Kelana Waktu

Perempuan itu duduk di tempat yang sama setiap kali berada di taman ini. Di sebuah bangku yang panjang yang terbuat dari besi bercat merah yang  mengelupas di  beberapa bagian. Setelah meletakan tasnya dengan hati-hati, jemarinya akan menghubungi sebuah nomor. Milik seorang lelaki yang beberapa bulan belakangan rutin bertemu dengannya.

Selama jeda waktu menunggu, ia akan memandangi bulatan-bulatan putih yang terlihat empuk di langit biru. Bentuknya yang berserabut lembut itu mengingatkannya pada gumpalan harum manis yang kerap dibelinya semasa ia kanak-kanak. Lalu ingatannya berlompatan ke masa lalu saat ia masih seorang gadis kecil berambut pendek.

Dia, entah mengapa menyukai masa lalu. Tenggelam di dalamnya selama beberapa waktu. Lalu merunut kembali semua peristiwa yang telah ia alami. Layaknya sebuah film tua yang diputar ulang. Kadang-kadang pikirannya terusik oleh kalimat ‘bagaimana jika…’ yang kerap kali muncul pada beberapa peristiwa. Seperti peristiwa pada sore itu. Betapa ia ingin mengoreksi satu bagian saja.

Jika waktu bisa diputar mundur…

Kelas sontak gaduh begitu punggung ibu dosen yang mungil itu hilang di balik pintu. Bunyi kursi digeser kasar beradu dengan langkah-langkah bergegas beradu cepat menuju pintu keluar. Tidak peduli masih bocah berseragam putih merah atau telah gagah menyandang status mahasiswa, kelakuan murid nyatanya tak berubah setiap kali kelas berakhir.

Lirang merapikan buku-bukunya dengan tenang. Tak terusik oleh kegaduhan sekitar. Kostnya tak jauh dari kampus. Hanya 10 menit berjalan dan 6,5 menit jika setengah berlari. Jadi ia tak tertarik untuk bergabung dalam adu cepat itu dan membiarkan dirinya keluar paling akhir dari kelas.

“Lirang!” Suara Billy menahan langkahnya sejenak.

“Boleh pinjam catatanmu?”

Lirang mengangguk dan mengangsurkan bukunya pada teman sekelasnya yang agak ‘kemayu’ itu.

“Jangan hilang, jangan terlipat dan jangan lewat dari seminggu,”  ultimatumnya pada Billy.

Billy nyengir. Mahfum pada kejudesan Lirang. Mau bagaimana lagi, hanya gadis ini di kelasnya yang selalu duduk paling depan. Mengikuti perkuliahan dengan tekun lalu merangkumnya pada sebuah catatan yang rapi.

“Kamu langsung pulang? Nongkrong dulu yuk bareng anak-anak,” ajak Billy pada Lirang. Meski ia tahu jawaban apa yang akan meluncur dari bibir gadis itu. Persis seperti dugaan Billy, Lirang menggelengkan kepalanya.

“Aku mau langsung pulang. Capek.” Senyum Lirang terkembang manis. Terlalu manis untuk menyiratkan kelelahan. Namun Billy mengiyakan tanpa banyak cakap. Mereka saling melambai sebelum berpisah di ujung lorong.

Lirang meneruskan langkahnya seorang diri. Sesekali bibirnya bergumam menyenandungkan potongan lagu yang tak pernah berhasil dihafalnya dengan sempurna. Kakinya kini tiba di ujung tangga. Dengan hati-hati ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Beberapa mahasiswa membentuk kelompok-kelompok berkerumun di sepanjang lorong. Masing-masing sibuk sendiri tak hirau satu sama lain. Lirang tersenyum sambil menajamkan telinga. Memastikan tak ada langkah kaki menaiki tangga yang akan berpapasan dengannya.

Dengan satu tarikan lembut ia menarik punggungnya. Memperbaiki postur tubuhnya menjadi lebih tegak. Mengangkat sedikit dagunya dan melangkah dengan anggun. Seirama dengan melody Bad’ner Madl’n dari Karl Komzak yang mengalun imajinatif di telinganya. Lirang menyukai permainan  konyol ini. Berpura-pura dirinya adalah seorang debutante yang tengah menuruni anak tangga menuju hall ruang dansa.

