Saat Cinta Butuh Tanda Seru

*Telah diterbitkan dalam Kumcer “Follower”

 

Julie  memainkan pena yang terjepit diantara jemari dengan gelisah. Sesekali ia mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung kuku. Matanya lekat menatap penanggalan yang digantung di dinding kamar. Lingkaran spidol merah menandai sebuah tanggal. 3 April. Tinggal tiga hari lagi, gumamnya risau. Mendadak ia merasa hawa di kamarnya terlalu hangat. Mungkin terbawa oleh suasana hatinya. Tangan gadis itu bergerak  cekatan menaikkan rambut ke atas tengkuk. Menyimpulnya menjadi sebuah cepol mungil. Membebaskan angin malam yang dingin menyentuh tengkuk sekaligus menenangkan hatinya.

Beberapa saat berlalu Julie tak jua melakukan sesuatu meski bisa dirasakan dadanya berdegup kencang. Ini barangkali hal paling gila yang pernah ia lakukan. Sejenak gadis itu memejamkan mata, mengatur nafas dan sedetik kemudian jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Mencoba bertarung dengan waktu dan mungkin juga takdir.

Sosok ramping itu tak henti mengajukan pertanyaan. Menuntut penjelasan detil dari orang yang ditanyainya. Sesekali mengangguk dan tersenyum puas mendengar jawaban-jawaban dari lawan bicaranya.

“Farah, beristirahatlah. Percayakan saja pesta pernikahanmu pada teamnya Mbak Sekar. Semua terkendali, kok. Mama juga kan ikut mengawasi.” Seorang perempuan paruh baya bertubuh subur  muncul menengahi.

Gadis yang dipanggil Farah itu tersenyum salah-tingkah.

“Iya, Ma. Maaf, bukannya Farah tidak percaya sama Mbak Sekar dan teman-teman. Farah nervous…,” ujarnya dengan pipi memerah.

Sekar tertawa renyah penuh pengertian. Profesi wedding organizer yang  ia geluti selama bertahun-tahun telah menempa kesabarannya. Sekar sangat piawai menyelami berbagai karakter klien. Termasuk yang detil dan perfeksionis seperti Farah.

Bunyi getar terdengar dari gadget Farah yang diletakkan di meja tamu. Getar yang kesekian kali. Nyaris dua jam lamanya sengaja Farah mengabaikan semua pesan dan notifikasi yang masuk.

“Sudah, masuk kamarmu sana, itu lihat gadgetmu dari tadi bergetar terus. Barangkali Awan mengirimkan pesan, mencarimu. Biar Mama yang antar Mbak Sekar ke luar. Mbak Sekar juga kudu istirahat. Capek, sedari tadi kamu interogasi.” Ibunya kini memberi perintah.

Farah mengangguk menurut. Meraih gadgetnya dan melemparkan senyum manis tanda terima kasih pada Sekar sebelum berlalu menuju kamar.

Di atas kasur, Farah berbaring menatap langit-langit kamar. Perasaannya kini bercampur aduk antara gugup, gelisah dan senang. Tiga hari lagi ia akan sah menjadi Ny. Farah Laksana. Istri dari Awan Laksana, lelaki yang dicintainya sepenuh hati. Bibirnya mengembang senyum.

Farah, perempuan muda yang mandiri, sedikit serius, cerdas dan memiliki karir yang cemerlang. Tipe yang tak mudah jatuh cinta. Namun hatinya luluh pada seorang musisi yang dikenalnya secara tak sengaja dari social media. Seorang teman kuliah men-tag dirinya pada poster sebuah perhelatan Jazz kecil-kecilan yang pada akhirnya dihadiri oleh Farah. Di pementasan musik yang dihadiri komunitas penggemar Jazz itulah ia berkenalan dengan Awan. Lelaki yang menurut Farah paling bertalenta yang pernah dikenalnya. Musisi sekaligus penggemar sastra. Kombinasi yang sanggup melelehkan hati perempuan di  mana saja.

Gadget Farah kembali bergetar. Sebuah Notifikasi  dari Facebook. Seseorang bernama Juliana Desma mengirimkan pesan.

Farah mengerutkan kening. Juliana Desma. Nama itu terdengar familiar. Buru-buru dibukanya pesan tadi.

Jadi, apa kau kini telah menjadi kekasihnya? Dan akan menjadi perempuannya juga?

