Ingatan Pukul Empat Pagi

Telah diunggah di http://www.tamanfiksi.com

 

Aku tahu beberapa ruh masa lalu memang tak pernah bisa benar-benar berdamai dengan takdir kehidupan. Sesekali mereka menyelinap menembus gerbang waktu untuk sekedar melampiaskan yang tertinggal. Amarah, kecemburuan, kesedihan pun juga kepahitan.

Aku tak pernah terkejut jika mereka tiba-tiba saja muncul di hadapanku hanya dengan suara letupan ringan mirip gabus penutup anggur yang terbuka. Dengan tubuh berdarah-darah akibat luka menganga dan sebilah pedang milikku yang masih menancap di dalamnya sembari melontarkan sumpah serapah. Atau terusik dengan serombongan hantu-hantu perempuan yang bergosip dengan suara nyaring seraya menatap dengan api kecemburuan. Percayalah, jangan pernah menyepelekan kecemburuan perempuan. Mereka rela bergentayangan untuk sekedar menghantuimu. Berharap melihatmu menangis tersedu ketakutan dan mengiba-iba meminta maaf. Sial bagi rombongan perempuan bergaun penuh renda itu, mereka tak akan mendapatkan hal itu dariku meski ratusan tahun menghantui.

Ruh-ruh yang menderita itu biasanya mengunjungiku pada kesunyian-kesunyian yang melelapkan sebagian besar manusia. Sesekali mereka berusaha memegahkan diri dengan mengirimkan aroma yang mereka sukai melalui angin yang hembusannya terlalu dingin sebagai penanda. Aku sebagai pihak yang menjadi sumber kekesalan sekaligus nasib buruk mereka, tentu memahami keinginan ini. Tak ada salahnya menyenangkan mereka yang telah mati. Terlebih bila semasa hidup mereka, kau adalah sosok yang mereka benci. Begitulah pikiranku dulu. Jadi kusiapkan dupa-dupa terbaik untuk menyambut dan kudaraskan mantra dengan segenap kasih sayang. Namun yang terjadi malah sebuah lingkaran besar berwarna merah muda keemasan bersinar mengelilingi melindungiku. Ruh-ruh masa lalu tertahan di sisi luarnya. Tak bisa mendekati, mereka lantas memandangku tajam sebelum membalikkan punggung tanpa suara. Mereka kesal dan aku iba.

Berikutnya kubiarkan saja mereka datang sesukanya tanpa sambutan ini dan itu. Kuijinkan mereka berteriak mencaci maki atau bergosip mencela penampilanku dengan suara yang mengalahkan dengung koloni lebah. Sampai mereka sendiri yang memutuskan meninggalkanku dengan perasaan puas dan lega. Begitulah caraku ‘meminta maaf’ pada mereka.

Tapi dini hari kali ini terasa sedikit asing dan membuatku gelisah.  Udaranya tak mengabarkan kedatangan ruh-ruh masa lalu, namun aku mencium wangi apak ingatan dari masa yang entah. Kuputuskan untuk mengunjungi tendaku di arena Gigir Perigi. Di sana aku bisa lebih tenang menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Aku menyelinap di antara tenda-tenda yang masih tertutup rapat. Saat ini nyaris seluruh penghuni Gigir Perigi terlelap tak menyadari apapun. Nyaris, karena satu dua penghuninya terlihat melintas sesekali. Aku kadang berpapasan dengan mereka namun lebih sering melihat dari kejauhan. Jika kalian menjalani ratusan bahkan mungkin ribuan episode kehidupan dengan mata, isi kepala dan perasaan yang sama, kalian pasti mengerti. Menjaga jarak dengan orang lain adalah hal yang harus dilakukan. Mereka yang bisa tahu dan mengerti benar apa itu “keabadian” sungguh bisa dihitung dengan jari. Satu di antaranya adalah Bejo, Pemilik GigirPerigi.

Aku melihatnya pertama kali di sebuah bangku panjang sebuah taman. Memandang lurus ke depan, menikmati senja yang kemerahan. Begitu tenang, begitu hening. Isi kepalanya tak terbaca olehku. Ia tenggelam dalam kebersamaan bersama jiwa istrinya yang duduk tak kalah tenang di sampingnya. Hanya mereka berdua.

Tak ingin mengganggu, aku memilih berdiri di samping bangku panjang menanti sampai Bejo dan istrinya menuntaskan perjumpaan.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” ujarnya pada akhirnya. Bejo menoleh ke padaku dan tersenyum begitu pun istrinya. Aku mengangguk dan membalas senyum Istri Bejo sebelum akhirnya perempuan itu perlahan memudar dan menghilang.

Aku kemudian duduk di samping Bejo.

“Tidak terlalu lama,” jawabku. Buatku waktu tak pernah benar-benar memberikan perbedaan.

Awal percakapan yang aneh untuk orang-orang yang tak pernah berjumpa sebelumnya. Tapi untuk beberapa orang termasuk aku dan Bejo, itu adalah hal yang biasa. Kami bisa saling mengenali dengan cepat. Pintu ingatan di kepala kami tak pernah benar-benar tertutup rapat. Sesekali ingatan-ingatan lampau menyelinap pelan atau melesat cepat  membuat tumbukan besar pada sel-sel syaraf yang menciptakan denyar-denyar hebat di kepala.

“Aku tak terlalu jelas mengingat, tapi rasa-rasanya penampilanmu tak berubah banyak.” Bejo menatapku keheranan. Kerut-kerut di dahinya bertambah.

“Aku memang tak berubah. Tak pernah berubah,” jawabku dengan tenang.

“Jangan bilang legenda itu benar. Astaga! Lalu, siapa namamu kali ini?”

Aku tertawa melihat ekspresi Bejo saat itu. Antara takjub, tak percaya sekaligus ngeri. Ekspresi matanya masih sama seperti yang kukenal beratus silam.

“Legenda jika kau tak pernah melihatnya. Namun jika dia ada di depan matamu, kau percaya atau tidak tentu kau sendiri yang memutuskan. Namaku, Milam.”

“Aku, eh… maksudku, namaku…,”

“Bejo.” Aku menukas menyebut namanya.

Bejo tergelak.

“Kau mengerikan.”

“Aku tahu.” Aku menjawab dengan cengiran lebar.

Detik berikutnya kami tenggelam dalam percakapan tentang impian Bejo akan Pasar Malam keliling. Tentang menemukan kembali mereka yang pernah berada dalam matriks kehidupan Bejo di masa lampau. Sore itu juga aku menyatakan diri untuk bergabung. Dalam perjalanan waktu, Bejo berhasil mengumpulkan mereka yang dicarinya dan menamai kumpulan ini dengan Gigir Perigi.

Jadi, sekarang kau pasti lebih paham alasanku enggan berakrab-akrab. Selain karena aku telah mengetahui sejarah ujung rambut sampai ujung kaki seluruh penghuni Gigir Perigi, ada hal yang lebih penting dari segalanya. Karena tak ada yang benar-benar mengerti dan kuat menanggung arti keabadian.

Aku melintasi tenda lumba-lumba. Kudengar kecipak air yang tak biasa. Suara nyanyian Namira menenangkan kawan-kawannya itu sayup-sayup sampai di telinga. Sesekali gadis itu membujuk dengan nada suaranya yang manis. Cam dan Bria tengah gelisah, terlalu gelisah hingga Namira, gadis laut yang nyaris tak pernah berbicara itu terpaksa bersenandung. Aku mengerti kegelisahan Lumba-lumba milik Namira itu. Aku pun merasakan hal yang sama.

Aku kembali meneruskan langkah, kali ini lebih cepat. Sampai tak sengaja aku menyenggol kumparan berbulu yang tengah meringkuk. Oreo, kucing itu menegakkan diri dengan cepat dan kesal. Namun setelah mata kami bertatapan ia mengeluarkan dengkur yang manja.

Tidak. Tidak malam ini Oreo.

Aku berbicara pada matanya.

Tidakkah kau sadar, malam ini terasa aneh? Oh kucing malas, kau sudah terlalu lama tak berlatih! Cam dan Bria bahkan jauh lebih baik darimu saat ini.

Kata-kataku mungkin terlalu pedas. Oreo mengeong pelan dan membuang muka. Berbalik memunggungi dan melesat menghilang meninggalkanku sedetik kemudian. Entah karena sakit hati atau rasa malu. Aku tak ambil pusing. Ada hal yang lebih penting yang akan terjadi padaku dan mungkin juga Gigir Perigi.

Wangi sisa aroma dupa yang tertinggal menyambutku begitu aku menyibak tenda yang berwarna marun dengan bahan serupa beledu.

“Bahan sebagus ini kau jadikan tenda?” Bejo mengusap-usap gulungan bahan yang kuberikan padanya untuk dijahit sebagai tenda saat  dulu kami hendak memulai perjalanan Gigir Perigi yang pertama.

“Hei, kau akan membawaku berkeliling keluar dari rumahku yang nyaman. Maka hal pertama yang ingin kupastikan tentu adalah tenda dan karavan yang layak untuk kutinggali.” Aku bersikeras.

“Lagipula aku memiliki beberapa bahan serupa di gudang bawah tanahku. Kalau mau kau boleh mengambilnya satu. Tak ada yang bisa mengalahkan Bangsa Mongol dalam keindahan tekstil,” ujarku penuh perasaan.

“Mereka bangsa yang besar dan kuat. Menyebar menginvasi segala arah dengan megah.” Bejo membentangkan gulungan bahan yang kubawa. Mengukurnya dengan seksama.

“Namun sejarah tak pernah hitam putih. Selalu ada penderitaan di balik kemegahan. Persis seperti bisul-bisul yang disembunyikan para Kaisar di balik jubah agung mereka. Borok-borok yang tak pernah mereka sadari kelak akan terlahir kembali untuk menanggung yang telah ditutupi.”

Bejo mengakhiri kalimatnya yang panjang dengan satu helaan napas berat. Pandangannya menarawang menatap satu titik. Aku mengikuti arah mata Bejo.  Kulihat tubuh raksasa Igor di kejauhan. Pada DNA-nya rahasia-rahasia kelam leluhurnya tersimpan.

Aku duduk diam beberapa saat lamanya di tendaku. Mencoba menyelaraskan diri dengan sekitar. Mencoba mencari  tanda-tanda.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Sebuah guci kecil berwarna merah dengan lukisan bunga peony bergoyang pelan. Guci itu milik seorang selir Maharaja Tiongkok yang gantung diri entah oleh sebab apa. Sebagai benda kesayangan, guci merah peony itu dikubur bersama jasad sang putri. Sebuah banjir besar terjadi bertahun kemudian, makam yang kurang kuat dibuat itu menjadi rusak dan mudah dibongkar. Kemiskinan yang akhirnya mendorong para perampok makam merajalela.

Sang Putri mendatangiku pada suatu malam, menangisi guci merah peony miliknya. Esoknya kuperintahkan pelayan-pelayanku mencari guci yang kugambar dengan terkantuk-kantuk dengan sosok yang tak berhenti menangis di sampingku di malam sebelumnya.

Guci merah peony itu bergoyang lagi. Mengeluarkan desir udara yang hanya bisa didengar dan dimengerti olehku.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Guci merah peony itu mengulang keluhan yang sama. Lirih dan sarat kesedihan.

Aku mengabaikannya. Kubiarkan ia mengulangnya terus-menerus di sudut tenda.

Wangi apak ingatan semakin kuat berkumpul di ujung hidung. Kali ini bercampur dengan aroma anyir yang tajam. Darah. Kepalaku mendadak terasa berat. Denyar-denyar berdentam semakin hebat di kepala. Sebuah ingatan meluncur cepat siap mendobrak pintu yang selama ini kugembok dengan kuat. Aku menahan sebisaku. Aku tak ingin ingat. Tidak!

Ingatan itu masih berputar terus dan kuat. Seperti mata bor yang melubangi kepala. Tubuhku berguncang mulai tak terkendali. Punggungku mulai basah oleh keringat dingin. Dengan gemetar jari-jariku melepas simpul ikatan di leher dan membiarkan begitu saja jubah panjangku lolos jatuh ke tanah. Jantungku mulai terasa nyeri. Segumpal kesedihan dan rasa bersalah merangsek naik ke tenggorokan dan mencekikku di sana. Napasku tersengal.

Sebuah cahaya terang menyergap isi kepala. Pintu ingatanku terbuka sudah.

Sepasang mata kanak-kanak berwarna biru terang menatapku. Membelalak dan ketakutan.

Aku jatuh tersungkur.

“Pasar Malam ini seperti kumpulan orang-orang sakit, Bejo.” Aku menggeleng melihat daftar nama dan riwayat penghuni Gigir Perigi. Kusesap kopiku dengan putus asa.

Bejo tak menanggapi keluhanku. Ia masih terus mencorat-coret sesuatu di atas kertas.

“Lihat ini, Milam.” Ia menyorongkan kertasnya ke arahku. Penuh coretan anak panah ke sana ke mari dengan tulisan Paradoks dalam huruf kapital.

“Beginilah hidup yang kupahami. Sebagai satu kesatuan paradoks yang harmonis dan seimbang. Kamu benar, Gigir Perigi adalah sekumpulan orang-orang sakit. Orang-orang sakit yang berkumpul dengan satu tujuan. Menyembuhkan. Menyembuhkan diri sendiri dan orang-orang yang datang mengunjungi Gigir Perigi. Paradoks yang manis.” Bejo menatapku tajam.

Untuk pertama kalinya aku salah tingkah.

“Kau tidak akan bisa terus-terusan bersembunyi dan menolak kedatangannya, Milam.”

Aku tercekat. “Kau ingat?”

“Ingatan itu datang malam tadi.” Bejo merapikan kertas-kertasnya dengan tenang.

“Aku tidak menyangka dia ada di sana saat aku dengan tenang menancapkan belatiku di jantung perempuan itu.” Suaraku terdengar sedikit bergetar.

