Boneka Gipsi

Diterbitkan di Majalah KaWanku edisi 150/1-15 mei 2013

 

Lelaki jangkung itu bangkit dari duduk, mencangklongkan cerutu ke bibirnya yang setengah bergumam , “Tidak bisa, Sayang. Papa harus berangkat sore ini juga.”

“Tapi Pa…, Papa belum genap seminggu ada di rumah. Sekarang hendak pergi lagi?” mata gadis belasan tahun itu membola. Bibirnya mengerucut kesal.

“Rachel, Papa sudah tidak muda lagi sementara usiamu belum lagi genap 15 tahun. Perjalananmu masih panjang. Selagi  Papa masih sehat, Papa harus bekerja. Memastikan agar kelak hidupmu terus nyaman. Mengerti?” Lelaki jangkung yang rambutnya memutih nyaris sempurna itu memegang bahu putrinya dengan lembut.

“Well, Tuan Christopher Reindhart di usia anda yang senja, bukankah lebih baik jika menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama putri anda satu-satunya di Pasar Malam?” rajuk Rachel sambil mengulaskan senyum semanis yang ia bisa.

“Papa tidak setua itu, Rachel,” Chris tertawa sambil mengenakan mantel dan topinya.

“Aku serius soal pasar malam itu, Pa! Rombongan Gipsi itu baru sampai kemarin malam, mereka berkemah di lapangan  pinggir kota,” seru Rachel berlomba dengan tubuh jangkung ayahnya yang menghilang di balik pintu.

Rachel menghela nafas menatap pintu kamar kerja ayahnya yang  kini menutup sempurna.

“Kau bisa pergi dengan Nana, Rachel. Minta ia menemanimu.” Suara bariton Chris membuat Rachel terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati wajah ayahnya  yang muncul dari celah pintu yang terbuka kembali.

Rachel tersenyum lebar.

“Terimakasih Pa, hati-hati di jalan.”

Chris mengangguk. “Kau juga, Gadis Kecil,” ujarnya sebelum menutup pintu untuk kedua kalinya.

Udara malam ini terasa hangat. Sesekali terasa semilir angin malam yang bebas keluar masuk dari jendela kamar yang terbuka. Rachel sengaja membukanya lebar-lebar, berharap  hawa sejuk yang dibawa oleh hembusan angin bisa meredakan kekesalannya pada Nana. Wanita kulit hitam gemuk yang menjadi pengasuhnya sejak bayi tanpa diduga menolak mentah-mentah ajakan Rachel untuk pergi ke Pasar Malam.

“Apa? Pasar Malam di malam Bulan Biru seperti ini?” Nana berjengit dengan suara nyaring begitu mendengar ajakan Rachel. Tangannya yang gemuk dan kokoh berhenti  membolak-balik biskuit coklat yang tengah dipanggangnya.

“Memangnya ada apa dengan Bulan Biru?” Rachel meraih sekeping biskuit yang sudah jadi dan meniup-niupnya  untuk menghilangkan panas.

“Malam ini semua sihir bekerja. Sihir jahat, sihir baik…semua!” tandas Nana serius.

“Nana, para penyihir telah habis diburu sejak lama. Kau mengada-ada.” Rachel tergelak-gelak nyaris tersedak. Buru-buru diraihnya segelas lemon dingin dari meja dapur.

“Nana tidak pernah mengada-ada, Nona. Dan sihir para Gipsi tidak pernah benar-benar  lenyap. Jadi malam ini, baik-baiklah di rumah. Besok, saat hari terang  kita akan mampir sebentar ke lapangan pinggir  kota untuk memuaskan rasa ingin tahumu.”

Rachel mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sudah 13 tahun ia dalam asuhan Nana. Ia tahu persis, jika Nana mengatakan sesuatu dengan mimik seserius saat ini, maka itu adalah perintah. Seisi rumah besar ini harus patuh. Bahkan ayahnya sekalipun. Entah karisma apa yang dimiliki perempuan tua gemuk yang penyayang itu, namun nyatanya Rachel memilih alasan ingin tidur lebih awal untuk mengunci diri di kamar ketimbang harus berdebat panjang dengan Nana.

“Ke Pasar Malam pada siang hari terang benderang? Huaaah, yang benar saja. Di mana letak keseruannya? Rachel menggerutu sendiri. Ia membolak-balik tubuhnya dengan gelisah. Berulangkali dicobanya memejamkan mata namun tak berhasil. Matanya justru nyalang menatap langit-langit kamar.

Tiba-tiba dengan gerakan cepat Rachel bangkit dari tempat tidur. Samar-samar telinganya menangkap alunan musik yang riang. Khas musik yang dinyanyikan Kaum Gipsi  diantara karavan-karavan mereka. Rachel  memejamkan mata, memusatkan konsentrasi pada pendengarannya. Nada-nada itu masih terdengar meski samar-samar. Perlahan ia kembali membuka mata dan menatap jendela yang terbuka. Tirai berenda putih itu melambai menandai gerakan angin yang menembus masuk ke kamar. Rachel merasakan hawa dingin pada tengkuk dan lengannya. Ia memutuskan untuk merapatkan daun-daun jendela itu ketika sekelebat ide melintas di pikirannya. Bergegas gadis itu menuju ke lemari besar di sudut kamar, tempat gaun-gaunnya tersimpan.

Rachel terengah-engah melangkah di setapak menanjak pada bukit kecil itu. Ia beruntung sebab purnama yang bulat sempurna membuat bukit menjadi remang keemasan. Cukup terang untuk dilewati tanpa bantuan lentera. Bagaimanapun juga memintas jarak melalui bukit ini jauh lebih aman ketimbang melewati jalan di tengah kota. Yang meskipun lebih nyaman namun akan membuatnya berpapasan dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Pasar Malam.

