Tapih Uma

Ruang tamu ini tak pernah berubah. Bahkan letak kursi pun tak ada yang bergeser apa lagi tertukar. Gambar ulama besar Syekh Al Banjari bersanding dengan poster Masjidil Haram beserta Ka’bahnya. Keduanya berlapis kaca dan berpigura untuk menjaganya dari debu dan waktu. Ya, waktu seolah berhenti di rumah ini. Jika rumah-rumah panggung kayu ulin di kanan kiri perlahan-lahan mulai berlapis keramik pada dindingnya, maka rumah Abah dan Umaku ini setia pada bentuknya. Hanya catnya yang sesekali berubah warna.
Lima tahun yang lalu pernah aku berniat ingin merenovasinya. Tapi uma menolak, katanya, “Rumah kita ini Husen, berdiri di atas rawa. Cuma kayu ulin yang sanggup menahan rawa. Untuk apa kau buat semakin bagus, mun kena rubuh jua 1). Kayu ulin ini yang paling cocok sudah.” Kekuatan kayu ulin pun menjelma di sendi-sendi rumah kami. Semakin tua namun semakin kokoh.

“Kak, tehnya,” ucapan Galuh membuyarkan lamunanku. Secangkir teh hangat beraroma frambosen khas teh dari Banjar beserta sepiring sanggar yang masih mengepul asapnya dihidangkan di meja tamu. Anakku Laika hendak mencomotnya.

“Hati-hati panas!” seruku. Terlambat, gadis kecilku itu sudah mengibaskan jari-jarinya yang perih kepanasan. Sanggar yang dicomotnya menggelinding ke lantai. Galuh dengan cepat memungutnya,”Acil2) potong-potong di piring kecil ya, supaya Laika bisa memakannya.”

“Jangan Galuh!”tangan istriku tiba-tiba menarik lengan Galuh dan menahan langkahnya. Galuh dan aku menatapnya heran. Marsha buru-buru melepaskan cekalannya,”Jangan dimakan lagi. Kan sudah jatuh, nanti kotor.”
Galuh tersenyum patuh, “Baik Kak.”

“Rumah ini sama sekali tak sehat. Lembab sekali.” Pandangan Marsha menelusuri seluruh ruangan. Menembus ke ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang utama sekaligus kamar.
Aku menghela napas.

”Bagaimana tak lembab, tanah di kolong rumah ini berbentuk rawa. Itu sebabnya udara di luar terkadang berbau kurang sedap.”
“Tapi rumah Kai dan Nenek ini wangi, Ayah,”sergah Laika. Bola matanya yang bulat membesar. Aku tersenyum dan mengangguk mengiakan. “Rumah Kai3) dan Nenek ini memang wangi.”

Rumah orangtuaku wangi kesturi. Wangi kesturi lembut yang segera tercium begitu kaki menjejak masuk ke dalam rumah. Wangi ini seperti kabut tipis yang menyelimuti penjuru rumah. Ia seolah menahan bau tak sedap dari luar. Selama ini kupikir wangi ini berasal dari tubuh Uma4). Sewaktu kanak-kanak aku kerap menelusup ke dalam pelukan Uma dan kucium wangi yang sama, entah dari tubuhnya atau kebaya yang dikenakannya. Namun ternyata setelah Uma telah berpulang menyusul Abah5) dua tahun yang lalu pun, rumah kami masih tetap wangi. Entah dari mana sumbernya.

“ Aku tak menyangka Uma memiliki banyak kebaya cantik dan kain kuno,” Marsha bersimpuh di lantai. Wajahnya kelihatan berseri bungah. Dihadapannya bertumpuk pakaian dan kebaya-kebaya milik Uma. Lemari jati milik Uma terbuka lebar, rak-raknya separuh melompong. Sebagian isinya berserakan di lantai.

“Kami sedang memilah-milah isi lemari Uma, Kak. Barangkali ada yang bisa disumbangkan ke bubuhan6) daripada lapuk di dalam lemari,” Galuh menjawab tatapan heranku. Tangannya cekatan memilah pakaian dan melipatnya kembali.