“Aku tahu. Kau hanya menjalankan tugasmu, Milam.”

“Tapi membunuh seorang perempuan di depan mata anaknya adalah perbuatan yang keji, Bejo!” Aku mulai tak terkendali.

“Milam, dalam ingatan itu aku melihatmu lagi. Saat kau masuk dengan mabuk. Meracau kesana-kemari tentang pekerjaanmu sebagai mata-mata yang berulangkali kau kutuk, perempuan yang kau bunuh dan anaknya yang memergoki kalian dan kau tinggalkan.” Bejo menyenderkan tubuh dan menatap mataku lekat-lekat. Matanya berkabut.

“Tak ada yang salah dengan tugasmu saat itu, Milam. Ratusan kelahiran lagi pun aku akan tetap mengatakan hal yang sama.”

Aku kembali menyesap kopi mencoba menenangkan diri. Ada banyak masa aku dan Bejo bersahabat baik. Dia mengenalku lebih baik dari beberapa orang di lingkaran dekatku.

“Tapi kali ini aku akan mengingatkanmu satu hal. Bukan pembunuhan itu yang mengejarmu. Tapi rasa bersalah karena meninggalkan bocah itu begitu saja di samping jasad ibunya. Kau meninggalkan yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.”

Kau meninggalkan apa yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.

Suara Bejo yang terngiang di telinga adalah hal pertama yang kudengar saat kesadaran mulai memanggil.

Tubuhku masih lembab oleh keringat. Jadi rasa-rasanya aku hanya beberapa menit kehilangan kesadaran. Sepasang mata yang membelalak ketakutan itu akan datang menemuiku hari ini. Hidupnya yang sarat kesedihan di setiap kelahiran dimulai saat aku membunuh ibunya di depan matanya. Menerimanya datang ke hadapanku pasti membuka borok rasa bersalah yang selama ini kusembunyikan baik-baik.

Aku takut.

Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari bibirku. Kupejamkan mata menahan seberkas bening yang akhirnya tak terbendung meluncur menuruni pipiku yang tak pernah tersentuh kerut. Aku mulai terisak dan lambat laun bahuku berguncang sesenggukan.

Membuka ingatan agar bisa menutupnya kembali dengan baik. Menemui untuk melepaskan. Hidup adalah kesatuan paradoks yang indah, Milam.

Suara Bejo kembali terdengar dibawa angin. Bocah dari masa silam, ia akan datang hari ini. Apapun yang akan terjadi harus kutemui pemilik sepasang mata yang pernah kutinggalkan itu dengan berani.  Agar tuntas segala yang tertinggal.

Credit Photo:

https://stocksnap.io/photo/J3AE9LEMN3

Advertisements

Ladang Bunga Matahari

Telah diunggah di http://www.inspirasi.co

 

 Ini Negeri Dongeng.

Satu-satunya tempat  Aku dan Kamu bisa bersama.

Atau setidaknya bisa saling bertukar tawa dengan leluasa.

Tempat aku dan  kamu bisa jadi segala.

“Pondokku ada di kaki bukit.”

Aku menunjuk bukit yang terlihat dari kejauhan. Matanya memicing mencoba melawan matahari mengikuti arah telunjukku.

“Kamu setiap hari datang kemari untuk berjualan susu?”

Aku mengangguk.

“Berjualan apa saja,” ralatku.

“Aku bisa menjual apa saja. Terkadang aku juga menjual bunga-bunga liar bahkan juga syal rajutanku.”

Ia menggeleng. Keningnya sedikit berkerut. Mungkin heran, mungkin juga tak setuju. Entahlah. Tapi yang jelas wajahnya jadi kelihatan sedikit terlalu serius. Aku menertawai tampang seriusnya.

“Anak perempuan seusiamu seharusnya tak tinggal sendirian di kaki bukit.”

Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh. Ah, rupanya benar. Ia sedang serius. Aku mulai memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kulit pipinya cerah bersemu kemerahan. Sepasang berwarna coklat madu  cemerlang yang kuyakini tak pernah sekalipun berkabut oleh sisa airmata. Rambut mengilat rapi. Bahkan kuku jemarinya pun dipotong bersih.

Aku buru-buru menggenggam milikku. Mengkhawatirkan sisa-sisa tanah yang mungkin tertinggal di kuku.

“Lalu kenapa kau sekarang ada di sini? Bukankah seharusnya kau berlatih pedang bersama anak-anak lelaki kaum ksatria lainnya?” Aku mencoba mengalihkan perhatianku sendiri.

Ia mengedikkan bahu. Sebuah cengiran lebar terkembang di wajahnya. Mata yang cemerlang itu semakin berkilau oleh kilatan nakal.

“Aku bosan. Aku ingin tahu apa rasanya berada di luar pada jam seharusnya aku berlatih.”

Dia menjawab sebelum menandaskan isi botol susu terakhirku.

“Kau mau pulang?”

Aku mengangguk. Menerima botol sekaligus kepingan koin yang ia sodorkan untukku sebagai bayaran sebotol susu.

“Boleh kutemani?”

Ia mengambil alih keranjang kayu berisi botol-botol susu kosong yang kujinjing. Bahkan sebelum aku sempat mengiyakan permintaannya.

Kami berjalan bersisian menyusuri pinggiran desa menuju ke lembah tempat pondokku berada.

Hari itu kami habiskan bersama dengan riang. Kami bercerita tentang apa saja. Cerita kami mengalir di sela-sela tawa dan sesekali tiupan seruling rumput yang ia buat. Mungkin hanya perasaanku saja tapi sepertinya hari itu matahari terlalu cepat bergulir ke barat.

Warna jingga pekat menghiasi puncak bukit saat ia beranjak dengan wajah enggan.

“Terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini, eng… siapa namamu?”

Ia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Mungkin merasa bersalah karena tak menanyakan namaku sebelumnya.

“Aimee.”

Aku menyebutkan namaku dengan malu-malu. Tersipu tanpa alasan yang jelas.

“Panggil aku, Kato. Nah, Aimee sampai jumpa lagi.”

Ia mengecup pipiku ringan sebelum meninggalkan pondok. Aku memandang punggungnya dan menyadari satu hal. Saat bertemu orang yang tepat, kau akan merasakan pada detik pertama kalian bersama. Bahkan sebelum kau mengetahui namanya.

Aku dan Kato semakin sering bertemu di hari-hari selanjutnya, di bulan-bulan berikutnya juga di tahun-tahun berikutnya.

“Waktu yang cukup lama.”

Aku menjawab pertanyannya tentang waktu kebersamaan kami sambil menyisiri rambut panjangku yang terurai sepinggang. Dalam tradisi kami, seorang gadis pantang menguraikan rambutnya di depan lelaki. Tapi beberapa waktu lalu, Kato tak hanya melihat rambutku. Ia bahkan telah menyusuri setiap lekukan yang kumiliki.

“Kau mengukurnya dengan panjang rambutmu?”

Kato menatapku dengan geli.  Aku mengangguk dan tersenyum.

“Bagaimana jika kita bersama dalam hitungan tak terbatas?”

Matanya kini penuh rasa ingin tahu.

“Akan kupintal jaring dari rambutku. Mungkin aku akan jadi Perempuan Laba-laba.”

Kato tertawa lepas mendengar jawabanku. Ia menatapku lekat-lekat. Aku yakin sekali pipiku kini berubah warna. Ada semburat rasa hangat yang melintas.

“Tak ada yang lebih bercahaya selain dirimu, Aimee.”

Langit mendadak gelap usai Kato berbisik. Begitu gelap hingga kami merasa takut dan dengan tergesa mengenakan pakaian.

Di tengah desa orang-orang sudah berkerumun. Melingkar mengelilingi  Nami, tetua di desa kami. Aku dan Kato berada di antara kerumunan. Tapi kami tak bersama. Kato berada di sana, bersama keluarga-keluarga berdarah ksatria. Sementara aku, Aimee si gadis desa berdiri di sisi lain bersama kaumku.

Nami duduk dengan takzim dengan memejamkan mata. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra-mantra yang aneh bunyinya. Genderang ditabuhkan mengikuti irama mantra Nami.

Aku menatapnya tak berkedip. Tanpa kusadari pikiranku menelusup masuk mendatangi Nami yang merasuk perlahan padaku.

“Aimee…,”

Suara tua milik Nami memanggilku di kepala. Aku menyahut panggilannya tanpa bersuara.

“Seharusnya kau tak boleh jatuh cinta sepanjang usiamu, Nak. Matahari akan cemburu. Lihatlah kulitmu yang berkilauan. Rambut panjangmu yang keemasan. Cinta membuatmu begitu cantik hingga Matahari mencemburuimu, Aimee.”

Matahari cemburu padamu.

Suara Nami bergema berulang-ulang di kepalaku. Menggasing seperti putaran angin yang mengamuk. Kepalaku berdenyar semakin cepat. Sementara telingaku menangkap irama tetabuhan yang semakin liar dan menghentak. Aku mendengar suara Nami di mana-mana. Udara mendadak terasa berat. Keringat dingin melengketkan rambut dan punggungku. Persendianku melunglai, aku ambruk ke tanah. Samar-samar aku menangkap suara Nami sesaat sebelum kegelapan memerangkap.

”Korbankan gadis itu pada Dewi Matahari!”

Pasti bukan aku yang ia maksud.

Saat aku membuka mata, aku telah berada dalam pondok Nami. Wangi udara pondok Nami sungguh mistis. Aroma  yang berasal dari aneka macam herbal kering yang digantung di langit-langit. Bercampur dengan asap dupa yang menguar kuat. Perempuan-perempuan tetua pasti telah mengganti pakaianku. Gaun panjang abu-abu katun kasar yang biasa kukenakan telah berganti dengan sutra muslin. Gaun yang khusus dikenakan oleh para gadis persembahan. Bergemerisik halus saat aku berusaha bangun dari lempeng batu yang halus dan dingin. Tempat tidur milik Nami.

Nami menoleh ke arahku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu kembali menekuri kuali berisi ramuan yang meletup-meletup di depannya.

“Kapan?”

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirku setelah beberapa saat keheningan tercipta di antara aku dan Nami.

Kepalaku masih sedikit berdenyut. Nami menyorongkan mangkuk batu berisi air yang ia tuang dari kendi dengan galur emas untuk merekatkan retakkannya. Aku menerima dan segera menandaskan air dari mangkuk batu itu. Rasa dingin yang menyegarkan menjalar dari kerongkongan ke syaraf-syaraf di kepala.

Nami duduk di bangku kayu berhadapan denganku.

“Kapan saatnya, Nami?”

Aku mengulangi pertanyaanku.

“Tiga hari dari sekarang.”

Aku menatap wajah Nami yang penuh kerut dan mencari rasa iba dari mata abu-abunya. Tapi kedua mata itu berkabut. Terlalu misterius untuk bisa kutebak. Raut wajahnya tenang tak menciptakan riak perasaan apapun. Aku menghela napas dengan berat. Pasrah.

Suara derap dan ringkik kuda terdengar dari luar pondok Nami membuyarkan keheningan kami. Perempuan tua itu bergegas ke luar.

“Berkati aku, Nami!”

Suara Kato! Aku menajamkan telinga.

“Kau akan pergi ke kuil?”

“Ya. Aku akan ke sana dan memasuki labirin rahasia untuk menemui Dewi Matahari.” Kato berkata lantang dan tegas.

“Tak seorang pun bisa memasuki labirin rahasia meskipun ia Putra Tahta Matahari.”

Suara Nami terdengar datar. Ia pasti memiliki ketenangan yang dalamnya tak terukur. Seperti kedalaman sungai kehidupan yang airnya baru saja kuminum.

“Tak seorang pun boleh merebut Aimee dariku, Nami!”

Jantungku berdentam. Dadaku sesak mampat oleh rasa cinta. Pipiku mulai lembab karena aliran air mata.

“Kalau begitu kau boleh pergi tanpa restuku.”

Nami bergeming.

Pintu pondok terbuka. Nami kembali masuk dan kembali sibuk menyibukkan diri pada ramuannya. Tak menghiraukan tatapanku yang mengejarnya dengan rasa panik. Di luar derap kasar dan ringkik kuda menjauhi pondok.

“Kita tak punya banyak waktu.”

Nami menggunting ujung rambutku. Menaburkan serbuk perak di atasnya dan menghujaninya dengan nyanyian mantra-mantra semalaman.

Pagi hari berikutnya aku melihat perempuan tua itu masih menggumamkan mantra dengan mata terpejam. Namun sebuah jaring-jaring laba-laba yang halus dan berwarna perak berkilauan kini terbentang lebar di hadapannya. Seakan tahu aku tengah memperhatikan dirinya, Nami menghentikan nyanyian mantranya. Ia membuka mata.

“Sementara ini pemuda itu aman. Ia tak akan pernah sampai di Kuil Matahari. Labirin itu akan membunuhnya. Tapi jaring laba-laba yang kusihir dari rambutmu ini akan menjaganya. Selama jaring ini membentang, pemuda itu hanya berputar-putar sesuai pola. Jaring rambutmu hanya bertahan sampai esok hari. Jika jaring ini robek maka sihir pelindungku pun lenyap. Katakan padaku Aimee, apa cintamu sebesar miliknya?”

Aku menganggukkan kepala cepat-cepat.

“Tentu. Aku tak ingin berpisah dengan Kato, Nami.”

Tiba-tiba saja aku merengek seperti bocah kecil yang takut kehilangan. Aku tak peduli. Aku tumbuh seorang diri dan kesepian. Kato satu-satunya yang kumiliki. Aku tak ingin kehilangan lagi.

“Tolonglah aku,” rengekanku berubah menjadi isak.

Nami menggelengkan kepala dan berdesah berat.

“Hanya ada satu cara, Nak. Tapi kau sungguh tak ingin berpisah dengannya apapun yang terjadi?”