Farah terhenyak membaca pesan yang begitu lugas itu. Segera ia menegakkan punggung dan meneruskan membaca

Apakah kalian benar-benar saling mencintai? Ah, Barangkali ini aneh. Aku hanya ingin memastikan, jangan sampai kisah kami yang pernah tumbuh, ternyata tetap berakar dan berkembang diam-diam pada halaman rumah kalian, kelak.

Farah menggigit bibir. Sebongkah rasa kini menyesakkan dadanya menimbulkan nyeri. Juliana Desma… Farah mengeja nama itu sekali lagi. Awan harus menjelaskan tentang ini!

“Halo, Awan? Kau sudah tidur?” Farah membuka percakapan dengan hati-hati.

“Hai, Sayang. Belum, aku belum tidur, masih recording. Kau juga belum tidur. Hati-hati, jangan sampai matamu berkantung karena kurang tidur. Kau membenci kantung mata, kan?” Suara Awan menggoda. Rasa hangat menelusup di relung hati Farah.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” ujar Farah perlahan. Ia sungguh tak ingin memulai pertengkaran.

“Tentu. Silahkan.”

“Juliana Desma. Siapa dia?” tanya Farah tanpa tedeng aling-aling.

Hening sejenak. Farah berdebar menanti jawaban dari Awan. Satu menit, dua menit menit… Farah mulai gelisah.

“Juliana Desma, itu Julie. Bukankah pernah kuceritakan tentangnya beberapa waktu lalu?” Awan menjawab sekaligus bertanya. Terdengar sedikit defensif di telinga Farah.

Julie? Farah mengerutkan kening mencoba memanggil kembali rekaman-rekaman percakapannya dengan Awan dari gudang memorinya.

“Julie kawanmu dari kecil? Kalian tumbuh dewasa bersama, saling jatuh cinta dan beberapa kali putus sambung sebagai kekasih. Julie yang itu?”

“Ya, Julie yang itu. Ada apa?”

“Emm…dia…,” Farah menggantung kalimatnya. Dia mengirimiku pesan di Facebook kendati kami tidak berteman. Dia bertanya seolah kalian berdua masih saling mencintai. Dia lancang sekali! Farah meneruskan kalimatnya bertubi-tubi dalam hati.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Farah sembari tersenyum. Mencoba menenangkan diri sendiri dan menutupi perasaannya yang berkecamuk.

“Hmmm, aku tak yakin kamu berkata jujur. Tapi, apapun itu, abaikan saja dia. Ok?!”

“Ya, akan kuturuti pesanmu. Aku tidur dulu, ya. Kau juga beristirahatlah. Besok lusa kau harus menikahiku. Jangan sampai telat karena ketiduran.”

“Hahaha. Tentu, Sayang. Mimpi indah, ya. Bye.”

Bye.”

Farah menatap layar telepon genggamnya. Menghela nafas berat sembari merebahkan tubuh kembali. Pikirannya masih terus berkecamuk. Julie dan Awan memang sangat dekat, dulu.  Bahkan  seingat Farah, saat bercerita tentang Julie beberapa waktu lalu, mata Awan terlihat berbinar. Tak heran jika kini Julie nekat menghubunginya. Mungkin gadis itu merasa masih memiliki Awan. Atau mungkin mereka masih memiliki perasaan yang dalam seperti yang dilukiskan Julie dalam pesannya? Sebuah suara mengusik pikirannya. Farah memeluk guling erat-erat, memejamkan mata mencoba tidur. Pelipisnya kini berdenyut-denyut terasa ingin meledak!

Rubicon yang dikendarai Awan membelah melaju jalanan yang tak juga sepi meski malam semakin larut. Kehidupan seolah tak pernah berhenti. Tak heran jika kini manusia menua lebih cepat. Penat namun enggan beristirahat.

Malam ini adalah malam midodareni. Awan baru  saja usai melaksanakan tugasnya berkunjung ke rumah Farah bersama beberapa kerabat ketika sebuah Direct Message masuk ke akun Twitternya.

Juliana Desma @Ma_Julie                                                                                                          3h

Hai. Aku pulang. Baru saja sampai. Tak ada orang di rumah. Tubuhku demam, bisakah kau datang ke mari?

