Yang Usai Adalah Kenangan

Hujan yang turun beberapa saat yang lalu masih meninggalkan aroma tanah basah pada udara yang dihirupnya.  Rumpun rumput basah yang diinjaknya membuat sepatu sandalnya yang bermodel terbuka menjadi tak nyaman dikenakan. Jorji melepas sepatu sandalnya dan menjinjingnya melewati jalan setapak yang becek. Sepanjang jalan yang dilewatinya, Jorji bernyanyi-nyanyi kecil. Hatinya riang, hari ini ia akan bertemu Bima.

Bima, cowok yang tinggal di sebelah pondok berlibur milik keluarga Jorji. Jorji mengenalnya beberapa tahun yang lalu ketika cowok itu baru saja pindah. Kabarnya dia keponakan si pemilik rumah. Bima tinggal seorang diri disana. Sesekali bepergian memuaskan hobi travellingnya. Pembawaannya yang pendiam dan misterius menarik perhatian Jorji. Seperti kunang-kunang yang mengejar cahaya, pada hari berikutnya Jorji selalu mengikuti Bima. Bertanya ini dan itu. Persis seperti anak anjing kecil yang selalu berputar-putar sambil menyalak riang di sekitar kaki majikannya.

Pipi Jorji memerah mengenang kelakuannya 5 tahun yang lalu. Memalukan sekali. Tapi dia hanyalah gadis 15 tahun yang baru duduk di kelas 3 SLTP saat itu. Wajar jika gayanya menyukai lelaki agak memalukan, Jorji berkilah dalam hati. Dan wajar juga jika kemudian Bima menganggapnya sebagai adik kecil. Lagipula, apa yang diharapkan oleh abg 15 tahun yang menyukai cowok berusia 22 tahun selain hanya dianggap sebagai gadis kecil yang manis?!

“Georgina!” Tante Ve yang menempati pondok berliburnya menyambutnya di halaman. Tangannya terkembang memeluk Jorji dengan hangat.

“Selalu tidak memberi kabar lebih dahulu. Tante kan bisa menyuruh Pak Radi menjemputmu di stasiun.” Tante melirik kaki Jorji yang berlumpur. Jorji nyengir. Buru-buru ia menuju ke kran air di halaman dan mencuci kakinya disana. Tante Ve yang apik tidak akan menyukai bekas lumpur berceceran di lantainya yang licin mengilat. Sambil membersihkan sela-sela jarinya di keran air yang mengucur, Jorji mencuri-curi pandang ke arah rumah sebelah. Tampak sepi. Sedang bepergiankah? Jorji bertanya-tanya dalam hati.

“Bima sedang bepergian, Georgina.” Tante Ve seolah mengerti jalan pikiran Jorji. Jorji mengedikkan bahu seakan tak peduli. Dalam hati ia merutuk karena lupa menanyakan jadwal bepergian Bima terlebih dahulu.

“Nggak lama kok. Mungkin besok Bima sudah pulang. Waktu pamit katanya hanya pergi beberapa hari.” Tante Ve menyodorkan segelas coklat hangat. Jorji menghirup aroma coklat hangatnya. Aroma coklat panas buatan Tante Ve selalu memberikan sensasi yang menenangkan.

“Memangnya pamit kemana sih, Nte?” Jorji menyeruput coklat hangatnya.

“Ke Bali.”

Jorji langsung tersedak.

Bali. Bali. Bali.

Jorji membenci Bali. Bukan, bukan membenci Bali. Jorji selalu merasa was-was setiap kali mendengar kata: Bali. Awalnya di malam itu. Malam yang cerah, langit bersih sekali. Bintang-bintang berkelip terang dan cantik. Jorji tengah bersama Bima saat itu. Cowok itu memetik gitarnya pelan-pelan sementara Jorji berbaring di sebelahnya sibuk mengenali bentuk-bentuk rasi bintang.  Romantis. Pada awalnya. Sampai kemudian Jorji  menyadari Bima memetik gitarnya separuh melamun.

“Hei!” Jorji menepuk bahu Bima pelan. Ia kini sudah di posisi duduk disebelah cowok itu.

“Suka purnama ya?”

“Suka sekali.” Bima menyahut. Tangannya masih bermain di senar gitar yang dipangkunya.

“Hahahaha. Pasti mantannya ada yang namanya Purnama.” Jorji menebak konyol.

“Bukan.”

“Purnami?”

Hem. Bima menggeleng. “Bukan.”

“Trus.. siapa dong? Tapi benerkan jadi inget mantan?” Jorji mengguncang bahu Bima.

Bima tergelak. Jorji merengut.

“Kalau iya inget mantan, trus kenapa? Kamu cemburu?” Bima mengacak rambut cepak Jorji. Jorji tak menjawab. Wajahnya masih ditekuk.

