Yang Dikabarkan Hujan

Lika bertemu lelaki itu di sebuah kedai kopi yang ia lupa namanya. Saat itu hujan turun dengan deras di tengah cuaca yang sedang cerah-cerahnya. Ia yang tengah melenggang santai menyusuri trotoar menikmati deretan toko tua terpaksa berlari menghindar. Lika hampir berlari menyeberangi persimpangan untuk berteduh di emper sebuah toko yang tutup bersama sekumpulan orang-orang, kalau saja kalimat ‘kedai kopi’ yang tercetak di jendela kaca itu tak tertangkap ekor matanya. Dan dirinya berbalik, membuka pintu yang berdenting. Disambut aroma kopi yang menguar hatinya seketika menghangat. Itu sebabnya ia mencintai kopi. Tak peduli apapun yang tengah ia hadapi atau bagaimanapun suasana hatinya, segelas kopi selalu bisa membuatnya tenang.

Coffee is a hug in a mug. Lika tertawa kecil membaca hiasan yang tergantung di langit-langit kedai kopi itu. Ya, persis seperti itu. Kopi selalu bisa mengerti.

Akhirnya Lika memilih duduk di satu-satunya meja kosong yang tersisa. Ruangan kedai kopi itu tidak sempit meski juga tidak bisa dikatakan luas. Namun saat ini meja-meja yang seharusnya diisi oleh dua atau tiga orang hanya diduduki oleh satu orang saja. Mungkin kedai kopi ini tempat berkumpulnya para kesepian, pikirnya. Atau mungkin hujan yang turun tiba-tiba yang akhirnya memaksa untuk berteduh kemari, seperti dirinya. Lika memandang ke luar jendela, hujan masih turun dan cuaca masih cerah.

“Hujan yang turun di tengah cuaca cerah adalah pertanda yang tidak baik.” Begitu kata Pak Yosef, guru matematika-nya semasa masih bocah SD dulu. Lelaki keturunan Dayak itu memanggilnya masuk saat hujan turun di tengah sore yang cerah seperti sekarang.

“Pertanda yang tidak baik itu seperti apa?” Ia balik bertanya.

“Seperti pesan langit pembawa kabar yang akan membuat hatimu bersedih.” Gurunya menjawab sambil tersenyum dan mengusap rambut Lika. Lelaki-lelaki Dayak berhati lembut. Lika mengangguk. Tak sepenuhnya mengerti, tapi mata coklat teduh milik Gurunya menenangkan isi kepalanya. Hingga ia sangat yakin meski mengabarkan kesedihan, hujan yang turun di tengah cuaca cerah tak akan menyakitinya.

Pintu berdenting sekali lagi. Seorang lelaki dan perempuan yang bisa jadi adalah kekasihnya masuk sambil tertawa-tawa. Meja di hadapan Lika rupanya telah kosong. Mereka berdua segera menempatinya tanpa punya pilihan lain. Tak lama keduanya telah menentukan pesanan.

“Aku coklat panas saja.” Putus si wanita. Lelaki itu mengangguk dan mengulangi pesanan mereka berdua. Pelayan berbalik dan meninggalkan mereka kembali dengan percakapan-percakapan yang sepertinya menyenangkan. Lika menangkapnya dari sorot mata yang dipancarkan lelaki itu. Sesekali bibir lelaki itu tertarik mengembang dan bahu kurusnya berguncang karena tawa. Lika ikut tersenyum melihatnya. Entah mengapa. Ia suka melihat cara lelaki itu tertawa.

