I’ve already miss you, Kin

“Papa, boleh nggak Kin nambah pancake lagi?” Mata bulatnya membesar. Aku pura-pura terkejut melihat piringnya yang kosong.
“Hem, boleh sih. Tapi kalau pipinya tambah gembil jangan salahin Papa, ya?” Godaku sambil menepuk pelan  pipinya sekilas. Selembar pancake panas kini berpindah ke piringnya.
Kin mengunyah perlahan separuh hati. Aku memandangnya heran.
“Kin? Kin sudah kenyang ya?”
Kin menghentikan kunyahannya. Sejenak memandangku.
“Agak kenyang sih, Pa. Tapi..,” Ia tak melanjutkan ucapannya.
“Tapi?”
“Kin takut, nanti Kin akan kangen pancake buatan Papa.”
Mataku memanas mendengar jawabannya.
“Pancake di Belgia akan jauh lebih enak dari pancake buatan papa.” Aku berbalik arah. Memunggunginya. Menyembunyikan air mata yang mendesak jatuh  dari sudut mataku.

Hampir sembilan tahun yang lalu. Ketika aku menatap wajah dihadapanku yang bersimbah air mata, “Sudahlah Mei, untuk apa kamu tangisi lelaki tak bertanggung jawab seperti itu!” Ujarku ketus sambil memalingkan wajah. Tak tahan melihatnya terus menerus mengalirkan airmata.

Mei sahabatku sejak di Panti Asuhan Budi Asih. Tempat kami menghabiskan masa kanak-kanak, dewasa kemudian mandiri. Mei cerdas, cantik dan lembut hati. Kombinasi empuk untuk pria yang memiliki aura Don Juan seperti Bram.

Berita kehamilan Mei membuatku kecewa. Ingin rasanya mengomelinya habis-habisan seperti seorang kakak yang marah pada adiknya. Atau melayangkan tinju yang bisa mematahkan tulang hidung lelaki brengsek itu. Namun urung kulakukan tatkala mengingat hanya aku yang dimiliki Mei saat ini. Tak tega rasanya menambah kekalutannya.

“Bagaimana dengan beasiswamu?” Aku tiba-tiba teringat rencana keberangkatan Mei ke Belgia tahun depan.
“Aku akan meneruskan kehamilan ini. Bayiku akan kubawa serta.”
“Haiss!” Sentakku. Aku menyandarkan tubuh ke kursi. Tanganku bersedekap. Kesal.
“Kau kira gampang kuliah sambil membesarkan bayi? Apalagi di negeri orang. Lagipula  apa universitas yang memberimu beasiswa mengijinkan?” Cerocosku.
“Tapi aku tidak bisa menggugurkannya, Hans! Aku tidak mungkin menambah dosa lagi. Aku takut..,” Suaranya bergetar. Aku tertegun memandang wajah cantiknya yang  kini coreng-moreng oleh sisa airmata.

Tiga bulan kemudian aku memutuskan untuk pindah ke kontrakan Mei, menemaninya. Untunglah profesiku sebagai penulis memungkinkan aku berdomisili dimana saja. Bulan demi bulan kehamilan kami lewati bersama. Aku mengantarnya ke dokter. Mendengar degup jantung janin di perut Mei. Dan melihat foto usg 4 dimensinya yang serupa alien menurutku. Tentu saja Mei mengatakan bayi perempuannya sangat cantik. Matanya berbinar setiap kali mengelus foto yang sengaja ditempelnya di pintu kulkas. Agar aku yang banyak menghabiskan waktu di rumah bisa melihatnya sesering mungkin. Mei tahu aku bukan penyuka anak-anak.

Malam itu terang benderang, bulan purnama sempurna. Aku tengah meregangkan punggung mengurangi pegal. Setelah seharian duduk menyelesaikan bab terakhir novelku. Ketika tiba-tiba Mei  masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Wajahnya pucat pasi. Nafasnya memburu pendek-pendek. Butiran keringat membanjiri dahinya. Aku segera tanggap.
“Perberapa menit, Mei?” Tanyaku sambil menyambar kunci mobil.
“Tiga menit, Hans.” Ujarnya sedikit terengah mencoba mengatur nafasnya.
Aku memacu mobil melewati jalanan yang lengang karena tengah malam. Merutuki jembatan yang menyempit karena perbaikan.Mei mulai merintih di sebelahku. Sesekali tangannya mencengkram kuat pahaku. Meringis menahan sakit. Aku cuma diam. Kelu karena panik.
Bersamaan dengan azan shubuh dari mesjid di seberang klinik bersalin, Mei melahirkan bayinya. Suara tangisnya nyaring menggema di lorong klinik.
“Bapak Hans, ini putri bapak.” Perawat  mengangsurkan bundelan kecil itu. Aku menerimanya dengan kikuk. Untuk pertama kali aku melihat mata kecilnya membuka. Memandangku lekat sembari melukiskan senyum di bibirnya yang mungil.
“Namanya Keenan.” Ujarku tanpa mengalihkan tatapan dari wajah kecil menakjubkan  itu. Demi Tuhan, Mei benar. Bayi perempuannya cantik sekali.