Sedikit binar jahil menyala di mata Rachel. Sungguh ini adalah hal paling gila yang pernah ia lakukan. Melompat dari jendela atau sesekali melarikan diri dari kamarnya adalah kenakalan kecil yang biasa ia lakukan. Namun tetap saja dilakukan di siang hari, bukan di malam hari seperti saat ini. Rachel terus melangkah melintasi padang bunga Daffodil. Mengikuti setapak kecil  di bukit yang berujung pada lapangan besar di pinggiran kota.

Suara gesekan biola yang riang ditingkahi gelak tawa riang pengunjung Pasar Malam semakin jelas terdengar. Rachel bahkan bisa melihat kerlip lampu karavan-karavan Gipsi juga liukan ujung api unggun besar yang menyala di tengah lapangan. Langkah-langkahnya semakin cepat dan bersemangat. Lagipula ia harus bergegas agar bisa menikmati keramaian Pasar Malam dengan leluasa sekaligus pulang tak terlalu larut. Bulan yang bergeser akan membuat bukit menjadi lebih gelap dan menyulitkan perjalanan pulangnya.

Rachel terpaku dengan bibir sedikit terbuka. Pemandangan  Pasar Malam yang riuh kini terpampang di depan mata. Hingar bingar musik, seliweran pengunjung diantara karavan dan tenda warna-warni.  Beberapa badut melintas dan muncul tak terduga mengagetkan pengunjung. Rachel menelan ludah melihat meja kecil yang penuh permen kapas warna-warni di salah-satu sudut Pasar Malam. Untunglah tadi ia sempat membawa dompet kecil tempat ia biasa menyimpan uang-uang koinnya.

Perlahan-lahan ia menyusuri pinggir perkemahan yang melingkar. Meski pengunjung Pasar Malam ini cukup ramai tetap saja ia tak ingin berpapasan dengan seseorang yang mengenalnya dan tertangkap basah berkeliaran sendirian. Hukuman yang akan diterimanya dari Nana bisa sangat berat dan membosankan. Dengan hati-hati Rachel melangkah menghindari kaleng-kaleng bekas cat yang bergelimpangan di rumput atau perabot milik para Gipsi yang diletakkan begitu saja di belakang karavan mereka.

Sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari balik tenda bergaris-garis biru di depannya. Seorang pemuda yang mungkin seumuran dirinya dengan banyak pisau yang tergantung pada sabuk kulit menatapnya dengan pandangan tajam menyelidik. Rachel membalas tatapannya dengan ekspresi terkejut. Pemuda tadi dengan matanya yang coklat bening menatap gadis di depannya dari rambut hingga ujung kaki. Lalu bibirnya membentuk tarikan di sudut dan berlalu begitu saja tanpa berkata-kata. Rachel menatap kepergian pemuda itu dengan dada bergemuruh akibat terkejut sekaligus takut melihat kantung-kantung kulit berisi pisau di pinggangnya.

“Astaga Rachel… bisa saja ia  cuma seorang pelempar pisau,” bisiknya pada diri sendiri lalu tertawa kecil menertawai kebodohannya.

Diteruskannya langkah, ia ingin memulai petualangan ini dari tenda yang paling ujung. Tenda berwarna marun dan emas itu menarik hati Rachel. Gadis itu telah melihatnya  tadi di kejauhan saat ia memasuki area Pasar Malam.

Di depan tenda yang ditujunya, Rachel masih berdiri terpaku. Tangannya tanpa sadar mengelus tenda marun dengan pinggir berwarna keemasan. Tenda yang berdiri sedikit menjauh dari tenda-tenda lainnya ini sungguh berbeda. Rachel tak mengerti bagaimana bisa beledu yang selembut dan setebal  ini bisa dijadikan tenda.

“Kamu yang berdiri di depan, masuklah!” Suara perempuan terdengar dari dalam tenda. Rachel menoleh ke samping kanan-kiri memastikan dirinyalah yang dimaksud.

“Iya, kamu, Gadis Kecil,” suara dengan logat Gipsi dan aksen Eropa Timur itu kembali memanggil.

Sosok perempuan peramal dengan gaun penuh sulaman bunga-bunga kecil dengan warna cerah menyambut Rachel yang memasuki tenda. Rambut panjang yang gelap dan ikal tertutup sebagian oleh syal berwarna merah. Bibirnya disapu warna merah yang sewarna dengan cat kuku di jemari tangannya. Perempuan itu tersenyum.

“Masuklah. Jangan takut. Kau telah menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai kemari, Gadis pemberani,”ujar peramal itu melambaikan tangan memerintahkan Rachel untuk duduk di kursi kecil. Rachel menurut. Kini, ia dan si peramal duduk berhadapan. Sebuah meja kecil dengan taplak ungu yang panjang hingga menyentuh lantai  tanah berada diantara mereka.

“Coba kulihat telapak tanganmu.”

Rachel mengangsurkan tangannya.

Perempuan peramal  itu mengusapnya sebentar.  Keningnya berkerut sedikit lalu senyumnya terkembang.

“Apakah garis tanganku menyedihkan?” tanya Rachel sedikit khawatir.

“Tidak. Sama sekali tidak. Bagiku, garis tanganmu menyenangkan.” Peramal itu mengerling sembari tersenyum misterius. Rachel dapat melihat sepasang matanya yang sehijau zamrud itu begitu kontras dengan kulit wajahnya yang berwarna zaitun. Peramal yang cantik, bisik Rachel dalam hati.

“Terimakasih. Kau juga cantik, Gadis yang kesepian.”

Rachel berjengit kaget.

“Kau bisa membaca pikiranku? Darimana kau tahu aku sering kesepian?” tanya Rachel bertubi-tubi.

