Rumah Ayah

Aku sebenarnya malas datang ke rumah ini kalau bukan Ibu yang memintaku dengan bersimbah air mata. Bukan aku tak menghormati almarhum ayahku, sama sekali bukan. Apapun yang telah terjadi, dia Ayahku. Ibu telah berusaha keras mendidikku untuk tidak menjadi seorang anak yang durhaka. Setelah banyak hal yang telah ia lalui dalam hidup ini, membuatnya kecewa adalah hal terakhir yang kuinginkan.

Rumah ini terlalu banyak berubah sepanjang ingatanku. Bahkan catnya pun memudar. Berwarna hijau tua yang kini telah mengelupas di beberapa bagian. Di sudut-sudut luar lapisan triplek plafon menganga karena lapuk. Paviliun di pojok belakang rumah pun kini terkesan angker, gelap dan tertutup. Entah berapa lama jendela-jendela jatinya tak dibuka. Rumput-rumput liar tumbuh merimbun di taman depan. Rumah ini jauh dari kata terawat.

Namun siapa hendak disalahkan? Rumah warisan turun – temurun dari buyutku yang memiliki pabrik gula di jaman Belanda ini sungguh luas. Butuh biaya dan tenaga khusus untuk merawatnya dengan baik. Keberuntungan buyut dan kakekku mengelola bisnis rupanya tak menurun pada ayahku, Acarya Halim. Ayah lebih suka menjadi guru sukarelawan dan sesekali menulis di surat kabar ketimbang mengurusi bisnis yang diwariskan oleh kakek dan ayahnya. Untunglah istrinya  – yang juga ibu tiriku – seorang wanita yang cakap dan terampil. Sangat piawai mengelola bisnis hingga suaminya memilih pembantu mereka yang lugu dan setia untuk mendengarkan puisi-puisi yang ditulisnya. Begitulah cara Ibuku, Laras, bertemu dengan suaminya. Ayahku.

“Dana!”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Shushu 1) Chandra bangkit dari kursinya dan kakinya yang mengecil sebelah karena polio itu tertatih menujuku. Aku menghampiri dan mencium tangannya yang keriput. Shushu Chandra sebenarnya bukan pamanku. Ayahku anak tunggal. Tapi Ayah dan Shushu bersahabat sejak kecil. Tak ada rahasia Ayah yang terlewat direkamnya. Termasuk kisah hidupku. Shushu Chan serupa Ayah kedua untukku.

Beberapa pasang mata menoleh ke arahku dan seperti biasa bisik-bisik mengikuti sesudahnya. Shushu Chan menarik tanganku. Mengajakku menyingkir ke taman samping.

“Ada apa shushu?” tanyaku heran.

Shushu tak menjawab. Ia merogoh ke dalam tas hitam berbentuk  mirip milik tas tukang pos yang selalu dibawanya kemana-kemana. Dikeluarkannya bungkusan kain merah beledu.

“Ini untukmu. Ayahmu menitipkan ini untuk kuberikan padamu sejak setahun yang lalu saat ia mulai sakit-sakitan.” Shushu menyorongkannya ke telapak tanganku dan menggenggamkannya.

Aku mengerutkan kening. Kubuka dengan cepat bungkusan kecil itu.

“Shushu… tapi untuk apa ini?” Mataku tertumbuk pada sebuah cincin besar terbuat dari giok. Permukaannya yang datar berukir nama marga Liem dalam karakter Hanzi. Cincin stempel keluarga Liem yang diwariskan turun temurun.

“Simpan sajalah, Ayahmu yang meminta. Aku hanya menyampaikan.” Shushu menepuk bahuku sebelum beranjak meninggalkanku seorang diri. Tercenung dengan cincin stempel keluarga Liem di tanganku.

Sosok perempuan langsing dengan gaun putih sederhana menyambutku begitu tiba di ruang tamu. Garis wajahnya  seperti Nyonya  dengan sepasang mata bersorot lembut seperti milik ayah. Nyonya, aku benci panggilan itu. Seperti memperjelas statusku sebagai anak haram keluarga ini. Namun ibu bersikeras aku harus memanggilnya Nyonya.