Hari-hari berikutnya adalah fase peralihanku. Dari lajang yang paling diinginkan bermetamorfosis menjadi zombie. Jam biologisku berbalik 24 jam. Menjadi serupa kalong. Tidur di siang hari terjaga di malam hari. Kebiasaan Mei bergadang untuk menyelesaikan laporan penelitiannya saat mengandung Kin kujadikan kambing hitam penyebab Kin senang sekali  terbangun  di tengah malam buta. Dalam hitungan minggu praktis aku sudah menjadi pakar. Mulai dari mengganti diaper, memandikan, sampai meninabobokan.

Usia Kin 3 bulan saat itu, ketika Mei  harus segera terbang ke Belgia menempuh studinya. Mei menangis berhari-hari tak tega meninggalkan Kin kecil. Kin pun tak kalah rewel  seakan mengerti kegundahan hati  sang ibu. Aku tak henti meyakinkan Mei. Bersamaku Kin akan baik-baik saja. Aku akan menjaga Kin sepenuh hati. Sama seperti aku menjaga Mei selama ini.

Nyatanya memang demikian. Berdua kami bahagia. Aku dan Kin. Aku  menyaksikan banyak keajaiban di masa tumbuh kembang Kin. Saat itu aku tengah membereskan mainan Kin yang berantakan ketika dari boksnya Kin memanggilku, papa.. papa. Kata pertamanya, Papa! Aku  mengangkatnya dari boks dan menciumi pipinya tak henti. Kin tertawa geli. Hatiku membuncah haru siang itu.

Aku juga akan mengingat saat kakinya melangkah takut-takut untuk pertama kalinya. Penuh semangat aku bertepuk tangan saat Kin berhasil mengalahkan ketakutannya. Kami tak melupakan Mei tentu saja. Aku selalu memamerkan kepandaian Kin kecil kepada Mei melalui Skype. Berulang kali Mei meneteskan airmata karena kangen yang tak tertahankan. Tapi tingkah polah Kin selalu berhasil mengembalikan tawa dan senyum lebarnya.

Aku bahkan telah merasakan syok dan galaunya seorang papa yang memiliki anak gadis. Ketika setahun yang lalu tanpa sengaja aku membaca email yang dikirim Kin untuk anak lelaki teman sekolahnya. Kin ‘menembak’ anak lelaki itu dan memberitahu password emailnya. Entah untuk apa. Tapi hatiku cemas bukan main. Aku memberitahu Mei tentang hal ini. Dan melalui skype, Mei memarahi aku dan Kin habis-habisan. Ia mengomeli kecerobohanku yang mengijinkan Kin memiliki akun facebook dibawah usia yang diijinkan. Dan Kin mendapatkan ceramah panjang lebar tentang etika dan aturan berinternet. Setelahnya, aku dan Kin bersepakat, Mama Mei tak perlu tahu segalanya.

Namun ketakutanku terbesar adalah saat aku tak mendapati Kin di rumah sepulang aku dari penerbit. Aku mencarinya ke penjuru rumah namun tak menemukan sosoknya. Padahal hari itu tak ada jadwal les maupun eskul di sekolahnya. Aku mulai panik menelpon sekolah Kin. Mereka bilang, Kin sudah pulang dengan antar-jemputnya seperti biasa. Tanganku mulai berkeringat, tanda-tanda kecemasanku mulai memuncak. Lalu teringat aku akan pohon jambu di pinggir danau dekat rumah. Kin senang sekali memanjatnya. Bergegas aku menuju kesana.

“Kin?” Panggilku. Aku mendongak dan kulihat ujung sepatu ungu menyembul diantara dahan. Segera kuambil ancang-ancang untuk menyusulnya. Dalam waktu singkat aku berhasil duduk di dahan yang berhadapan dengan dahan yang diduduki  Kin. Kin mengangkat wajahnya sebentar lalu kembali menunduk. Sedih.

Kami sama-sama berdiam cukup lama. Lalu Kin memanggilku,”Papa.”

“Hem?”

“Apa benar Kin bukan anak papa?”

Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“Tadi siang mamanya Hilda bertanya mama Kin kemana. Lalu Kin bilang, mama Mei sedang sekolah dan bikin penelitian di Belgia. Lalu..,” Kin diam.

“Lalu?”

“Lalu ada tante-tante yang nyeletuk katanya Kin bukan anak papa. Bener ya ,Pa? Kin bukan anak Papa ya?”. Mata Kin memerah, aku menghela nafas berat. Berbohong jelas bukan jalan terbaik saat ini. Kin sudah besar.

