Ladang Bunga Matahari

Telah diunggah di http://www.inspirasi.co

 

 Ini Negeri Dongeng.

Satu-satunya tempat  Aku dan Kamu bisa bersama.

Atau setidaknya bisa saling bertukar tawa dengan leluasa.

Tempat aku dan  kamu bisa jadi segala.

“Pondokku ada di kaki bukit.”

Aku menunjuk bukit yang terlihat dari kejauhan. Matanya memicing mencoba melawan matahari mengikuti arah telunjukku.

“Kamu setiap hari datang kemari untuk berjualan susu?”

Aku mengangguk.

“Berjualan apa saja,” ralatku.

“Aku bisa menjual apa saja. Terkadang aku juga menjual bunga-bunga liar bahkan juga syal rajutanku.”

Ia menggeleng. Keningnya sedikit berkerut. Mungkin heran, mungkin juga tak setuju. Entahlah. Tapi yang jelas wajahnya jadi kelihatan sedikit terlalu serius. Aku menertawai tampang seriusnya.

“Anak perempuan seusiamu seharusnya tak tinggal sendirian di kaki bukit.”

Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh. Ah, rupanya benar. Ia sedang serius. Aku mulai memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kulit pipinya cerah bersemu kemerahan. Sepasang berwarna coklat madu  cemerlang yang kuyakini tak pernah sekalipun berkabut oleh sisa airmata. Rambut mengilat rapi. Bahkan kuku jemarinya pun dipotong bersih.

Aku buru-buru menggenggam milikku. Mengkhawatirkan sisa-sisa tanah yang mungkin tertinggal di kuku.

“Lalu kenapa kau sekarang ada di sini? Bukankah seharusnya kau berlatih pedang bersama anak-anak lelaki kaum ksatria lainnya?” Aku mencoba mengalihkan perhatianku sendiri.

Ia mengedikkan bahu. Sebuah cengiran lebar terkembang di wajahnya. Mata yang cemerlang itu semakin berkilau oleh kilatan nakal.

“Aku bosan. Aku ingin tahu apa rasanya berada di luar pada jam seharusnya aku berlatih.”

Dia menjawab sebelum menandaskan isi botol susu terakhirku.

“Kau mau pulang?”

Aku mengangguk. Menerima botol sekaligus kepingan koin yang ia sodorkan untukku sebagai bayaran sebotol susu.

“Boleh kutemani?”

Ia mengambil alih keranjang kayu berisi botol-botol susu kosong yang kujinjing. Bahkan sebelum aku sempat mengiyakan permintaannya.

Kami berjalan bersisian menyusuri pinggiran desa menuju ke lembah tempat pondokku berada.

Hari itu kami habiskan bersama dengan riang. Kami bercerita tentang apa saja. Cerita kami mengalir di sela-sela tawa dan sesekali tiupan seruling rumput yang ia buat. Mungkin hanya perasaanku saja tapi sepertinya hari itu matahari terlalu cepat bergulir ke barat.

Warna jingga pekat menghiasi puncak bukit saat ia beranjak dengan wajah enggan.

“Terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini, eng… siapa namamu?”

Ia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Mungkin merasa bersalah karena tak menanyakan namaku sebelumnya.

“Aimee.”

Aku menyebutkan namaku dengan malu-malu. Tersipu tanpa alasan yang jelas.

“Panggil aku, Kato. Nah, Aimee sampai jumpa lagi.”

Ia mengecup pipiku ringan sebelum meninggalkan pondok. Aku memandang punggungnya dan menyadari satu hal. Saat bertemu orang yang tepat, kau akan merasakan pada detik pertama kalian bersama. Bahkan sebelum kau mengetahui namanya.

Aku dan Kato semakin sering bertemu di hari-hari selanjutnya, di bulan-bulan berikutnya juga di tahun-tahun berikutnya.

“Waktu yang cukup lama.”

Aku menjawab pertanyannya tentang waktu kebersamaan kami sambil menyisiri rambut panjangku yang terurai sepinggang. Dalam tradisi kami, seorang gadis pantang menguraikan rambutnya di depan lelaki. Tapi beberapa waktu lalu, Kato tak hanya melihat rambutku. Ia bahkan telah menyusuri setiap lekukan yang kumiliki.