Peramal itu melemparkan senyum yang seakan berkata,  aku seorang peramal, yang membuat gadis itu tersipu telah bertanya hal yang konyol.

“Dulu aku pun kesepian. Tapi sekarang tidak lagi.” Telunjuk peramal itu mengarah pada sebuah rak kaca mungil yang penuh berisi boneka-boneka cantik. Bermata besar  dengan warna rambut dan kulit yang berbeda-beda.  Rachel memekik kecil karena riang.

“Ada satu yang cocok untukmu.” Si Peramal berdiri dan membuka lemari kaca lalu mengambil salah-satu dari boneka-boneka cantik itu.

“Bagaimana menurutmu?”

Rachel menatap boneka yang kini telah berpindah ke tangannya dengan takjub. Rambut boneka itu berwarna pirang gelap seperti warna rambutnya. Bola matanya yang bulat juga berwarna biru terang sama serupa matanya. Bahkan juga tarikan bibirnya. Boneka itu serupa dirinya! Rachel seolah tersihir oleh hasrat yang begitu besar untuk memiliki boneka itu.

“Aku ingin memilikinya,”ujar Rachel. Matanya tak lepas memandang wajah boneka itu.

“Jangan.” Peramal itu menyahut pendek.

“Aku mau.” Rachel bersikukuh. Suaranya terdengar berat.

“Kau akan menyesal. Dia akan merebut jiwamu.”

“AKU TAK PEDULI!” teriak Rachel melengking. Dan tiba-tiba saja musik pasar malam terdengar lebih nyaring. Percakapan dan gelak tawa menjadi lebih riuh. Rachel merasakan sekelilingnya berputar cepat dan semakin cepat. Udara menjadi terasa berat dan gadis itu merasakan tubuhnya terhisap oleh sesuatu yang sangat kuat. Semakin ke dalam. Ia tercekik dan tak kuasa melawan. Matanya terasa berkunang-kunang, pandangannya mengabur. Samar-samar ia mendengar suara peramal itu berkata,”Nona muda yang kesepian dan pemberontak, selalu mudah terperangkap.”

Rachel tak sanggup lagi menyahut. Tubuhnya lemas dan kesadarannya setipis benang. Matanya seperti dibebani batu berton-ton beratnya. Suara-suara kini terdengar menjauh semakin jauh. Gadis itu terjatuh lunglai dan boneka ditangannya terlepas. Ia dan boneka itu tergeletak berhadapan dan dilihatnya mata biru milik boneka itu berkedip!

Rachel terkesiap bangun. Matanya terbuka nyalang menatap langit-langit. Dahinya terasa lembab dan rambut panjangnya lengket oleh keringat dingin. Mimpinya semalam mengerikan sekali. Ia bahkan tak mengira bahwa semua yang ia alami ternyata hanya  sebuah mimpi buruk. Terlalu nyata dan hidup! Kicau burung yang ribut, suara Thomas  si tukang kebun yang bertengkar dengan Nana merebut kesadarannya dengan sempurna. Rachel duduk bersandar pada kepala ranjang untuk meraih segelas air putih yang mungkin bisa meredakan debar jantungnya. Ingatan gadis itu melayang pada kedipan boneka gipsi di mimpinya semalam. Kengerian kembali mencekik tenggorokan.  Segera diteguknya tandas isi gelas itu lalu  ia hembuskan nafas panjang sesudahnya. Mencoba mengusir ketakutan.

Tiba-tiba matanya menangkap warna kuning dari kelopak Daffodil di ujung bawah selimutnya. Wajah Rachel seketika memucat dan jantungnya seolah berhenti.

Sebuah ketukan di pintu dan tubuh besar milik Nana memasuki kamar Rachel.

“Selamat pagi, Kenapa kau begitu pucat seperti baru melihat hantu?”

Rachel menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak ada apa-apa, Nana. Sungguh,”  ujarnya berusaha meyakinkan Nana.

“Apa itu yang kau bawa?” Rachel menunjuk bungkusan besar berpita yang dibawa Nana.

“Oh, seorang kurir mengantarkannya untukmu pagi ini. Tapi aku tak mendengar dengan jelas nama pengirim yang diucapkannya. Bahkan kartu kecil si pengirim entah menyelip kemana.” Nana menggelengkan kepala dengan rupa prihatin.

Rachel membuka simpul pita bingkisan itu, membuka kotaknya dan jantungnya mencelos. Sedetik kemudian jeritannya  melengking terdengar ke penjuru rumah. Kotak bingkisan itu terlempar keras, dan isinya terguling di lantai.

Sebuah boneka berambut pirang gelap dan bermata biru mengedip padanya.

 

Credit:

http://www.vividscreen.info

Saat Cinta Butuh Tanda Seru

*Telah diterbitkan dalam Kumcer “Follower”

 

Julie  memainkan pena yang terjepit diantara jemari dengan gelisah. Sesekali ia mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung kuku. Matanya lekat menatap penanggalan yang digantung di dinding kamar. Lingkaran spidol merah menandai sebuah tanggal. 3 April. Tinggal tiga hari lagi, gumamnya risau. Mendadak ia merasa hawa di kamarnya terlalu hangat. Mungkin terbawa oleh suasana hatinya. Tangan gadis itu bergerak  cekatan menaikkan rambut ke atas tengkuk. Menyimpulnya menjadi sebuah cepol mungil. Membebaskan angin malam yang dingin menyentuh tengkuk sekaligus menenangkan hatinya.

Beberapa saat berlalu Julie tak jua melakukan sesuatu meski bisa dirasakan dadanya berdegup kencang. Ini barangkali hal paling gila yang pernah ia lakukan. Sejenak gadis itu memejamkan mata, mengatur nafas dan sedetik kemudian jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Mencoba bertarung dengan waktu dan mungkin juga takdir.