Aku menjawab ‘Ya’ tanpa suara. Nami memandang lurus-lurus ke kedalaman mataku. Pada mata abu-abu miliknya aku melihat harga yang harus kubayar jika terus bersama Kato.

Apapun itu, Nami. Asalkan aku bersamanya, lakukan untukku.

Kali ini suara di kepalaku yang bicara. Nami mengangguk.

Malam itu aku berbaring di tengah pola bintang segi lima yang digambar Nami dengan kapur sihir di lantai dapurnya. Kristal dan nyala lilin di letakkan di titik-titik tertentu. Cahaya purnama menelusup melalui lubang udara di dinding batu. Nami akan memulai ritual.

Kita membutuhkan bantuan Dewa Bulan. Nami berujar saat mulai menggambari lantai dapurnya.

Aku mulai memejamkan mata. Nami duduk bersila berseberangan dengan tubuhku. Terdengar gumaman aneh dari bibirnya. Sayup-sayup lalu semakin nyaring menyerupai dengung dari segala penjuru. Ketimbang ucapan mantra, suara Nami lebih mirip dengung yang biasa kudengar pada malam yang hening. Dengung yang menghipnotisku perlahan-lahan.  Waktuku akhirnya tiba.

Kupandangi sekali lagi tubuhku yang terbaring tenang di lantai. Rasanya aku belum pernah melihat diriku secantik malam itu. Terlelap dengan wajah damai dan segurat senyum tipis. Esok tubuhku akan dihantarkan pada altar di Kuil Dewi Matahari. Tubuh yang detaknya samar namun tak berjiwa.

Dengung yang mengisi udara mulai meliuk mengajakku menari. Aku berputar ringan menyambut. Setiap putaran meluruhkanku menjadi serbuk-serbuk keemasan. Tubuh halusku kini menjelma butiran serbuk yang melayang di udara. Terpencar di antara partikel-partikel melayuk mengikuti desir angin. Kembali pulang ke bukit, kepada Kato.

Cahaya pertama mengilaukan embun. Aku meliukkan diri mengikuti arah datangnya silau keemasan. Kudengar langkah-langkah mendekat. Suara yang telah kukenal puluhan tahun. Langkah kaki kekasihku terdengar melambat. Tahun-tahun belakangan ini ia menua dengan cepat.

Ia tersenyum. Kerut-kerut di ujung matanya bertambah. Telapak tangannya yang kisut kasar dengan lembut membelai kelopakku. Ia menunduk menyentuhkan bibirnya. Kami bersentuhan. Ciumannya masih semanis yang kuingat.

“Berpuluh tahun ini kau pasti mengira aku tak mengenalimu.” Kato berbisik. Tangannya masih membelai kelopak-kelopakku.

“Hanya ada satu cahaya yang rela meredupkan dirinya demi diriku. Dan itu pasti kamu, Aimee.” Suara Kato bergetar. Ia terbatuk keras dengan tiba-tiba. Sesaat berusaha menarik napasnya yang berat dengan susah payah. Tangan rentanya tampak gemetar. Mata coklat madunya yang memesona  berkabut. Tatapannya melembut kemudian perlahan meredup  terkatup. Tubuh tua Kato ambruk ke tanah dengan bibir mengulumkan senyum. Aku memanggil namanya berulang kali dengan panik. Mencoba merunduk ke tanah untuk menggapainya. Sia-sia.

Senja hari penduduk desa menemukan Kato. Mereka menguburkannya di ladang bunga matahari yang tumbuh di kaki bukit. Mengembalikannya ke pelukanku. Aku menyambut tubuh kekasihku dengan sukacita.

Kelak jika kau melintas ladang bunga matahari di kaki bukit, berhentilah sejenak. Pikirkanlah tentang kami. Maka akan kau pahami, bahwa cinta akan selalu bersama apapun cara dan wujudnya.

“Tunggu, Aimee meleburkan dirinya menjadi bunga matahari untuk menyelamatkan Kato dan menemaninya menua sampai ajal, begitu?”

Riga menaikkan sebelah alisnya menghentikan kisahku. Aku mengangguk.

“Katamu Negeri Dongeng  akan menyatukan segalanya.”

Protesnya yang terdengar kekanakan membuatku tertawa.

“Mereka memang bersatu, kan?” jawabku masih tertawa.

Gawai Riga bergetar diiringi dering nada panggilan menghentikan tawaku. Dering nada yang sangat kami kenali. Riga memberi kode untuk menyingkir, aku mengangguk. Penuh pengertian seperti biasa.

“Sepertinya aku batal menginap Thena,” ujarnya beberapa menit kemudian. Ia  menghampiri dan memeluk pinggangku dari belakang.

“Raisa dan anak-anak mempercepat liburan mereka. Maafkan aku,” bisiknya di sela-sela rambut yang menutupi tengkukku. Bahuku merosot lemah. Kegembiraan sepagian karena akan bersama Riga  sepanjang akhir pekan ini pupus sudah.

Sekali lagi, selalu seperti ini.

“Tak apa,Riga. Aku mengerti,” bisikku lelah.

Kutepuk lembut punggung tangannya yang masih memelukku.  Menggigit bibir menahan genangan dari ceruk mata yang mendesak ingin tumpah.

Tak apa, Sayang. Hanya di Negeri Dongeng, kau dan aku bisa bersama  menjadi  segala.

 

 

 

Senja Merindu Pulang

Pulang.

Kata itu seperti mantra yang merasuk dalam pikiran bawah sadarku. Memompa semangat hidup yang mengalir dalam aliran darah. Membuat tubuh tua ini mendadak bugar dan bergas. Perawat-perawat  menggoda perubahan aura ini. Kutanggapi guyonan mereka dengan senyum kecil. Perawat di klinik ini mungkin usianya sebaya anak lelakiku, Trisno. Baru belakangan aku memperhatikan mereka dengan seksama, lalu timbul kerinduanku lagi pada anak semata wayangku itu. Menghabiskan nyaris seluruh hari untuk menghadapi sekumpulan orang gila dan depresi berat sepertiku tentu bukan pilihan yang menyenangkan.

Trisno, bocah lelaki satu-satunya hasil cinta antara aku dan istriku, Lastri. Perempuan yang kucintai sepenuh hati. Meski berpuluh tahun bersama, kami kerap bertatapan penuh kerinduan. Bagiku, Lastri bukan sekedar simbol keberhasilan seorang pemuda yang berhasil menyunting gadis paling cantik di kampung.  Ada energi kehidupan yang mengalir dari sosoknya yang hilir-mudik membereskan ini dan itu di setiap sudut rumah kami. Saat Trisno masih kanak-kanak, Lastri kerap mendongeng dengan kisah yang entah berasal dari mana. Mungkin ia merekanya sendiri, karena aku tak pernah mendengar  kisah-kisah itu sebelumnya. Saat itu, suaranya ringan mengalun naik-turun menghantarkan kehangatan yang menyihir. Tak hanya Trisno kecil, aku pun menatapnya tak berkedip. Terkesima.

Aku memuja istriku. Kenyataan yang menjadi sumber ejekan diantara kaum pria di desa kami. Mungkin di lubuk hati kawan-kawanku itu sebenarnya tumbuh bibit kecemburuan karena istri-istri mereka tak pernah menatap seperti Lastri menatapku.  Namun, tak hanya mereka, Tuhan pun kerap cemburu pada kebahagiaan yang Ia ciptakan sendiri.

Pada pagi yang buta, Ia memanggil Lastri pulang dengan lembut. Namun merenggut kebahagiaanku dengan kasar. Seolah tangan besar yang gaib, Ia mencerabut satu-satunya pohon tempatku meneduhkan segala kesah dan lelah. Hatiku rekah berdarah shubuh itu.

“Pak Darmo sudah bersiap untuk pulang, ya?” Perempuan berkulit terang dan berjas putih  itu menghampiriku di kamar. Di belakangnya seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berwajah ramah mengikuti.

“Iya, Dok,” anggukku sambil menarik resleting tas.

Perempuan yang kupanggil ‘Dok’ dan lelaki tadi saling bertatapan.

“Begini Pak Darmo, saya sudah berbicara dengan pemilik yayasan klinik ini. Beliau mengijinkan jika Bapak menetap di klinik ini. Bapak bisa melakukan apa saja untuk membantu di sini. Seperti yang sudah Bapak lakukan selama ini.” Lelaki yang menjadi Kepala Klinik itu memegang pundakku. Setiap kata diucapkannya perlahan seolah takut menyakitiku. Aku menunduk, beberapa saat menekuri lantai kamar yang menguarkan aroma karbol.

“Terima kasih Pak Kemal, Dokter Linda,” Akhirnya kuangkat kepala dan tersenyum pada dua manusia berhati malaikat di depanku. “Hari ini sudah tahun ketiga saya di sini. Saya yakin, tahun ini Trisno akan menjemput saya pulang seperti janjinya.”

Terdengar tarikan nafas Dokter Linda.

“Tahun ini, Trisno akan datang menjemput. Saya yakin. Saya tahu itu,” ujarku sungguh-sungguh. Kugenggam telapak tangan kanan Dokter Linda agar ia bisa merasakan kuatnya keyakinanku. Sorot mata perempuan muda itu melembut, ganti ditepuknya genggamanku dengan sebelah tangannya yang lain.

“Saya mengerti, Pak. Saya mengerti.” ujarnya lamat-lamat.

“Sampai kapan pun, klinik ini terbuka untuk Pak Darmo.” Pak Kemal menyambung perkataan Dokter Linda.

“Boleh saya menunggu Trisno di beranda klinik?” tanyaku padanya sembari merapikan letak peci.

“Tentu. Tentu, Pak Darmo. Silahkan.”

Entah sudah berapa jam aku duduk di bangku panjang berwarna putih di teras klinik. Secangkir kopi hitam telah tandas isinya. Ujang, salah seorang pasien yang dikaryakan di klinik ini setelah sembuh, datang menawarkan secangkir lagi. Aku menolak dengan ucapan terimakasih. Lastri tak suka jika aku meminum kopi terlalu banyak.

Sudah empat tahun lebih Lastri meninggalkanku tapi aku masih mengingat semua hal kecil tentang dirinya. Mungkin diamku selama setahun setelah kepulangannya itu berhasil mengendapkan segala keping kenangan. Sejak sehari setelah Lastri dimakamkan, bibirku seperti terkunci. Sepanjang hari aku berkeliaran di sudut-sudut rumah. Membisu meresapi setiap partikel udara yang menggumamkan aroma Lastri. Dengan tekun memungut ulang semua cerita bersama Lastri yang pernah terjadi di setiap penjuru rumah. Menyusunnya kembali menjadi sepotong kenangan yang utuh. Aku melakukannya dalam diam. Aku takut, jika aku bersuara maka kenangan itu akan ambyar keluar bersama suaraku. Persis seperti kepingan puzzle yang ditumpahkan seorang bocah.

Trisno terus mencoba mengajakku bicara. Aku bergeming. Aku telah kehilangan Lastri, aku tak ingin kehilangan kenangannya. Tetangga-tetangga, kawan-kawanku di kedai kopi datang silih berganti untuk memancingku membuka mulut. Mereka bergantian mengisahkan cerita lucu berharap aku terbahak. Kali lain mulut mereka berbusa dengan kalimat penghiburan untukku. Suatu hari mereka datang dengan gosip dan guyonan cabul tentang janda kembang dari desa sebelah.  Saat itu ingin kuhardik mereka karena telah lancang memadankan Lastri dengan perempuan yang sosoknya mengendap dalam pikiran liar setiap lelaki. Dengan mulut tetap terkunci, aku memukul meja dengan keras. Cangkir kopiku melompat, menumpahkan isinya yang tinggal setengah. Rupa-rupa kaget menatapku terperangah. Aku bangkit dengan kasar hingga kursi rotan yang kududuki terjengkang. Kutinggalkan tamu-tamu kurang ajar itu di teras rumah.

Dari ruang tengah, kudengar derum halus motor Trisno memasuki halaman. Lalu seperti dengung lebah, lelaki-lelaki yang kotor pikirannya itu menyambut kedatangan anakku dengan cerita tentang kemarahanku tadi.

“Bapakmu wis edan, Le!” pungkas mereka di ujung cerita. Tak ada sahutan dari Trisno. Dadaku berdebar menanti jawaban yang keluar dari anakku itu. Mungkin ia akan mengiyakan perkataan itu dengan rasa malu.

“Bapak tidak gila. Bapak mungkin terguncang dengan kepergian Ibu, tapi Bapak tidak gila.” ucap anakku jelas dan tegas. Hatiku seketika bungah mendengar bela rasa yang dilakukan anakku satu-satunya itu. Sosoknya yang jangkung kemudian memasuki rumah, menghampiri dan mencium tanganku. Tersenyum dan mulai bercerita tentang harinya seperti biasa. Sejak hari itu, tak ada lagi tamu yang mengunjungiku.

Hari semakin sore. Angin yang bertiup semilir semakin terasa teduh. Satu dua flamboyant berwarna senja gugur terbawa angin. Udin, satpam klinik mengawasiku dari posnya di gerbang pagar. Sesekali kulihat ia menggelengkan kepala.  Beberapa perawat yang sepertinya sengaja diperintah Pak Kemal melintas menyapaku. Bahkan Dokter Linda sesore ini belum juga pulang. Padahal jam kerjanya di klinik ini telah usai.

“Saya menunggu Pak Darmo benar-benar telah dijemput,” jawabnya saat kutanya. Aku terharu mendengarnya. Beberapa orang di dunia ini memang beruntung. Hidupnya dikitari oleh orang-orang yang penuh kasih. Aku termasuk mereka yang beruntung itu.

Aku tahu, separuh penghuni klinik mengkhawatirkanku sore ini. Ini pertengahan April yang ketiga aku seharian duduk di bangku panjang putih di teras klinik. Menanti Trisno datang menjemput dan mengajakku pulang ke rumah seperti janjinya. Setelah ia menitipkanku di klinik ini saat akan memulai pekerjaannya di sebuah kapal pesiar.

