap! Lelaki itu berdiri di sisi luar kisi itu berusaha mengintip ke dalam pondok. Bibir Rayun bergetar ketakutan. Keringat dingin kini membanjir di punggungnya. Pandangan tajam lelaki itu liar menyapu seluruh ruangan pondok. Seharusnya ia melihat Nek Ipah, tapi mengapa lelaki itu diam saja? Dan mengapa Nenek juga diam saja dan tak mengusirnya? Diantara ketakutannya pikiran-pikiran Rayun berlompatan.

Ya Tuhan, lelaki itu menatapku! Rayun menjerit dalam hati. Tunggu, dia tidak melihatku? Rayun keheranan. Mata lelaki itu tajam melihat ke titik dimana dirinya bersembunyi. Namun fokusnya menembus wajah Rayun. Rayun tidak terlihat olehnya. Lelaki itu bergeser pelan. Rayun melihat sesuatu berkilat digenggam lelaki itu. Sebuah belati.

Adzan  nyaring terdengar memecah hening shubuh. Rayun tersentak bangun. Dadanya masih menyisakan debar. Bahkan pakaiannya pun lekat oleh keringat. Mimpinya semalam sungguh menakutkan. Wajah Nek Ipah, lelaki asing dan belatinya itu melekat di pikirannya. Bergegas Rayun turun dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Ingin mengadukan kecemasannya pada Sang Pelindung.

“Mimpi itu hanya bunga tidur, Rayun.” Ibunya tak mengalihkan pandangannya dari potongan-potongan sayur yang dimasaknya. Rayun cemberut.

“Tapi Rayun melihat wajahnya dengan jelas, Bu. Bahkan sampai sekarang pun Rayun masih bisa mengingatnya.” Rayun bersikeras.

Ibunya menghentikan adukannya pada panci. Ia mulai kesal pada kecemasan putri tunggalnya. Cerita Rayun tentang mimpinya semalam terdengar konyol. Sementara masalah yang lebih besar kini tengah bercokol di pikirannya berminggu-minggu lamanya.

“Dengar Rayun! Jika mimpimu semalam kau anggap mimpi buruk, tak sepatutnya kau utarakan pada Ibu.” Ibunya berkata tajam. Rayun terdiam menunduk. Keheningan tercipta.

Rayun ingat pesan ibunya sejak dirinya akil baligh, jika suatu hari nanti kau bermimpi buruk Rayun. Segeralah mandi besar jika kau terbangun. Gunting sedikit ujung rambutmu, campur dengan sejumput beras, bacakan Shalawat Nabi atasnya. Lalu pergilah keluar rumah dan buang dengan tangan kirimu. Segera balikkan tubuhmu dan masuklah segera kembali ke rumah. Tak perlu kau tengok-tengok lagi ke belakang. Nasehat ibunya yang  kemudian dianggap bid’ah oleh ustadzah yang mengajarinya mengaji di surau setiap kamis malam. Namun baik ibunya maupun ustadzah menyepakati satu hal, mimpi buruk pantang diceritakan pada orang lain.

“Rayun.” Panggil ibunya memecah keheningan. Rayun mendongak.

“Ada satu hal yang ingin Ibu bicarakan, Nak.” Ibunya menghela nafas seakan hendak melepaskan beban berat yang telah lama menghimpitnya.

“Tentang Mustopha.”

“Ada apa dengan Bang Mus, Bu?” Tanya Rayun heran. Mustopha,pemuda dari  kampung sebelah. Tunangannya. Sebulan lagi mereka akan menikah.

“Apa kau yakin akan menikah dengannya? Ibu mendengar kabar yang tak sedap. Paman Salim yang menceritakannya pada Ibu.” Ibunya bertanya dengan hati-hati.

Rayun menghela nafas. Ia faham kabar apa yang dimaksud ibunya. Maryam sepupunya, anak perempuan Paman Salim telah menceritakan hal ini. Desas-desus mengatakan Mustopha dekat dengan seorang gadis pendatang. Gadis dari pulau seberang yang berkulit putih dan berwajah manis. Namun Rayun tak mudah percaya. Kekasihnya berwajah tampan, wajar jika banyak gadis mendekatinya. Bahkan juga gadis dari pulau seberang. Bisa jadi kabar burung ini sengaja dihembuskan untuk menggagalkan pernikahannya.

