Rikam Utan Along

Gong mulai dibunyikan, berpasang mata kini terpaku ke panggung sederhana. Menanti dara yang perlahan-lahan melenggang mengikuti irama gong. Rikam meliukkan pinggulnya lembut dan anggun. Selangkah demi selangkah mendekati gong  berukuran sedang yang diletakkan di tengah panggung. Rangkaian Bulu-bulu Enggang terjepit di sela jemarinya.Tangan gadis itu seakan bersayap pada ujungnya. Sepasang mata kelam di antara penonton diam-diam merekam setiap gerakan gadis itu dari balik lensa kamera.

Suara Gong terakhir menandai usainya Tari Kancet Ledo*. Rikam merapikan rangkaian Bulu Enggang yang tadi dipakainya lalu beranjak meninggalkan panggung menuju ke Lamin *. David menjejeri langkah gadis belia itu.

“Pemuda itu tak lepas memandangimu sedari tadi,” David membuka percakapan. Rikam tak menyahut. Hanya mengedikkan bahunya sekilas.

“Kapan rombongan fotografer dari  Jakarta itu akan pulang?” Suara pemuda itu terdengar sedikit gusar.

“Mana aku tahu. Lagipula apa salahnya ia memandangiku. Kami menari untuk mereka tonton, kan?”

“Tapi sudah lima hari ini yang dia lihat hanya kamu, Rikam! Ia mengikutimu kemana saja seperti anak kucing. Memotret setiap gerak-gerikmu dari pagi sampai senja. Semacam tak ada lagi gadis lain di kampung ini!” Suara David meninggi. Langkah Rikam seketika terhenti di undakan pertama Lamin.

“Apa sekarang kau hendak bilang, kau sedang cemburu, David?” Sepasang mata badam itu menyorot tajam. Suaranya dingin menyengat. David tercekat tak menjawab.

Rikam membalikkan tubuh meneruskan langkahnya menaiki tangga Lamin. Di kejauhan, riuh bilah bambu Penari Pampaga* menandai akhir pertunjukan seni  di Desa Wisata hari ini.

Bram memperhatikan satu demi satu slide foto Gadis Dayak yang menjadi obyek di sebagian besar fotonya. Mata sipit gadis itu menghilang saat tertawa, juga dekik lesung pipinya yang dalam saat tersenyum malu-malu.

“Hati-hati Bram, gadis itu sudah ada yang punya,” ujar Reno dengan suara bassnya. Bram tersentak kaget. Lamunannya buyar.

“Sialan. Merusak suasana saja kamu.”

Reno terkekeh, sembari membaringkan tubuhnya di kasur.

“Aku serius. Jangan bermain-bermain dengan Gadis Dayak. Kecuali kau ingin pulang tinggal nama.”

“Kalau  begitu, tak perlu pulang sekalian,” balas Bram santai.

Reno memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Bram.

“Lalu bagaimana dengan Maya, Natasha, Rima dan satu lagi Gadis Arab itu, siapa namanya? Kau suruh aku mengatakan apa pada mereka? Bram tak pulang ke Jakarta. Tergila-gila ia pada gadis di Kampung Dayak yang ditemuinya selama seminggu. Begitu? Bah! Kau ini…,”

Sebuah bantal  melayang ke arah Bram yang segera ditangkis oleh pemuda itu.

“Apa salahnya kalau aku menetap disini?” ujar Bram kembali acuh tak acuh. Matanya menekuri editan foto Rikam di laptopnya.

“Tak ada salahmu. Selain menyukai seorang gadis yang telah ditunangkan dengan putra kepala adat desa ini. Itu saja. Sederhana tapi cukup kuat untuk menebaskan sebilah Mandau*.”

Bram mengangkat wajahnya. Reno menatapnya serius.

“Bukan ke lehermu tentu saja. Tapi cukup ke batang pisang yang telah dimantrai. Sekali tebas, habislah dirimu.”

Suasana hening beberapa detik.

“Gosip.” Bram menjawab pendek tak peduli.

“Keras kepala,” sahut Reno kesal.

Rikam  menatap pada bangunan mess khusus tamu di kejauhan dari jendela biliknya yang terbuka. Angin malam yang dingin memucatkan kulit wajahnya yang putih.  Seseorang menyibakkan tirai  pembatas bilik.

“Rikam,” suara ibunya memanggil. Lebih mirip bisikan daripada panggilan.

Rikam menutup jendela dan membalikkan tubuh.  Bersimpuh di lantai Lamin bersisian sangat dekat dengan ibunya. Mereka harus melakukannya jika tidak ingin angin mengabarkan pembicaraan pada seluruh penghuni Lamin. Dinding Lamin ini bertelinga. Nyaris tak ada pembicaraan yang berhasil dirahasiakan di sini.

“Seminggu lagi pesta panen, Nak,” Perempuan tua bertelinga panjang diberati anting-anting logam itu berkata lirih. Asei, satu dari beberapa perempuan tersisa yang masih meneruskan tradisi telinga panjang di kampungnya, menggenggam tangan putri bungsunya. Rikam mengangguk, pandangannya menunduk tertumbuk lengan keriput  ibunya yang dipenuhi rangkaian tato bermotif tanduk.  Serupa motif ukiran di tiang Lamin mereka.

“Berhati-hatilah. Jaga sikapmu pada Pemuda Jawa itu.”

Rikam mengangkat wajahnya, “Ibu tahu?”