Sosok ramping itu tak henti mengajukan pertanyaan. Menuntut penjelasan detil dari orang yang ditanyainya. Sesekali mengangguk dan tersenyum puas mendengar jawaban-jawaban dari lawan bicaranya.

“Farah, beristirahatlah. Percayakan saja pesta pernikahanmu pada teamnya Mbak Sekar. Semua terkendali, kok. Mama juga kan ikut mengawasi.” Seorang perempuan paruh baya bertubuh subur  muncul menengahi.

Gadis yang dipanggil Farah itu tersenyum salah-tingkah.

“Iya, Ma. Maaf, bukannya Farah tidak percaya sama Mbak Sekar dan teman-teman. Farah nervous…,” ujarnya dengan pipi memerah.

Sekar tertawa renyah penuh pengertian. Profesi wedding organizer yang  ia geluti selama bertahun-tahun telah menempa kesabarannya. Sekar sangat piawai menyelami berbagai karakter klien. Termasuk yang detil dan perfeksionis seperti Farah.

Bunyi getar terdengar dari gadget Farah yang diletakkan di meja tamu. Getar yang kesekian kali. Nyaris dua jam lamanya sengaja Farah mengabaikan semua pesan dan notifikasi yang masuk.

“Sudah, masuk kamarmu sana, itu lihat gadgetmu dari tadi bergetar terus. Barangkali Awan mengirimkan pesan, mencarimu. Biar Mama yang antar Mbak Sekar ke luar. Mbak Sekar juga kudu istirahat. Capek, sedari tadi kamu interogasi.” Ibunya kini memberi perintah.

Farah mengangguk menurut. Meraih gadgetnya dan melemparkan senyum manis tanda terima kasih pada Sekar sebelum berlalu menuju kamar.

Di atas kasur, Farah berbaring menatap langit-langit kamar. Perasaannya kini bercampur aduk antara gugup, gelisah dan senang. Tiga hari lagi ia akan sah menjadi Ny. Farah Laksana. Istri dari Awan Laksana, lelaki yang dicintainya sepenuh hati. Bibirnya mengembang senyum.

Farah, perempuan muda yang mandiri, sedikit serius, cerdas dan memiliki karir yang cemerlang. Tipe yang tak mudah jatuh cinta. Namun hatinya luluh pada seorang musisi yang dikenalnya secara tak sengaja dari social media. Seorang teman kuliah men-tag dirinya pada poster sebuah perhelatan Jazz kecil-kecilan yang pada akhirnya dihadiri oleh Farah. Di pementasan musik yang dihadiri komunitas penggemar Jazz itulah ia berkenalan dengan Awan. Lelaki yang menurut Farah paling bertalenta yang pernah dikenalnya. Musisi sekaligus penggemar sastra. Kombinasi yang sanggup melelehkan hati perempuan di  mana saja.

Gadget Farah kembali bergetar. Sebuah Notifikasi  dari Facebook. Seseorang bernama Juliana Desma mengirimkan pesan.

Farah mengerutkan kening. Juliana Desma. Nama itu terdengar familiar. Buru-buru dibukanya pesan tadi.

Jadi, apa kau kini telah menjadi kekasihnya? Dan akan menjadi perempuannya juga?

Farah terhenyak membaca pesan yang begitu lugas itu. Segera ia menegakkan punggung dan meneruskan membaca

Apakah kalian benar-benar saling mencintai? Ah, Barangkali ini aneh. Aku hanya ingin memastikan, jangan sampai kisah kami yang pernah tumbuh, ternyata tetap berakar dan berkembang diam-diam pada halaman rumah kalian, kelak.

Farah menggigit bibir. Sebongkah rasa kini menyesakkan dadanya menimbulkan nyeri. Juliana Desma… Farah mengeja nama itu sekali lagi. Awan harus menjelaskan tentang ini!

“Halo, Awan? Kau sudah tidur?” Farah membuka percakapan dengan hati-hati.

“Hai, Sayang. Belum, aku belum tidur, masih recording. Kau juga belum tidur. Hati-hati, jangan sampai matamu berkantung karena kurang tidur. Kau membenci kantung mata, kan?” Suara Awan menggoda. Rasa hangat menelusup di relung hati Farah.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” ujar Farah perlahan. Ia sungguh tak ingin memulai pertengkaran.

“Tentu. Silahkan.”

“Juliana Desma. Siapa dia?” tanya Farah tanpa tedeng aling-aling.

Hening sejenak. Farah berdebar menanti jawaban dari Awan. Satu menit, dua menit menit… Farah mulai gelisah.

“Juliana Desma, itu Julie. Bukankah pernah kuceritakan tentangnya beberapa waktu lalu?” Awan menjawab sekaligus bertanya. Terdengar sedikit defensif di telinga Farah.

Julie? Farah mengerutkan kening mencoba memanggil kembali rekaman-rekaman percakapannya dengan Awan dari gudang memorinya.

“Julie kawanmu dari kecil? Kalian tumbuh dewasa bersama, saling jatuh cinta dan beberapa kali putus sambung sebagai kekasih. Julie yang itu?”

“Ya, Julie yang itu. Ada apa?”

“Emm…dia…,” Farah menggantung kalimatnya. Dia mengirimiku pesan di Facebook kendati kami tidak berteman. Dia bertanya seolah kalian berdua masih saling mencintai. Dia lancang sekali! Farah meneruskan kalimatnya bertubi-tubi dalam hati.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Farah sembari tersenyum. Mencoba menenangkan diri sendiri dan menutupi perasaannya yang berkecamuk.

“Hmmm, aku tak yakin kamu berkata jujur. Tapi, apapun itu, abaikan saja dia. Ok?!”

“Ya, akan kuturuti pesanmu. Aku tidur dulu, ya. Kau juga beristirahatlah. Besok lusa kau harus menikahiku. Jangan sampai telat karena ketiduran.”