Permintaan klise yang telah dikenali Awan bertahun-tahun sebagai rengekan manja bocah perempuan yang mencari perhatian. Namun entah darimana datangnya, sejak bertahun-tahun lalu pula, sebentuk rasa serupa sayang bercampur keinginan untuk melindungi muncul. Membuatnya lagi-lagi  selalu menuruti permintaan gadis itu.

Awan memarkir mobil di pekarangan sebuah rumah lama dengan arsitektur Belanda. Rumah yang sejak kecil sering dikunjunginya saat mereka masih bertetangga. Dua kali dentang bel, pintu bercat putih itu terbuka. Julie berdiri dihadapan Awan, memakai piyama tebal dan rambut yang tergerai acak-acakan. Wajahnya terlihat pucat.

“Hai,” Awan merengkuh gadis itu dalam pelukannya. “Astaga, badanmu panas sekali.” Serunya saat pipi Julie menyentuh lengannya.

“Kau pikir aku berbohong?!” sungut Julie sambil melepaskan diri dari pelukan Awan. Memberi jalan bagi lelaki itu memasuki rumah.

“Kau ini aneh, tentu saja tak ada orang di rumah. Rumah ini hanya di kunjungi keluarga abangmu saat akhir pekan. Dan kamu pasti tak menghubungi mereka, kan?”

Julie mengedikkan bahu dengan ekspresi tak peduli. “Apa yang kau bawa?” tanyanya melirik bungkusan plastik yang ditenteng Awan.

“Makanan dan obat. Aku tahu kebiasaanmu yang sembrono.”

Julie nyengir lebar,”Kau memang keren. Selalu bisa diandalkan. Aku pusing sekali.” Tubuhnya kini meringkuk di sofa.

Kilatan cahaya tiba-tiba menyambar, suara petir yang menggelegar menyusul kemudian. Awan segera menutup tirai jendela yang masih terbuka. “Sepertinya akan hujan deras malam ini, langit mendung sekali.”

“Awan, bermalamlah di sini.”

Awan duduk di samping Julie, menyodorkan segelas air dan pil antipiretik.

“Tidak bisa, aku harus pulang.”

“Karena kau besok akan menikah?” tanya Julie setelah menenggak obatnya. Raut wajahnya terlihat kecewa. “Kamu tahu kan, sejak kecil aku selalu takut sendirian saat hujan deras dengan petir dan kilat menyambar-nyambar.”

Awan tersenyum tak menjawab.

“Baiklah, kalau hal itu tak lagi penting buatmu. Nggak apa-apa. Pulanglah.” Nada suara Julie merajuk.

Awan tertawa. “Kau tak pernah berubah. Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini,” ujar lelaki itu sambil mengacak pelan poni Julie.

Berkilo-kilo meter jauhnya, Farah tertidur setelah kelelahan menangis. Bantalnya lembab oleh air mata. Selama berjam-jam berulangkali ia mencoba menghubungi Awan namun tak berhasil. Telepon genggamnya dimatikan.

Di akun Facebook Farah, lima jam yang lalu, sebuah pesan masuk dari Julie.

Tahukah kamu, jika aku merindukannya, aku akan datang padanya dan ia akan memelukku. Begitupun sebaliknya. Begitulah, cinta yang kami tumbuhkan dalam kesunyian dan bahkan tak kami sadari.

Ketegangan di rumah Farah berdenyut-denyut  melebur bersama partikel udara yang menyebar ke penjuru rumah. Pengantin pria datang terlambat. Dan kini berada bersama pengantin wanita di kamar yang dikunci dari dalam. Segala pantangan perias tak digubris. Sekar mondar-mandir dengan gelisah. Farah si pengantin wanita meledak, mengamuk.

Di dalam kamar, Farah duduk di depan meja rias dengan mata berkilat marah.

“Kau semalaman bersamanya, kan?”

Awan diam, menatap Farah lekat-lekat. ”Ya,” jawabnya pelan.

Farah menghembuskan nafas dengan kesal. Wajahnya mengeras.

“Tahukah kamu, apa yang ia kirimkan padaku pagi ini? Ini!” Farah melempar gadgetnya ke kasur. Awan meraih gadget itu dan membaca pesan  di akun Facebook Farah.

Seperti yang kukatakan padamu, pada akhirnya semalam kami bersama. Akan selalu begitu. Kami akan saling mencari dan tidak akan bisa saling melepaskan.

Awan menghela nafas.

“Sudah kukatakan padamu untuk mengabaikannya, kan?”