Asei terkekeh pelan menertawai pikiran naïf putrinya. Meludah sebentar pada kaleng pengganti tempolong. Bibir keriputnya menyirih jingga.

“Rikam, kau anakku yang ke sepuluh. Lahir setelah hampir lima belas tahun dari kelahiran kakak laki-lakimu, Jantur. Ibu sudah setua itu ketika kau lahir. Kelahiran yang teramat sulit.”  Mata Asei yang mulai abu-abu karena rabun menerawang.

Rikam menyimak penuh perhatian. Kisah kelahiran yang berpuluh bahkan mungkin beratus kali telah ia dengar. Namun Asei tak hanya seorang ibu, ia juga wanita bijak dari Lamin mereka. Rikam dengan takzim mendengar kisah itu lagi. Serupa kaset yang terus diputar ulang di telinganya.

Kisah kelahirannya melegenda di Lamin mereka. Tentang ibunya yang tiga hari tiga malam tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir setelah melahirkan Rikam. Juga dirinya yang enggan menangis. Bertahan dengan tarikan nafas satu-satu yang lemah. Berdua mereka dibaringkan di tengah Lamin dalam upacara pengobatan yang dipimpin seorang Dayung*. Tepat saat Dayung tua hendak berucap Sio diman menyat tolong lait nyengau*, Luhung , putra bungsu Amai Pebulung* yang masih balita tiba-tiba berlari ke tengah lingkaran dan menyentuh pipi Rikam. Dan sontak dirinya menangis keras. Gong segera ditabuh dengan riuh menyamarkan tangis pertamanya. Agar binatang-binatang hutan tak mendengar tangisannya dan selamatlah hidup Rikam dari bala seumur hidup.  Entah karena pekikan tangisnya atau karena keriuhan gong yang ditabuhkan, ibunya turut siuman. Lamin geger. Ayah Rikam tersungkur sesenggukan penuh syukur.  Mata tua milik Dayung berkaca-kaca. Bahkan Amai Pebulung pun tak sanggup berucap sepatah kata. Menyaksikan Luhung, putranya duduk bersila mengusap-usap pipi Rikam yang masih terus menangis. Sejak malam itu, langit telah menentukan. Rikam adalah milik Luhung. Selamanya.

Rikam tekun menunduk mendengarkan Asei terus bercerita seolah memberikan penguatan bagi kegelisahan putrinya. Beberapa tahun lalu, Rikam masih mendengarkan kisah ini dengan hati berdebar dan mata berbinar. Menanti kepulangan Luhung yang meneruskan sekolahnya di Samarinda. Gelisah dan debar dara belasan tahun menanti kekasih hati yang telah ditetapkan langit untuknya.

Lalu awal tahun lalu, Luhung pulang. Membawa ijazah bertuliskan nama David Nigau. Nama baru Luhung. Amai Pebulung tak berkomentar apapun. Asalkan Luhung pulang dan bersedia meneruskan tradisi, itu lebih dari cukup. Kemajuan jaman menghilangkan pemuda suku mereka satu demi satu. Membuat mereka tersesat, lupa jalan pulang ke kampung. Luhung atau David, pemuda itu tetaplah putranya.

Rikam menyambut kepulangan Luhung dengan suka cita. Memanggilnya dengan nama baru seperti yang diinginkan pemuda itu. Semua terasa manis bagi Rikam, ia percaya sepenuhnya langit telah menjodohkan mereka berdua. Hingga pada malam yang meriah seusai pesta panen tahun lalu, David bercerita tentang Grace. Gadis Manado teman kuliah yang dicintainya.

Malam itu sape*  dipetik mengiringi ngendau*. Riuh gelak tawa pemuda-pemudi dari halaman Lamin. Di biliknya, Rikam menangis sendirian. Meratapi hatinya.

Tak seorangpun di Lamin mengetahui kisah tentang Grace. Aku akan tetap menikah denganmu, janji David malam itu. Rikam ingin meludah mendengarnya. Apa artinya hidup bersama seorang lelaki yang tak pernah mencintai dirinya? Apa maksud lelaki itu bercerita tentang perempuan lain di hadapannya?

Rikam tak pernah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hanya kesadaran yang membuka mata hatinya bahwa ia tak dicintai. Sikapnya berubah dingin pada David meski pemuda itu selalu bersikap baik pada Rikam. Beberapa kali  Jantur, kakaknya menegur sikapnya. Namun Rikam enggan bercerita apalagi membela diri. Ia lebih suka berkutat dalam diam.

Kemudian Amai Pebulung mengabarkan serombongan tamu dari  Jakarta yang akan datang menginap di desa mereka yang kini berjuluk Desa Wisata. Rombongan fotografer dan jurnalis perjalanan  dari dalam dan luar negeri. Mereka akan menginap seminggu meliput kehidupan Masyarakat Dayak. Saat itulah Rikam mengenal Bram.

Awalnya Rikam terganggu dengan tingkah pemuda itu yang mengikutinya kemanapun ia pergi. Merekam setiap gerak-geriknya. Namun lambat-laun Rikam merasa tersanjung. Ada banyak gadis cantik di desanya, Nilam, Tunjung, juga Kori. Tapi Bram hanya memilih dirinya.

“Kenapa mengikutiku terus?” tanyanya suatu pagi. Mereka berjalan bersisian hendak menyisir ladang mencari akar-akaran.

