Remah-remah

Di Sebuah Balkon Pada Suatu Sore

 tentang A

Di balkon kafe, kopi pahit di hadapan. Kenangan di seberang.

Percakapan kita sepahit kopi pagi hari. Kau bergerak melebihi angin.

Lembut berhembus, lalu meliuk menghempas. Tak tertebak.

Siapakah kau?

Percakapan kita tak lebih dari lima jemari. Tapi kau berubah berkali-kali.

Tidakkah kau lelah?

Kujelmakan kau dalam pahit yang kucecap, hingga hangat peluk

menanggalkanmu seluruh. Jadi utuh.

 —

Humsafar

Kepada W

Pada sebuah persinggahan kita bertemu. Berbincang, tertawa dan menggenggam tangan. Meredakan gelisah satu sama lain.

Hingga masa berganti. Kita terpaksa beranjak meski enggan. Sebuah pelukan menghantar perpisahan.

Sepasang di perjalanan senantiasa berjumpa lalu berpisah. Pada satu titik di setiap jalan yang harus ditempuh. Begitulah kita adanya.

Gadis Kecil di Selasar

:Gadis kecil menangis di selasar,

Rindu tak lagi selembut harum manis

Pelukan kini menjelma gemetar

:Gadis kecil menangis di selasar,

Bersama bisik angin di telinganya

Mari rayakan kehidupan dengan…

 kehilangan.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/AEOKEFZ5XP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s