Eshajori

“Aku ingin bertanya tentang kekasihku dan hubungan kami di masa depan.” tanya gadis muda itu malu-malu.
Bau besi berkarat menerpa hidungku seketika. Aroma kebohongan-kebohongan.
” Aku tak menyukai kekasihmu,” bisikku seketika.
“Mengapa?” Ia menuntut penuh selidik menatap tumpukan kartu yang kugenggam.
Kartu itu bahkan belum kuacak.
Aku menarik napas sebentar dan mulai mengacak.
“Siapa namanya?” tanyaku seiring gerakan tanganku.
Wajahnya tampak ragu-ragu.
“Jangan kuatir. Aku akan melupakan nama-nama begitu sesi ini berakhir.”
Ia akhirnya menyebutkan sebuah nama. Aku mengulang nama itu di kepalaku, bau amis karat  semakin tajam dan membuatku mual.
“Karena ini.”
Kutunjukkan kartu yang baru saja kutarik. Kartu bergambar Justice terbalik ke hadapannya.
“Semua orang dekatku tak menyukainya.” keluhnya.
“Well, tampaknya aku bersepakat dengan mereka dalam hal ini.”
Sebuah kisah cinta yang impulsif rumit meluncur tak terbendung sesudahnya. Aku menyimak dengan tenang.
“Eh, ngomong-ngomong kartu itu apa artinya?” wajahnya sedikit memerah oleh rasa sungkan sebab memotong giliranku berbicara.
Aku tersenyum.
“Kau sudah menjelaskan sendiri melalui ceritamu barusan.”
“Oh maafkan aku. Aku tidak bermaksud tidak sopan.” Wajahnya semakin merah.
Aku tertawa kecil.
“Kau bukan tidak sopan. Manusia memang begitu, seringkali mereka sudah tahu jawabannya. Hanya ingin mendengarnya dari orang lain. Saat jawaban itu pedih, seakan orang lain yang memaksa mereka menerima kepedihan itu. Manusia tidak ingin disalahkan oleh kepedihan yang memang harus mereka tanggung.”
Gadis di depanku membulatkan matanya.
“Aku baru tahu manusia begitu pengecut.”
Aku mengedikkan bahu.
“Ada pertanyaan lain?” tanyaku lagi. Aku mulai lelah. Sudah hampir tiga jam sesi ini berlangsung.
“Tidak ada. Terimakasih. Aku senang kita bertemu.” jawabnya manis sekali. Gadis ini baik dan murni.
“Sama-sama.”

Kutatap punggungnya yang menghilang bersamaan dengan bel pintu yang berdenting. Sebentar lagi program penghapusan memori mulai bekerja di kepalaku. Menghapus nama-nama orang dan tempat yang datang padaku pada setiap sesi.

Sengaja aku mengaturnya demikian. Siapa yang sanggup membawa ingatan-ingatan milik orang lain sepanjang hidupnya?

Sejauh ini pengaturan itu berjalan baik. Bahkan mungkin terlalu lancar. Belakangan aku mulai melupakan nama-nama yang tadinya kuanggap penting. Namun di lain pihak ingatanku akan peristiwa semakin menguat dan detil.

Aku mengingat desir di punggungku saat pertama kali lelaki itu menatap mataku.
Aku mengingat udara yang manis dan lembut saat pesan-pesannya tiba.
Aku mengingat setiap kerut  di wajahnya yang bergerak ketika berkata aku tampak bagus dengan rambutku yang panjang. Bagus, bukan cantik. Toh tetap membuatku tersipu canggung sesudahnya.

Tanganku kini bergerak ingin mengabarkan tentang rambutku yang kini memendek sebahu.
Untuk apa?
Kepalaku bertanya. Sengit.
Aku tak bisa menjawab, malah mengulang pertanyaannya dalam hati. Untuk apa?
Tak ada yang menyahut.
Rasanya aku kini memasuki ruang kedap suara.
Mataku semakin lama semakin berat. Tarikan napasku semakin teratur.

Hai, hari ini aku memendekkan rambutku.

Akhirnya kuketikkan juga kalimat itu.
Di udara.

Eshajori ~ People meet, always part.

Photo by Alexandre Perotto on Unsplash

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s