“Apa ini Galuh?” Marsha memegang bungkusan kain kuning. “Aku menemukannya di pojok itu,” tangannya menunjuk sudut dalam rak paling bawah lemari Uma. Galuh bangkit dari duduknya, aku mendekat menghampiri Marsha dan mengambil bungkusan itu. Kuletakkan di atas kasur dan kubuka dengan hati-hati lipatan kain kuning tersebut. Galuh dan Marsha berdiri di samping kanan dan kiriku. Wangi kesturi menyergap penciuman begitu lipatan pertama terbuka. Dan semakin tajam saat bungkusan kain kuning itu semakin terbuka. Sebuah Tapih7) Sasirangan bermotif Naga Balimbur Laki Bini8) berwarna kuning gading terlipat rapi di dalamnya. Wangi tajam kesturi bercampur aroma asing dari masa lalu menguar darinya.

Marsha masih mengelus-elus Tapih Sasirangan yang kini terhampar di kasur tempat tidur. Ia sengaja menghamparnya setelah nyaris sepuluh menit berkeluh-kesah menyayangkan lipatan yang membekas mungkin berpuluh tahun lamanya. Istriku penyuka kain-kain kuno. Matanya yang awas dan terlatih mengenali Kain Sasirangan itu berbeda dengan kain sejenis yang banyak dijual di toko-toko cenderamata.

“Ini kain kuno, Mas. Motifnya sungguh-sungguh dibuat, bukan menggunakan cap. Bahkan pewarnanya pun berbeda,” jemarinya menelusuri permukaan kain dengan hati-hati.

“Wangi sekali,” Wajahnya menunduk menikmati harum yang menguar dari pori-pori kain. “Kainnya pun tak lapuk. Bagaimana bisa ya?” gumamnya berbicara pada diri sendiri.“Aku ingin membawanya ke Jakarta, Mas.”Putusnya tiba-tiba. “Aku akan merawatnya dengan baik. Sayang kalau kain secantik ini tidak mendapat perlakuan istimewa.”

Aku tak menjawab. Sibuk menimang-nimang Laika. Bocah berusia lima tahun itu meringkuk di pangkuanku serupa anak kucing yang manis. Dengkurnya halus seiring nafas yang teratur naik-turun.

“Maaf, Kak. Kalau boleh ulun bepadah9). Kain itu jangan dibawa ke Jakarta. Biarlah dia disini, disimpan sebagai pusaka kuitan.” Adik angkatku itu tiba-tiba bersuara dari biliknya. Rumah kami memang tak memiliki kamar. Tempat tidur berada di sudut bersebarangan di ruang tengah. Tertutup oleh pembatas tinggi namun bisa dilipat yang terbuat dari kayu.

Tak lama sosoknya yang masih mengenakan mukena itu keluar. Dari pembatas bilikku terbuka nampak Marsha masih duduk di atas tempat tidur sembari mengelus-elus Tapih Sasirangan tadi.

“Di rumah ada ruangan khusus yang suhu ruangannya sengaja diatur agar kain-kain kuno tidak mudah rusak. Aku akan menggantungnya bersama kain-kain koleksiku yang lain, Galuh.”

“Ulun paham, Kak. Tapi Tapih ini bukan kain kuno biasa. Ini pusaka, Kak. Mungkin datuk atau nini10) kita telah menyimpannya berpuluh atau bahkan beratus tahun lalu.” Suara Galuh lembut membujuk.

Sejak pertama kali ia datang ke rumah ini, saat usianya masih lima tahun, perangai Galuh memang lemah-lembut. Tak pernah terdengar suaranya berucap nyaring, tajam apalagi kasar. Aku tak pernah mengetahui asal Galuh. Yang kuingat pada suatu senja, Uma pulang setelah tiga hari berpamitan hendak ke hulu. Abah bilang, Uma menengok kerabatnya di sana. Uma kembali ke rumah dan menggandeng anak perempuan kecil berusia kurang lebih lima tahun, seusia Laika anakku saat ini. Anak perempuan yang berwajah mungil dengan kulit kuning cerah. Abah mengangguk tersenyum saat Uma meminta ijin agar anak perempuan itu bisa tinggal bersama kami. Uma memanggilnya, Galuh. Setelah dewasa pernah sekali terlintas di pikiranku, kerabat mana yang ditengok Uma di Tanah Hulu waktu itu? Sebab setahuku, Uma berasal dari Banten. Lagipula keluarga besar Abah semua berkumpul di Banjarmasin. Hanya Abah seorang yang merantau di kota ini.

