Ingatan Tentang Fey

 

Gadis itu ternyata datang lagi. Kali ini ia mendekati pohon besar tempatku duduk. Ikut disandarkan tubuhnya begitu saja pada batang kokoh itu. Seolah aku adalah rengkuhan lebar yang menawarkan kenyamanan saat dirinya menelusupkan tubuhnya padaku. Aku diam tak bereaksi. Kubiarkan kepala gadis itu rebah padaku. Kucium aroma jeruk segar dari rambut panjangnya yang tak pernah kulihat rapi terikat. Bercampur wangi samar widelia dan imperata, aroma rambutnya seolah menjadi penanda lembah ini.

Padang rumput ini sepi. Hanya angin yang berhembus ringan sesekali menggoda rumpun mimosa di sela-sela rerumputan. Sekali dua daun mimosa menutup seolah gadis yang tertunduk malu saat angin genit menyentuhnya. Kami berdua masih sama-sama diam.

Namanya Fey. Entah bagaimana penulisannya. Mungkin namanya Faye, Fae atau Fay. Aku hanya mendengar mereka memanggilnya Fey.

Fey datang seminggu yang lalu ke rumah besar di ujung bukit ini. Rumah putih yang bisa kulihat dari tempatku berdiri ini biasanya lengang. Hanya satu dua penjaga dan pembantu rumah tangga yang sesekali berseliweran melintas di halaman. Namun hari itu sebuah rombongan kecil datang berkunjung. Sekelompok orang dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan. Seakan sekumpulan cirrosstratus menggayut di kepala mereka. Membentuk halo yang muram.

Lalu Fey datang. Langkah kakinya lebar dengan ketukan ringan pada tanah dengan birama yang tepat. Gadis itu pasti seorang ballerina. Aku menyimpulkan begitu saja setelah kata ballerina berkelebat di pikiran. Dia mendekat lalu berdiri tepat di sebelahku. Pandangannya kosong menatap ke depan sementara pandanganku lekat ke wajahnya. Pada lekuk hidung, bibir kemudian dagunya yang runcing. Wajah tirus ini terlalu familiar.

“Mereka membawaku kesini,” suaranya jernih. Pandangannya terpaku ke arahku. Aku terkesiap sedetik. Tak siap tertangkap basah.

“Kata mereka aku harus beristirahat. Aku tak boleh mengajar anak-anak itu lagi. Murid-muridku di studio.” Suara jernihnya bergetar. Ia memalingkan wajah. Air mata mengalir ke pipinya yang kurus. Dia memejamkan mata menangis tak bersuara.

Lalu kami diam berjam-jam lamanya.

“Fey!” suara melengking memecah keheningan kami.

“Fey!” Gadis itu menoleh ke sumber suara di kejauhan. Dan kutahu ia bernama, Fey. Fey bergerak malas memutar tubuhnya.

“Mereka membawaku kesini karena mereka pikir aku gila.” Matanya tajam menusukku. Kemarahan keluar dari bola mata kecoklatan miliknya. Lalu dia berjalan pulang.

Hari-hari berikutnya Fey selalu datang ke tempatku. Pagi hingga sore. Ia tak pernah mau pulang sebelum burung-burung gereja berombongan terbang kembali ke arah atap rumah putih itu. Sarang mereka.

“Aku tidak ingin pulang. Aku ingin disini.” Lalu matanya lagi-lagi berkilat marah. Tangannya menepis kasar.

Perempuan setengah baya dari rumah putih itu ketakutan. Ia melangkah mundur dan berbalik arah. Sejak itu setiap tengah hari dia akan datang mengantar serantang penuh makanan. Untuk Fey. Dan gadis itu, terkadang ia menghabiskannya terkadang menyentuhnya pun tidak.

Aku menatap wajah yang sarat emosi dan kesedihan milik Fey. Sejuta keheranan mengikuti setiap kali kulihat ekspresinya yang berubah-ubah. Terkadang ia datang dengan senyum terkembang. Ocehannya deras tak putus-putus bercerita tentang suatu hari yang menyenangkan bersama lelaki itu. Kemudian bibirnya akan terkatup tiba-tiba seolah teringat sesuatu. Rahangnya mengeras dan sorot matanya berubah dingin. Sedetik kemudian air matanya akan deras meluncur seiring gerakan tubuhnya yang mengayun teratur ke depan dan ke belakang. Seolah pendulum.

“Aku tak tahu kehilangan ternyata begitu menyakitkan.” Suara Fey tenang. Sedu sedan sejam yang lalu entah menguap kemana.