Dia Nyonya Besar Keluarga Liem, Dana. Kau harus menghormatinya. Begitu ucap ibuku. Selalu.

“Kau datang sendiri, Dana?” Mata Ci Julie menatap ke belakang tubuhku mencari seseorang. Aku paham maksud pertanyaanku Cici 2) keduaku ini.

“Ibu tidak ikut, Ci. Memilih berdoa di rumah saja.”

“Oh.”

Sorot kelegaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Aku tersenyum kecil.

Di tengah ruangan terbujur peti mati ayahku. Namun kakiku justru melangkah lebih dulu ke meja altar tempat  guci abu Tan Wen Hui disemayamkan. Aku menganggukkan kepala, di hadapan fotonya dan menyalakan dupa bagi wanita yang biasa kupanggil Ama itu. 3)

Selain Shushu, wanita inilah yang menjadi penopang kehidupan ibu dan aku. Dukungannya kepada ibu menyakiti perasaan Nyonya Besar rumah ini dan menjadi sumber kebenciannya yang abadi. Mungkin benar apa yang selalu dikatakannya ke semua orang. Bahwa Ama membela ibuku semata karena yang dilahirkannya  adalah anak laki-laki. Tapi Tuhan memang adil, tak pernah bisa kubayangkan apa yang akan terjadi pada ibuku saat itu  jika Tuhan memutuskan untuk menciptakanku dalam wujud anak perempuan.

Cici Julie menepuk bahuku dan berbisik, “Dana, berilah hormat pada Papa untuk yang terakhir sebelum peti ditutup. Setelah itu kita ke kamar kerja Papa sebentar. Ci Imel menunggu kita di sana.”

Aku mengangguk menuruti perintahnya.

Cici Imel, putri  sulung Keluarga Liem ini berjalan mondar-mandir. Ujung sepatunya yang runcing meninggalkan ketukan yang teratur berirama staccato pada lantai kayu. Di meja kerja ayahku duduk Rudi Wijaya, notaris yang biasa bekerja untuk Keluarga Liem. Keningnya berkerut-kerut. Ci Imel menoleh sejenak ke arah pintu saat aku dan Ci Julie memasuki ruang kerja Ayahku.

“Papa tidak meninggalkan apapun, Julie. Selain pabrik yang bangkrut dan berhutang 10 milyar kepada Bank.”

“Oh. Dia memberikan rumah ini pada si anak haram,” desisnya tajam. Dagunya terangkat sedikit menunjuk ke arahku.

“Cici!” Tegur Julie lalu menatapku dengan tatapan serba salah.

Alih-alih mengamuk. Aku justru  menyandarkan tubuh ke punggung kursi dengan nyaman. Hampir seluruh usiaku ini dihabiskan untuk menghadapi cacian dan sindiran Nyonya Besar dan putri sulungnya ini. Bahkan setelah aku dan ibu memilih untuk pindah dari rumah ini, teror mereka tidak berhenti. Jadi bisa dibilang aku telah kebal.

“10 Milyar, Julie! Kau bisa bayangkan bagaimana kita harus membayar hutang  Papa?” Wajah Ci Imel mengencang.  Ci Julie tak menjawab. Ia sibuk meremas-remas telapak tangannya sendiri dengan gelisah.

“Konyolnya lagi ia mewariskan harta satu-satunya ini kepada Dana!”

Kemajuan.  Kali ini Ci Imel tak memanggilku anak haram.

“Menurut Rudi, pabrik kita sudah berkali-kali dipinang pihak pengembang perumahan yang hendak meluaskan area. Namun ayah selalu menolaknya. Ia tak tega memecat ratusan karyawannya. Konyol sekali!” Cerocos Ci Imel tanpa jeda.

“Menutup piring nasi ratusan orang itu beban yang besar. Dan mempertimbangkan kehidupan orang lain sama sekali bukan pekerjaan konyol!” Aku menukas tajam.

“Haissh, Orang tua dan anak sama saja. Dasar lelaki-lelaki aneh. Tidak realistis!”