“Hahaha. Tentu, Sayang. Mimpi indah, ya. Bye.”

Bye.”

Farah menatap layar telepon genggamnya. Menghela nafas berat sembari merebahkan tubuh kembali. Pikirannya masih terus berkecamuk. Julie dan Awan memang sangat dekat, dulu.  Bahkan  seingat Farah, saat bercerita tentang Julie beberapa waktu lalu, mata Awan terlihat berbinar. Tak heran jika kini Julie nekat menghubunginya. Mungkin gadis itu merasa masih memiliki Awan. Atau mungkin mereka masih memiliki perasaan yang dalam seperti yang dilukiskan Julie dalam pesannya? Sebuah suara mengusik pikirannya. Farah memeluk guling erat-erat, memejamkan mata mencoba tidur. Pelipisnya kini berdenyut-denyut terasa ingin meledak!

Rubicon yang dikendarai Awan membelah melaju jalanan yang tak juga sepi meski malam semakin larut. Kehidupan seolah tak pernah berhenti. Tak heran jika kini manusia menua lebih cepat. Penat namun enggan beristirahat.

Malam ini adalah malam midodareni. Awan baru  saja usai melaksanakan tugasnya berkunjung ke rumah Farah bersama beberapa kerabat ketika sebuah Direct Message masuk ke akun Twitternya.

Juliana Desma @Ma_Julie                                                                                                          3h

Hai. Aku pulang. Baru saja sampai. Tak ada orang di rumah. Tubuhku demam, bisakah kau datang ke mari?

Permintaan klise yang telah dikenali Awan bertahun-tahun sebagai rengekan manja bocah perempuan yang mencari perhatian. Namun entah darimana datangnya, sejak bertahun-tahun lalu pula, sebentuk rasa serupa sayang bercampur keinginan untuk melindungi muncul. Membuatnya lagi-lagi  selalu menuruti permintaan gadis itu.

Awan memarkir mobil di pekarangan sebuah rumah lama dengan arsitektur Belanda. Rumah yang sejak kecil sering dikunjunginya saat mereka masih bertetangga. Dua kali dentang bel, pintu bercat putih itu terbuka. Julie berdiri dihadapan Awan, memakai piyama tebal dan rambut yang tergerai acak-acakan. Wajahnya terlihat pucat.

“Hai,” Awan merengkuh gadis itu dalam pelukannya. “Astaga, badanmu panas sekali.” Serunya saat pipi Julie menyentuh lengannya.

“Kau pikir aku berbohong?!” sungut Julie sambil melepaskan diri dari pelukan Awan. Memberi jalan bagi lelaki itu memasuki rumah.

“Kau ini aneh, tentu saja tak ada orang di rumah. Rumah ini hanya di kunjungi keluarga abangmu saat akhir pekan. Dan kamu pasti tak menghubungi mereka, kan?”

Julie mengedikkan bahu dengan ekspresi tak peduli. “Apa yang kau bawa?” tanyanya melirik bungkusan plastik yang ditenteng Awan.

“Makanan dan obat. Aku tahu kebiasaanmu yang sembrono.”

Julie nyengir lebar,”Kau memang keren. Selalu bisa diandalkan. Aku pusing sekali.” Tubuhnya kini meringkuk di sofa.

Kilatan cahaya tiba-tiba menyambar, suara petir yang menggelegar menyusul kemudian. Awan segera menutup tirai jendela yang masih terbuka. “Sepertinya akan hujan deras malam ini, langit mendung sekali.”

“Awan, bermalamlah di sini.”

Awan duduk di samping Julie, menyodorkan segelas air dan pil antipiretik.

“Tidak bisa, aku harus pulang.”

“Karena kau besok akan menikah?” tanya Julie setelah menenggak obatnya. Raut wajahnya terlihat kecewa. “Kamu tahu kan, sejak kecil aku selalu takut sendirian saat hujan deras dengan petir dan kilat menyambar-nyambar.”

Awan tersenyum tak menjawab.

“Baiklah, kalau hal itu tak lagi penting buatmu. Nggak apa-apa. Pulanglah.” Nada suara Julie merajuk.

Awan tertawa. “Kau tak pernah berubah. Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini,” ujar lelaki itu sambil mengacak pelan poni Julie.

Berkilo-kilo meter jauhnya, Farah tertidur setelah kelelahan menangis. Bantalnya lembab oleh air mata. Selama berjam-jam berulangkali ia mencoba menghubungi Awan namun tak berhasil. Telepon genggamnya dimatikan.

Di akun Facebook Farah, lima jam yang lalu, sebuah pesan masuk dari Julie.

Tahukah kamu, jika aku merindukannya, aku akan datang padanya dan ia akan memelukku. Begitupun sebaliknya. Begitulah, cinta yang kami tumbuhkan dalam kesunyian dan bahkan tak kami sadari.

Ketegangan di rumah Farah berdenyut-denyut  melebur bersama partikel udara yang menyebar ke penjuru rumah. Pengantin pria datang terlambat. Dan kini berada bersama pengantin wanita di kamar yang dikunci dari dalam. Segala pantangan perias tak digubris. Sekar mondar-mandir dengan gelisah. Farah si pengantin wanita meledak, mengamuk.

Di dalam kamar, Farah duduk di depan meja rias dengan mata berkilat marah.

“Kau semalaman bersamanya, kan?”

Awan diam, menatap Farah lekat-lekat. ”Ya,” jawabnya pelan.

Farah menghembuskan nafas dengan kesal. Wajahnya mengeras.

“Tahukah kamu, apa yang ia kirimkan padaku pagi ini? Ini!” Farah melempar gadgetnya ke kasur. Awan meraih gadget itu dan membaca pesan  di akun Facebook Farah.