Tepat di tikungan tangga yang melingkar, Lirang melihat sosok itu melintas. Langkahnya terhenti. Simfoni Komzak di telinganya mendadak lesap di udara. Imajinasinya buyar seketika. Matanya lekat pada sosok kurus tinggi yang melenggang santai melintasi koridor kampus. Sesekali lelaki itu berhenti untuk menyapa beberapa orang sembari memperbaiki letak ransel di bahunya yang bidang.

Lirang mematung tak berkedip. Perutnya bergejolak aneh. Jantungnya berdebar lebih cepat. Gelombang rasa nyaman dan kebingungan menyergapnya bersamaan. Ia seperti pernah mengalami saat ini sebelumnya. Belum pulih dari kebingungannya, tiba-tiba Lirang mendengar bisikan halus namun memaksa di telinganya. Hampiri dia… demi Tuhan, panggil dia. Hampiri dia…

Suara itu seperti miliknya namun terdengar lebih halus dan memaksa. Seolah dikirim oleh angin dari dirinya sendiri di tempat yang berbeda. Suara yang begitu lirih namun penuh pengharapan. Seakan dirinya saat ini adalah penentu segalanya. Begitu mendesak dan menghipnotis.

Lirang mencengkram tali tas selempangnya dengan kuat. Sebelum bibirnya membuka tanpa sadar.

“Nayo!”

Lirang bersumpah panggilannya tak melebihi nada Mi dalam tangga nada. Namun lelaki itu bisa mendengarnya dan memutar punggung. Melihat ke arah anak tangga tempatnya berdiri saat ini. Menatapnya sekian detik dari balik kacamata lalu tersenyum padanya. Lirang terpukau. Dan lagi-lagi anggota tubuhnya bergerak di luar kuasa otaknya. Kakinya dengan ringan melangkah menyelesaikan anak tangga. Berjalan menghampiri lelaki itu. Mendekat ke arahnya.

“Hai,” sapa Lirang lembut. Kakinya lalu berjinjit.

Mendaratkan sebuah ciuman di pipi lelaki itu

__

Setelah ciuman itu, waktu bergulir dengan cepat. Mereka menjadi dekat. Dan ia mencintai lelaki itu begitu hebat. Hatinya begitu penuh akan dirinya. Tak menyisakan celah sedikit pun. Begitu melekat. Merasuk. Seakan ia telah mencinta berabad-abad lamanya.

Angin berhembus pelan membawa dingin yang menggigilkan, sisa hujan seharian. Lelaki itu merapatkan jaketnya. Lirang duduk memeluk lutut mencari tambahan hangat meski tubuhnya telah tenggelam dalam sweater. Dua cangkir coklat panas mengepul di antara mereka. Liukan tipis asap rokok yang dihembuskan lelaki itu seolah menyimpan pesan yang tak sanggup diucapkan. Lirang menandai dengan gelisah.

“Ada sesuatu?” tanyanya.

Lelaki itu menoleh. Mematikan rokoknya. Menarik nafas dengan berat dan menatap Lirang lekat-lekat.

“Aku ingin pergi.”

Kemudian, lelaki itu pasti mengucapkan begitu banyak kata yang menyakitkan. Karena hatinya terasa begitu ngilu. Perih bukan main. Hingga matanya bergenang seketika. Lalu tumpah tak terbendung.

Lelaki itu ingin pergi bukan karena ia tak mencintainya lagi. Tapi karena cinta Lirang yang begitu penuh. Menyesakkan. Begitu lekat hingga membuat langkahnya menjadi berat. Lelaki itu rindu kebebasannya. Air mata Lirang mengalir semakin deras. Yang ia tahu, ia mencintai lelaki itu utuh sepenuh. Membayangkan cintanya ternyata menakutkan bagi lelakinya, membuatnya terluka. Ia tidak bisa mengerti namun tak ingin pula menahan.

“Pergilah.” Bibirnya bergetar.

Lelaki itu menatapnya. Lirang menganggukkan kepalanya. Dan lelaki itu melangkah pergi. Menyisakan punggung yang sedikit demi sedikit menghilang di kelokan jalan. Juga sepasang mata yang menatapnya tak berkedip. Sepasang yang berair dan terluka.

Sore yang hangat. Taman penuh oleh bocah yang berkejaran dan berlarian. Sepasang manula melintas bergandengan tangan. Menatap penuh selidik pada perempuan yang duduk seorang diri di bangku hijau itu. Pandangannya kosong menatap satu titik lurus di depan. Wajahnya yang pias seolah tak dialiri darah itu menarik perhatian mereka. Wanita tua tadi ingin menyapa mencari tahu. Namun suaminya menahannya,”Mungkin ia sedang tak ingin diganggu.” Lalu keduanya berlalu dan berharap perempuan itu baik-baik saja.