Malam itu Trisno tiba-tiba bersimpuh di kakiku. Dengan terbata ia menceritakan tentang panggilan kerja di kapal pesiar yang ia terima. Juga kekhawatirannya jika meninggalkanku seorang diri selama berbulan-bulan.

“Kalau Bapak tidak berkeberatan, saya ingin menitipkan Bapak di sebuah klinik rehabilitasi gangguan mental dan kejiwaan. Saya ingin Bapak dirawat, dijaga dan mendapatkan pengobatan di sana selama saya berlayar.”

Aku terkesiap. Gangguan mental dan kejiwaan?

Aku menunduk mencari wajah Trisno dan kembali terkesiap. Kedua tangan anak itu gemetar mencengkram ujung sarungku.

“Maafkan Trisno, Pak. Sa-sa-saya rindu ngobrol dengan Bapak lagi seperti dulu,” ujarnya takut-takut. Lalu bahunya berguncang pelan lalu telingaku menangkap tangisannya yang lirih. Hatiku remuk. Anak laki-lakiku menangis oleh sebab aku. Aku pun  sebenarnya merindukan masa-masa itu. Beberapa  kali sempat aku ingin membuka percakapan. Namun kata-kata seolah tertahan di ujung tenggorokan. Rasanya seperti sebongkah kepedihan menjepit pita suaramu usai tangisan yang panjang.

Kuraih bahu tegap milik anakku itu. Kutatap dalam-dalam matanya dan kuanggukan kepala. Trisno benar, aku butuh perawatan dan pengobatan. Telah kubuat luka sendiri dan kukorek dari hari ke hari hingga meradang. Harus segera kuobati luka itu jika tak ingin bagian hidupku hilang diamputasi.

Jika waktu lalu anakku dengan tegas dan jelas membela kewarasanku maka hari itu kubela anakku dari cibiran tetangga sebagai anak durhaka. Kutegakkan punggung  dan  sekali lagi kuanggukkan kepala sembari tersenyum. Esoknya, aku resmi menjadi penghuni Panti sekaligus Klinik Urip Asih.

Senja semakin jingga. Angin sepoi kini terasa menggigiti tulang dan persendianku. Aku sudah semakin tua, Lastri, bisikku dalam hati. Anak lelaki kita mungkin terlalu sibuk untuk menjemputku. Sudah tiga tahun, barangkali ia sudah berkeluarga saat ini. Ah, kita mungkin sudah memiliki menantu atau bahkan cucu. Seorang cucu perempuan yang cantik dan periang. Itu yang kau rindukan, kan?

Aku memejamkan mata. Kelopak mata yang kendur dan penuh kerut itu semakin berat saja karena menahan genangan yang ingin tumpah.

Rupanya aku sungguh-sungguh telah menua Lastri. Seorang tua yang cengeng. Tapi ini sudah tiga tahun, Lastri. Aku kangen anakku. Aku ingin pulang…

Tubuhku berguncang. Aku terisak tanpa sanggup kutahan lagi. Bendunganku bertahun-tahun jebol sudah.  Bahuku melorot dan punggungku meringkuk bungkuk.

“Aku ingin pulang. Aku ingin pulang…” ucapku lirih di antara sedu sedan yang mirip tangisan bocah ketika sepasang lengan hangat penuh kasih sayang memeluk dan menuntunku kembali masuk ke klinik.

Di balik batang pohon Flamboyan, sepasang sosok tak kasat mata menatap tubuh tua Darmo dari kejauhan. Sosok mereka perlahan berangsur mengabur seperti kabut yang menipis di pegunungan. Lembut angin sore meniupkan wangi khas yang menandai kehadiran Lastri dan Trisno sepanjang sore itu. Pesan  untuk Darmo yang tak pernah sampai.

 

 

 

 

Rikam Utan Along

Gong mulai dibunyikan, berpasang mata kini terpaku ke panggung sederhana. Menanti dara yang perlahan-lahan melenggang mengikuti irama gong. Rikam meliukkan pinggulnya lembut dan anggun. Selangkah demi selangkah mendekati gong  berukuran sedang yang diletakkan di tengah panggung. Rangkaian Bulu-bulu Enggang terjepit di sela jemarinya.Tangan gadis itu seakan bersayap pada ujungnya. Sepasang mata kelam di antara penonton diam-diam merekam setiap gerakan gadis itu dari balik lensa kamera.

Suara Gong terakhir menandai usainya Tari Kancet Ledo*. Rikam merapikan rangkaian Bulu Enggang yang tadi dipakainya lalu beranjak meninggalkan panggung menuju ke Lamin *. David menjejeri langkah gadis belia itu.

“Pemuda itu tak lepas memandangimu sedari tadi,” David membuka percakapan. Rikam tak menyahut. Hanya mengedikkan bahunya sekilas.

“Kapan rombongan fotografer dari  Jakarta itu akan pulang?” Suara pemuda itu terdengar sedikit gusar.

“Mana aku tahu. Lagipula apa salahnya ia memandangiku. Kami menari untuk mereka tonton, kan?”

“Tapi sudah lima hari ini yang dia lihat hanya kamu, Rikam! Ia mengikutimu kemana saja seperti anak kucing. Memotret setiap gerak-gerikmu dari pagi sampai senja. Semacam tak ada lagi gadis lain di kampung ini!” Suara David meninggi. Langkah Rikam seketika terhenti di undakan pertama Lamin.

“Apa sekarang kau hendak bilang, kau sedang cemburu, David?” Sepasang mata badam itu menyorot tajam. Suaranya dingin menyengat. David tercekat tak menjawab.

Rikam membalikkan tubuh meneruskan langkahnya menaiki tangga Lamin. Di kejauhan, riuh bilah bambu Penari Pampaga* menandai akhir pertunjukan seni  di Desa Wisata hari ini.

Bram memperhatikan satu demi satu slide foto Gadis Dayak yang menjadi obyek di sebagian besar fotonya. Mata sipit gadis itu menghilang saat tertawa, juga dekik lesung pipinya yang dalam saat tersenyum malu-malu.

“Hati-hati Bram, gadis itu sudah ada yang punya,” ujar Reno dengan suara bassnya. Bram tersentak kaget. Lamunannya buyar.

“Sialan. Merusak suasana saja kamu.”

Reno terkekeh, sembari membaringkan tubuhnya di kasur.

“Aku serius. Jangan bermain-bermain dengan Gadis Dayak. Kecuali kau ingin pulang tinggal nama.”

“Kalau  begitu, tak perlu pulang sekalian,” balas Bram santai.

Reno memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Bram.

“Lalu bagaimana dengan Maya, Natasha, Rima dan satu lagi Gadis Arab itu, siapa namanya? Kau suruh aku mengatakan apa pada mereka? Bram tak pulang ke Jakarta. Tergila-gila ia pada gadis di Kampung Dayak yang ditemuinya selama seminggu. Begitu? Bah! Kau ini…,”

Sebuah bantal  melayang ke arah Bram yang segera ditangkis oleh pemuda itu.

“Apa salahnya kalau aku menetap disini?” ujar Bram kembali acuh tak acuh. Matanya menekuri editan foto Rikam di laptopnya.

“Tak ada salahmu. Selain menyukai seorang gadis yang telah ditunangkan dengan putra kepala adat desa ini. Itu saja. Sederhana tapi cukup kuat untuk menebaskan sebilah Mandau*.”

Bram mengangkat wajahnya. Reno menatapnya serius.

“Bukan ke lehermu tentu saja. Tapi cukup ke batang pisang yang telah dimantrai. Sekali tebas, habislah dirimu.”

Suasana hening beberapa detik.

“Gosip.” Bram menjawab pendek tak peduli.

“Keras kepala,” sahut Reno kesal.

Rikam  menatap pada bangunan mess khusus tamu di kejauhan dari jendela biliknya yang terbuka. Angin malam yang dingin memucatkan kulit wajahnya yang putih.  Seseorang menyibakkan tirai  pembatas bilik.

“Rikam,” suara ibunya memanggil. Lebih mirip bisikan daripada panggilan.

Rikam menutup jendela dan membalikkan tubuh.  Bersimpuh di lantai Lamin bersisian sangat dekat dengan ibunya. Mereka harus melakukannya jika tidak ingin angin mengabarkan pembicaraan pada seluruh penghuni Lamin. Dinding Lamin ini bertelinga. Nyaris tak ada pembicaraan yang berhasil dirahasiakan di sini.

“Seminggu lagi pesta panen, Nak,” Perempuan tua bertelinga panjang diberati anting-anting logam itu berkata lirih. Asei, satu dari beberapa perempuan tersisa yang masih meneruskan tradisi telinga panjang di kampungnya, menggenggam tangan putri bungsunya. Rikam mengangguk, pandangannya menunduk tertumbuk lengan keriput  ibunya yang dipenuhi rangkaian tato bermotif tanduk.  Serupa motif ukiran di tiang Lamin mereka.

“Berhati-hatilah. Jaga sikapmu pada Pemuda Jawa itu.”

Rikam mengangkat wajahnya, “Ibu tahu?”

Asei terkekeh pelan menertawai pikiran naïf putrinya. Meludah sebentar pada kaleng pengganti tempolong. Bibir keriputnya menyirih jingga.

“Rikam, kau anakku yang ke sepuluh. Lahir setelah hampir lima belas tahun dari kelahiran kakak laki-lakimu, Jantur. Ibu sudah setua itu ketika kau lahir. Kelahiran yang teramat sulit.”  Mata Asei yang mulai abu-abu karena rabun menerawang.

Rikam menyimak penuh perhatian. Kisah kelahiran yang berpuluh bahkan mungkin beratus kali telah ia dengar. Namun Asei tak hanya seorang ibu, ia juga wanita bijak dari Lamin mereka. Rikam dengan takzim mendengar kisah itu lagi. Serupa kaset yang terus diputar ulang di telinganya.

Kisah kelahirannya melegenda di Lamin mereka. Tentang ibunya yang tiga hari tiga malam tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir setelah melahirkan Rikam. Juga dirinya yang enggan menangis. Bertahan dengan tarikan nafas satu-satu yang lemah. Berdua mereka dibaringkan di tengah Lamin dalam upacara pengobatan yang dipimpin seorang Dayung*. Tepat saat Dayung tua hendak berucap Sio diman menyat tolong lait nyengau*, Luhung , putra bungsu Amai Pebulung* yang masih balita tiba-tiba berlari ke tengah lingkaran dan menyentuh pipi Rikam. Dan sontak dirinya menangis keras. Gong segera ditabuh dengan riuh menyamarkan tangis pertamanya. Agar binatang-binatang hutan tak mendengar tangisannya dan selamatlah hidup Rikam dari bala seumur hidup.  Entah karena pekikan tangisnya atau karena keriuhan gong yang ditabuhkan, ibunya turut siuman. Lamin geger. Ayah Rikam tersungkur sesenggukan penuh syukur.  Mata tua milik Dayung berkaca-kaca. Bahkan Amai Pebulung pun tak sanggup berucap sepatah kata. Menyaksikan Luhung, putranya duduk bersila mengusap-usap pipi Rikam yang masih terus menangis. Sejak malam itu, langit telah menentukan. Rikam adalah milik Luhung. Selamanya.

Rikam tekun menunduk mendengarkan Asei terus bercerita seolah memberikan penguatan bagi kegelisahan putrinya. Beberapa tahun lalu, Rikam masih mendengarkan kisah ini dengan hati berdebar dan mata berbinar. Menanti kepulangan Luhung yang meneruskan sekolahnya di Samarinda. Gelisah dan debar dara belasan tahun menanti kekasih hati yang telah ditetapkan langit untuknya.

Lalu awal tahun lalu, Luhung pulang. Membawa ijazah bertuliskan nama David Nigau. Nama baru Luhung. Amai Pebulung tak berkomentar apapun. Asalkan Luhung pulang dan bersedia meneruskan tradisi, itu lebih dari cukup. Kemajuan jaman menghilangkan pemuda suku mereka satu demi satu. Membuat mereka tersesat, lupa jalan pulang ke kampung. Luhung atau David, pemuda itu tetaplah putranya.

Rikam menyambut kepulangan Luhung dengan suka cita. Memanggilnya dengan nama baru seperti yang diinginkan pemuda itu. Semua terasa manis bagi Rikam, ia percaya sepenuhnya langit telah menjodohkan mereka berdua. Hingga pada malam yang meriah seusai pesta panen tahun lalu, David bercerita tentang Grace. Gadis Manado teman kuliah yang dicintainya.

Malam itu sape*  dipetik mengiringi ngendau*. Riuh gelak tawa pemuda-pemudi dari halaman Lamin. Di biliknya, Rikam menangis sendirian. Meratapi hatinya.

Tak seorangpun di Lamin mengetahui kisah tentang Grace. Aku akan tetap menikah denganmu, janji David malam itu. Rikam ingin meludah mendengarnya. Apa artinya hidup bersama seorang lelaki yang tak pernah mencintai dirinya? Apa maksud lelaki itu bercerita tentang perempuan lain di hadapannya?

Rikam tak pernah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hanya kesadaran yang membuka mata hatinya bahwa ia tak dicintai. Sikapnya berubah dingin pada David meski pemuda itu selalu bersikap baik pada Rikam. Beberapa kali  Jantur, kakaknya menegur sikapnya. Namun Rikam enggan bercerita apalagi membela diri. Ia lebih suka berkutat dalam diam.

Kemudian Amai Pebulung mengabarkan serombongan tamu dari  Jakarta yang akan datang menginap di desa mereka yang kini berjuluk Desa Wisata. Rombongan fotografer dan jurnalis perjalanan  dari dalam dan luar negeri. Mereka akan menginap seminggu meliput kehidupan Masyarakat Dayak. Saat itulah Rikam mengenal Bram.