“Kenapa kau mau kuikuti?” Bram balik bertanya. Rikam meliriknya, kesal.

“Aku sudah bertunangan.”

“Aku tahu. Sayang sekali.”

“Sayang sekali?” Rikam menaikkan sebelah alisnya. Tak mengerti.

“Iya. Sayang sekali matamu tak menyiratkan kebahagiaan itu. Kau mau menikah atau mau bunuh diri, sih? Berat sekali nampaknya.”

Rikam tercekat. Ia menoleh memandang lelaki yang sibuk memotret di sebelahnya.

“Sejelas itukah?” suara Rikam pelan.

“Sejelas itu. Ingat,  aku menatapmu setiap saat dengan ini,”Bram mengangkat kamera yang terkalung di lehernya. “Tak sekalipun matamu bercahaya. Coba tersenyum,” Bram memberi perintah.

Rikam menarik sudut bibirnya sedikit.

“Sedikit lagi. Lebih lebar, kau sedang tersenyum, bukan hendak buang angin, kan?”

Rikam tergelak. Bram dengan gesit membidiknya dengan kamera. Hari itu membawa kehangatan bagi hati Rikam. Begitu pun hari-hari selanjutnya.

“Rikam,” seraut wajah menyembul dari balik tirai bilik. Asei dan Rikam menoleh bersamaan.

“David mencarimu.” Kori menatapnya dengan pandangan menggoda. Rikam menghela nafas. Asei menggenggam tangannya.

“Temuilah sebentar, mungkin ada yang hendak ia bicarakan.”

Rikam mengangguk lalu beringsut keluar menuju tangga Lamin tempat David menunggu seperti yang dikabarkan Kori.

David dan Rikam duduk bersisian dalam hening. Suara jangkrik nyaring memecah malam. Sementara Rikam menerawang menatap lampu mess tamu di kejauhan, menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Bram di sana.

“Rikam, seminggu lagi pesta panen digelar.”David membuka percakapan.  Rikam mengangguk. Ucapan David persis seperti perkataan ibunya. Seperti sengaja mengingatkan bahwa tiga hari setelah pesta panen mereka akan menikah.

“Maafkan aku. Mengenai Grace, seharusnya aku tak menceritakannya padamu. Saat itu aku hanya ingin bersikap jujur.” David meremas tangannya sendiri dengan gelisah.

“Kau mencintai Grace. Aku menyukai Bram. Lalu masihkah kita harus menikah?” Rikam menatap David lurus-lurus. David tak menjawab. Benaknya dipenuhi wajah Grace yang terus mengisi mimpinya setiap malam. Ia berusaha melupakan gadis itu namun tak berhasil hingga detik ini.

“Aku tak ingin menikah denganmu!” sergah Rikam tajam. Teringat ia akan Bram.

“Aku tahu. Tapi langit telah menetapkan kita, Rikam. Kau pikir aku suka kembali kemari, menghidupkan Lamin, menyalakan tradisi yang hampir lenyap ini?” David membalas tatapan Rikam dengan tajam.

“Dunia di luar begitu luas, Rikam. Aku ingin terbang menghampirinya. Tapi aku tak bisa. Kakiku tertancap di sini. Pada akarku aku harus pulang. Dan hanya denganmu, Rikam, aku bisa membagi beban ini. Mengertikah kau?”sorot mata David melunak.

Wajah Rikam memerah menahan tangis. Tenggorokannya tercekat.

“Lalu kehidupan  seperti apa yang akan kita jalani, David?”suara Rikam tersendat isak yang mulai mendesak keluar.

“Entahlah Rikam. Aku tak bisa menjanjikan. Namun ada yang lebih kuat daripada hidup itu sendiri. Ialah takdir. Percayalah Rikam, akulah takdirmu dan kamulah takdirku.”

Tangis Rikam pecah.

Hari ini rombongan tamu dari Jakarta akan pulang. Rikam melenggok di panggung diiringi sape dan nyanyian Leleng Utan Along*. Tak pernah sekalipun Leleng ditarikan sendirian, tapi David berhasil membujuk Amai Pebulung untuk mengijinkan Rikam menarikannya sendirian seperti permintaan gadis itu. Rikam berputar terhanyut suara penyanyi yang merintih melukiskan kepedihan Utan Along*.

Leleng … leleng  Utan Along

Leleng… leleng Utan Along… leleng…

Airmata perlahan turun membasahi pipi Rikam. Gadis itu berputar. Berputar dan terus berputar. Siang itu,  Rikam menjelma  Utan Along.

***

Keterangan:

*Kancet Ledo : Tari Gong. Tarian yang melukiskan keindahan batang padi yang tertiup angin. Ditarikan di atas gong.
*Lamin : Rumah Panjang. Rumah adat Suku Dayak.
*Pampaga : Tarian muda-mudi Suku Dayak yang menggunakan bilah bambu.
*Mandau : Senjata khas Suku Dayak. Terbuat dari bijih besi. Ujungnya beracun. Pegangannya berhias ukiran dan rambut manusia.
*Dayung : Dukun pemimpin upacara untuk penyembuhan.