Lika tak tahu berapa lama ia tenggelam dalam novel yang sengaja ia bawa untuk dibaca sewaktu-waktu. Sore telah beranjak menuju senja sementara hujan telah benar-benar berhenti. Lika memasukkan kembali novelnya ke dalam tas, menyesap sisa kopinya yang dingin dan siap beranjak. Ketika sebuah kesedihan menahannya pergi. Lika meletakkan kembali pantatnya ke kursi. Pasangan di depannya kini terlibat pembicaraan yang serius. Raut lelaki itu tegang. Rahangnya terkatup rapat, senyumnya menguap entah kemana. Mungkin lenyap bersama hujan yang tadi berhenti tanpa sepengetahuan Lika. Gadisnya pasti tak kalah tegang. Lika melihat tangannya terus bergerak seolah menandaskan sesuatu. Kursi yang didudukinya bergeser, perempuan itu beranjak dan berlalu dengan gegas. Lelakinya membuang wajah ke jendela. Dan Lika merasakan kesedihan lagi-lagi menombak jantungnya. Perih.

Kejar. Lika berucap dalam hati.

Demi Aphrodite, kejar!

Lika merasa perlu menyebut nama Dewi Asmara itu. Berharap berkahnya bisa melunakkan hati lelaki keras kepala yang duduk di seberang mejanya. Tapi lelaki itu masih bergeming menatap ke luar jendela sampai sepuluh menit berikutnya. Jalanan mulai terang oleh lampu-lampu. Trotoar kembali ramai oleh lalu lalang. Lika menghela napas. Ia menyentuh dadanya yang masih terasa mampat.

 

Loving can hurt

Loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

 

Pintu kedai kembali berdenting-denting. Sepasang demi sepasang masuk dengan senyum. Dengan tawa. Dengan cinta. Membawa kelebat-kelebat merah jambu yang membuat bibir Lika kembali tersenyum. Kali ini ia benar-benar harus pergi. Lika pelan-pelan menggeser kursinya dan lelaki di depannya menoleh. Mereka bertatapan. Pikiran lelaki itu tak benar-benar terpusat padanya namun Lika merasa waktu miliknya berhenti sesaat. Ia memperhatikan raut lelaki di depannya dengan cermat. Pada rambut ikalnya yang berantakan, sepasang alis yang bertaut juga sorot kesepian yang menatapnya dalam. Lika bisa melihat kilas merah jambu membias dari tubuhnya sendiri dan merasakan kesedihan milik lelaki itu sekaligus. Memunculkan rasa yang aneh di tenggorokan Lika. Mirip syrup obat batuk yang kerap diberikan ibu saat ia masih kanak-kanak. Manis yang pahit atau pahit yang manis? Entahlah.

Mereka masih bertatapan. Lika menghadiahinya senyuman manis yang ringan. Seringan kecupan di kening. Untuk lelaki itu sebelum ia beranjak pergi.

 

So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans

Holding me closer ‘til our eyes meet

You won’t ever be alone wait for me to come home.

 

Pintu kedai berdenting lagi saat Lika melangkah keluar kedai dan meninggalkan lelaki itu bersama kesedihan yang memerihkan dadanya. Tak akan ada yang benar-benar bisa menyakitimu, Sayang. Bahkan juga kesedihan yang dikabarkan hujan yang turun tiba-tiba pada cuaca cerah. Lika berbisik lamat-lamat sementara kakinya terus melangkah lincah melewati genangan-genangan sisa hujan.

 

Loving can heal

Loving can mend your soul

And it’s the only thing that I know.

 

Lyric : Photograph by Ed Sheeran.

 

Credit:

https://stocksnap.io/photo/7K97QSBRNI

 

Advertisements

Ingatan Pukul Empat Pagi

Telah diunggah di http://www.tamanfiksi.com

 

Aku tahu beberapa ruh masa lalu memang tak pernah bisa benar-benar berdamai dengan takdir kehidupan. Sesekali mereka menyelinap menembus gerbang waktu untuk sekedar melampiaskan yang tertinggal. Amarah, kecemburuan, kesedihan pun juga kepahitan.