Awalnya Rikam terganggu dengan tingkah pemuda itu yang mengikutinya kemanapun ia pergi. Merekam setiap gerak-geriknya. Namun lambat-laun Rikam merasa tersanjung. Ada banyak gadis cantik di desanya, Nilam, Tunjung, juga Kori. Tapi Bram hanya memilih dirinya.

“Kenapa mengikutiku terus?” tanyanya suatu pagi. Mereka berjalan bersisian hendak menyisir ladang mencari akar-akaran.

“Kenapa kau mau kuikuti?” Bram balik bertanya. Rikam meliriknya, kesal.

“Aku sudah bertunangan.”

“Aku tahu. Sayang sekali.”

“Sayang sekali?” Rikam menaikkan sebelah alisnya. Tak mengerti.

“Iya. Sayang sekali matamu tak menyiratkan kebahagiaan itu. Kau mau menikah atau mau bunuh diri, sih? Berat sekali nampaknya.”

Rikam tercekat. Ia menoleh memandang lelaki yang sibuk memotret di sebelahnya.

“Sejelas itukah?” suara Rikam pelan.

“Sejelas itu. Ingat,  aku menatapmu setiap saat dengan ini,”Bram mengangkat kamera yang terkalung di lehernya. “Tak sekalipun matamu bercahaya. Coba tersenyum,” Bram memberi perintah.

Rikam menarik sudut bibirnya sedikit.

“Sedikit lagi. Lebih lebar, kau sedang tersenyum, bukan hendak buang angin, kan?”

Rikam tergelak. Bram dengan gesit membidiknya dengan kamera. Hari itu membawa kehangatan bagi hati Rikam. Begitu pun hari-hari selanjutnya.

“Rikam,” seraut wajah menyembul dari balik tirai bilik. Asei dan Rikam menoleh bersamaan.

“David mencarimu.” Kori menatapnya dengan pandangan menggoda. Rikam menghela nafas. Asei menggenggam tangannya.

“Temuilah sebentar, mungkin ada yang hendak ia bicarakan.”

Rikam mengangguk lalu beringsut keluar menuju tangga Lamin tempat David menunggu seperti yang dikabarkan Kori.

David dan Rikam duduk bersisian dalam hening. Suara jangkrik nyaring memecah malam. Sementara Rikam menerawang menatap lampu mess tamu di kejauhan, menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Bram di sana.

“Rikam, seminggu lagi pesta panen digelar.”David membuka percakapan.  Rikam mengangguk. Ucapan David persis seperti perkataan ibunya. Seperti sengaja mengingatkan bahwa tiga hari setelah pesta panen mereka akan menikah.

“Maafkan aku. Mengenai Grace, seharusnya aku tak menceritakannya padamu. Saat itu aku hanya ingin bersikap jujur.” David meremas tangannya sendiri dengan gelisah.

“Kau mencintai Grace. Aku menyukai Bram. Lalu masihkah kita harus menikah?” Rikam menatap David lurus-lurus. David tak menjawab. Benaknya dipenuhi wajah Grace yang terus mengisi mimpinya setiap malam. Ia berusaha melupakan gadis itu namun tak berhasil hingga detik ini.

“Aku tak ingin menikah denganmu!” sergah Rikam tajam. Teringat ia akan Bram.

“Aku tahu. Tapi langit telah menetapkan kita, Rikam. Kau pikir aku suka kembali kemari, menghidupkan Lamin, menyalakan tradisi yang hampir lenyap ini?” David membalas tatapan Rikam dengan tajam.

“Dunia di luar begitu luas, Rikam. Aku ingin terbang menghampirinya. Tapi aku tak bisa. Kakiku tertancap di sini. Pada akarku aku harus pulang. Dan hanya denganmu, Rikam, aku bisa membagi beban ini. Mengertikah kau?”sorot mata David melunak.

Wajah Rikam memerah menahan tangis. Tenggorokannya tercekat.

“Lalu kehidupan  seperti apa yang akan kita jalani, David?”suara Rikam tersendat isak yang mulai mendesak keluar.

“Entahlah Rikam. Aku tak bisa menjanjikan. Namun ada yang lebih kuat daripada hidup itu sendiri. Ialah takdir. Percayalah Rikam, akulah takdirmu dan kamulah takdirku.”

Tangis Rikam pecah.

Hari ini rombongan tamu dari Jakarta akan pulang. Rikam melenggok di panggung diiringi sape dan nyanyian Leleng Utan Along*. Tak pernah sekalipun Leleng ditarikan sendirian, tapi David berhasil membujuk Amai Pebulung untuk mengijinkan Rikam menarikannya sendirian seperti permintaan gadis itu. Rikam berputar terhanyut suara penyanyi yang merintih melukiskan kepedihan Utan Along*.

Leleng … leleng  Utan Along

Leleng… leleng Utan Along… leleng…

Airmata perlahan turun membasahi pipi Rikam. Gadis itu berputar. Berputar dan terus berputar. Siang itu,  Rikam menjelma  Utan Along.

***

Keterangan:

*Kancet Ledo : Tari Gong. Tarian yang melukiskan keindahan batang padi yang tertiup angin. Ditarikan di atas gong.
*Lamin : Rumah Panjang. Rumah adat Suku Dayak.
*Pampaga : Tarian muda-mudi Suku Dayak yang menggunakan bilah bambu.
*Mandau : Senjata khas Suku Dayak. Terbuat dari bijih besi. Ujungnya beracun. Pegangannya berhias ukiran dan rambut manusia.
*Dayung : Dukun pemimpin upacara untuk penyembuhan.

* Sio diman menyat tolong  lait nyengau

: Mantra penyembuhan. Artinya kurang lebih, Tolong berikan air yang dapat menyembuhkan.
*Amai Pebulung : Kepala adat.
*Sape/Sampe : Alat musik petik khas Dayak
*Ngendau : Nyanyian berbalas-balasan muda-mudi Dayak
*Leleng  Utan Along : Lagu untuk mengiringi Tari Leleng. Ditarikan berkelompok, menceritakan kisah kesedihan Utan Along.
*Utan Along : Nama seorang gadis yang dipaksa menikah dengan lelaki yang tak disukainya. Lari ke tengah hutan. Dan menari berputar-putar di tengah hujan sembari menangis.

 

 

Boneka Gipsi

Diterbitkan di Majalah KaWanku edisi 150/1-15 mei 2013

 

Lelaki jangkung itu bangkit dari duduk, mencangklongkan cerutu ke bibirnya yang setengah bergumam , “Tidak bisa, Sayang. Papa harus berangkat sore ini juga.”

“Tapi Pa…, Papa belum genap seminggu ada di rumah. Sekarang hendak pergi lagi?” mata gadis belasan tahun itu membola. Bibirnya mengerucut kesal.

“Rachel, Papa sudah tidak muda lagi sementara usiamu belum lagi genap 15 tahun. Perjalananmu masih panjang. Selagi  Papa masih sehat, Papa harus bekerja. Memastikan agar kelak hidupmu terus nyaman. Mengerti?” Lelaki jangkung yang rambutnya memutih nyaris sempurna itu memegang bahu putrinya dengan lembut.

“Well, Tuan Christopher Reindhart di usia anda yang senja, bukankah lebih baik jika menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama putri anda satu-satunya di Pasar Malam?” rajuk Rachel sambil mengulaskan senyum semanis yang ia bisa.

“Papa tidak setua itu, Rachel,” Chris tertawa sambil mengenakan mantel dan topinya.

“Aku serius soal pasar malam itu, Pa! Rombongan Gipsi itu baru sampai kemarin malam, mereka berkemah di lapangan  pinggir kota,” seru Rachel berlomba dengan tubuh jangkung ayahnya yang menghilang di balik pintu.

Rachel menghela nafas menatap pintu kamar kerja ayahnya yang  kini menutup sempurna.

“Kau bisa pergi dengan Nana, Rachel. Minta ia menemanimu.” Suara bariton Chris membuat Rachel terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati wajah ayahnya  yang muncul dari celah pintu yang terbuka kembali.

Rachel tersenyum lebar.

“Terimakasih Pa, hati-hati di jalan.”

Chris mengangguk. “Kau juga, Gadis Kecil,” ujarnya sebelum menutup pintu untuk kedua kalinya.

Udara malam ini terasa hangat. Sesekali terasa semilir angin malam yang bebas keluar masuk dari jendela kamar yang terbuka. Rachel sengaja membukanya lebar-lebar, berharap  hawa sejuk yang dibawa oleh hembusan angin bisa meredakan kekesalannya pada Nana. Wanita kulit hitam gemuk yang menjadi pengasuhnya sejak bayi tanpa diduga menolak mentah-mentah ajakan Rachel untuk pergi ke Pasar Malam.

“Apa? Pasar Malam di malam Bulan Biru seperti ini?” Nana berjengit dengan suara nyaring begitu mendengar ajakan Rachel. Tangannya yang gemuk dan kokoh berhenti  membolak-balik biskuit coklat yang tengah dipanggangnya.

“Memangnya ada apa dengan Bulan Biru?” Rachel meraih sekeping biskuit yang sudah jadi dan meniup-niupnya  untuk menghilangkan panas.

“Malam ini semua sihir bekerja. Sihir jahat, sihir baik…semua!” tandas Nana serius.

“Nana, para penyihir telah habis diburu sejak lama. Kau mengada-ada.” Rachel tergelak-gelak nyaris tersedak. Buru-buru diraihnya segelas lemon dingin dari meja dapur.

“Nana tidak pernah mengada-ada, Nona. Dan sihir para Gipsi tidak pernah benar-benar  lenyap. Jadi malam ini, baik-baiklah di rumah. Besok, saat hari terang  kita akan mampir sebentar ke lapangan pinggir  kota untuk memuaskan rasa ingin tahumu.”

Rachel mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sudah 13 tahun ia dalam asuhan Nana. Ia tahu persis, jika Nana mengatakan sesuatu dengan mimik seserius saat ini, maka itu adalah perintah. Seisi rumah besar ini harus patuh. Bahkan ayahnya sekalipun. Entah karisma apa yang dimiliki perempuan tua gemuk yang penyayang itu, namun nyatanya Rachel memilih alasan ingin tidur lebih awal untuk mengunci diri di kamar ketimbang harus berdebat panjang dengan Nana.

“Ke Pasar Malam pada siang hari terang benderang? Huaaah, yang benar saja. Di mana letak keseruannya? Rachel menggerutu sendiri. Ia membolak-balik tubuhnya dengan gelisah. Berulangkali dicobanya memejamkan mata namun tak berhasil. Matanya justru nyalang menatap langit-langit kamar.

Tiba-tiba dengan gerakan cepat Rachel bangkit dari tempat tidur. Samar-samar telinganya menangkap alunan musik yang riang. Khas musik yang dinyanyikan Kaum Gipsi  diantara karavan-karavan mereka. Rachel  memejamkan mata, memusatkan konsentrasi pada pendengarannya. Nada-nada itu masih terdengar meski samar-samar. Perlahan ia kembali membuka mata dan menatap jendela yang terbuka. Tirai berenda putih itu melambai menandai gerakan angin yang menembus masuk ke kamar. Rachel merasakan hawa dingin pada tengkuk dan lengannya. Ia memutuskan untuk merapatkan daun-daun jendela itu ketika sekelebat ide melintas di pikirannya. Bergegas gadis itu menuju ke lemari besar di sudut kamar, tempat gaun-gaunnya tersimpan.

Rachel terengah-engah melangkah di setapak menanjak pada bukit kecil itu. Ia beruntung sebab purnama yang bulat sempurna membuat bukit menjadi remang keemasan. Cukup terang untuk dilewati tanpa bantuan lentera. Bagaimanapun juga memintas jarak melalui bukit ini jauh lebih aman ketimbang melewati jalan di tengah kota. Yang meskipun lebih nyaman namun akan membuatnya berpapasan dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Pasar Malam.

Sedikit binar jahil menyala di mata Rachel. Sungguh ini adalah hal paling gila yang pernah ia lakukan. Melompat dari jendela atau sesekali melarikan diri dari kamarnya adalah kenakalan kecil yang biasa ia lakukan. Namun tetap saja dilakukan di siang hari, bukan di malam hari seperti saat ini. Rachel terus melangkah melintasi padang bunga Daffodil. Mengikuti setapak kecil  di bukit yang berujung pada lapangan besar di pinggiran kota.

Suara gesekan biola yang riang ditingkahi gelak tawa riang pengunjung Pasar Malam semakin jelas terdengar. Rachel bahkan bisa melihat kerlip lampu karavan-karavan Gipsi juga liukan ujung api unggun besar yang menyala di tengah lapangan. Langkah-langkahnya semakin cepat dan bersemangat. Lagipula ia harus bergegas agar bisa menikmati keramaian Pasar Malam dengan leluasa sekaligus pulang tak terlalu larut. Bulan yang bergeser akan membuat bukit menjadi lebih gelap dan menyulitkan perjalanan pulangnya.

Rachel terpaku dengan bibir sedikit terbuka. Pemandangan  Pasar Malam yang riuh kini terpampang di depan mata. Hingar bingar musik, seliweran pengunjung diantara karavan dan tenda warna-warni.  Beberapa badut melintas dan muncul tak terduga mengagetkan pengunjung. Rachel menelan ludah melihat meja kecil yang penuh permen kapas warna-warni di salah-satu sudut Pasar Malam. Untunglah tadi ia sempat membawa dompet kecil tempat ia biasa menyimpan uang-uang koinnya.

Perlahan-lahan ia menyusuri pinggir perkemahan yang melingkar. Meski pengunjung Pasar Malam ini cukup ramai tetap saja ia tak ingin berpapasan dengan seseorang yang mengenalnya dan tertangkap basah berkeliaran sendirian. Hukuman yang akan diterimanya dari Nana bisa sangat berat dan membosankan. Dengan hati-hati Rachel melangkah menghindari kaleng-kaleng bekas cat yang bergelimpangan di rumput atau perabot milik para Gipsi yang diletakkan begitu saja di belakang karavan mereka.

Sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari balik tenda bergaris-garis biru di depannya. Seorang pemuda yang mungkin seumuran dirinya dengan banyak pisau yang tergantung pada sabuk kulit menatapnya dengan pandangan tajam menyelidik. Rachel membalas tatapannya dengan ekspresi terkejut. Pemuda tadi dengan matanya yang coklat bening menatap gadis di depannya dari rambut hingga ujung kaki. Lalu bibirnya membentuk tarikan di sudut dan berlalu begitu saja tanpa berkata-kata. Rachel menatap kepergian pemuda itu dengan dada bergemuruh akibat terkejut sekaligus takut melihat kantung-kantung kulit berisi pisau di pinggangnya.

“Astaga Rachel… bisa saja ia  cuma seorang pelempar pisau,” bisiknya pada diri sendiri lalu tertawa kecil menertawai kebodohannya.

Diteruskannya langkah, ia ingin memulai petualangan ini dari tenda yang paling ujung. Tenda berwarna marun dan emas itu menarik hati Rachel. Gadis itu telah melihatnya  tadi di kejauhan saat ia memasuki area Pasar Malam.

Di depan tenda yang ditujunya, Rachel masih berdiri terpaku. Tangannya tanpa sadar mengelus tenda marun dengan pinggir berwarna keemasan. Tenda yang berdiri sedikit menjauh dari tenda-tenda lainnya ini sungguh berbeda. Rachel tak mengerti bagaimana bisa beledu yang selembut dan setebal  ini bisa dijadikan tenda.

“Kamu yang berdiri di depan, masuklah!” Suara perempuan terdengar dari dalam tenda. Rachel menoleh ke samping kanan-kiri memastikan dirinyalah yang dimaksud.

“Iya, kamu, Gadis Kecil,” suara dengan logat Gipsi dan aksen Eropa Timur itu kembali memanggil.

Sosok perempuan peramal dengan gaun penuh sulaman bunga-bunga kecil dengan warna cerah menyambut Rachel yang memasuki tenda. Rambut panjang yang gelap dan ikal tertutup sebagian oleh syal berwarna merah. Bibirnya disapu warna merah yang sewarna dengan cat kuku di jemari tangannya. Perempuan itu tersenyum.

“Masuklah. Jangan takut. Kau telah menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai kemari, Gadis pemberani,”ujar peramal itu melambaikan tangan memerintahkan Rachel untuk duduk di kursi kecil. Rachel menurut. Kini, ia dan si peramal duduk berhadapan. Sebuah meja kecil dengan taplak ungu yang panjang hingga menyentuh lantai  tanah berada diantara mereka.

“Coba kulihat telapak tanganmu.”

Rachel mengangsurkan tangannya.

Perempuan peramal  itu mengusapnya sebentar.  Keningnya berkerut sedikit lalu senyumnya terkembang.

“Apakah garis tanganku menyedihkan?” tanya Rachel sedikit khawatir.

“Tidak. Sama sekali tidak. Bagiku, garis tanganmu menyenangkan.” Peramal itu mengerling sembari tersenyum misterius. Rachel dapat melihat sepasang matanya yang sehijau zamrud itu begitu kontras dengan kulit wajahnya yang berwarna zaitun. Peramal yang cantik, bisik Rachel dalam hati.

“Terimakasih. Kau juga cantik, Gadis yang kesepian.”

Rachel berjengit kaget.

“Kau bisa membaca pikiranku? Darimana kau tahu aku sering kesepian?” tanya Rachel bertubi-tubi.

Peramal itu melemparkan senyum yang seakan berkata,  aku seorang peramal, yang membuat gadis itu tersipu telah bertanya hal yang konyol.

“Dulu aku pun kesepian. Tapi sekarang tidak lagi.” Telunjuk peramal itu mengarah pada sebuah rak kaca mungil yang penuh berisi boneka-boneka cantik. Bermata besar  dengan warna rambut dan kulit yang berbeda-beda.  Rachel memekik kecil karena riang.

“Ada satu yang cocok untukmu.” Si Peramal berdiri dan membuka lemari kaca lalu mengambil salah-satu dari boneka-boneka cantik itu.

“Bagaimana menurutmu?”

Rachel menatap boneka yang kini telah berpindah ke tangannya dengan takjub. Rambut boneka itu berwarna pirang gelap seperti warna rambutnya. Bola matanya yang bulat juga berwarna biru terang sama serupa matanya. Bahkan juga tarikan bibirnya. Boneka itu serupa dirinya! Rachel seolah tersihir oleh hasrat yang begitu besar untuk memiliki boneka itu.

“Aku ingin memilikinya,”ujar Rachel. Matanya tak lepas memandang wajah boneka itu.

“Jangan.” Peramal itu menyahut pendek.

“Aku mau.” Rachel bersikukuh. Suaranya terdengar berat.

“Kau akan menyesal. Dia akan merebut jiwamu.”

“AKU TAK PEDULI!” teriak Rachel melengking. Dan tiba-tiba saja musik pasar malam terdengar lebih nyaring. Percakapan dan gelak tawa menjadi lebih riuh. Rachel merasakan sekelilingnya berputar cepat dan semakin cepat. Udara menjadi terasa berat dan gadis itu merasakan tubuhnya terhisap oleh sesuatu yang sangat kuat. Semakin ke dalam. Ia tercekik dan tak kuasa melawan. Matanya terasa berkunang-kunang, pandangannya mengabur. Samar-samar ia mendengar suara peramal itu berkata,”Nona muda yang kesepian dan pemberontak, selalu mudah terperangkap.”

Rachel tak sanggup lagi menyahut. Tubuhnya lemas dan kesadarannya setipis benang. Matanya seperti dibebani batu berton-ton beratnya. Suara-suara kini terdengar menjauh semakin jauh. Gadis itu terjatuh lunglai dan boneka ditangannya terlepas. Ia dan boneka itu tergeletak berhadapan dan dilihatnya mata biru milik boneka itu berkedip!

Rachel terkesiap bangun. Matanya terbuka nyalang menatap langit-langit. Dahinya terasa lembab dan rambut panjangnya lengket oleh keringat dingin. Mimpinya semalam mengerikan sekali. Ia bahkan tak mengira bahwa semua yang ia alami ternyata hanya  sebuah mimpi buruk. Terlalu nyata dan hidup! Kicau burung yang ribut, suara Thomas  si tukang kebun yang bertengkar dengan Nana merebut kesadarannya dengan sempurna. Rachel duduk bersandar pada kepala ranjang untuk meraih segelas air putih yang mungkin bisa meredakan debar jantungnya. Ingatan gadis itu melayang pada kedipan boneka gipsi di mimpinya semalam. Kengerian kembali mencekik tenggorokan.  Segera diteguknya tandas isi gelas itu lalu  ia hembuskan nafas panjang sesudahnya. Mencoba mengusir ketakutan.

Tiba-tiba matanya menangkap warna kuning dari kelopak Daffodil di ujung bawah selimutnya. Wajah Rachel seketika memucat dan jantungnya seolah berhenti.

Sebuah ketukan di pintu dan tubuh besar milik Nana memasuki kamar Rachel.

“Selamat pagi, Kenapa kau begitu pucat seperti baru melihat hantu?”

Rachel menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak ada apa-apa, Nana. Sungguh,”  ujarnya berusaha meyakinkan Nana.

“Apa itu yang kau bawa?” Rachel menunjuk bungkusan besar berpita yang dibawa Nana.

“Oh, seorang kurir mengantarkannya untukmu pagi ini. Tapi aku tak mendengar dengan jelas nama pengirim yang diucapkannya. Bahkan kartu kecil si pengirim entah menyelip kemana.” Nana menggelengkan kepala dengan rupa prihatin.

Rachel membuka simpul pita bingkisan itu, membuka kotaknya dan jantungnya mencelos. Sedetik kemudian jeritannya  melengking terdengar ke penjuru rumah. Kotak bingkisan itu terlempar keras, dan isinya terguling di lantai.

Sebuah boneka berambut pirang gelap dan bermata biru mengedip padanya.

 

Credit:

http://www.vividscreen.info

Saat Cinta Butuh Tanda Seru

*Telah diterbitkan dalam Kumcer “Follower”

 

Julie  memainkan pena yang terjepit diantara jemari dengan gelisah. Sesekali ia mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung kuku. Matanya lekat menatap penanggalan yang digantung di dinding kamar. Lingkaran spidol merah menandai sebuah tanggal. 3 April. Tinggal tiga hari lagi, gumamnya risau. Mendadak ia merasa hawa di kamarnya terlalu hangat. Mungkin terbawa oleh suasana hatinya. Tangan gadis itu bergerak  cekatan menaikkan rambut ke atas tengkuk. Menyimpulnya menjadi sebuah cepol mungil. Membebaskan angin malam yang dingin menyentuh tengkuk sekaligus menenangkan hatinya.

Beberapa saat berlalu Julie tak jua melakukan sesuatu meski bisa dirasakan dadanya berdegup kencang. Ini barangkali hal paling gila yang pernah ia lakukan. Sejenak gadis itu memejamkan mata, mengatur nafas dan sedetik kemudian jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Mencoba bertarung dengan waktu dan mungkin juga takdir.

Sosok ramping itu tak henti mengajukan pertanyaan. Menuntut penjelasan detil dari orang yang ditanyainya. Sesekali mengangguk dan tersenyum puas mendengar jawaban-jawaban dari lawan bicaranya.

“Farah, beristirahatlah. Percayakan saja pesta pernikahanmu pada teamnya Mbak Sekar. Semua terkendali, kok. Mama juga kan ikut mengawasi.” Seorang perempuan paruh baya bertubuh subur  muncul menengahi.

Gadis yang dipanggil Farah itu tersenyum salah-tingkah.

“Iya, Ma. Maaf, bukannya Farah tidak percaya sama Mbak Sekar dan teman-teman. Farah nervous…,” ujarnya dengan pipi memerah.

Sekar tertawa renyah penuh pengertian. Profesi wedding organizer yang  ia geluti selama bertahun-tahun telah menempa kesabarannya. Sekar sangat piawai menyelami berbagai karakter klien. Termasuk yang detil dan perfeksionis seperti Farah.

Bunyi getar terdengar dari gadget Farah yang diletakkan di meja tamu. Getar yang kesekian kali. Nyaris dua jam lamanya sengaja Farah mengabaikan semua pesan dan notifikasi yang masuk.

“Sudah, masuk kamarmu sana, itu lihat gadgetmu dari tadi bergetar terus. Barangkali Awan mengirimkan pesan, mencarimu. Biar Mama yang antar Mbak Sekar ke luar. Mbak Sekar juga kudu istirahat. Capek, sedari tadi kamu interogasi.” Ibunya kini memberi perintah.

Farah mengangguk menurut. Meraih gadgetnya dan melemparkan senyum manis tanda terima kasih pada Sekar sebelum berlalu menuju kamar.

Di atas kasur, Farah berbaring menatap langit-langit kamar. Perasaannya kini bercampur aduk antara gugup, gelisah dan senang. Tiga hari lagi ia akan sah menjadi Ny. Farah Laksana. Istri dari Awan Laksana, lelaki yang dicintainya sepenuh hati. Bibirnya mengembang senyum.

Farah, perempuan muda yang mandiri, sedikit serius, cerdas dan memiliki karir yang cemerlang. Tipe yang tak mudah jatuh cinta. Namun hatinya luluh pada seorang musisi yang dikenalnya secara tak sengaja dari social media. Seorang teman kuliah men-tag dirinya pada poster sebuah perhelatan Jazz kecil-kecilan yang pada akhirnya dihadiri oleh Farah. Di pementasan musik yang dihadiri komunitas penggemar Jazz itulah ia berkenalan dengan Awan. Lelaki yang menurut Farah paling bertalenta yang pernah dikenalnya. Musisi sekaligus penggemar sastra. Kombinasi yang sanggup melelehkan hati perempuan di  mana saja.

Gadget Farah kembali bergetar. Sebuah Notifikasi  dari Facebook. Seseorang bernama Juliana Desma mengirimkan pesan.

Farah mengerutkan kening. Juliana Desma. Nama itu terdengar familiar. Buru-buru dibukanya pesan tadi.

Jadi, apa kau kini telah menjadi kekasihnya? Dan akan menjadi perempuannya juga?

Farah terhenyak membaca pesan yang begitu lugas itu. Segera ia menegakkan punggung dan meneruskan membaca

Apakah kalian benar-benar saling mencintai? Ah, Barangkali ini aneh. Aku hanya ingin memastikan, jangan sampai kisah kami yang pernah tumbuh, ternyata tetap berakar dan berkembang diam-diam pada halaman rumah kalian, kelak.

Farah menggigit bibir. Sebongkah rasa kini menyesakkan dadanya menimbulkan nyeri. Juliana Desma… Farah mengeja nama itu sekali lagi. Awan harus menjelaskan tentang ini!

“Halo, Awan? Kau sudah tidur?” Farah membuka percakapan dengan hati-hati.

“Hai, Sayang. Belum, aku belum tidur, masih recording. Kau juga belum tidur. Hati-hati, jangan sampai matamu berkantung karena kurang tidur. Kau membenci kantung mata, kan?” Suara Awan menggoda. Rasa hangat menelusup di relung hati Farah.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” ujar Farah perlahan. Ia sungguh tak ingin memulai pertengkaran.

“Tentu. Silahkan.”

“Juliana Desma. Siapa dia?” tanya Farah tanpa tedeng aling-aling.

Hening sejenak. Farah berdebar menanti jawaban dari Awan. Satu menit, dua menit menit… Farah mulai gelisah.

“Juliana Desma, itu Julie. Bukankah pernah kuceritakan tentangnya beberapa waktu lalu?” Awan menjawab sekaligus bertanya. Terdengar sedikit defensif di telinga Farah.

