Gadis Hujan

Cerita hari ini dimulai pada cuaca mendung, gerimis seharian saat aku pertama kali melihatnya dari jendela toko rotiku. Berdiri di halte bercat merah di seberang jalan. Tubuh ramping dengan struktur tulang yang serupa model rupanya menjadi daya tarik gadis itu. Beberapa orang yang melintas menoleh ke arahnya. Bahkan pelangganku yang tengah menikmati sarapan bagel pun melakukan hal yang sama. Sekumpulan kecil pemuda  memperhatikan gadis  itu kemudian saling berbisik dan tertawa perlahan penuh rasa ingin tahu.

Beberapa minggu berikutnya, gadis bermantel itu kerap hadir di tempat yang sama. Seolah menanti sesuatu atau mungkin juga seseorang. Entahlah. Namun ada yang istimewa pada kedatangannya. Ia selalu menggunakan mantel panjang berwarna gelap dengan potongan yang melekat sempurna pada tubuh rampingnya. Dengan rambut coklat yang diikat seadanya. Penampilannya menjadi mencolok diantara para gadis yang berseliweran dengan gaun tipis. Berwarna cerah atau bermotif bunga-bunga. Ini musim panas. Dimana matahari berbaik hati melimpahkan kehangatannya pada kota kami. Tapi bukan penampilan yang berbeda itu yang menjadi keistimewaannya. Melainkan pada hujan yang setia mengiringi gadis itu.

Seapik apapun mantel yang tengah kau kenakan, jika di musim panas tentu akan mengundang cibiran. Begitulah. Beberapa orang memandang gadis itu dengan tatapan aneh ketika ia melangkah dengan anggun di trotoar menuju halte tempatnya duduk menunggu. Sepertinya gadis itu sadar penampilannya mengundang rasa ingin tahu. Tapi ia begitu tenang seolah tahu matahari akan berpihak padanya. Dan itulah yang kemudian terjadi. Matahari berkomplot. Ia menyilakan hujan turun kendati cuaca terang benderang. Sungguh aneh melihat gerimis turun dengan ritmis dihantar tiupan lembut angin yang terasa dingin di musim panas yang cerah.

Semenjak itu orang-orang memanggilnya dengan Gadis Hujan.

Kedatangan gadis hujan tak bisa ditebak. Ia hadir sesukanya, berdiri atau duduk menunggu di tempat yang sama. Beberapa pelangganku menjadikan kemunculannya dengan gurauan. Namun kebanyakan dari mereka lebih suka memandang dari kejauhan. Lalu saling berbisik mereka-reka cerita tentangnya. Seperti angin dingin yang mengikutinya, cerita rekaan itu menelusup keluar melewati celah pintu dan jendela toko rotiku. Perlahan menyebar merasuki pikiran setiap penduduk kota ini. Tak penting lagi apakah kisah itu rekaan semata, ketika semua orang meyakininya, itulah kebenaran.

Gadis hujan itu adalah seorang peri.

Itulah alasan kenapa tak seorang pun dari kami berani bertanya atau sekedar menyapa gadis itu. Ia seolah diselimuti aura magis yang membuat kami segan untuk mendekat. Kendati tak seorang pun dari kami memiliki firasat berbahaya atas kehadirannya. Begitu juga dengan diriku. Aku bahkan mulai menyukai gadis itu. Menyukai caranya melangkah datang, gayanya yang tenang juga wajahnya yang tak pernah jelas terlihat tertutup oleh riap rambut yang tertiup angin. Namun toh, aku lebih memilih melihatnya dari kejauhan. Pada awalnya.

Sampai suatu sore sesaat setelah ia datang, hujan turun. Lebih deras dari biasanya. Terlalu deras. Angin bahkan menerbangkan beberapa pot perdu rosemary milikku. Aku menatap cemas ke arah seberang jalan. Tempat dimana gadis itu duduk seorang diri. Masih dengan ketenangan yang sama seperti biasanya. Namun kini kancing mantelnya tertutup rapat. Ia kedinginan! Lantas dengan kecekatan yang mengalahkan barista aku segera meracik segelas latte dan membungkus beberapa bagel hangat ke dalam kantong kertas. Menyambar satu payung di ujung ruangan kemudian bergegas melangkah keluar menuju ke halte.