* Sio diman menyat tolong  lait nyengau

: Mantra penyembuhan. Artinya kurang lebih, Tolong berikan air yang dapat menyembuhkan.
*Amai Pebulung : Kepala adat.
*Sape/Sampe : Alat musik petik khas Dayak
*Ngendau : Nyanyian berbalas-balasan muda-mudi Dayak
*Leleng  Utan Along : Lagu untuk mengiringi Tari Leleng. Ditarikan berkelompok, menceritakan kisah kesedihan Utan Along.
*Utan Along : Nama seorang gadis yang dipaksa menikah dengan lelaki yang tak disukainya. Lari ke tengah hutan. Dan menari berputar-putar di tengah hujan sembari menangis.

 

 

Advertisements

Pertanda

Rayun mempercepat langkahnya menyusuri setapak kecil di pinggir hutan. Senja mulai menurunkan tirainya yang jingga keemasan. Batang-batang pohon mulai menggelap. Rayun merasakan debar dadanya semakin mengencang. Tanpa menoleh ke belakang pun Rayun tahu lelaki itu mengikutinya.

Rayun memergoki pandangan lelaki itu menatapnya tajam ketika ia mengambil sisa penganan yang dititipkan ibunya di kedai kopi milik Bu Sumi di ujung kampung dekat terminal. Pandangan penuh selidik dari lelaki asing itu membuat Rayun jengah. Berulangkali ia melirik ke pakaiannya sendiri. Tak ada yang salah. Pakaiannya sopan dan tertutup. Namun tatapan tajam itu menimbulkan ketakutan di hati Rayun.

Dengan ekor matanya Rayun tahu ia diikuti sejak keluar dari warung kopi. Ia berusaha untuk memperlebar jarak namun lelaki itu selalu berhasil mengikuti langkahnya. Sialnya, hari ini tak satupun ojek  mangkal di pangkalan. Rayun terpaksa berjalan kaki melintasi setapak kecil di pinggir hutan ini.

Tapak kaki  itu kini semakin terdengar jelas di telinga Rayun. Setengah berlari Rayun berusaha melepaskan diri. Lelaki  itu ikut mempercepat langkahnya mengikuti ayunan kaki di depannya. Keringat dingin mulai membanjiri kening Rayun. Ia tersaruk-saruk sambil merutuk dalam hati, mengapa ujung setapak ini tak jua terlihat. Sementara jarak antara dirinya dan lelaki asing itu kini semakin dekat.

Rayun melihat ujung atapnya di kejauhan. Pondok kecil milik almarhumah Nek Ipah. Dukun beranak yang konon kata ibunya membantu kelahiran Rayun. Pondok itu kosong sejak pemiliknya wafat setahun yang lalu. Sebuah pikiran melintas di kepala Rayun.

Pintu berderit membuka tepat ketika Rayun berdiri di depannya. Sesosok perempuan berdiri di balik pintu. Nek Ipah! Jantung Rayun mencelos, wajahnya pias seputih kapas. Bagaimana mungkin nenek berdiri disana, bukankah ia sudah meninggal? Pikiran Rayun mulai kacau. Masuklah! Rayun seolah mendengar suara Nek Ipah kendati bibir wanita itu terkatup rapat. Rayun menoleh ke belakang sejenak. Hari mulai gelap, lelaki menakutkan itu terus mengejar sementara entah mengapa setapak ini tak kelihatan ujungnya. Berputar-putar saja sedari tadi.

Enggan berpikir terlalu lama Rayun segera mengangguk dan memasuki pondok. Nek Ipah menunjuk sebuah meja besar di tengah ruangan. Permukaan meja itu penuh dedaunan obat dan rempah-rempah. Rayun membungkukan badannya berusaha bersembunyi di kolong meja yang ditunjuk perempuan tua itu. Nek Ipah menutup pintu pondok lalu kembali meneruskan pekerjaan meramu obat di atas meja besar tempat Rayun bersembunyi di kolongnya.

Lelaki itu datang! Rayun mendengar tapak kakinya persis di balik dinding pondok ini. Badan Rayun gemetar. Pondok ini tua, sekali dobrak lelaki itu pasti akan sanggup menjebol pintunya. Langkah-langkah kaki terdengar mengitari pondok Nek ipah. Rayun tak mendengar gerakan halus sekalipun dari Nek Ipah. Terbawa keheningan Rayun sedapat mungkin tak bergerak. Lelaki itu masih mengitari pondok.

Tiba-tiba Rayun melihat sebuah kisi kecil di dinding. Bayangan hitam berdiri disana. Rayun terkesiap! Lelaki itu berdiri di sisi luar kisi itu berusaha mengintip ke dalam pondok. Bibir Rayun bergetar ketakutan. Keringat dingin kini membanjir di punggungnya. Pandangan tajam lelaki itu liar menyapu seluruh ruangan pondok. Seharusnya ia melihat Nek Ipah, tapi mengapa lelaki itu diam saja? Dan mengapa Nenek juga diam saja dan tak mengusirnya? Diantara ketakutannya pikiran-pikiran Rayun berlompatan.

Ya Tuhan, lelaki itu menatapku! Rayun menjerit dalam hati. Tunggu, dia tidak melihatku? Rayun keheranan. Mata lelaki itu tajam melihat ke titik dimana dirinya bersembunyi. Namun fokusnya menembus wajah Rayun. Rayun tidak terlihat olehnya. Lelaki itu bergeser pelan. Rayun melihat sesuatu berkilat digenggam lelaki itu. Sebuah belati.