“Manusia dilarang keras untuk terlalu bahagia. Sebab Tuhan akan menjadi iri dan merenggut bahagiamu dengan tiba-tiba.” Lirih dan sinis.

Aku mengerutkan kening tak suka mendengar ucapannya. Itu tidak benar. Tapi mulutku terkunci.

Fey mencabuti rumput-rumput di sebelahnya dengan kasar.

“Seperti ini.” Tangannya terus bergerak. “ Tak jadi masalah jika akarnya ikut terangkat. Kau akan melupakannya dengan baik.”

“Bagaimana jika ternyata akarnya tertinggal? Dia akan menjadi luka membusuk seperti gangren.”

Jika akarnya tertinggal maka akan tumbuh tunas yang baru. Dia bertahan hidup, Fey.

Aku berbisik di telinganya. Fey memejamkan mata. Entah ia bisa mendengarku atau tidak.

Tapi kuakui, Fey benar. Kehilangan itu menyakitkan. Setidaknya bagiku kehilangan ingatan itu menyakitkan. Ketika kau tiba-tiba terbangun dan berada di suatu tempat. Tempat yang asing dan benar-benar baru. Tanpa kau tahu kenapa dan apa yang harus dilakukan. Seperti bayi yang melupakan kenangan tentang rahim ibunya. Begitulah aku.

Menghabiskan waktu tanpa tujuan. Meski perbedaan siang dan malam tak berpengaruh untukku, aku lebih menyukai saat terang. Ketika Fey datang bersama segenap emosinya. Lihat, bahkan gadis paling aneh pun akan kau rindukan saat kau benar-benar kesepian.

Kau tidak akan pernah bisa menghargai sesuatu sampai kau kehilangannya. Siapa yang peduli akan ingatan? Sebagian orang berusaha sedemikian keras untuk menghilangkan kenangan. Ingatan akan masa lalu. Begitu keras hingga merasa perlu berpura-pura. Tertawa bahagia sementara hatinya masih meronta terluka. Sebagian yang lain memaksa membawanya kemana-mana seolah ia akan mati jika terlupa. Padahal ingatan itu menyakitinya.

Ingatan seharusnya serupa kunci ajaib. Tahu kapan harus membuka pintu masa depan dan kapan harus menutup pintu masa lalu. Ingatan membawa petunjuk-petunjuk yang kau butuhkan saat ingin membuka pintu yang baru. Membuka pintu masa lalu sesekali dan menutupnya kembali rapat-rapat saat tak dibutuhkan. Kehilangan ingatan sama seperti kehilangan kunci. Tak tahu pintu mana yang harus dibuka atau ditutup.

Aku kehilangan ingatanku. Kunciku. Aku buta dan tersesat.

Seperti sebuah rutinitas yang menyenangkan lambat-laun kedatangan Fey selalu kutunggu. Wajah tirusnya, aroma rambutnya bahkan ketukan langkahnya. Semua tentang Fey menggelitik ingatanku yang terkubur dalam di suatu tempat.

Aku hanya merasa aku disini untuknya. Seolah Tuhan sengaja menempatkanku di tempat ini untuk menunggunya. Berada di sampingnya saat ia berteriak-teriak melampiaskan kemarahannya pada Tuhan. Mendengarkan keluh-kesah panjang berlumur kesedihan dari bibirnya. Lalu terpesona pada binar sepasang miliknya ketika ia mulai bercerita tentang lelaki itu.

Aku memeluknya. Memberikan bahuku untuknya menangis. Kadang kucium ujung rambutnya untuk menenangkan isaknya. Aku hanya tahu aku harus melakukan itu. Jauh di dasar hati, aku merasakan sebuah perasaan bersalah. Pada kesedihan yang harus di tanggung gadis itu.

Hari telah menjelang sore ketika Fey datang. Wajahnya lebih kacau dari biasanya. Tangannya menggenggam sebuah botol yang isinya tinggal separuh. Mata gadis itu berair dan ujung hidungnya yang memerah terlihat kontras di kulitnya yang putih. Aku mengerutkan kening mengenali botol yang ada di tangannya.

Dan ingatanku mendadak muncul seperti slide-slide film yang diputar ulang.