“Jadi, aku sungguh tak bisa membawanya ke Jakarta, Galuh?” Marsha mengeluh pelan. Ekspresinya terlihat sangat berat. Jatuh cinta sepertinya ia pada Tapih Sasirangan itu. Galuh tersenyum tak menjawab. Dalam hati aku berdoa semoga salah-satu dari mereka ada yang mengalah. Aku sangat memahami ‘kegilaan’ Marsha pada kain-kain kuno. Namun di sisi lain aku pun mengerti alasan yang dikemukakan Galuh. Dan berdiri di antara kepentingan istri dan adik perempuanku adalah hal terakhir yang kuinginkan dalam hidup ini.

Tiba-tiba Laika mengeluh pelan , “Haus, Yah.” Aku memperbaiki posisiku memangku dan kurasakan tubuhnya menghangat. “Sepertinya Laika demam.”

Marsha mendekat dan menempelkan tangannya ke kening Laika. “Ya ampun panas sekali. Apa kau tak merasakannya dari tadi, Mas?” ujarnya panik. Tangannya meraih Laika ke dalam gendongannya. Galuh mendekat dan menyentuh lengan anakku. “Ini panas kak, bukan sekedar demam.”

“Kenapa pian suruh tidur Laika wayah surup kayaini11), Kak?” tegurnya padaku sambil menuang segelas air putih untuk Laika minum.
“Aku menjaganya. Dia ada dalam pelukanku.” Aku membela diri.
“Tetap saja…,”ujar Galuh lembut namun tak bisa menyembunyikan nada menyalahkan dalam suaranya.

Kutatap kedua perempuan yang kini mendadak sibuk memperhatikan Laika. Aku menarik nafas lega. Untuk sementara Tapih Sasirangan itu terlupakan.

Ini hari keempat demam Laika. Suhu tubuhnya tak bergeser turun dari 39 dan 40 derajat Celsius. Aku sudah membawanya ke dokter namun tak ada obat penurun panas yang mempan. Hasil cek darahnya tak menjelaskan apapun. Marsha semakin senewen dari hari ke hari. Ia meminta kami segera kembali ke Jakarta. Aku menolaknya. Sungguh beresiko membawa Laika yang panas tinggi dalam perjalanan darat Samarinda-Balikpapan lalu menyambung perjalanan udara ke Jakarta. Mesti bersungut-sungut, Marsha akhirnya sependapat denganku. Namun bibir tipisnya menjadi sering mengeluhkan banyak hal tentang rumahku. Tentang ventilasi udara yang tak lancar, udara yang lembab, bahkan alat-alat makan yang menurutnya kurang higienis. Tak jarang kulihat Galuh menggigit bibir bawahnya dengan rupa serba salah.

Aku dan Marsha tengah menunggui Laika yang tidur dengan gelisah ketika Galuh mengetuk pembatas kayu.
“Masuklah,” kataku pada Galuh.
Galuh mendekat ke ranjang kami.
“Kak, mungkin kita harus mencoba Tapih Sasirangan itu untuk menyembuhkan Laika,” ujar adikku itu takut-takut.
“Heh?”
“iya, Kak. Barangkali Laika kapidaraan maka tubuhnya mariap dingin seperti itu. Tadi tiba-tiba saja ulun teringat uma pernah berkisah tentang Tapih Sasirangan yang pada jaman dahulu bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit.”
“Tapi itu kan dulu, Galuh. Mana mungkin sekarang Tapih Sasirangan itu masih memiliki kekuatan seperti itu,”tukasku.
“Kenapa tidak, Mas? Bukankah energi itu melampaui batas tempat dan waktu. Kita coba saja, toh tidak ada ruginya.” Marsha tiba-tiba menimpali pembicaraanku dan Galuh. Yang langsung disambut dengan anggukan penuh semangat gadis itu.