Adzan  nyaring terdengar memecah hening shubuh. Rayun tersentak bangun. Dadanya masih menyisakan debar. Bahkan pakaiannya pun lekat oleh keringat. Mimpinya semalam sungguh menakutkan. Wajah Nek Ipah, lelaki asing dan belatinya itu melekat di pikirannya. Bergegas Rayun turun dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Ingin mengadukan kecemasannya pada Sang Pelindung.

“Mimpi itu hanya bunga tidur, Rayun.” Ibunya tak mengalihkan pandangannya dari potongan-potongan sayur yang dimasaknya. Rayun cemberut.

“Tapi Rayun melihat wajahnya dengan jelas, Bu. Bahkan sampai sekarang pun Rayun masih bisa mengingatnya.” Rayun bersikeras.

Ibunya menghentikan adukannya pada panci. Ia mulai kesal pada kecemasan putri tunggalnya. Cerita Rayun tentang mimpinya semalam terdengar konyol. Sementara masalah yang lebih besar kini tengah bercokol di pikirannya berminggu-minggu lamanya.

“Dengar Rayun! Jika mimpimu semalam kau anggap mimpi buruk, tak sepatutnya kau utarakan pada Ibu.” Ibunya berkata tajam. Rayun terdiam menunduk. Keheningan tercipta.

Rayun ingat pesan ibunya sejak dirinya akil baligh, jika suatu hari nanti kau bermimpi buruk Rayun. Segeralah mandi besar jika kau terbangun. Gunting sedikit ujung rambutmu, campur dengan sejumput beras, bacakan Shalawat Nabi atasnya. Lalu pergilah keluar rumah dan buang dengan tangan kirimu. Segera balikkan tubuhmu dan masuklah segera kembali ke rumah. Tak perlu kau tengok-tengok lagi ke belakang. Nasehat ibunya yang  kemudian dianggap bid’ah oleh ustadzah yang mengajarinya mengaji di surau setiap kamis malam. Namun baik ibunya maupun ustadzah menyepakati satu hal, mimpi buruk pantang diceritakan pada orang lain.

“Rayun.” Panggil ibunya memecah keheningan. Rayun mendongak.

“Ada satu hal yang ingin Ibu bicarakan, Nak.” Ibunya menghela nafas seakan hendak melepaskan beban berat yang telah lama menghimpitnya.

“Tentang Mustopha.”

“Ada apa dengan Bang Mus, Bu?” Tanya Rayun heran. Mustopha,pemuda dari  kampung sebelah. Tunangannya. Sebulan lagi mereka akan menikah.

“Apa kau yakin akan menikah dengannya? Ibu mendengar kabar yang tak sedap. Paman Salim yang menceritakannya pada Ibu.” Ibunya bertanya dengan hati-hati.

Rayun menghela nafas. Ia faham kabar apa yang dimaksud ibunya. Maryam sepupunya, anak perempuan Paman Salim telah menceritakan hal ini. Desas-desus mengatakan Mustopha dekat dengan seorang gadis pendatang. Gadis dari pulau seberang yang berkulit putih dan berwajah manis. Namun Rayun tak mudah percaya. Kekasihnya berwajah tampan, wajar jika banyak gadis mendekatinya. Bahkan juga gadis dari pulau seberang. Bisa jadi kabar burung ini sengaja dihembuskan untuk menggagalkan pernikahannya.

“Rayun tetap akan menikah dengan Bang Mustopha, Bu.” Rayun menjawab. Suaranya mantap.

Ibunya mengerutkan kening.

“Bahkan jika kabar itu benar, Rayun tetap akan menikah dengan Bang Mus. Dia milik Rayun, Bu. Rayun memilikinya terlebih dahulu. Membatalkan pernikahan ini sama saja Rayun mengaku kalah dari perempuan itu. “ Suara Rayun bergetar. Ada setetes bening yang tiba-tiba saja ingin tumpah dari kelopak matanya. Rayun menahannya agar tak jatuh ke pipi.

“Sayurnya Rayun angkat ya, Bu.” Tangannya bergerak cepat mengangkat panci dari atas kompor. Mencari alasan pergi dari dapur. Berlalu dari ibunya.

Ibunya menggeleng tak kuasa menahan keras hati  Rayun. Teringat ia akan almarhum suaminya. Jika ayah Rayun masih hidup, ia pasti tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Pagi yang cerah. Secerah hati Rayun hari ini. Ia akan menikah pagi ini. Para kerabat sudah berkumpul di rumahnya. Dapurnya kini penuh dengan perempuan-perempuan yang memasak berpanci-panci hidangan. Sisanya berkumpul di kamarnya menggoda dirinya dengan nasehat-nasehat tentang malam pertama yang membuat pipi Rayun menghangat.

Tetabuhan rebana terdengar dari arah pekarangan mengiringi alunan Shalawat dari pemuda-pemuda kawan mengaji Rayun. Penanda rombongan pengantin laki-laki telah tiba. Jantung Rayun rasanya ingin melompat karena riang. Reflek ia menggeser tubuhnya ingin bercermin. Mencari tahu apakah dirinya tampak cantik hari ini.

“Kau tampak cantik, Nak. Percayalah.” Juru rias itu menahan bahu Rayun yang hendak menoleh ke cermin. Rayun tersipu. Sejak semalam ketika tangannya dihias dengan tanaman pacar, si juru rias telah berpesan. Selama dirias hingga acara usai, Rayun berpantang bercermin agar tak hilang cahaya wajahnya.