“Demi Tuhan, Awan! Aku mengabaikannya! Tapi dia menerorku terus menerus-menerus. Perempuan sakit itu yang menghubungiku pertama kali padahal kami sama sekali tidak saling mengenal apalagi berteman.” Ucapan Farah menderas bersama gelombang kemarahannya.

“Kenapa tak kau block saja?” tanya Awan tak mengerti.

“Kenapa harus di block?” Farah balik bertanya. “Agar aku tak pernah mengerti kisah kalian berdua. Agar aku tak menyadari kebohongan yang kamu lakukan, begitu?” suara gadis itu melengking tajam.

“Lalu, apa maumu sekarang?”

“Pergilah. Aku masih cukup waras untuk tidak terperangkap dalam kehidupan yang penuh teror dari seorang perempuan sakit jiwa.” tukas Farah ketus.

Awan menatap perempuan di hadapannya dalam-dalam.

“Baiklah, jika itu maumu.” Awan membalikkan punggung dan berlalu keluar kamar.

Farah terperangah. Tak menyangka Awan begitu saja menyerah dalam hubungan mereka. Bibirnya bergetar menahan tangis dan seketika sepasang matanya tergenang airmata. Julie, perempuan itu mungkin sakit jiwa, namun nyatanya ia telah kalah olehnya. Sungguh-sungguh kalah. Lutut Farah goyah, tubuhnya limbung. Gelap menyerkap kesadaran

“Aku tahu kau akan berada di sini.” Julie menghampiri Awan yang duduk mencangkung memeluk lutut memandang langit senja jingga. Bukit di pinggiran kota ini adalah tempat favorit mereka berdua. Tempat terbaik untuk menatap senja. Julie melirik beberapa kaleng bir yang berserakan di samping Awan.

“Mabuk?”

“Apa kau sudah puas?” tanya Awan tak menggubris pertanyaan Julie. Matanya tak lepas menatap bola raksasa kemerahan yang bergulir semakin ke barat. “Sebenarnya apa maumu?”

“Entahlah. Menegaskan rasa, barangkali. Jiwa kita saling bertautan, kau tahu itu.” Julie kini ikut duduk di sebelah Awan.

“Aku tahu. Jiwa kita bertautan, lalu kau berontak tanpa sebab dan memilih menjauh. Datang lagi, kemudian menjauh lagi. Tidakkah kau lelah? Karena kau tahu, aku lelah. Jadi mulai sekarang, menjauhlah sejauh mungkin dari kehidupanku.”

Julie menoleh, “Kamu ingin aku pergi? Sungguh itu keinginanmu?”

Awan memalingkan tatapannya. Ditatapnya sepasang mata berbentuk badam milik Julie lekat-lekat.

“Ya, Aku ingin kau pergi,” tegasnya penuh kesungguhan.

Julie menghela nafas. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi. Ini undangan untukmu.” Gadis itu menyodorkan undangan berwarna krem keemasan. Awan mengerutkan kening tak mengerti.

“Seminggu lagi aku akan menikah.”

What?! Seminggu lagi menikah dan kamu melakukan semua kekacauan ini ? Astaga Julie… Kau sudah gila!” Awan menepuk keningnya dengan kesal. Tak paham dengan jalan pikiran gadis itu.

“Kau boleh menganggap aku gila. Silahkan bermain dengan pikiranmu. Tapi ini adalah hal yang paling benar yang pernah kulakukan seumur hidupku.” Julie berujar tenang. Ia bangkit dari duduk dan menepis rumput yang menempel di celana jeansnya.

“ Karena cinta tumbuh dengan berbagai pertanyaan, Awan, terkadang kita butuh tanda seru untuk menegaskannya. Kau telah sungguh memintaku pergi. Maka aku pergi.” Julie berbalik dan berlalu pergi.

Awan terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu. Lidahnya terlalu kelu untuk memanggil nama Julie meski hatinya teramat ingin. Nanar ditatapnya punggung gadis itu yang semakin menjauh lalu hilang. Menjelma asing yang sunyi.

“Diantara kita, Julie, selalu ada yang memanggul tawa dan menghela luka. Satu demi satu.” Awan berbisik, lelah. Angin merepihkan ucapannya ke penjuru sebagai penanda usainya sebuah kisah milik sepasang anak manusia.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/C9DBABA6EC

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s