Senja Kala

Angin musim ini bertiup kencang menyisakan gemeletuk pelan di rahangnya dan ngilu tertinggal diantara persendian tulang. Dedaunan kuning kemerahan berserakan layu di jalan setapak lembab yang dilewatinya. Gadis itu melangkah cepat tak hirau pada selendang hangat yang  bergeser turun memamerkan bahunya yang terbuka. Kabut tipis sedikit demi sedikit mulai turun. Ia mempercepat langkahnya. Mengejar jingga matahari sebelum langit menurunkan tirainya yang biru beledu. Terengah-engah ia mendaki setapak menuju puncak.

Matahari tepat berada di batas horison ketika akhirnya ia sampai ke sisi gunung yang dituju. Senyum terkembang manis di wajahnya yang pucat dan basah oleh peluh. Perlahan disusuri lembah sisi gunung itu mencari tebing  milik kekasihnya. Tebing kekasihnya, begitu ia menyebut tebing di sisi gunung itu. Tebing dimana kekasihnya sering duduk  berjam-jam lamanya.

Apa yang kau lakukan disini selama berjam-jam lamanya? Tanya gadis itu suatu hari.

Aku bisa melihatmu dari sini, jawab kekasihnya.

Gadis itu lalu memicingkan matanya. Ia bisa melihat rumahnya yang berhalaman luas dan dikelilingi pagar yang tinggi. Rumah milik Sang Adipati.

Perlahan-lahan gadis itu melangkah mendekati ujung tebing.  Kini ia telah berdiri di ujungnya. Angin menderu-deru di telinga. Menebaskan ujung rambut ke wajahnya sendiri. Menyisakan perih serupa tamparan di pipinya. Atau mungkin itu memang perih tamparan? Yang ditinggalkan oleh tangan besar milik Sang Adipati di wajahnya. Gadis itu enggan memikirkannya. Langit hampir berubah warna. Ia memejamkan mata. Mengingat kilasan-kilasan kisah antara dirinya dan kekasihnya. Airmata merembes dari sela-sela bulu matanya, perlahan jatuh di pipi.

Sepenuh hati gadis itu mengumpulkan keberaniannya yang terserak bersama kepedihan dan getir hati. Kakinya kini bergeser semakin ke ujung. Angin masih menderu-deru namun kini seolah memanggil namanya. Namanya? Gadis itu itu berusaha menajamkan telinga. Hanya deru angin terdengar. Ia menghela nafas, menenangkan gemuruh hatinya. Sang Hyang Widhi  ampuni aku, di kehidupan berikutnya, aku mohon ijinkan kami. Sebuah nama meluncur dari bibir pucatnya yang bergetar. Lalu dalam hitungan detik gadis itu melemparkan tubuhnya ke jurang yang menganga dalam di bawah tebing

Langit kini sempurna biru beledu. Gadis itu membuka matanya. Tubuhnya mungkin penuh luka mungkin juga tidak, entahlah ia tak bisa merasakan apapun. Kecuali hawa dingin yang sedikit demi sedikit mengalir ke atas tubuhnya.

Sona.. Sona…  Sonakshi…

Ia tersenyum. Kekasihnya memanggilnya. Kekasihnya menjemputnya di sini, tempat yang sama di mana mayat lelakinya di jatuhkan.

SONAKSHIIIII…

Panggilan itu kini menjadi gema. Terlalu nyata untuk sebuah delusi.  Sonakshi mengenal suara yang terus-menerus memanggilnya. Semuanya kini terlihat begitu jelas.

Di tengah dingin yang kini terasa mencabik-cabik tubuhnya, Sonakshi tiba-tiba ingin tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang dipermainkan waktu.  Parakram belum mati. Mereka tak membunuhnya. Dia yang diinginkan untuk mati. Adipati keparat itu tahu ia akan melakukan hal tolol ini. Dan Parakram akan menangisi kematiannya sepanjang usia. Memisahkan mereka pada kehidupan yang berbeda dan membiarkan mereka saling menangisi seumur hidup, tak ada lagi pembalasan dendam yang lebih menyakitkan daripada ini.

Sonakshi merasakan nyeri terbakar di ujung nafasnya. Waktunya telah tiba, Sonakshi  berbisik pada dirinya sendiri.

Parakram, tunggulah aku. Tetaplah menungguku.

Senja telah usai dan gemintang berkelip satu-satu. Sonakshi menutup matanya pelahan. Diatas tebing, seorang lelaki mengeluarkan jeritan pilu memanggil namanya.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/ISJPOX8JCR

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s