Julie? Farah mengerutkan kening mencoba memanggil kembali rekaman-rekaman percakapannya dengan Awan dari gudang memorinya.

“Julie kawanmu dari kecil? Kalian tumbuh dewasa bersama, saling jatuh cinta dan beberapa kali putus sambung sebagai kekasih. Julie yang itu?”

“Ya, Julie yang itu. Ada apa?”

“Emm…dia…,” Farah menggantung kalimatnya. Dia mengirimiku pesan di Facebook kendati kami tidak berteman. Dia bertanya seolah kalian berdua masih saling mencintai. Dia lancang sekali! Farah meneruskan kalimatnya bertubi-tubi dalam hati.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Farah sembari tersenyum. Mencoba menenangkan diri sendiri dan menutupi perasaannya yang berkecamuk.

“Hmmm, aku tak yakin kamu berkata jujur. Tapi, apapun itu, abaikan saja dia. Ok?!”

“Ya, akan kuturuti pesanmu. Aku tidur dulu, ya. Kau juga beristirahatlah. Besok lusa kau harus menikahiku. Jangan sampai telat karena ketiduran.”

“Hahaha. Tentu, Sayang. Mimpi indah, ya. Bye.”

Bye.”

Farah menatap layar telepon genggamnya. Menghela nafas berat sembari merebahkan tubuh kembali. Pikirannya masih terus berkecamuk. Julie dan Awan memang sangat dekat, dulu.  Bahkan  seingat Farah, saat bercerita tentang Julie beberapa waktu lalu, mata Awan terlihat berbinar. Tak heran jika kini Julie nekat menghubunginya. Mungkin gadis itu merasa masih memiliki Awan. Atau mungkin mereka masih memiliki perasaan yang dalam seperti yang dilukiskan Julie dalam pesannya? Sebuah suara mengusik pikirannya. Farah memeluk guling erat-erat, memejamkan mata mencoba tidur. Pelipisnya kini berdenyut-denyut terasa ingin meledak!

Rubicon yang dikendarai Awan membelah melaju jalanan yang tak juga sepi meski malam semakin larut. Kehidupan seolah tak pernah berhenti. Tak heran jika kini manusia menua lebih cepat. Penat namun enggan beristirahat.

Malam ini adalah malam midodareni. Awan baru  saja usai melaksanakan tugasnya berkunjung ke rumah Farah bersama beberapa kerabat ketika sebuah Direct Message masuk ke akun Twitternya.

Juliana Desma @Ma_Julie                                                                                                          3h

Hai. Aku pulang. Baru saja sampai. Tak ada orang di rumah. Tubuhku demam, bisakah kau datang ke mari?

Permintaan klise yang telah dikenali Awan bertahun-tahun sebagai rengekan manja bocah perempuan yang mencari perhatian. Namun entah darimana datangnya, sejak bertahun-tahun lalu pula, sebentuk rasa serupa sayang bercampur keinginan untuk melindungi muncul. Membuatnya lagi-lagi  selalu menuruti permintaan gadis itu.

Awan memarkir mobil di pekarangan sebuah rumah lama dengan arsitektur Belanda. Rumah yang sejak kecil sering dikunjunginya saat mereka masih bertetangga. Dua kali dentang bel, pintu bercat putih itu terbuka. Julie berdiri dihadapan Awan, memakai piyama tebal dan rambut yang tergerai acak-acakan. Wajahnya terlihat pucat.

“Hai,” Awan merengkuh gadis itu dalam pelukannya. “Astaga, badanmu panas sekali.” Serunya saat pipi Julie menyentuh lengannya.

“Kau pikir aku berbohong?!” sungut Julie sambil melepaskan diri dari pelukan Awan. Memberi jalan bagi lelaki itu memasuki rumah.

“Kau ini aneh, tentu saja tak ada orang di rumah. Rumah ini hanya di kunjungi keluarga abangmu saat akhir pekan. Dan kamu pasti tak menghubungi mereka, kan?”

Julie mengedikkan bahu dengan ekspresi tak peduli. “Apa yang kau bawa?” tanyanya melirik bungkusan plastik yang ditenteng Awan.

“Makanan dan obat. Aku tahu kebiasaanmu yang sembrono.”

Julie nyengir lebar,”Kau memang keren. Selalu bisa diandalkan. Aku pusing sekali.” Tubuhnya kini meringkuk di sofa.

Kilatan cahaya tiba-tiba menyambar, suara petir yang menggelegar menyusul kemudian. Awan segera menutup tirai jendela yang masih terbuka. “Sepertinya akan hujan deras malam ini, langit mendung sekali.”

“Awan, bermalamlah di sini.”

Awan duduk di samping Julie, menyodorkan segelas air dan pil antipiretik.

“Tidak bisa, aku harus pulang.”

“Karena kau besok akan menikah?” tanya Julie setelah menenggak obatnya. Raut wajahnya terlihat kecewa. “Kamu tahu kan, sejak kecil aku selalu takut sendirian saat hujan deras dengan petir dan kilat menyambar-nyambar.”

Awan tersenyum tak menjawab.

“Baiklah, kalau hal itu tak lagi penting buatmu. Nggak apa-apa. Pulanglah.” Nada suara Julie merajuk.

Awan tertawa. “Kau tak pernah berubah. Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini,” ujar lelaki itu sambil mengacak pelan poni Julie.

Berkilo-kilo meter jauhnya, Farah tertidur setelah kelelahan menangis. Bantalnya lembab oleh air mata. Selama berjam-jam berulangkali ia mencoba menghubungi Awan namun tak berhasil. Telepon genggamnya dimatikan.

Di akun Facebook Farah, lima jam yang lalu, sebuah pesan masuk dari Julie.

Tahukah kamu, jika aku merindukannya, aku akan datang padanya dan ia akan memelukku. Begitupun sebaliknya. Begitulah, cinta yang kami tumbuhkan dalam kesunyian dan bahkan tak kami sadari.

Ketegangan di rumah Farah berdenyut-denyut  melebur bersama partikel udara yang menyebar ke penjuru rumah. Pengantin pria datang terlambat. Dan kini berada bersama pengantin wanita di kamar yang dikunci dari dalam. Segala pantangan perias tak digubris. Sekar mondar-mandir dengan gelisah. Farah si pengantin wanita meledak, mengamuk.

Di dalam kamar, Farah duduk di depan meja rias dengan mata berkilat marah.

“Kau semalaman bersamanya, kan?”

Awan diam, menatap Farah lekat-lekat. ”Ya,” jawabnya pelan.

Farah menghembuskan nafas dengan kesal. Wajahnya mengeras.

“Tahukah kamu, apa yang ia kirimkan padaku pagi ini? Ini!” Farah melempar gadgetnya ke kasur. Awan meraih gadget itu dan membaca pesan  di akun Facebook Farah.

Seperti yang kukatakan padamu, pada akhirnya semalam kami bersama. Akan selalu begitu. Kami akan saling mencari dan tidak akan bisa saling melepaskan.

Awan menghela nafas.

“Sudah kukatakan padamu untuk mengabaikannya, kan?”

“Demi Tuhan, Awan! Aku mengabaikannya! Tapi dia menerorku terus menerus-menerus. Perempuan sakit itu yang menghubungiku pertama kali padahal kami sama sekali tidak saling mengenal apalagi berteman.” Ucapan Farah menderas bersama gelombang kemarahannya.

“Kenapa tak kau block saja?” tanya Awan tak mengerti.

“Kenapa harus di block?” Farah balik bertanya. “Agar aku tak pernah mengerti kisah kalian berdua. Agar aku tak menyadari kebohongan yang kamu lakukan, begitu?” suara gadis itu melengking tajam.

“Lalu, apa maumu sekarang?”

“Pergilah. Aku masih cukup waras untuk tidak terperangkap dalam kehidupan yang penuh teror dari seorang perempuan sakit jiwa.” tukas Farah ketus.

Awan menatap perempuan di hadapannya dalam-dalam.

“Baiklah, jika itu maumu.” Awan membalikkan punggung dan berlalu keluar kamar.

Farah terperangah. Tak menyangka Awan begitu saja menyerah dalam hubungan mereka. Bibirnya bergetar menahan tangis dan seketika sepasang matanya tergenang airmata. Julie, perempuan itu mungkin sakit jiwa, namun nyatanya ia telah kalah olehnya. Sungguh-sungguh kalah. Lutut Farah goyah, tubuhnya limbung. Gelap menyerkap kesadaran

“Aku tahu kau akan berada di sini.” Julie menghampiri Awan yang duduk mencangkung memeluk lutut memandang langit senja jingga. Bukit di pinggiran kota ini adalah tempat favorit mereka berdua. Tempat terbaik untuk menatap senja. Julie melirik beberapa kaleng bir yang berserakan di samping Awan.

“Mabuk?”

“Apa kau sudah puas?” tanya Awan tak menggubris pertanyaan Julie. Matanya tak lepas menatap bola raksasa kemerahan yang bergulir semakin ke barat. “Sebenarnya apa maumu?”

“Entahlah. Menegaskan rasa, barangkali. Jiwa kita saling bertautan, kau tahu itu.” Julie kini ikut duduk di sebelah Awan.

“Aku tahu. Jiwa kita bertautan, lalu kau berontak tanpa sebab dan memilih menjauh. Datang lagi, kemudian menjauh lagi. Tidakkah kau lelah? Karena kau tahu, aku lelah. Jadi mulai sekarang, menjauhlah sejauh mungkin dari kehidupanku.”

Julie menoleh, “Kamu ingin aku pergi? Sungguh itu keinginanmu?”

Awan memalingkan tatapannya. Ditatapnya sepasang mata berbentuk badam milik Julie lekat-lekat.

“Ya, Aku ingin kau pergi,” tegasnya penuh kesungguhan.

Julie menghela nafas. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi. Ini undangan untukmu.” Gadis itu menyodorkan undangan berwarna krem keemasan. Awan mengerutkan kening tak mengerti.

“Seminggu lagi aku akan menikah.”

What?! Seminggu lagi menikah dan kamu melakukan semua kekacauan ini ? Astaga Julie… Kau sudah gila!” Awan menepuk keningnya dengan kesal. Tak paham dengan jalan pikiran gadis itu.

“Kau boleh menganggap aku gila. Silahkan bermain dengan pikiranmu. Tapi ini adalah hal yang paling benar yang pernah kulakukan seumur hidupku.” Julie berujar tenang. Ia bangkit dari duduk dan menepis rumput yang menempel di celana jeansnya.

“ Karena cinta tumbuh dengan berbagai pertanyaan, Awan, terkadang kita butuh tanda seru untuk menegaskannya. Kau telah sungguh memintaku pergi. Maka aku pergi.” Julie berbalik dan berlalu pergi.

Awan terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu. Lidahnya terlalu kelu untuk memanggil nama Julie meski hatinya teramat ingin. Nanar ditatapnya punggung gadis itu yang semakin menjauh lalu hilang. Menjelma asing yang sunyi.

“Diantara kita, Julie, selalu ada yang memanggul tawa dan menghela luka. Satu demi satu.” Awan berbisik, lelah. Angin merepihkan ucapannya ke penjuru sebagai penanda usainya sebuah kisah milik sepasang anak manusia.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/C9DBABA6EC

 

 

Tapih Uma

Ruang tamu ini tak pernah berubah. Bahkan letak kursi pun tak ada yang bergeser apa lagi tertukar. Gambar ulama besar Syekh Al Banjari bersanding dengan poster Masjidil Haram beserta Ka’bahnya. Keduanya berlapis kaca dan berpigura untuk menjaganya dari debu dan waktu. Ya, waktu seolah berhenti di rumah ini. Jika rumah-rumah panggung kayu ulin di kanan kiri perlahan-lahan mulai berlapis keramik pada dindingnya, maka rumah Abah dan Umaku ini setia pada bentuknya. Hanya catnya yang sesekali berubah warna.
Lima tahun yang lalu pernah aku berniat ingin merenovasinya. Tapi uma menolak, katanya, “Rumah kita ini Husen, berdiri di atas rawa. Cuma kayu ulin yang sanggup menahan rawa. Untuk apa kau buat semakin bagus, mun kena rubuh jua 1). Kayu ulin ini yang paling cocok sudah.” Kekuatan kayu ulin pun menjelma di sendi-sendi rumah kami. Semakin tua namun semakin kokoh.

“Kak, tehnya,” ucapan Galuh membuyarkan lamunanku. Secangkir teh hangat beraroma frambosen khas teh dari Banjar beserta sepiring sanggar yang masih mengepul asapnya dihidangkan di meja tamu. Anakku Laika hendak mencomotnya.

“Hati-hati panas!” seruku. Terlambat, gadis kecilku itu sudah mengibaskan jari-jarinya yang perih kepanasan. Sanggar yang dicomotnya menggelinding ke lantai. Galuh dengan cepat memungutnya,”Acil2) potong-potong di piring kecil ya, supaya Laika bisa memakannya.”

“Jangan Galuh!”tangan istriku tiba-tiba menarik lengan Galuh dan menahan langkahnya. Galuh dan aku menatapnya heran. Marsha buru-buru melepaskan cekalannya,”Jangan dimakan lagi. Kan sudah jatuh, nanti kotor.”
Galuh tersenyum patuh, “Baik Kak.”

“Rumah ini sama sekali tak sehat. Lembab sekali.” Pandangan Marsha menelusuri seluruh ruangan. Menembus ke ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang utama sekaligus kamar.
Aku menghela napas.

”Bagaimana tak lembab, tanah di kolong rumah ini berbentuk rawa. Itu sebabnya udara di luar terkadang berbau kurang sedap.”
“Tapi rumah Kai dan Nenek ini wangi, Ayah,”sergah Laika. Bola matanya yang bulat membesar. Aku tersenyum dan mengangguk mengiakan. “Rumah Kai3) dan Nenek ini memang wangi.”