Aku mengerutkan kening kenapa Marsha tiba-tiba begitu bersemangat, apa kecemasannya sebagai ibu meluruhkan akal sehatnya? Aku menatap wajah dua perempuan di hadapanku yang menatap dengan rupa penuh harap. Kutarik nafas panjang, “Baiklah. Mana tapih itu?”
Galuh tersenyum lebar penuh kelegaan. Marsha tampak gelisah.
“Mmm, Tapih Sasirangannya aku simpan dalam koperku,” Marsha menjawab malu-malu.
“Ya ampun, Marsha!”
“Tolong disiapkan ya, Kak. Biar kuambilkan segelas air putih dulu untuk menawari.”Galuh menengahi lalu beranjak ke dapur.

Kini kami bertiga berkumpul di tepi ranjang, Galuh duduk di samping Laika yang tengah tidur dengan gelisah. Tangan adikku itu memegang segelas air putih. Sempat kulihat bibirnya bergerak-gerak pelan seolah melafalkan sesuatu. Entah apa. Lalu ia membangunkan anakku,”Laika, minum dulu ya Nak, supaya tenggorokanmu tidak kering,”ujarnya lembut. Laika membuka matanya perlahan, Marsha membantunya mengangkat kepala, meminum air yang disorongkan Galuh kepadanya. “Bismillahirrohmanirrohiim…,” bisik Galuh saat bibir Laika menyentuh pinggiran gelas.
Laika kembali tidur. Hati-hati Galuh menyelimuti tubuh mungil anakku dengan Tapih Sasirangan milik Uma. Gerakannya sungguh takzim seakan dia sungguh seorang pananamba12). Kemudian ia kembali duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya memegang tasbih batu kecubung yang kukenali sebagai milik Abah.
“Kak, kalau pian handak guring13) pakai saja dulu ranjangku. Biar aku dan Kak Marsha yang menunggui Laika di sini.”
“Sudah, aku di sini saja. Aku juga ingin menunggui anakku,”ujarku sembari duduk di lantai kayu menyelonjorkan kaki.
Galuh dan Marsha tersenyum mendengar jawabanku.
Menit demi menit berlalu menjadi jam. Galuh tak henti mendaraskan Shalawat Nabi dari bibirnya. Tasbih kecubung milik Abah terus berputar di tangan kanannya. Marsha beberapa kali mengukur suhu Laika. Dari senyum dan gurat kelegaan di wajahnya, aku tahu suhu badan Laika mulai menurun. Dalam hati kupanjatkan syukur pada Pemberi Kehidupan. Suhu tubuh Laika telah stabil dua jam terakhir. Menjelang shubuh, Galuh bangkit dari duduknya, aku dan Marsha mengikuti. Dengan gerakan yang sama takzimnya, Galuh melipat kembali Tapih Sasirangan yang tadinya menyelimuti tubuh Laika.

Tiba-tiba Laika terbangun. Senyumnya lebar dan matanya berbinar, “Tadi malam Nenek menemani Laika. Ada Kai, Datuk, Nini… semua menemani Laika,”celotehnya riang. Aku, Marsha dan Galuh sontak berpandangan satu sama lain.
“Mmm…, Ayah, sebelum Nenek pulang ia ingin mengatakan sesuatu,”
Mata Laika terpejam lalu terbuka kembali sedetik kemudian. Ia bangun lalu duduk dengan punggung tegak. Raut wajahnya berubah. Ia Laika namun bukan Laika. Lengan kanan dan kiriku dicengkram kuat oleh Marsha dan Galuh. Kami bertiga terpaku tak bergerak menatap Laika. Sorot matanya melembut, dan suaranya pelan berkata,”Jangan dibawa kainku keluar, diandak di sini haja, Nak ai.” 14)

Suara Uma!


Keterangan:
1. Mun kena rubuh jua : Kalau nantinya malah rubuh.
2. Acil : Bibi/tante
3. Kai : Kakek
4. Uma : Ibu
5. Abah : Ayah
6. Bubuhan : Kerabat
7. Tapih : Kain
8. Sasirangan : Nama kain khas Banjar
9. Ulun Bepadah : Saya berkata
10. Datuk-Nini : Kakek Nenek
11. Wayah surup kayaini : Saat senja seperti ini
12. Pananamba : Penyembuh
13. Pian handak guring : Kalau anda ingin tidur
14. Jangan dibawa kainku keluar, diandak di sini haja, Nak ai : Jangan dibawa kainku keluar. Simpan di sini saja, Nak.

https://stocksnap.io/photo/E6A55845C9

Advertisements

5 thoughts on “Tapih Uma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s