Seperti yang kukatakan padamu, pada akhirnya semalam kami bersama. Akan selalu begitu. Kami akan saling mencari dan tidak akan bisa saling melepaskan.

Awan menghela nafas.

“Sudah kukatakan padamu untuk mengabaikannya, kan?”

“Demi Tuhan, Awan! Aku mengabaikannya! Tapi dia menerorku terus menerus-menerus. Perempuan sakit itu yang menghubungiku pertama kali padahal kami sama sekali tidak saling mengenal apalagi berteman.” Ucapan Farah menderas bersama gelombang kemarahannya.

“Kenapa tak kau block saja?” tanya Awan tak mengerti.

“Kenapa harus di block?” Farah balik bertanya. “Agar aku tak pernah mengerti kisah kalian berdua. Agar aku tak menyadari kebohongan yang kamu lakukan, begitu?” suara gadis itu melengking tajam.

“Lalu, apa maumu sekarang?”

“Pergilah. Aku masih cukup waras untuk tidak terperangkap dalam kehidupan yang penuh teror dari seorang perempuan sakit jiwa.” tukas Farah ketus.

Awan menatap perempuan di hadapannya dalam-dalam.

“Baiklah, jika itu maumu.” Awan membalikkan punggung dan berlalu keluar kamar.

Farah terperangah. Tak menyangka Awan begitu saja menyerah dalam hubungan mereka. Bibirnya bergetar menahan tangis dan seketika sepasang matanya tergenang airmata. Julie, perempuan itu mungkin sakit jiwa, namun nyatanya ia telah kalah olehnya. Sungguh-sungguh kalah. Lutut Farah goyah, tubuhnya limbung. Gelap menyerkap kesadaran

“Aku tahu kau akan berada di sini.” Julie menghampiri Awan yang duduk mencangkung memeluk lutut memandang langit senja jingga. Bukit di pinggiran kota ini adalah tempat favorit mereka berdua. Tempat terbaik untuk menatap senja. Julie melirik beberapa kaleng bir yang berserakan di samping Awan.

“Mabuk?”

“Apa kau sudah puas?” tanya Awan tak menggubris pertanyaan Julie. Matanya tak lepas menatap bola raksasa kemerahan yang bergulir semakin ke barat. “Sebenarnya apa maumu?”

“Entahlah. Menegaskan rasa, barangkali. Jiwa kita saling bertautan, kau tahu itu.” Julie kini ikut duduk di sebelah Awan.

“Aku tahu. Jiwa kita bertautan, lalu kau berontak tanpa sebab dan memilih menjauh. Datang lagi, kemudian menjauh lagi. Tidakkah kau lelah? Karena kau tahu, aku lelah. Jadi mulai sekarang, menjauhlah sejauh mungkin dari kehidupanku.”

Julie menoleh, “Kamu ingin aku pergi? Sungguh itu keinginanmu?”

Awan memalingkan tatapannya. Ditatapnya sepasang mata berbentuk badam milik Julie lekat-lekat.

“Ya, Aku ingin kau pergi,” tegasnya penuh kesungguhan.

Julie menghela nafas. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi. Ini undangan untukmu.” Gadis itu menyodorkan undangan berwarna krem keemasan. Awan mengerutkan kening tak mengerti.

“Seminggu lagi aku akan menikah.”

What?! Seminggu lagi menikah dan kamu melakukan semua kekacauan ini ? Astaga Julie… Kau sudah gila!” Awan menepuk keningnya dengan kesal. Tak paham dengan jalan pikiran gadis itu.

“Kau boleh menganggap aku gila. Silahkan bermain dengan pikiranmu. Tapi ini adalah hal yang paling benar yang pernah kulakukan seumur hidupku.” Julie berujar tenang. Ia bangkit dari duduk dan menepis rumput yang menempel di celana jeansnya.

“ Karena cinta tumbuh dengan berbagai pertanyaan, Awan, terkadang kita butuh tanda seru untuk menegaskannya. Kau telah sungguh memintaku pergi. Maka aku pergi.” Julie berbalik dan berlalu pergi.

Awan terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu. Lidahnya terlalu kelu untuk memanggil nama Julie meski hatinya teramat ingin. Nanar ditatapnya punggung gadis itu yang semakin menjauh lalu hilang. Menjelma asing yang sunyi.

“Diantara kita, Julie, selalu ada yang memanggul tawa dan menghela luka. Satu demi satu.” Awan berbisik, lelah. Angin merepihkan ucapannya ke penjuru sebagai penanda usainya sebuah kisah milik sepasang anak manusia.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/C9DBABA6EC

 

 

Tapih Uma

Ruang tamu ini tak pernah berubah. Bahkan letak kursi pun tak ada yang bergeser apa lagi tertukar. Gambar ulama besar Syekh Al Banjari bersanding dengan poster Masjidil Haram beserta Ka’bahnya. Keduanya berlapis kaca dan berpigura untuk menjaganya dari debu dan waktu. Ya, waktu seolah berhenti di rumah ini. Jika rumah-rumah panggung kayu ulin di kanan kiri perlahan-lahan mulai berlapis keramik pada dindingnya, maka rumah Abah dan Umaku ini setia pada bentuknya. Hanya catnya yang sesekali berubah warna.
Lima tahun yang lalu pernah aku berniat ingin merenovasinya. Tapi uma menolak, katanya, “Rumah kita ini Husen, berdiri di atas rawa. Cuma kayu ulin yang sanggup menahan rawa. Untuk apa kau buat semakin bagus, mun kena rubuh jua 1). Kayu ulin ini yang paling cocok sudah.” Kekuatan kayu ulin pun menjelma di sendi-sendi rumah kami. Semakin tua namun semakin kokoh.