Aku tak pernah terkejut jika mereka tiba-tiba saja muncul di hadapanku hanya dengan suara letupan ringan mirip gabus penutup anggur yang terbuka. Dengan tubuh berdarah-darah akibat luka menganga dan sebilah pedang milikku yang masih menancap di dalamnya sembari melontarkan sumpah serapah. Atau terusik dengan serombongan hantu-hantu perempuan yang bergosip dengan suara nyaring seraya menatap dengan api kecemburuan. Percayalah, jangan pernah menyepelekan kecemburuan perempuan. Mereka rela bergentayangan untuk sekedar menghantuimu. Berharap melihatmu menangis tersedu ketakutan dan mengiba-iba meminta maaf. Sial bagi rombongan perempuan bergaun penuh renda itu, mereka tak akan mendapatkan hal itu dariku meski ratusan tahun menghantui.

Ruh-ruh yang menderita itu biasanya mengunjungiku pada kesunyian-kesunyian yang melelapkan sebagian besar manusia. Sesekali mereka berusaha memegahkan diri dengan mengirimkan aroma yang mereka sukai melalui angin yang hembusannya terlalu dingin sebagai penanda. Aku sebagai pihak yang menjadi sumber kekesalan sekaligus nasib buruk mereka, tentu memahami keinginan ini. Tak ada salahnya menyenangkan mereka yang telah mati. Terlebih bila semasa hidup mereka, kau adalah sosok yang mereka benci. Begitulah pikiranku dulu. Jadi kusiapkan dupa-dupa terbaik untuk menyambut dan kudaraskan mantra dengan segenap kasih sayang. Namun yang terjadi malah sebuah lingkaran besar berwarna merah muda keemasan bersinar mengelilingi melindungiku. Ruh-ruh masa lalu tertahan di sisi luarnya. Tak bisa mendekati, mereka lantas memandangku tajam sebelum membalikkan punggung tanpa suara. Mereka kesal dan aku iba.

Berikutnya kubiarkan saja mereka datang sesukanya tanpa sambutan ini dan itu. Kuijinkan mereka berteriak mencaci maki atau bergosip mencela penampilanku dengan suara yang mengalahkan dengung koloni lebah. Sampai mereka sendiri yang memutuskan meninggalkanku dengan perasaan puas dan lega. Begitulah caraku ‘meminta maaf’ pada mereka.

Tapi dini hari kali ini terasa sedikit asing dan membuatku gelisah.  Udaranya tak mengabarkan kedatangan ruh-ruh masa lalu, namun aku mencium wangi apak ingatan dari masa yang entah. Kuputuskan untuk mengunjungi tendaku di arena Gigir Perigi. Di sana aku bisa lebih tenang menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Aku menyelinap di antara tenda-tenda yang masih tertutup rapat. Saat ini nyaris seluruh penghuni Gigir Perigi terlelap tak menyadari apapun. Nyaris, karena satu dua penghuninya terlihat melintas sesekali. Aku kadang berpapasan dengan mereka namun lebih sering melihat dari kejauhan. Jika kalian menjalani ratusan bahkan mungkin ribuan episode kehidupan dengan mata, isi kepala dan perasaan yang sama, kalian pasti mengerti. Menjaga jarak dengan orang lain adalah hal yang harus dilakukan. Mereka yang bisa tahu dan mengerti benar apa itu “keabadian” sungguh bisa dihitung dengan jari. Satu di antaranya adalah Bejo, Pemilik GigirPerigi.

Aku melihatnya pertama kali di sebuah bangku panjang sebuah taman. Memandang lurus ke depan, menikmati senja yang kemerahan. Begitu tenang, begitu hening. Isi kepalanya tak terbaca olehku. Ia tenggelam dalam kebersamaan bersama jiwa istrinya yang duduk tak kalah tenang di sampingnya. Hanya mereka berdua.

Tak ingin mengganggu, aku memilih berdiri di samping bangku panjang menanti sampai Bejo dan istrinya menuntaskan perjumpaan.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” ujarnya pada akhirnya. Bejo menoleh ke padaku dan tersenyum begitu pun istrinya. Aku mengangguk dan membalas senyum Istri Bejo sebelum akhirnya perempuan itu perlahan memudar dan menghilang.

Aku kemudian duduk di samping Bejo.

“Tidak terlalu lama,” jawabku. Buatku waktu tak pernah benar-benar memberikan perbedaan.