“Turun dulu yuk, nanti Papa jawab pertanyaan Kin di bawah.” Aku turun lebih dulu. Kin dengan sigap menyusul. Aku berjongkok memberikan punggungku begitu kakinya menjejak tanah. Kin tertawa dan merangkul punggungku. Sejak kecil ia menyukai gendongan punggungku. Aku menggendongnya dan berjalan perlahan menuju rumah. Di sepanjang jalan aku bercerita. Tentang masa kecil aku dan Mei, persahabatan kami, hingga kelahiran Kin. Kin mengeratkan pelukannya di punggungku dan kurasakan bagian belakang kemejaku basah. Kinku menangis. Hatiku perih.

—-

Sebulan yang lalu, minggu malam. Kin sudah tidur karena esok senin ia bertugas di upacara bendera. Laptopku berbunyi  menandakan ada panggilan chat dari Mei.

Halo Hans. Belum tidur kan?

Aku tersenyum.

Sejak kapan aku tidur jam segini?

Kin gimana?

Sehat. Happy. Cantik dan cerdas. Seperti  kamu. Gimana kabarmu, Mei?

Sehat. Happy dan sudah menikah.

Aku tersedak menyemburkan kopi yang kuteguk.

Serius?

Bunyi beep lagi. Ada email masuk. Dari Mei. Ada sejumlah foto disana. Aku membukanya dan kulihat Mei disana. Tertawa bersama seorang lelaki bermata biru yang ramah. Mereka tampak..hem, bahagia.

Hans?

Aku tergagap. Ada yang mencekat tenggorokanku.

Selamat ya, Mei. Siapa namanya?

Pierre.

Pierre, aku ingat Mei beberapa kali menyebutkan namanya dalam percakapan kami. Seorang dokter  di Laboratorium tempat Mei mengadakan penelitiannya.

Hans. Aku dan Pierre sepakat akan membesarkan Kin disini. Apa kau mengijinkan, Hans?

Kin? Kinku? Dadaku berdentam karena debar yang tak beraturan. Aku diam. Tanganku mengepal. Ada perasaan tak rela meraja di hatiku. Dia ibunya, logikaku berbisik mengingatkan. Ada jeda panjang diantara Mei dan aku saat ini. Berat kuhembuskan nafas. Lalu jemariku bergerak.

Tentu saja. Kau ibunya.

Ah, Hans. Terimakasih banyak. Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu. 

Mei…

Ya?

Aku mencintaimu, lalu jariku bergerak cepat di keyboard.

Aku ikut berbahagia untukmu.

Hari ini hari terakhir Kin bersamaku. Aku akan mengantarnya ke Bandara. Bersama Mei dan Pierre yang beberapa hari ini menginap di rumah. Beberapa hari bersama aku menilai Pierre sebagai lelaki yang baik. Pembawaannya hangat dan rendah hati. Mei mendapatkan pendamping yang tepat. Kin tampak malu-malu di awal pertemuan mereka. Namun tak lama. Karena hanya beberapa jam kemudian Pierre telah berhasil membuatnya tertawa tergelak. Aku melihatnya merasa lega sekaligus iri.

Sepanjang perjalanan, mobil kami terasa hening. Tenggorokanku tercekat tak mampu membuka percakapan. Aku memusatkan konsentrasi pada lalulintas yang merayap padat. Kin disebelahku sedari tadi membuang pandangannya keluar jendela. Pierre dan Mei  larut dalam hening kami, memberi ruang bagi aku dan Kin.

Beberapa menit lagi, mereka harus memasuki ruang tunggu. Kin masih menggenggam tanganku erat. Beberapa saat lalu ia memintaku memangkunya. Aku menurutinya. Kupeluk tubuh mungilnya dan kukecup ujung rambut ikalnya yang halus.

“Papa Hans.” Kin berbisik di telingaku.

Aku mendekatkan telingaku ke wajahnya.

“Boleh Kin tetap jadi anak Papa?”

Mataku merembang.

“Sampai kapanpun, Keenan adalah anak Papa. Selamanya.”

Aku mengangsurkan kelingkingku. Kin mengaitkannya dengan kelingkingnya yang mungil. Lalu kami berpelukan.

Perjalanan pulang kini terasa panjang. Terbayang rumah yang kosong lengang. Hatiku hampa seakan ada yang tercerabut disana. Lamat-lamat kudengar lagu yang diputar di radio. Lagu favorit kami. Aku dan Kin kerap menyanyikannya berdua.

Oh why you look so sad

The tears are in your eyes

Come and come to me now

….

I’ll stand by you

I’ll stand by you

I won’t let nobody hurt you

I’ll stand by you..*

Ada yang merembes di pipi. Aku membiarkannya. Mataku mengabur. Kucengkram setir dengan kuat tak mampu lagi menahan airmata. I already miss you, Kin. Aku berbisik dalam hati.

*I’ll Stand By You – Pretenders

Dunia lirang, 02/11/2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s