“Kak, tehnya,” ucapan Galuh membuyarkan lamunanku. Secangkir teh hangat beraroma frambosen khas teh dari Banjar beserta sepiring sanggar yang masih mengepul asapnya dihidangkan di meja tamu. Anakku Laika hendak mencomotnya.

“Hati-hati panas!” seruku. Terlambat, gadis kecilku itu sudah mengibaskan jari-jarinya yang perih kepanasan. Sanggar yang dicomotnya menggelinding ke lantai. Galuh dengan cepat memungutnya,”Acil2) potong-potong di piring kecil ya, supaya Laika bisa memakannya.”

“Jangan Galuh!”tangan istriku tiba-tiba menarik lengan Galuh dan menahan langkahnya. Galuh dan aku menatapnya heran. Marsha buru-buru melepaskan cekalannya,”Jangan dimakan lagi. Kan sudah jatuh, nanti kotor.”
Galuh tersenyum patuh, “Baik Kak.”

“Rumah ini sama sekali tak sehat. Lembab sekali.” Pandangan Marsha menelusuri seluruh ruangan. Menembus ke ruang tengah yang berfungsi sebagai ruang utama sekaligus kamar.
Aku menghela napas.

”Bagaimana tak lembab, tanah di kolong rumah ini berbentuk rawa. Itu sebabnya udara di luar terkadang berbau kurang sedap.”
“Tapi rumah Kai dan Nenek ini wangi, Ayah,”sergah Laika. Bola matanya yang bulat membesar. Aku tersenyum dan mengangguk mengiakan. “Rumah Kai3) dan Nenek ini memang wangi.”

Rumah orangtuaku wangi kesturi. Wangi kesturi lembut yang segera tercium begitu kaki menjejak masuk ke dalam rumah. Wangi ini seperti kabut tipis yang menyelimuti penjuru rumah. Ia seolah menahan bau tak sedap dari luar. Selama ini kupikir wangi ini berasal dari tubuh Uma4). Sewaktu kanak-kanak aku kerap menelusup ke dalam pelukan Uma dan kucium wangi yang sama, entah dari tubuhnya atau kebaya yang dikenakannya. Namun ternyata setelah Uma telah berpulang menyusul Abah5) dua tahun yang lalu pun, rumah kami masih tetap wangi. Entah dari mana sumbernya.

“ Aku tak menyangka Uma memiliki banyak kebaya cantik dan kain kuno,” Marsha bersimpuh di lantai. Wajahnya kelihatan berseri bungah. Dihadapannya bertumpuk pakaian dan kebaya-kebaya milik Uma. Lemari jati milik Uma terbuka lebar, rak-raknya separuh melompong. Sebagian isinya berserakan di lantai.

“Kami sedang memilah-milah isi lemari Uma, Kak. Barangkali ada yang bisa disumbangkan ke bubuhan6) daripada lapuk di dalam lemari,” Galuh menjawab tatapan heranku. Tangannya cekatan memilah pakaian dan melipatnya kembali.

“Apa ini Galuh?” Marsha memegang bungkusan kain kuning. “Aku menemukannya di pojok itu,” tangannya menunjuk sudut dalam rak paling bawah lemari Uma. Galuh bangkit dari duduknya, aku mendekat menghampiri Marsha dan mengambil bungkusan itu. Kuletakkan di atas kasur dan kubuka dengan hati-hati lipatan kain kuning tersebut. Galuh dan Marsha berdiri di samping kanan dan kiriku. Wangi kesturi menyergap penciuman begitu lipatan pertama terbuka. Dan semakin tajam saat bungkusan kain kuning itu semakin terbuka. Sebuah Tapih7) Sasirangan bermotif Naga Balimbur Laki Bini8) berwarna kuning gading terlipat rapi di dalamnya. Wangi tajam kesturi bercampur aroma asing dari masa lalu menguar darinya.

Marsha masih mengelus-elus Tapih Sasirangan yang kini terhampar di kasur tempat tidur. Ia sengaja menghamparnya setelah nyaris sepuluh menit berkeluh-kesah menyayangkan lipatan yang membekas mungkin berpuluh tahun lamanya. Istriku penyuka kain-kain kuno. Matanya yang awas dan terlatih mengenali Kain Sasirangan itu berbeda dengan kain sejenis yang banyak dijual di toko-toko cenderamata.

“Ini kain kuno, Mas. Motifnya sungguh-sungguh dibuat, bukan menggunakan cap. Bahkan pewarnanya pun berbeda,” jemarinya menelusuri permukaan kain dengan hati-hati.

“Wangi sekali,” Wajahnya menunduk menikmati harum yang menguar dari pori-pori kain. “Kainnya pun tak lapuk. Bagaimana bisa ya?” gumamnya berbicara pada diri sendiri.“Aku ingin membawanya ke Jakarta, Mas.”Putusnya tiba-tiba. “Aku akan merawatnya dengan baik. Sayang kalau kain secantik ini tidak mendapat perlakuan istimewa.”

Aku tak menjawab. Sibuk menimang-nimang Laika. Bocah berusia lima tahun itu meringkuk di pangkuanku serupa anak kucing yang manis. Dengkurnya halus seiring nafas yang teratur naik-turun.

“Maaf, Kak. Kalau boleh ulun bepadah9). Kain itu jangan dibawa ke Jakarta. Biarlah dia disini, disimpan sebagai pusaka kuitan.” Adik angkatku itu tiba-tiba bersuara dari biliknya. Rumah kami memang tak memiliki kamar. Tempat tidur berada di sudut bersebarangan di ruang tengah. Tertutup oleh pembatas tinggi namun bisa dilipat yang terbuat dari kayu.

Tak lama sosoknya yang masih mengenakan mukena itu keluar. Dari pembatas bilikku terbuka nampak Marsha masih duduk di atas tempat tidur sembari mengelus-elus Tapih Sasirangan tadi.