“Kau mengukurnya dengan panjang rambutmu?”

Kato menatapku dengan geli.  Aku mengangguk dan tersenyum.

“Bagaimana jika kita bersama dalam hitungan tak terbatas?”

Matanya kini penuh rasa ingin tahu.

“Akan kupintal jaring dari rambutku. Mungkin aku akan jadi Perempuan Laba-laba.”

Kato tertawa lepas mendengar jawabanku. Ia menatapku lekat-lekat. Aku yakin sekali pipiku kini berubah warna. Ada semburat rasa hangat yang melintas.

“Tak ada yang lebih bercahaya selain dirimu, Aimee.”

Langit mendadak gelap usai Kato berbisik. Begitu gelap hingga kami merasa takut dan dengan tergesa mengenakan pakaian.

Di tengah desa orang-orang sudah berkerumun. Melingkar mengelilingi  Nami, tetua di desa kami. Aku dan Kato berada di antara kerumunan. Tapi kami tak bersama. Kato berada di sana, bersama keluarga-keluarga berdarah ksatria. Sementara aku, Aimee si gadis desa berdiri di sisi lain bersama kaumku.

Nami duduk dengan takzim dengan memejamkan mata. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra-mantra yang aneh bunyinya. Genderang ditabuhkan mengikuti irama mantra Nami.

Aku menatapnya tak berkedip. Tanpa kusadari pikiranku menelusup masuk mendatangi Nami yang merasuk perlahan padaku.

“Aimee…,”

Suara tua milik Nami memanggilku di kepala. Aku menyahut panggilannya tanpa bersuara.

“Seharusnya kau tak boleh jatuh cinta sepanjang usiamu, Nak. Matahari akan cemburu. Lihatlah kulitmu yang berkilauan. Rambut panjangmu yang keemasan. Cinta membuatmu begitu cantik hingga Matahari mencemburuimu, Aimee.”

Matahari cemburu padamu.

Suara Nami bergema berulang-ulang di kepalaku. Menggasing seperti putaran angin yang mengamuk. Kepalaku berdenyar semakin cepat. Sementara telingaku menangkap irama tetabuhan yang semakin liar dan menghentak. Aku mendengar suara Nami di mana-mana. Udara mendadak terasa berat. Keringat dingin melengketkan rambut dan punggungku. Persendianku melunglai, aku ambruk ke tanah. Samar-samar aku menangkap suara Nami sesaat sebelum kegelapan memerangkap.

”Korbankan gadis itu pada Dewi Matahari!”

Pasti bukan aku yang ia maksud.

Saat aku membuka mata, aku telah berada dalam pondok Nami. Wangi udara pondok Nami sungguh mistis. Aroma  yang berasal dari aneka macam herbal kering yang digantung di langit-langit. Bercampur dengan asap dupa yang menguar kuat. Perempuan-perempuan tetua pasti telah mengganti pakaianku. Gaun panjang abu-abu katun kasar yang biasa kukenakan telah berganti dengan sutra muslin. Gaun yang khusus dikenakan oleh para gadis persembahan. Bergemerisik halus saat aku berusaha bangun dari lempeng batu yang halus dan dingin. Tempat tidur milik Nami.

Nami menoleh ke arahku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu kembali menekuri kuali berisi ramuan yang meletup-meletup di depannya.

“Kapan?”

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirku setelah beberapa saat keheningan tercipta di antara aku dan Nami.

Kepalaku masih sedikit berdenyut. Nami menyorongkan mangkuk batu berisi air yang ia tuang dari kendi dengan galur emas untuk merekatkan retakkannya. Aku menerima dan segera menandaskan air dari mangkuk batu itu. Rasa dingin yang menyegarkan menjalar dari kerongkongan ke syaraf-syaraf di kepala.

Nami duduk di bangku kayu berhadapan denganku.

“Kapan saatnya, Nami?”

Aku mengulangi pertanyaanku.

“Tiga hari dari sekarang.”

Aku menatap wajah Nami yang penuh kerut dan mencari rasa iba dari mata abu-abunya. Tapi kedua mata itu berkabut. Terlalu misterius untuk bisa kutebak. Raut wajahnya tenang tak menciptakan riak perasaan apapun. Aku menghela napas dengan berat. Pasrah.