Awal percakapan yang aneh untuk orang-orang yang tak pernah berjumpa sebelumnya. Tapi untuk beberapa orang termasuk aku dan Bejo, itu adalah hal yang biasa. Kami bisa saling mengenali dengan cepat. Pintu ingatan di kepala kami tak pernah benar-benar tertutup rapat. Sesekali ingatan-ingatan lampau menyelinap pelan atau melesat cepat  membuat tumbukan besar pada sel-sel syaraf yang menciptakan denyar-denyar hebat di kepala.

“Aku tak terlalu jelas mengingat, tapi rasa-rasanya penampilanmu tak berubah banyak.” Bejo menatapku keheranan. Kerut-kerut di dahinya bertambah.

“Aku memang tak berubah. Tak pernah berubah,” jawabku dengan tenang.

“Jangan bilang legenda itu benar. Astaga! Lalu, siapa namamu kali ini?”

Aku tertawa melihat ekspresi Bejo saat itu. Antara takjub, tak percaya sekaligus ngeri. Ekspresi matanya masih sama seperti yang kukenal beratus silam.

“Legenda jika kau tak pernah melihatnya. Namun jika dia ada di depan matamu, kau percaya atau tidak tentu kau sendiri yang memutuskan. Namaku, Milam.”

“Aku, eh… maksudku, namaku…,”

“Bejo.” Aku menukas menyebut namanya.

Bejo tergelak.

“Kau mengerikan.”

“Aku tahu.” Aku menjawab dengan cengiran lebar.

Detik berikutnya kami tenggelam dalam percakapan tentang impian Bejo akan Pasar Malam keliling. Tentang menemukan kembali mereka yang pernah berada dalam matriks kehidupan Bejo di masa lampau. Sore itu juga aku menyatakan diri untuk bergabung. Dalam perjalanan waktu, Bejo berhasil mengumpulkan mereka yang dicarinya dan menamai kumpulan ini dengan Gigir Perigi.

Jadi, sekarang kau pasti lebih paham alasanku enggan berakrab-akrab. Selain karena aku telah mengetahui sejarah ujung rambut sampai ujung kaki seluruh penghuni Gigir Perigi, ada hal yang lebih penting dari segalanya. Karena tak ada yang benar-benar mengerti dan kuat menanggung arti keabadian.

Aku melintasi tenda lumba-lumba. Kudengar kecipak air yang tak biasa. Suara nyanyian Namira menenangkan kawan-kawannya itu sayup-sayup sampai di telinga. Sesekali gadis itu membujuk dengan nada suaranya yang manis. Cam dan Bria tengah gelisah, terlalu gelisah hingga Namira, gadis laut yang nyaris tak pernah berbicara itu terpaksa bersenandung. Aku mengerti kegelisahan Lumba-lumba milik Namira itu. Aku pun merasakan hal yang sama.

Aku kembali meneruskan langkah, kali ini lebih cepat. Sampai tak sengaja aku menyenggol kumparan berbulu yang tengah meringkuk. Oreo, kucing itu menegakkan diri dengan cepat dan kesal. Namun setelah mata kami bertatapan ia mengeluarkan dengkur yang manja.

Tidak. Tidak malam ini Oreo.

Aku berbicara pada matanya.

Tidakkah kau sadar, malam ini terasa aneh? Oh kucing malas, kau sudah terlalu lama tak berlatih! Cam dan Bria bahkan jauh lebih baik darimu saat ini.

Kata-kataku mungkin terlalu pedas. Oreo mengeong pelan dan membuang muka. Berbalik memunggungi dan melesat menghilang meninggalkanku sedetik kemudian. Entah karena sakit hati atau rasa malu. Aku tak ambil pusing. Ada hal yang lebih penting yang akan terjadi padaku dan mungkin juga Gigir Perigi.

Wangi sisa aroma dupa yang tertinggal menyambutku begitu aku menyibak tenda yang berwarna marun dengan bahan serupa beledu.