“Namanya Shashi. “ Bima memulai. Jorji diam mendengarkan.

Tentang Shashi, gadis Bali cinta pertama Bima. Tentang pertemuan dan perpisahan mereka. Dari awal hingga akhir.

“Bim, kamu masih suka inget Shashi?” Jorji bertanya hati-hati di penghujung cerita Bima.

“Ya iyalah!” Bima tertawa. “Aku dan Shashi sekarang berteman baik, Jorj.” Jorji mendelik kesal, “Maksudku, kamu masih sayang sama dia atau enggak?”

Bima menatap wajah Jorji. “Nggak.”

“Yakin?” Jorji menatap lekat mata Bima. Ada kabut di sepasang mata coklat milik Bima.

“Yakin.”

Jorji memalingkan wajahnya. Ia berumur 18 tahun saat itu. Cukup dewasa untuk mengenali sebuah kebohongan kecil. Sejak malam itu, Bali dan Shashi selalu membuatnya was-was.

Jorji  mengetuk pintu bercat putih dihadapannya dengan tidak sabar. Tante Ve bilang Bima sudah pulang pagi ini.

“Antar bubur ayam ini untuk sarapan ke sebelah, Georgina!” Tangan tantenya mengangsurkan buntelan kain kotak-kotak merah. Jorji menaikkan alis. Membawa makanan untuk bertemu? Jadul sekali. Namun ia mematuhi perkataan tantenya.

Tangan Jorji sudah kembali terangkat untuk mengetuk ketika pintu putih itu terbuka. Si empunya rumah berdiri dengan senyum terkembang. Tampan. Jorji  tersenyum.

“Untukmu.” Tangannya mengangsurkan buntelan yang dibawanya. “Bubur ayam untuk sarapan.”

Bima memberi isyarat untuk masuk. Jorji mengikutinya ke dalam rumah.

“Buatanmu?”

Jorji  tersenyum dan menggangguk. Bima menyeringai,”Bocah kecil pembohong.”

“Aku masih gadis kecil?” Jorji menunjuk ke dadanya sendiri. Bima tersenyum. “Buatku iya. Gadis kecil yang manja.”

“Sial! Padahal kupikir aku sudah cukup dewasa untuk menjadi pacarmu.” Jorji menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu. Tawa Bima seketika pecah mendengarnya.

Bima menghampiri Jorji dan duduk di sampingnya. Di tangannya ada semangkuk penuh bubur ayam yang masih hangat mengepul. “Enak. Mau?” Bima menawarkan suapan. Jorji menggeleng. Bima tersenyum. Ia meletakkan mangkoknya di meja. Tangannya merengkuh bahu gadis disebelahnya. “Bukannya kamu sudah lama sekali menjadi gadisku ya?”

Jorji menatapnya heran. “Heh, sejak kapan?” Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya sejak 5 tahun yang lalu. Sejak kamu dateng mau liburan setelah pembagian rapor masih pake seragam biru tua. Trus nginthilin  aku kemana-mana.”

Jorji merasakan pipinya memanas. “Kata siapa aku naksir kamu? Ge-er!”

Bibir Bima membentuk seulas senyum. Matanya tak lepas dari wajah Jorji. Jorji merasakan perutnya bereaksi aneh.

“Aku kemarin ke Bali. Bertemu Shashi.”

Jorji tercekat. “Lalu?”

“Aku merasa perlu datang kesana menemuinya, mengucapkan selamat tinggal pada semua kenanganku sekaligus melepaskan simpulku.” Bima menghela nafas sejenak. “Simpul  kenangan yang mengikatku dengan Shashi  selama ini.  Mengurai semuanya bahkan yang terkecil dan terahasia yang pernah aku punya tentangnya. Aku ingin datang padamu sebagai aku. Tanpa rahasia apapun di hatiku. Utuh untukmu, Georgina Manik.”

Jorji merasakan kedua matanya memanas. Ia meraih tangan Bima dan meletakkannya di dadanya.

“Utuh untukmu juga, Sinatria Bima.” Jorji berkata lembut. Bima merengkuh bahu gadis itu dan mendekapnya erat.

Ribuan kilometer jauhnya..

Seorang gadis membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Menyilakan matahari menghangatkan bantalnya yang lembab oleh tangis semalaman. Kehilangan selalu meninggalkan airmata dan kekosongan. Bahkan kehilangan seseorang yang selama ini hanya ada di kenangan sekalipun. Cerita tentang mereka kini telah benar-benar usai. Berhenti pada kenangan yang dilindapkan dan simpul yang diuraikan olehnya. Oleh lelaki yang pernah begitu erat memegang kenangan tentang dirinya. Sinatria Bima.

Advertisements

One thought on “Yang Usai Adalah Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s