Suara derap dan ringkik kuda terdengar dari luar pondok Nami membuyarkan keheningan kami. Perempuan tua itu bergegas ke luar.

“Berkati aku, Nami!”

Suara Kato! Aku menajamkan telinga.

“Kau akan pergi ke kuil?”

“Ya. Aku akan ke sana dan memasuki labirin rahasia untuk menemui Dewi Matahari.” Kato berkata lantang dan tegas.

“Tak seorang pun bisa memasuki labirin rahasia meskipun ia Putra Tahta Matahari.”

Suara Nami terdengar datar. Ia pasti memiliki ketenangan yang dalamnya tak terukur. Seperti kedalaman sungai kehidupan yang airnya baru saja kuminum.

“Tak seorang pun boleh merebut Aimee dariku, Nami!”

Jantungku berdentam. Dadaku sesak mampat oleh rasa cinta. Pipiku mulai lembab karena aliran air mata.

“Kalau begitu kau boleh pergi tanpa restuku.”

Nami bergeming.

Pintu pondok terbuka. Nami kembali masuk dan kembali sibuk menyibukkan diri pada ramuannya. Tak menghiraukan tatapanku yang mengejarnya dengan rasa panik. Di luar derap kasar dan ringkik kuda menjauhi pondok.

“Kita tak punya banyak waktu.”

Nami menggunting ujung rambutku. Menaburkan serbuk perak di atasnya dan menghujaninya dengan nyanyian mantra-mantra semalaman.

Pagi hari berikutnya aku melihat perempuan tua itu masih menggumamkan mantra dengan mata terpejam. Namun sebuah jaring-jaring laba-laba yang halus dan berwarna perak berkilauan kini terbentang lebar di hadapannya. Seakan tahu aku tengah memperhatikan dirinya, Nami menghentikan nyanyian mantranya. Ia membuka mata.

“Sementara ini pemuda itu aman. Ia tak akan pernah sampai di Kuil Matahari. Labirin itu akan membunuhnya. Tapi jaring laba-laba yang kusihir dari rambutmu ini akan menjaganya. Selama jaring ini membentang, pemuda itu hanya berputar-putar sesuai pola. Jaring rambutmu hanya bertahan sampai esok hari. Jika jaring ini robek maka sihir pelindungku pun lenyap. Katakan padaku Aimee, apa cintamu sebesar miliknya?”

Aku menganggukkan kepala cepat-cepat.

“Tentu. Aku tak ingin berpisah dengan Kato, Nami.”

Tiba-tiba saja aku merengek seperti bocah kecil yang takut kehilangan. Aku tak peduli. Aku tumbuh seorang diri dan kesepian. Kato satu-satunya yang kumiliki. Aku tak ingin kehilangan lagi.

“Tolonglah aku,” rengekanku berubah menjadi isak.

Nami menggelengkan kepala dan berdesah berat.

“Hanya ada satu cara, Nak. Tapi kau sungguh tak ingin berpisah dengannya apapun yang terjadi?”

Aku menjawab ‘Ya’ tanpa suara. Nami memandang lurus-lurus ke kedalaman mataku. Pada mata abu-abu miliknya aku melihat harga yang harus kubayar jika terus bersama Kato.

Apapun itu, Nami. Asalkan aku bersamanya, lakukan untukku.

Kali ini suara di kepalaku yang bicara. Nami mengangguk.

Malam itu aku berbaring di tengah pola bintang segi lima yang digambar Nami dengan kapur sihir di lantai dapurnya. Kristal dan nyala lilin di letakkan di titik-titik tertentu. Cahaya purnama menelusup melalui lubang udara di dinding batu. Nami akan memulai ritual.

Kita membutuhkan bantuan Dewa Bulan. Nami berujar saat mulai menggambari lantai dapurnya.

Aku mulai memejamkan mata. Nami duduk bersila berseberangan dengan tubuhku. Terdengar gumaman aneh dari bibirnya. Sayup-sayup lalu semakin nyaring menyerupai dengung dari segala penjuru. Ketimbang ucapan mantra, suara Nami lebih mirip dengung yang biasa kudengar pada malam yang hening. Dengung yang menghipnotisku perlahan-lahan.  Waktuku akhirnya tiba.