“Bahan sebagus ini kau jadikan tenda?” Bejo mengusap-usap gulungan bahan yang kuberikan padanya untuk dijahit sebagai tenda saat  dulu kami hendak memulai perjalanan Gigir Perigi yang pertama.

“Hei, kau akan membawaku berkeliling keluar dari rumahku yang nyaman. Maka hal pertama yang ingin kupastikan tentu adalah tenda dan karavan yang layak untuk kutinggali.” Aku bersikeras.

“Lagipula aku memiliki beberapa bahan serupa di gudang bawah tanahku. Kalau mau kau boleh mengambilnya satu. Tak ada yang bisa mengalahkan Bangsa Mongol dalam keindahan tekstil,” ujarku penuh perasaan.

“Mereka bangsa yang besar dan kuat. Menyebar menginvasi segala arah dengan megah.” Bejo membentangkan gulungan bahan yang kubawa. Mengukurnya dengan seksama.

“Namun sejarah tak pernah hitam putih. Selalu ada penderitaan di balik kemegahan. Persis seperti bisul-bisul yang disembunyikan para Kaisar di balik jubah agung mereka. Borok-borok yang tak pernah mereka sadari kelak akan terlahir kembali untuk menanggung yang telah ditutupi.”

Bejo mengakhiri kalimatnya yang panjang dengan satu helaan napas berat. Pandangannya menarawang menatap satu titik. Aku mengikuti arah mata Bejo.  Kulihat tubuh raksasa Igor di kejauhan. Pada DNA-nya rahasia-rahasia kelam leluhurnya tersimpan.

Aku duduk diam beberapa saat lamanya di tendaku. Mencoba menyelaraskan diri dengan sekitar. Mencoba mencari  tanda-tanda.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Sebuah guci kecil berwarna merah dengan lukisan bunga peony bergoyang pelan. Guci itu milik seorang selir Maharaja Tiongkok yang gantung diri entah oleh sebab apa. Sebagai benda kesayangan, guci merah peony itu dikubur bersama jasad sang putri. Sebuah banjir besar terjadi bertahun kemudian, makam yang kurang kuat dibuat itu menjadi rusak dan mudah dibongkar. Kemiskinan yang akhirnya mendorong para perampok makam merajalela.

Sang Putri mendatangiku pada suatu malam, menangisi guci merah peony miliknya. Esoknya kuperintahkan pelayan-pelayanku mencari guci yang kugambar dengan terkantuk-kantuk dengan sosok yang tak berhenti menangis di sampingku di malam sebelumnya.

Guci merah peony itu bergoyang lagi. Mengeluarkan desir udara yang hanya bisa didengar dan dimengerti olehku.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Guci merah peony itu mengulang keluhan yang sama. Lirih dan sarat kesedihan.

Aku mengabaikannya. Kubiarkan ia mengulangnya terus-menerus di sudut tenda.

Wangi apak ingatan semakin kuat berkumpul di ujung hidung. Kali ini bercampur dengan aroma anyir yang tajam. Darah. Kepalaku mendadak terasa berat. Denyar-denyar berdentam semakin hebat di kepala. Sebuah ingatan meluncur cepat siap mendobrak pintu yang selama ini kugembok dengan kuat. Aku menahan sebisaku. Aku tak ingin ingat. Tidak!

Ingatan itu masih berputar terus dan kuat. Seperti mata bor yang melubangi kepala. Tubuhku berguncang mulai tak terkendali. Punggungku mulai basah oleh keringat dingin. Dengan gemetar jari-jariku melepas simpul ikatan di leher dan membiarkan begitu saja jubah panjangku lolos jatuh ke tanah. Jantungku mulai terasa nyeri. Segumpal kesedihan dan rasa bersalah merangsek naik ke tenggorokan dan mencekikku di sana. Napasku tersengal.

Sebuah cahaya terang menyergap isi kepala. Pintu ingatanku terbuka sudah.

Sepasang mata kanak-kanak berwarna biru terang menatapku. Membelalak dan ketakutan.

Aku jatuh tersungkur.