Rumah orangtuaku wangi kesturi. Wangi kesturi lembut yang segera tercium begitu kaki menjejak masuk ke dalam rumah. Wangi ini seperti kabut tipis yang menyelimuti penjuru rumah. Ia seolah menahan bau tak sedap dari luar. Selama ini kupikir wangi ini berasal dari tubuh Uma4). Sewaktu kanak-kanak aku kerap menelusup ke dalam pelukan Uma dan kucium wangi yang sama, entah dari tubuhnya atau kebaya yang dikenakannya. Namun ternyata setelah Uma telah berpulang menyusul Abah5) dua tahun yang lalu pun, rumah kami masih tetap wangi. Entah dari mana sumbernya.

“ Aku tak menyangka Uma memiliki banyak kebaya cantik dan kain kuno,” Marsha bersimpuh di lantai. Wajahnya kelihatan berseri bungah. Dihadapannya bertumpuk pakaian dan kebaya-kebaya milik Uma. Lemari jati milik Uma terbuka lebar, rak-raknya separuh melompong. Sebagian isinya berserakan di lantai.

“Kami sedang memilah-milah isi lemari Uma, Kak. Barangkali ada yang bisa disumbangkan ke bubuhan6) daripada lapuk di dalam lemari,” Galuh menjawab tatapan heranku. Tangannya cekatan memilah pakaian dan melipatnya kembali.

“Apa ini Galuh?” Marsha memegang bungkusan kain kuning. “Aku menemukannya di pojok itu,” tangannya menunjuk sudut dalam rak paling bawah lemari Uma. Galuh bangkit dari duduknya, aku mendekat menghampiri Marsha dan mengambil bungkusan itu. Kuletakkan di atas kasur dan kubuka dengan hati-hati lipatan kain kuning tersebut. Galuh dan Marsha berdiri di samping kanan dan kiriku. Wangi kesturi menyergap penciuman begitu lipatan pertama terbuka. Dan semakin tajam saat bungkusan kain kuning itu semakin terbuka. Sebuah Tapih7) Sasirangan bermotif Naga Balimbur Laki Bini8) berwarna kuning gading terlipat rapi di dalamnya. Wangi tajam kesturi bercampur aroma asing dari masa lalu menguar darinya.

Marsha masih mengelus-elus Tapih Sasirangan yang kini terhampar di kasur tempat tidur. Ia sengaja menghamparnya setelah nyaris sepuluh menit berkeluh-kesah menyayangkan lipatan yang membekas mungkin berpuluh tahun lamanya. Istriku penyuka kain-kain kuno. Matanya yang awas dan terlatih mengenali Kain Sasirangan itu berbeda dengan kain sejenis yang banyak dijual di toko-toko cenderamata.

“Ini kain kuno, Mas. Motifnya sungguh-sungguh dibuat, bukan menggunakan cap. Bahkan pewarnanya pun berbeda,” jemarinya menelusuri permukaan kain dengan hati-hati.

“Wangi sekali,” Wajahnya menunduk menikmati harum yang menguar dari pori-pori kain. “Kainnya pun tak lapuk. Bagaimana bisa ya?” gumamnya berbicara pada diri sendiri.“Aku ingin membawanya ke Jakarta, Mas.”Putusnya tiba-tiba. “Aku akan merawatnya dengan baik. Sayang kalau kain secantik ini tidak mendapat perlakuan istimewa.”

Aku tak menjawab. Sibuk menimang-nimang Laika. Bocah berusia lima tahun itu meringkuk di pangkuanku serupa anak kucing yang manis. Dengkurnya halus seiring nafas yang teratur naik-turun.

“Maaf, Kak. Kalau boleh ulun bepadah9). Kain itu jangan dibawa ke Jakarta. Biarlah dia disini, disimpan sebagai pusaka kuitan.” Adik angkatku itu tiba-tiba bersuara dari biliknya. Rumah kami memang tak memiliki kamar. Tempat tidur berada di sudut bersebarangan di ruang tengah. Tertutup oleh pembatas tinggi namun bisa dilipat yang terbuat dari kayu.

Tak lama sosoknya yang masih mengenakan mukena itu keluar. Dari pembatas bilikku terbuka nampak Marsha masih duduk di atas tempat tidur sembari mengelus-elus Tapih Sasirangan tadi.

“Di rumah ada ruangan khusus yang suhu ruangannya sengaja diatur agar kain-kain kuno tidak mudah rusak. Aku akan menggantungnya bersama kain-kain koleksiku yang lain, Galuh.”

“Ulun paham, Kak. Tapi Tapih ini bukan kain kuno biasa. Ini pusaka, Kak. Mungkin datuk atau nini10) kita telah menyimpannya berpuluh atau bahkan beratus tahun lalu.” Suara Galuh lembut membujuk.

Sejak pertama kali ia datang ke rumah ini, saat usianya masih lima tahun, perangai Galuh memang lemah-lembut. Tak pernah terdengar suaranya berucap nyaring, tajam apalagi kasar. Aku tak pernah mengetahui asal Galuh. Yang kuingat pada suatu senja, Uma pulang setelah tiga hari berpamitan hendak ke hulu. Abah bilang, Uma menengok kerabatnya di sana. Uma kembali ke rumah dan menggandeng anak perempuan kecil berusia kurang lebih lima tahun, seusia Laika anakku saat ini. Anak perempuan yang berwajah mungil dengan kulit kuning cerah. Abah mengangguk tersenyum saat Uma meminta ijin agar anak perempuan itu bisa tinggal bersama kami. Uma memanggilnya, Galuh. Setelah dewasa pernah sekali terlintas di pikiranku, kerabat mana yang ditengok Uma di Tanah Hulu waktu itu? Sebab setahuku, Uma berasal dari Banten. Lagipula keluarga besar Abah semua berkumpul di Banjarmasin. Hanya Abah seorang yang merantau di kota ini.

“Jadi, aku sungguh tak bisa membawanya ke Jakarta, Galuh?” Marsha mengeluh pelan. Ekspresinya terlihat sangat berat. Jatuh cinta sepertinya ia pada Tapih Sasirangan itu. Galuh tersenyum tak menjawab. Dalam hati aku berdoa semoga salah-satu dari mereka ada yang mengalah. Aku sangat memahami ‘kegilaan’ Marsha pada kain-kain kuno. Namun di sisi lain aku pun mengerti alasan yang dikemukakan Galuh. Dan berdiri di antara kepentingan istri dan adik perempuanku adalah hal terakhir yang kuinginkan dalam hidup ini.

Tiba-tiba Laika mengeluh pelan , “Haus, Yah.” Aku memperbaiki posisiku memangku dan kurasakan tubuhnya menghangat. “Sepertinya Laika demam.”

Marsha mendekat dan menempelkan tangannya ke kening Laika. “Ya ampun panas sekali. Apa kau tak merasakannya dari tadi, Mas?” ujarnya panik. Tangannya meraih Laika ke dalam gendongannya. Galuh mendekat dan menyentuh lengan anakku. “Ini panas kak, bukan sekedar demam.”

“Kenapa pian suruh tidur Laika wayah surup kayaini11), Kak?” tegurnya padaku sambil menuang segelas air putih untuk Laika minum.
“Aku menjaganya. Dia ada dalam pelukanku.” Aku membela diri.
“Tetap saja…,”ujar Galuh lembut namun tak bisa menyembunyikan nada menyalahkan dalam suaranya.

Kutatap kedua perempuan yang kini mendadak sibuk memperhatikan Laika. Aku menarik nafas lega. Untuk sementara Tapih Sasirangan itu terlupakan.

Ini hari keempat demam Laika. Suhu tubuhnya tak bergeser turun dari 39 dan 40 derajat Celsius. Aku sudah membawanya ke dokter namun tak ada obat penurun panas yang mempan. Hasil cek darahnya tak menjelaskan apapun. Marsha semakin senewen dari hari ke hari. Ia meminta kami segera kembali ke Jakarta. Aku menolaknya. Sungguh beresiko membawa Laika yang panas tinggi dalam perjalanan darat Samarinda-Balikpapan lalu menyambung perjalanan udara ke Jakarta. Mesti bersungut-sungut, Marsha akhirnya sependapat denganku. Namun bibir tipisnya menjadi sering mengeluhkan banyak hal tentang rumahku. Tentang ventilasi udara yang tak lancar, udara yang lembab, bahkan alat-alat makan yang menurutnya kurang higienis. Tak jarang kulihat Galuh menggigit bibir bawahnya dengan rupa serba salah.

Aku dan Marsha tengah menunggui Laika yang tidur dengan gelisah ketika Galuh mengetuk pembatas kayu.
“Masuklah,” kataku pada Galuh.
Galuh mendekat ke ranjang kami.
“Kak, mungkin kita harus mencoba Tapih Sasirangan itu untuk menyembuhkan Laika,” ujar adikku itu takut-takut.
“Heh?”
“iya, Kak. Barangkali Laika kapidaraan maka tubuhnya mariap dingin seperti itu. Tadi tiba-tiba saja ulun teringat uma pernah berkisah tentang Tapih Sasirangan yang pada jaman dahulu bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit.”
“Tapi itu kan dulu, Galuh. Mana mungkin sekarang Tapih Sasirangan itu masih memiliki kekuatan seperti itu,”tukasku.
“Kenapa tidak, Mas? Bukankah energi itu melampaui batas tempat dan waktu. Kita coba saja, toh tidak ada ruginya.” Marsha tiba-tiba menimpali pembicaraanku dan Galuh. Yang langsung disambut dengan anggukan penuh semangat gadis itu.

Aku mengerutkan kening kenapa Marsha tiba-tiba begitu bersemangat, apa kecemasannya sebagai ibu meluruhkan akal sehatnya? Aku menatap wajah dua perempuan di hadapanku yang menatap dengan rupa penuh harap. Kutarik nafas panjang, “Baiklah. Mana tapih itu?”
Galuh tersenyum lebar penuh kelegaan. Marsha tampak gelisah.
“Mmm, Tapih Sasirangannya aku simpan dalam koperku,” Marsha menjawab malu-malu.
“Ya ampun, Marsha!”
“Tolong disiapkan ya, Kak. Biar kuambilkan segelas air putih dulu untuk menawari.”Galuh menengahi lalu beranjak ke dapur.

Kini kami bertiga berkumpul di tepi ranjang, Galuh duduk di samping Laika yang tengah tidur dengan gelisah. Tangan adikku itu memegang segelas air putih. Sempat kulihat bibirnya bergerak-gerak pelan seolah melafalkan sesuatu. Entah apa. Lalu ia membangunkan anakku,”Laika, minum dulu ya Nak, supaya tenggorokanmu tidak kering,”ujarnya lembut. Laika membuka matanya perlahan, Marsha membantunya mengangkat kepala, meminum air yang disorongkan Galuh kepadanya. “Bismillahirrohmanirrohiim…,” bisik Galuh saat bibir Laika menyentuh pinggiran gelas.
Laika kembali tidur. Hati-hati Galuh menyelimuti tubuh mungil anakku dengan Tapih Sasirangan milik Uma. Gerakannya sungguh takzim seakan dia sungguh seorang pananamba12). Kemudian ia kembali duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya memegang tasbih batu kecubung yang kukenali sebagai milik Abah.
“Kak, kalau pian handak guring13) pakai saja dulu ranjangku. Biar aku dan Kak Marsha yang menunggui Laika di sini.”
“Sudah, aku di sini saja. Aku juga ingin menunggui anakku,”ujarku sembari duduk di lantai kayu menyelonjorkan kaki.
Galuh dan Marsha tersenyum mendengar jawabanku.
Menit demi menit berlalu menjadi jam. Galuh tak henti mendaraskan Shalawat Nabi dari bibirnya. Tasbih kecubung milik Abah terus berputar di tangan kanannya. Marsha beberapa kali mengukur suhu Laika. Dari senyum dan gurat kelegaan di wajahnya, aku tahu suhu badan Laika mulai menurun. Dalam hati kupanjatkan syukur pada Pemberi Kehidupan. Suhu tubuh Laika telah stabil dua jam terakhir. Menjelang shubuh, Galuh bangkit dari duduknya, aku dan Marsha mengikuti. Dengan gerakan yang sama takzimnya, Galuh melipat kembali Tapih Sasirangan yang tadinya menyelimuti tubuh Laika.

Tiba-tiba Laika terbangun. Senyumnya lebar dan matanya berbinar, “Tadi malam Nenek menemani Laika. Ada Kai, Datuk, Nini… semua menemani Laika,”celotehnya riang. Aku, Marsha dan Galuh sontak berpandangan satu sama lain.
“Mmm…, Ayah, sebelum Nenek pulang ia ingin mengatakan sesuatu,”
Mata Laika terpejam lalu terbuka kembali sedetik kemudian. Ia bangun lalu duduk dengan punggung tegak. Raut wajahnya berubah. Ia Laika namun bukan Laika. Lengan kanan dan kiriku dicengkram kuat oleh Marsha dan Galuh. Kami bertiga terpaku tak bergerak menatap Laika. Sorot matanya melembut, dan suaranya pelan berkata,”Jangan dibawa kainku keluar, diandak di sini haja, Nak ai.” 14)

Suara Uma!


Keterangan:
1. Mun kena rubuh jua : Kalau nantinya malah rubuh.
2. Acil : Bibi/tante
3. Kai : Kakek
4. Uma : Ibu
5. Abah : Ayah
6. Bubuhan : Kerabat
7. Tapih : Kain
8. Sasirangan : Nama kain khas Banjar
9. Ulun Bepadah : Saya berkata
10. Datuk-Nini : Kakek Nenek
11. Wayah surup kayaini : Saat senja seperti ini
12. Pananamba : Penyembuh
13. Pian handak guring : Kalau anda ingin tidur
14. Jangan dibawa kainku keluar, diandak di sini haja, Nak ai : Jangan dibawa kainku keluar. Simpan di sini saja, Nak.

https://stocksnap.io/photo/E6A55845C9