Kupandangi sekali lagi tubuhku yang terbaring tenang di lantai. Rasanya aku belum pernah melihat diriku secantik malam itu. Terlelap dengan wajah damai dan segurat senyum tipis. Esok tubuhku akan dihantarkan pada altar di Kuil Dewi Matahari. Tubuh yang detaknya samar namun tak berjiwa.

Dengung yang mengisi udara mulai meliuk mengajakku menari. Aku berputar ringan menyambut. Setiap putaran meluruhkanku menjadi serbuk-serbuk keemasan. Tubuh halusku kini menjelma butiran serbuk yang melayang di udara. Terpencar di antara partikel-partikel melayuk mengikuti desir angin. Kembali pulang ke bukit, kepada Kato.

Cahaya pertama mengilaukan embun. Aku meliukkan diri mengikuti arah datangnya silau keemasan. Kudengar langkah-langkah mendekat. Suara yang telah kukenal puluhan tahun. Langkah kaki kekasihku terdengar melambat. Tahun-tahun belakangan ini ia menua dengan cepat.

Ia tersenyum. Kerut-kerut di ujung matanya bertambah. Telapak tangannya yang kisut kasar dengan lembut membelai kelopakku. Ia menunduk menyentuhkan bibirnya. Kami bersentuhan. Ciumannya masih semanis yang kuingat.

“Berpuluh tahun ini kau pasti mengira aku tak mengenalimu.” Kato berbisik. Tangannya masih membelai kelopak-kelopakku.

“Hanya ada satu cahaya yang rela meredupkan dirinya demi diriku. Dan itu pasti kamu, Aimee.” Suara Kato bergetar. Ia terbatuk keras dengan tiba-tiba. Sesaat berusaha menarik napasnya yang berat dengan susah payah. Tangan rentanya tampak gemetar. Mata coklat madunya yang memesona  berkabut. Tatapannya melembut kemudian perlahan meredup  terkatup. Tubuh tua Kato ambruk ke tanah dengan bibir mengulumkan senyum. Aku memanggil namanya berulang kali dengan panik. Mencoba merunduk ke tanah untuk menggapainya. Sia-sia.

Senja hari penduduk desa menemukan Kato. Mereka menguburkannya di ladang bunga matahari yang tumbuh di kaki bukit. Mengembalikannya ke pelukanku. Aku menyambut tubuh kekasihku dengan sukacita.

Kelak jika kau melintas ladang bunga matahari di kaki bukit, berhentilah sejenak. Pikirkanlah tentang kami. Maka akan kau pahami, bahwa cinta akan selalu bersama apapun cara dan wujudnya.

“Tunggu, Aimee meleburkan dirinya menjadi bunga matahari untuk menyelamatkan Kato dan menemaninya menua sampai ajal, begitu?”

Riga menaikkan sebelah alisnya menghentikan kisahku. Aku mengangguk.

“Katamu Negeri Dongeng  akan menyatukan segalanya.”

Protesnya yang terdengar kekanakan membuatku tertawa.

“Mereka memang bersatu, kan?” jawabku masih tertawa.

Gawai Riga bergetar diiringi dering nada panggilan menghentikan tawaku. Dering nada yang sangat kami kenali. Riga memberi kode untuk menyingkir, aku mengangguk. Penuh pengertian seperti biasa.

“Sepertinya aku batal menginap Thena,” ujarnya beberapa menit kemudian. Ia  menghampiri dan memeluk pinggangku dari belakang.

“Raisa dan anak-anak mempercepat liburan mereka. Maafkan aku,” bisiknya di sela-sela rambut yang menutupi tengkukku. Bahuku merosot lemah. Kegembiraan sepagian karena akan bersama Riga  sepanjang akhir pekan ini pupus sudah.

Sekali lagi, selalu seperti ini.

“Tak apa,Riga. Aku mengerti,” bisikku lelah.

Kutepuk lembut punggung tangannya yang masih memelukku.  Menggigit bibir menahan genangan dari ceruk mata yang mendesak ingin tumpah.

Tak apa, Sayang. Hanya di Negeri Dongeng, kau dan aku bisa bersama  menjadi  segala.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s