Suara kaum lelaki di luar terdengar bersenda gurau menyilakan rombongan pengantin pria. Rayun tetap berdiam di kamarnya  menanti penghulu datang dan memastikan kesediaannya untuk menikah. Perempuan-perempuan yang tadinya berkumpul di kamarnya kini bergabung dengan para kerabat untuk menyaksikan ijab kabul.

Tirai pintu kamar Rayun tersibak. Penghulu hendak memasuki kamarnya ketika suara hingar-bingar terdengar dari pekarangan rumahnya.

“MUSTOPHAA! KELUAR KAU!” Suara seorang lelaki berteriak lantang. Keributan segera terjadi. Banyak orang saling bicara dan berteriak. Suara Mustopha, suara Paman Salim, penghulu dan tangisan ibunya.

Ibunya menangis? Rayun berlari keluar kamarnya menuju ke ruang tengah. Samar Rayun mendengar kata-kata, adikku..hamil. Rayun melihat tubuh Mustopha rubuh ke lantai tepat ketika ia sampai di ruang tengah. Para perempuan menjerit. Rayun menghambur ke arah Mustopha. Beberapa orang lelaki menyergap tamu tak diundang itu. Rayun menangisi tubuh Mustopha yang berlumuran darah. Ia mendongak mencari tahu wajah pembunuh calon suaminya. Terkejut ia melihat sepasang mata tajam yang telah tertanam di benaknya berminggu-minggu. Jantung Rayun seolah berhenti sebelum gelap melingkupi pandangannya dan ia tersungkur.

Lelaki bermata tajam di mimpinya itu kini berdiri memegang belati dan ujungnya berwarna darah milik Mustopha.

Dunia lirang, 25/10/2011

Pilihan

“Kamu mencintainya?”  suara lelaki itu terdengar sedikit bergetar.

Aku tercekat. Bertahun-tahun telah kusiapkan diri untuk pertanyaan ini namun toh hatiku mencelos juga saat mendengarnya.  Sekujur punggungku seakan tersiram hawa dingin. Aku diam. Mengambil jeda. Mataku terpejam mencoba mengingat kalimat yang juga telah kusiapkan bertahun-tahun untuk menjawabnya.

“Ya, aku mencintainya.” Ujarku tenang.

Lelaki yang telah membagi hidupnya bersamaku belasan tahun itu terhenyak. Bahunya lemas menyandar pada punggung sofa. Suara obrolan pengunjung kafe menjadi dengung di telinga kami. Pada meja kami detik seakan berhenti. Hening.

Lelaki itu, suamiku, memajukan badannya, matanya tajam menatapku. Lalu katanya,

“Aku tak bisa hidup bersama seseorang yang tak pernah bisa mencintaiku, Nishi.”

Sekarang giliran hatiku terhantam. Terkejut? Harusnya tidak,  aku sudah tahu kemungkinan ini akan terjadi. Mungkin harga diriku yang tak rela ia bisa melepasku begitu mudah. Begitu cepat.

“Anak-anak?” tanyaku. Entah sekedar mengulur atau menahan.

“Mereka tetap anak-anak kita, Nishi.  Aku akan menjaga mereka hingga mereka mandiri. Dan kau akan mendidik mereka tumbuh dewasa. Seperti  yang telah kita lakukan selama ini.”

Aku mengangguk.

“Baiklah, jika itu maumu.”

“Ini bukan mauku, Nishi!”, sergahnya gusar.

“Kau yang membuat pilihan sejak awal. Kau yang tak bisa bersetia!”

Aku memandang wajahnya. Kulihat kesedihan, kemarahan, kekecewaan  berpendar di bola matanya yang hitam. Ada pijar kesakitan di sana. Kupalingkan wajah, menahan lidahku yang ingin balas menggugat. Aku tak bisa lebih kejam lagi.

—–

Perceraian kami berjalan dengan cepat dan tenang. Tidak terlalu tenang sebenarnya. Karena sumpah serapah mama berdentam-dentam di telingaku. Laksmi yang tak henti menangis dan Abram yang menjadi semakin pendiam. Kami seperti tersedot dalam pusaran tifun. Masing-masing sibuk mencari pegangan untuk bertahan. Bertahan dengan cara kami masing-masing. Aku yang tersedot paling dalam. Menahan sakit karena hantaman disana-sini.

Aku tak berusaha melawan. Tak ada pembelaan. Karena nyatanya aku yang bersalah. Suamiku benar, aku telah membuat pilihan. Dan inilah resiko yang harus kutanggung dari pilihanku. Sepahit apapun aku harus berani menerimanya. Mungkin kelak, Mama, aku, Laksmi , Abram  bahkan suamiku Tora bisa berdamai. Setidaknya berdamai dengan diri kami masing-masing. Bukan karena kami terlalu lelah menanggung jeri tapi karena kami akhirnya sadar bahwa kami semua berhak untuk bahagia.

“Atas nama siapa, Bu?” suaranya memecah lamunanku.

“Nishita Laks… ah maaf.  Nishita Padmi.” Sahutku sembari tersenyum.

Nishita Padmi. Bukan lagi Nishita Tora Laksana. Bibirku belum terbiasa rupanya.

Gadis cantik petugas ticketing itu mengulang ..

“Penerbangan Jakarta – Denpasar, Hari Jum’at  10 Desember atas nama Ibu Nishita Padmi.”