Gerimis nyaris tengah malam. Sepulang merayakan keberhasilan sebuah tender di pub aku menyetir pulang dalam keadaan sedikit mabuk. Tidak benar-benar mabuk sebenarnya. Aku masih bisa melihat jalanan yang kulewati dengan cukup jelas. Jalanan yang lengang menggodaku menaikkan kecepatan. Sebenarnya aku telah melihat mereka dikejauhan. Sepasang kekasih berjalan berpelukan di trotoar pada malam yang gerimis berangin. Hanya saja aku tak menduga jika angin cukup kuat untuk menerbangkan payung mereka. Dan si pria dengan sigap berlari ke tengah jalan untuk mengejar payung merah itu. Kekasihnya menoleh ke arah mobilku. Kami bertatapan sedetik dan kulihat wajah tirusnya memucat. Seiring teriakannya kubanting stir dengan cepat ke samping, namun tubuh lelaki itu terlanjur terlempar dihantam ujung mobilku. Jalanan yang licin, rodaku slip kehilangan kendali. Bunyi berdencit, hantaman keras dan hamburan pecahan kaca. Lalu senyap.

Aku jatuh terduduk. Lututku goyah. Fey, lelaki itu dan aku.

Rasa bersalah itu, wajah tirus yang kukenali dan mengapa aku disini. Semua tiba-tiba menjadi begitu masuk akal.

Fey mengangkat botolnya lagi dengan gemetar hendak menenggak sisa isinya ketika tanganku tiba-tiba bergerak menepisnya. Entah kekuatan apa yang merasuki tanganku namun botol itu nyatanya terlempar. Jatuh terguling menumpahkan isinya. Habis. Lesap dalam tanah. Fey ternganga. Aku ternganga.

Kemudian Fey mengamuk. Sungguh-sungguh mengamuk. Meneriakkan sebuah nama mungkin milik kekasihnya berulang-ulang. Menjerit memanggilnya. Matanya liar menyapu sekitar.

“Aaron! Kau disini kan?” Tubuhnya berputar ke segala penjuru.

“Jawab aku! Aaron!”

“Aaroooon!”

Airmata mengotori pipi tirusnya. Tubuhnya melengkung menahan jeri. Teriakannya tak berhenti. Bahunya berguncang keras menumpahkan isak. Fey histeris.

Gadis itu ternyata datang lagi. Kali ini ia mendekati pohon besar tempatku duduk. Ikut disandarkan tubuhnya begitu saja pada batang kokoh itu. Seolah aku adalah rengkuhan lebar yang menawarkan kenyamanan saat dirinya menelusupkan tubuhnya padaku. Aku diam tak bereaksi. Kubiarkan kepala gadis itu rebah padaku. Kucium aroma jeruk segar dari rambut panjangnya yang tak pernah kulihat rapi terikat. Bercampur wangi samar widelia dan imperata, aroma rambutnya seolah menjadi penanda lembah ini.

Padang rumput ini sepi. Hanya angin yang berhembus ringan sesekali menggoda rumpun mimosa di sela-sela rerumputan. Sekali dua daun mimosa menutup seolah gadis yang tertunduk malu saat angin genit menyentuhnya. Kami berdua masih sama-sama diam.

Fey menarik tubuhnya perlahan dan berdiri. Ujung rambutnya meriap tertiup angin. Seperti robot aku ikut berdiri di sampingnya. Ia menarik nafas sejenak.

“Aku tahu saat ini kau ada disini, Aaron.” Fey mengedarkan pandangan ke sekitar. Sorotnya lembut menembus sosokku.

“Kau pasti telah melihat saat-saat terburukku. Maafkan aku. Tapi kehilanganmu sungguh menyakitkan. Aku nyaris tak sanggup bertahan.” Suara Fey bergetar. Tenggorokanku tercekat. Tanpa kusadari tanganku terangkat menghapus airmatanya. Titik air itu tetap meleleh di pipinya.

Fey terisak, “Sikapku konyol sekali hingga kau terpaksa tertahan di sini demi aku.” Gadis itu mengambil jeda sejenak, mengangkat wajah dan mengulaskan senyum paling manis yang pernah kulihat darinya. “Pulanglah Aaron. Aku siap. Jangan khawatirkan aku.”

Fey membalikkan tubuhnya melangkah pergi meninggalkan lembah. Aku menatap punggung dan ayunan langkahnya yang terus menjauh.

Aku bukan Aaron, Fey. Tapi berjanjilah kau akan akan baik-baik saja.

Seberkas cahaya yang teramat terang memanggil. Aku tahu tugasku telah usai.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/DC5VUFBGV2

 

Advertisements

One thought on “Ingatan Tentang Fey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s