“Pasar Malam ini seperti kumpulan orang-orang sakit, Bejo.” Aku menggeleng melihat daftar nama dan riwayat penghuni Gigir Perigi. Kusesap kopiku dengan putus asa.

Bejo tak menanggapi keluhanku. Ia masih terus mencorat-coret sesuatu di atas kertas.

“Lihat ini, Milam.” Ia menyorongkan kertasnya ke arahku. Penuh coretan anak panah ke sana ke mari dengan tulisan Paradoks dalam huruf kapital.

“Beginilah hidup yang kupahami. Sebagai satu kesatuan paradoks yang harmonis dan seimbang. Kamu benar, Gigir Perigi adalah sekumpulan orang-orang sakit. Orang-orang sakit yang berkumpul dengan satu tujuan. Menyembuhkan. Menyembuhkan diri sendiri dan orang-orang yang datang mengunjungi Gigir Perigi. Paradoks yang manis.” Bejo menatapku tajam.

Untuk pertama kalinya aku salah tingkah.

“Kau tidak akan bisa terus-terusan bersembunyi dan menolak kedatangannya, Milam.”

Aku tercekat. “Kau ingat?”

“Ingatan itu datang malam tadi.” Bejo merapikan kertas-kertasnya dengan tenang.

“Aku tidak menyangka dia ada di sana saat aku dengan tenang menancapkan belatiku di jantung perempuan itu.” Suaraku terdengar sedikit bergetar.

“Aku tahu. Kau hanya menjalankan tugasmu, Milam.”

“Tapi membunuh seorang perempuan di depan mata anaknya adalah perbuatan yang keji, Bejo!” Aku mulai tak terkendali.

“Milam, dalam ingatan itu aku melihatmu lagi. Saat kau masuk dengan mabuk. Meracau kesana-kemari tentang pekerjaanmu sebagai mata-mata yang berulangkali kau kutuk, perempuan yang kau bunuh dan anaknya yang memergoki kalian dan kau tinggalkan.” Bejo menyenderkan tubuh dan menatap mataku lekat-lekat. Matanya berkabut.

“Tak ada yang salah dengan tugasmu saat itu, Milam. Ratusan kelahiran lagi pun aku akan tetap mengatakan hal yang sama.”

Aku kembali menyesap kopi mencoba menenangkan diri. Ada banyak masa aku dan Bejo bersahabat baik. Dia mengenalku lebih baik dari beberapa orang di lingkaran dekatku.

“Tapi kali ini aku akan mengingatkanmu satu hal. Bukan pembunuhan itu yang mengejarmu. Tapi rasa bersalah karena meninggalkan bocah itu begitu saja di samping jasad ibunya. Kau meninggalkan yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.”

Kau meninggalkan apa yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.

Suara Bejo yang terngiang di telinga adalah hal pertama yang kudengar saat kesadaran mulai memanggil.

Tubuhku masih lembab oleh keringat. Jadi rasa-rasanya aku hanya beberapa menit kehilangan kesadaran. Sepasang mata yang membelalak ketakutan itu akan datang menemuiku hari ini. Hidupnya yang sarat kesedihan di setiap kelahiran dimulai saat aku membunuh ibunya di depan matanya. Menerimanya datang ke hadapanku pasti membuka borok rasa bersalah yang selama ini kusembunyikan baik-baik.

Aku takut.

Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari bibirku. Kupejamkan mata menahan seberkas bening yang akhirnya tak terbendung meluncur menuruni pipiku yang tak pernah tersentuh kerut. Aku mulai terisak dan lambat laun bahuku berguncang sesenggukan.

Membuka ingatan agar bisa menutupnya kembali dengan baik. Menemui untuk melepaskan. Hidup adalah kesatuan paradoks yang indah, Milam.

Suara Bejo kembali terdengar dibawa angin. Bocah dari masa silam, ia akan datang hari ini. Apapun yang akan terjadi harus kutemui pemilik sepasang mata yang pernah kutinggalkan itu dengan berani.  Agar tuntas segala yang tertinggal.

Credit Photo:

https://stocksnap.io/photo/J3AE9LEMN3