Aku mengangguk. Lagi-lagi melemparkan seulas senyum. Tak tahan menunjukkan pada dunia, sebentar lagi aku akan bahagia.

Kukenakan gaun terbaikku sore ini. Bukan, ini bukan gaun terbaikku sebenarnya. Tapi Bayu sangat menyukainya. Berulangkali ia memujiku cantik setiap kali aku  mengenakannya. Sore ini aku akan datang sebagai Nishita Padmi. Mengabarkan padanya tentang statusku yang baru. Lalu kami bisa bersama. Saling mencintai seperti impian yang telah kami rajut berdua beberapa tahun terakhir dengan diam-diam.

Angin sore meriapkan anak rambutku. Aku melepas scarf yang melilit di leher dan menggunakannya untuk mengikat rambut. Sore ini aku tak ingin diusik bahkan oleh rambutku sekalipun. Ini pertama kali aku bisa memandang wajah Bayu sepuasnya. Selama apapun kumau. Tanpa harus khawatir ada yang memergoki bahasa tubuh kami yang terlalu mesra. Atau harus merasa cemas karena terlalu lama keluar rumah. Aku telah memilih kebebasanku.

Sosok  jangkung berjalan menuju ke arahku. Lelakiku tercinta. Ingin aku berlari dan menghambur ke pelukannya. Tapi aku harus tenang. Ini harus menjadi kejutan yang menyenangkan untuknya. Jadi aku hanya berdiri dan menyambutnya dengan seulas senyum.  Bayu mendekat ke arahku, tangannya memeluk pinggangku. Sekilas dan cepat. Begitulah caranya dia menyambutku setiap kali bertemu.

Bayu membimbingku ke sebuah meja lalu kami duduk berhadapan. Kami berpandangan beberapa saat meluahkan rindu yang tertahan beberapa bulan ini.

“Apa kabar cantik?,” Sapanya padaku.

“Seperti yang kau lihat,” sahutku diplomatis.

“Selalu cantik seperti biasa,” Katanya menyimpulkan. Aku tertawa.

Lalu kami mengobrol kesana-kemari tak tentu arah. Entah mengapa aku tak juga memberitahunya. Sore kian beranjak menuju senja. Langit sudah menoreh jingga kemerahan. Aku masih terpukau melihat bola kemerahan tadi  tenggelam sedikit demi sedikit ketika Bayu tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Nishi, ada yang ingin kubicarakan,”

Aku menatap wajahnya yang berubah serius dengan heran.

“Tentang?”

“Tentang Rana,” sahutnya pelan.

Rana. Hatiku seketika gelisah setiap kali Bayu menyebut nama itu. Perempuan dari masa kecilnya. Cinta pertamanya.

“Beberapa minggu lalu suaminya meninggal. Kecelakaan.”  Bayu menghela nafas. Aku berdebar.

“Dan ternyata Rana ternyata sakit, Shi. Kanker. Aku baru mengetahuinya seminggu yang lalu.” Mata Bayu mengabut.

Aku semakin takut.

“Lalu?”

“Dia membutuhkankanku, Shi. Rana tak punya siapa-siapa lagi. Rana membutuhkan aku,”  Suara Bayu sedikit bergetar.

“Bagaimana dengan aku? Apa  aku tak membutuhkanmu? Apa kau mencintainya?” tanyaku bertubi-tubi dengan suara tercekat.

Bayu meremas tanganku yang sedari tadi masih digenggamnya. Hangat. Tangisku nyaris pecah.

“Aku mencintaimu, Nishi. Selamanya mencintaimu. Tapi aku laki-laki. Aku telah berjanji di depan mendiang ayahnya untuk menjaganya, tidak meninggalkannya seorang diri. Sekarang Rana sebatang kara dan ia sakit. Aku tak bisa meninggalkannya.”

Mata Bayu berkaca. Entah untukku atau untuk Rana.

Dadaku terasa sesak. Nyaris tak bisa bernafas. Aku ingin menangis, berteriak, namun semua tertahan di tenggorokan. Rasanya sakit. Sakit sekali.

“Kamu  masih memiliki Tora, Laksmi dan Abram. Cuma aku yang dimiliki Rana saat ini.”

Tora? Dia menyebut nama Tora. Aku bahkan belum sempat bercerita tentang Tora. Tapi untuk apa? Bayu sudah memilih. Seribu Rana tak akan berarti jika cintanya cukup kuat untukku. Aku tak ingin dia datang padaku karena belas kasihan.

Perlahan kutarik tanganku dari genggaman Bayu. Gemetar tanganku mengangkat secangkir earl gray yang belum sempat kuminum sejak kupesan tadi. Aku menyesapnya seteguk. Membiarkan alirannya yang hangat melewati tenggorokanku dan melonggarkan dada. Pandanganku mengabur.

Lalu tanpa kusadari bibirku bergerak. Begitu saja tak mengindahkan hatiku yang meronta-ronta.

“Pergilah Bayu. Aku membebaskanmu.”

Aku setengah tak percaya mendengar suaraku sendiri. Kuangkat wajahku memandang  Bayu. Kami bertatapan.  Aku mengangguk padanya. Menegaskan sikapku atas pilihan yang dibuatnya.

“Maafkan aku, Nishi,” Ujarnya sebelum beranjak pergi. Sekilas kulihat ujung matanya membasah, menangiskah ia?  Kutatap punggungnya yang menjauh pergi. Lelakiku. Bibirku berbisik memangilnya untuk yang terakhir kali.