Langkah Ci Imel tiba-tiba berhenti di depan kursiku.

“Aku akan menjual pabrik itu. Dan Dana, karena rumah ini bagianmu, kau harus menjualnya!”

Aku sudah hendak membuka mulut untuk membantah, ketika tiba-tiba pintu terbuka. Salah-seorang Acim 4) melongokkan kepala, “Kalian bertiga keluarlah. Misa sebentar lagi dimulai.”

Sedan mewah milik Ci Imel ternyata tak bisa memberikan kenyamanan.  Aura ketegangan tak bisa diusir oleh hawa sejuk yang dikeluarkan pendingin mobil ini. Nyaris sepuluh menit lamanya, aku dan Ce Imel bersitegang soal hutang Ayah. Ini konyol sekali. Di depan kami, mobil jenazah yang membawa jasad Ayah belum lagi sampai di pemakaman. Dan di belakangnya kami mengiringinya sembari bersitegang mengenai hutang dan harta.

“Aku tak melihat ada cara lain untuk mengatasi hutang-hutang Papa, selain menjual aset-aset yang Papa miliki. Lebih baik aku berkonsentrasi pada bisnisku sendiri daripada harus mengurus pabrik yang hidup segan mati tak mau seperti itu,” keluh Ci Imel.

“Aku sama sekali tak paham dunia bisnis. Aku tak bisa membantu,” Ci Julie berkata lirih.

Ci Imel menepuk-nepuk punggung tangan Ci  Julie. Mungkin ia ingin menenangkan adiknya.

“Kau setuju untuk menjual rumah itu kan, Dana?” Ci Imel menoleh ke arahku. Nada kalimatnya lebih seperti mengintimidasi daripada bertanya.

Aku memejamkan mata. Ini seperti simalakama. Rumah itu bukan sekedar tempatku dilahirkan atau tempat kami berteduh. Ia saksi hidup dari sejarah Keluarga Liem.  Pada rumah itu kehormatan Keluarga Liem disematkan. Tapi apa peduliku?  Kalau boleh memilih sebenarnya aku tak ingin menjadi bagian keluarga ini. Keluarga yang menerimaku semata-mata karena aku laki-laki yang mereka butuhkan untuk menyandang nama Liem. Rumah itu juga tak memberi kenangan manis untukku.  Menghabiskan masa kecil dengan berada di persimpangan antara menjadi anak haram dan penerus keluarga, selain membingungkan juga jauh dari kata menyenangkan. Ci Imel benar, menjual rumah itu adalah cara terbaik dan tercepat memutus kenangan. Aku akan menjual rumah itu.

Langit mendung dan angin dingin yang bertiup lembut menjadi pengiring yang manis saat peti mati Ayah diturunkan pelan-pelan ke liang lahat. Mendadak kilasan-kilasan peristiwa bersamanya melintas. Kunjungannya  setiap tahun yang bisa dihitung dengan jari. Tawanya yang lebar saat aku bercerita tentang layang-layang buatanku yang habis terjual.

Tak sia-sia kamu menyandang nama Danadyaksa Halim, Nak.

Memangnya apa arti namaku, Yah?

Penjaga harta. Kelak, kamulah penjaga harta keluarga Liem, Nak. Kewajiban yang tak bisa Ayah penuhi. Hutang Ayah yang terbesar  kepada leluhur. Jagalah yang telah dicapai para leluhur untuk kalian anak cucunya.

Penjaga harta. Hutang terbesar Ayah kepada leluhur. Tiba-tiba saja airmataku merebak. Ucapan ayah terngiang-ngiang di telinga seolah sengaja dihembuskan angin dari tempat yang jauh.  Kurogoh saku celana untuk mengambil sapu tangan dan jariku menyentuh sebuah bungkusan kecil.

Stempel Keluarga Liem.

Keterangan:

  1. Shushu                    : Paman
  2. Cici                          : Kakak perempuan
  3. Ama                        : Nenek
  4. Acim                        : Adik Perempuan Ipar Ayah

 

Credit: https://stocksnap.io/photo/8QWWZNFNSX

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s