“Rayun tetap akan menikah dengan Bang Mustopha, Bu.” Rayun menjawab. Suaranya mantap.

Ibunya mengerutkan kening.

“Bahkan jika kabar itu benar, Rayun tetap akan menikah dengan Bang Mus. Dia milik Rayun, Bu. Rayun memilikinya terlebih dahulu. Membatalkan pernikahan ini sama saja Rayun mengaku kalah dari perempuan itu. “ Suara Rayun bergetar. Ada setetes bening yang tiba-tiba saja ingin tumpah dari kelopak matanya. Rayun menahannya agar tak jatuh ke pipi.

“Sayurnya Rayun angkat ya, Bu.” Tangannya bergerak cepat mengangkat panci dari atas kompor. Mencari alasan pergi dari dapur. Berlalu dari ibunya.

Ibunya menggeleng tak kuasa menahan keras hati  Rayun. Teringat ia akan almarhum suaminya. Jika ayah Rayun masih hidup, ia pasti tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Pagi yang cerah. Secerah hati Rayun hari ini. Ia akan menikah pagi ini. Para kerabat sudah berkumpul di rumahnya. Dapurnya kini penuh dengan perempuan-perempuan yang memasak berpanci-panci hidangan. Sisanya berkumpul di kamarnya menggoda dirinya dengan nasehat-nasehat tentang malam pertama yang membuat pipi Rayun menghangat.

Tetabuhan rebana terdengar dari arah pekarangan mengiringi alunan Shalawat dari pemuda-pemuda kawan mengaji Rayun. Penanda rombongan pengantin laki-laki telah tiba. Jantung Rayun rasanya ingin melompat karena riang. Reflek ia menggeser tubuhnya ingin bercermin. Mencari tahu apakah dirinya tampak cantik hari ini.

“Kau tampak cantik, Nak. Percayalah.” Juru rias itu menahan bahu Rayun yang hendak menoleh ke cermin. Rayun tersipu. Sejak semalam ketika tangannya dihias dengan tanaman pacar, si juru rias telah berpesan. Selama dirias hingga acara usai, Rayun berpantang bercermin agar tak hilang cahaya wajahnya.

Suara kaum lelaki di luar terdengar bersenda gurau menyilakan rombongan pengantin pria. Rayun tetap berdiam di kamarnya  menanti penghulu datang dan memastikan kesediaannya untuk menikah. Perempuan-perempuan yang tadinya berkumpul di kamarnya kini bergabung dengan para kerabat untuk menyaksikan ijab kabul.

Tirai pintu kamar Rayun tersibak. Penghulu hendak memasuki kamarnya ketika suara hingar-bingar terdengar dari pekarangan rumahnya.

“MUSTOPHAA! KELUAR KAU!” Suara seorang lelaki berteriak lantang. Keributan segera terjadi. Banyak orang saling bicara dan berteriak. Suara Mustopha, suara Paman Salim, penghulu dan tangisan ibunya.

Ibunya menangis? Rayun berlari keluar kamarnya menuju ke ruang tengah. Samar Rayun mendengar kata-kata, adikku..hamil. Rayun melihat tubuh Mustopha rubuh ke lantai tepat ketika ia sampai di ruang tengah. Para perempuan menjerit. Rayun menghambur ke arah Mustopha. Beberapa orang lelaki menyergap tamu tak diundang itu. Rayun menangisi tubuh Mustopha yang berlumuran darah. Ia mendongak mencari tahu wajah pembunuh calon suaminya. Terkejut ia melihat sepasang mata tajam yang telah tertanam di benaknya berminggu-minggu. Jantung Rayun seolah berhenti sebelum gelap melingkupi pandangannya dan ia tersungkur.

Lelaki bermata tajam di mimpinya itu kini berdiri memegang belati dan ujungnya berwarna darah milik Mustopha.

Dunia lirang, 25/10/2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s