Langit menggelap. Lampu-lampu kafe mulai dinyalakan. Satu-persatu bintang mulai berkedip genit. Earl gray di cangkirku mulai terasa dingin. Tapi aku terus menyesapnya sedikit-sedikit.

Memilih cintaku dan meninggalkan orang-orang yang menyayangiku.

Menjemput kekasihku.

Membebaskannya dan membiarkannya pergi.

Memilih perempuan lain yang mungkin masih dan akan selalu dicintainya.

Begitu banyak pilihan yang telah aku buat. Pilihan-pilihan yang ternyata mengubah hidupku selamanya. Yang membuatku merasa menjadi perempuan pemberani.

Sekaligus tolol.

 

Dunia lirang, 24/09/11

Sore Tadi

Sore tadi akhirnya aku bertemu denganmu, Lelakiku

dengan alasan yang kukarang

dari kebohongan kecil yang  manis

Dalam hitungan lima batang rokok kau bersamaku

memulai pertengkaran kecil yang konyol

berkisah cerita yang sama

yang tak jelas ujung pangkalnya

namun kunikmati setiap detiknya

tahukah kamu?

aku selalu mencari cara untuk bisa bertemu denganmu

seperti sore tadi…

Saat kutuliskan ini

sore menjadi senja menggurat jingga

aroma rokokmu masih tersisa di gaunku

pertemuan sore tadi pun menyisakan fakta

cinta tak sehebat yang mereka syairkan

karena aku memilih pulang

meninggalkan cintaku di relung hatimu.

Dunia lirang, 22/09/11

el(A)ngin(ku)

Dia menyebut dirinya Elang. Tapi aku lebih suka memanggilnya Angin. Yang datang dan pergi sesukanya. Seperti saat ia masuk di kehidupanku. Entah sejak kapan pintuku terbuka untuknya, tapi nyatanya dia sudah berdiam disana.

Selayaknya Angin, ia tak pernah benar-benar berdiam. Menyapukan dirinya padaku, menjelajah setiap relung. Dan meruntuhkan satu persatu keyakinanku tentang cinta. Serupa dedaunan yang  digugurkannya helai demi helai dari tubuhku yang meranggas di musim kemarau.

Mungkin Tuhan hendak mengajariku tentang cinta. Atau justru hendak menguji kesetiaanku pada janji yang kubuat antara diriku denganNya. Entahlah.

Tapi seharusnya Dia tak mendatangkan Angin untukku. Sebab dalam gersang, ciuman Angin terasa menyejukkan. lembut sekaligus memabukkan. Aku pun lena.

Lalu jiwa menjadi terbiasa. Pada bisikan, hembusan bahkan hempasannya kala membadai. Sering kucari Angin, saat jiwa menuntut rindu. Tapi dia adalah Angin. Akan menghampiri jika ia ingin, tapi takkan bisa kau cari saat ia ingin berlalu. Menjauh. Kadang ingin kuikuti perginya. Namun hembusannya memudar pada setiap jejak yang ingin kuikuti. Aku kehilangan arah. Selalu.

Lagipun aku tak akan pernah bisa mengikuti. Aku cuma bisa terpaku melihatnya datang dan berlalu. Tertahan oleh akar yang telah menopangku lebih dulu. Hanya menunggu daun-daun bergemerisik menandai bisikan yang dikirimkan Angin untukku. Atau diam-diam menangisi gigil jiwanya yang kurasa lewat dingin yang menusukku.

Aku dan Angin….

Setiap saat  bertukar rahasia lewat sentuhan tak terlihat dan bisikan tak terdengar.

Sebab dia adalah Angin yang selalu ingin pergi dan aku adalah pohon yang tertahan oleh akar. Aku dan Angin….

Cuma bisa bertukar rahasia. Tidak lebih.

Dunia lirang, 21/09/11

Sang Lirang

Hujan dan sore hari. Tidak ada paduan yang lebih sempurna dari itu. Semesta mendadak hening. Tak ada kicau burung-burung yang  menandai kepulangan mereka ke sarang. Tak ada pekik riang sekumpulan bocah yang bermain berkejaran. Bahkan jalan depan rumahku pun terlihat lengang. Semua memilih meringkuk mencari hangat di rumahnya masing-masing.

Aku menyesap pelan pinggiran cangkir porselin. Paduan sempurna yang kedua, teh cina dalam cangkir porselin mungil. Sulungku membelikannya khusus untukku.

“Kopi tak baik buat orang-orang seusia mama,” ujarnya saat itu.

aku menurut.

Jadi, disinilah aku, duduk dipinggir jendela rumahku pada suatu sore. Ditemani secangkir kecil teh cina yang konon katanya berkhasiat dan hujan yang menyisakan gerimis. Akan kuceritakan kepadamu kisah tentang seseorang yang mungkin pernah kau temui atau kau kenal. Bahkan sebagian dirinya bisa jadi kau kenali sebagai dirimu sendiri. Entah dalam tawa atau kepedihannya. Atau pada cinta dan rindunya yang mengekal hangat layaknya nyala api. Mungkin juga pada mimpi-mimpinya yang terkadang absurd namun tak pernah bosan untuk dironcenya.

Ya, ini kisah  tentang kehidupan. Hidup milik seorang perempuan biasa yang bernama Lirang. Aku menyebutnya Sang Lirang.

 

Dunia lirang, 20/09/11