Hujan mendadak berubah menjadi gerimis dan angin tak lagi garang ketika aku melewati trotoar dan menyeberang jalan.

“Halo,” sapaku.

Gadis itu mengangkat wajahnya. Kami bertatapan. Aku terpesona pada sepasang bening yang berwarna coklat madu yang tengah menatapku dalam-dalam. Seolah sarat kerinduan. Aku tercekat.

“Ini untukmu. Kau pasti kedinginan.” Aku menyorongkan segelas latte dan kantung kertas berisi bagel yang kubawa.

“Terima kasih.” Gadis itu tersenyum. Garis bibirnya lembut. Senyumnya manis seperti senyum kanak-kanak yang tak berdosa. Kali ini aku benar-benar tersihir.

Untuk beberapa saat aku masih terpaku pada senyumannya. Gadis itu lebih mirip peri daripada manusia. Mungkin aku akan terus berdiri menatapnya tak berkedip kalau saja Mario, suamiku tak berteriak memanggilku dari seberang jalan.

Masih terpukau pada wajah perinya, aku hanya berpamitan dengan mengangguk dan tersenyum kecil.

“Tunggu.” Suaranya yang jernih seperti lonceng itu menahanku.

“Carla, aku senang akhirnya kita bisa bertemu.”

Senyumku melebar. Dan kubalikkan tubuh bergegas pulang ke toko rotiku.

Berminggu-minggu berikutnya, aku baru menyadari satu hal, kami tak pernah saling mengenal. Darimana ia tahu namaku?

Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya semenjak pertemuan kami, gadis hujan tak pernah lagi datang. Beberapa saat lamanya beredar cerita rekaan versi menghilangnya gadis itu. Namun lambat laun kisah gadis hujan itu terlupakan. Tergerus oleh kisah-kisah baru yang lebih fenomenal. Seperti kisah tentang gadis biasa dari kota kami yang dipersunting menjadi anggota kerajaan. Kisah baru ini begitu membuai. Hingga para ibu mendadak menambahkan list permohonan dalam doanya. Agar anaknya memiliki nasib baik seperti putri baru itu.

“Aku tak akan pernah menjadi seorang putri, Mama.” Kata Inez, putriku yang lahir setahun setelah gadis hujan itu menghilang. Gadis kecil yang hari ini berusia lima tahun itu memandangku dengan sorot wajah prihatin.

“Sudah kukatakan berulang kali, aku seorang peri.” Wajahnya kini seolah putus asa. Ia memandang keluar jendela. Jemarinya mengetuk-ngetuk kaca yang penuh dengan butiran tempias hujan.

“Aku mencintai hujan. Mereka selalu datang di setiap ulang tahunku. Benarkan, Ma?”

Tanganku berhenti menguleni adonan roti. Inez benar, tak peduli  musim, hujan selalu datang saat ia berulang tahun.

“Mama. Aku sangat menyayangimu sejak pertama kali kita bertemu.” Suara kekanakan Inez menyentuhku. Hatiku penuh oleh rasa haru.

Kubersihkan jemariku dari sisa adonan dan kudekati Inez. Aku ingin memeluknya.

“Mama tak mengenaliku?” Inez mengerjapkan kedua matanya. Matanya tiba-tiba terlihat begitu bening. Ia menatapku tak berkedip. Aku seolah pernah melihatnya di suatu tempat.

“Mama juga sangat menyayangimu, Nak,” ujarku lembut.

“Aku tahu. Aku tahu sejak dulu. Itu sebabnya aku selalu menunggu mama di sana. Di seberang jalan itu.” Inez mengarahkan telunjuknya ke arah halte di seberang jalan.

Aku terkesiap. Tanganku terkembang ingin memeluknya.

“Aku senang kita bisa bertemu kembali, Carla. Latte buatanmu enak sekali.” Inez tersenyum. Senyum yang sangat manis dan membius. Yang sangat kukenali.

Tanganku sontak membeku di udara. Di luar, gerimis turun dengan ritmis.

 

Dunia Lirang, 21/03/2012

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s