Sebuah tangan yang besar menyentuh perempuan itu dari belakang. Dan ciuman ringan mendarat di ujung bahunya. Perempuan itu tersentak. Tersadar dari lamunan panjangnya. Lalu menoleh ke arah lelaki yang kini duduk di sampingnya. Lelaki yang sedari tadi ia tunggu.

“Apa kabar?” tanya lelaki itu lembut sembari meremas tangannya. Perempuan itu tersipu.

“Tanganmu kenapa dingin sekali? Sakit?”

Lelaki itu mencemaskannya.

“Tidak. Aku hanya melamun awalnya. Lalu tiba-tiba, aku seolah terseret di dalamnya. Semua kelihatan begitu nyata dan menyedihkan.” Suara perempuan itu melemah di ujung kalimat. Tercekat oleh rasa sedih yang tak asing

“Memangnya apa yang kau lamunkan?”

Perempuan itu ingin menceritakan semua. Tentang keingintahuannya. Apa yang terjadi jika ia menghampiri lelaki itu saat ia melihatnya pada suatu sore di kampus mereka dahulu. Tentang keinginannya kembali ke masa lalu. Juga lamunan yang  seolah menghisapnya pada satu rentang waktu. Tapi sesuatu yang berat menahan ujung lidahnya. Hingga akhirnya ia cuma berkata,”Mengapa kamu ingin kita bertemu? Bukankah baru 3 hari yang lalu kita bertemu?”

Laki-laki itu menatapnya. Ia balas menatap mata coklat yang kerap dirinduinya itu. “Aku ingin kita berpisah. Aku butuh ruang…,”

Perempuan itu terhenyak. Sekujur tubuhnya lunglai seakan tulang-tulangnya dilolosi. Keingintahuannya. Lamunannya yang seolah nyata. Kesedihan yang tak asing. Semua berputar dengan cepat. Dicerna dengan jelas oleh pikirannya.  Perempuan itu tiba-tiba mengerti satu hal.

Lelaki itu masih menjelaskan alasannya dengan runut dan hati-hati ketika perempuan itu tiba-tiba menyelanya.

“Pergilah.”

Lelaki itu menatapnya tak percaya. Terkejut dengan kepasrahan yang dimiliki perempuan itu.

“Begitu saja?” tanyanya memastikan. Perempuan itu mengangguk.

Lelaki itu diam. Perempuan itu diam. Hening diantara mereka.

“Cintaku membebanimu, kan?” bisik perempuan itu. Bibirnya bergetar susah payah menahan tangis. Lelaki itu tak menjawab. Namun ia mengangguk mengiyakan.

“Tapi aku mencintaimu.” Ego lelakinya terguncang karena kekasihnya melepasnya dengan begitu mudah. Kebebasan yang diinginkan terlihat sedikit melimbungkan. Ia goyah.

“Aku tahu.” Perempuan itu tersenyum. “Bisakah kau memelukku?” tanyanya sambil berdiri.

Lelaki itu ikut bangkit dari duduknya. Ia merengkuh perempuan itu ke dalam bahunya yang lebar. Perempuan itu memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam aroma parfum lelakinya yang bercampur tembakau.

“Baiklah.” Perempuan itu melonggarkan dekapan. Melepaskan pelukan. Matanya berkaca.

“Aku tahu kau begitu ingin pergi. Pergilah.”

“Kenapa?” Lelaki itu semakin gelisah. Perempuan itu tak menjawab, Keduanya saling menatap sesaat. Mengukur  kedalaman cinta masing-masing. Kemudian lelaki itu beranjak melangkah pergi.

Pertemuan dulu ataupun sekarang tak ada bedanya. Karena takdir tak akan berubah. Waktu yang berubah. Namun lakon manusia yang melewatinya tetap setia pada takdir. Perempuan itu menghapus airmatanya. Lututnya goyah ingin bergerak menyusul. Ia menggigit bibirnya yang ingin memanggil nama lelaki itu. Menggigitnya begitu kuat hingga asin yang merah terasa di ujung lidahnya.

“Pergilah. Agar di waktu kelak kita bisa saling mencintai dengan lebih baik.”

Perempuan itu berbisik pada sosok lelakinya yang telah lenyap. Angin menerbangkan kata-katanya. Mencatatnya sebagai janji yang tak tunai di masa depan.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/JQXVC6NQWG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s