“Di rumah ada ruangan khusus yang suhu ruangannya sengaja diatur agar kain-kain kuno tidak mudah rusak. Aku akan menggantungnya bersama kain-kain koleksiku yang lain, Galuh.”

“Ulun paham, Kak. Tapi Tapih ini bukan kain kuno biasa. Ini pusaka, Kak. Mungkin datuk atau nini10) kita telah menyimpannya berpuluh atau bahkan beratus tahun lalu.” Suara Galuh lembut membujuk.

Sejak pertama kali ia datang ke rumah ini, saat usianya masih lima tahun, perangai Galuh memang lemah-lembut. Tak pernah terdengar suaranya berucap nyaring, tajam apalagi kasar. Aku tak pernah mengetahui asal Galuh. Yang kuingat pada suatu senja, Uma pulang setelah tiga hari berpamitan hendak ke hulu. Abah bilang, Uma menengok kerabatnya di sana. Uma kembali ke rumah dan menggandeng anak perempuan kecil berusia kurang lebih lima tahun, seusia Laika anakku saat ini. Anak perempuan yang berwajah mungil dengan kulit kuning cerah. Abah mengangguk tersenyum saat Uma meminta ijin agar anak perempuan itu bisa tinggal bersama kami. Uma memanggilnya, Galuh. Setelah dewasa pernah sekali terlintas di pikiranku, kerabat mana yang ditengok Uma di Tanah Hulu waktu itu? Sebab setahuku, Uma berasal dari Banten. Lagipula keluarga besar Abah semua berkumpul di Banjarmasin. Hanya Abah seorang yang merantau di kota ini.

“Jadi, aku sungguh tak bisa membawanya ke Jakarta, Galuh?” Marsha mengeluh pelan. Ekspresinya terlihat sangat berat. Jatuh cinta sepertinya ia pada Tapih Sasirangan itu. Galuh tersenyum tak menjawab. Dalam hati aku berdoa semoga salah-satu dari mereka ada yang mengalah. Aku sangat memahami ‘kegilaan’ Marsha pada kain-kain kuno. Namun di sisi lain aku pun mengerti alasan yang dikemukakan Galuh. Dan berdiri di antara kepentingan istri dan adik perempuanku adalah hal terakhir yang kuinginkan dalam hidup ini.

Tiba-tiba Laika mengeluh pelan , “Haus, Yah.” Aku memperbaiki posisiku memangku dan kurasakan tubuhnya menghangat. “Sepertinya Laika demam.”

Marsha mendekat dan menempelkan tangannya ke kening Laika. “Ya ampun panas sekali. Apa kau tak merasakannya dari tadi, Mas?” ujarnya panik. Tangannya meraih Laika ke dalam gendongannya. Galuh mendekat dan menyentuh lengan anakku. “Ini panas kak, bukan sekedar demam.”

“Kenapa pian suruh tidur Laika wayah surup kayaini11), Kak?” tegurnya padaku sambil menuang segelas air putih untuk Laika minum.
“Aku menjaganya. Dia ada dalam pelukanku.” Aku membela diri.
“Tetap saja…,”ujar Galuh lembut namun tak bisa menyembunyikan nada menyalahkan dalam suaranya.

Kutatap kedua perempuan yang kini mendadak sibuk memperhatikan Laika. Aku menarik nafas lega. Untuk sementara Tapih Sasirangan itu terlupakan.

Ini hari keempat demam Laika. Suhu tubuhnya tak bergeser turun dari 39 dan 40 derajat Celsius. Aku sudah membawanya ke dokter namun tak ada obat penurun panas yang mempan. Hasil cek darahnya tak menjelaskan apapun. Marsha semakin senewen dari hari ke hari. Ia meminta kami segera kembali ke Jakarta. Aku menolaknya. Sungguh beresiko membawa Laika yang panas tinggi dalam perjalanan darat Samarinda-Balikpapan lalu menyambung perjalanan udara ke Jakarta. Mesti bersungut-sungut, Marsha akhirnya sependapat denganku. Namun bibir tipisnya menjadi sering mengeluhkan banyak hal tentang rumahku. Tentang ventilasi udara yang tak lancar, udara yang lembab, bahkan alat-alat makan yang menurutnya kurang higienis. Tak jarang kulihat Galuh menggigit bibir bawahnya dengan rupa serba salah.

Aku dan Marsha tengah menunggui Laika yang tidur dengan gelisah ketika Galuh mengetuk pembatas kayu.
“Masuklah,” kataku pada Galuh.
Galuh mendekat ke ranjang kami.
“Kak, mungkin kita harus mencoba Tapih Sasirangan itu untuk menyembuhkan Laika,” ujar adikku itu takut-takut.
“Heh?”
“iya, Kak. Barangkali Laika kapidaraan maka tubuhnya mariap dingin seperti itu. Tadi tiba-tiba saja ulun teringat uma pernah berkisah tentang Tapih Sasirangan yang pada jaman dahulu bisa dipakai untuk menyembuhkan penyakit.”
“Tapi itu kan dulu, Galuh. Mana mungkin sekarang Tapih Sasirangan itu masih memiliki kekuatan seperti itu,”tukasku.
“Kenapa tidak, Mas? Bukankah energi itu melampaui batas tempat dan waktu. Kita coba saja, toh tidak ada ruginya.” Marsha tiba-tiba menimpali pembicaraanku dan Galuh. Yang langsung disambut dengan anggukan penuh semangat gadis itu.

Aku mengerutkan kening kenapa Marsha tiba-tiba begitu bersemangat, apa kecemasannya sebagai ibu meluruhkan akal sehatnya? Aku menatap wajah dua perempuan di hadapanku yang menatap dengan rupa penuh harap. Kutarik nafas panjang, “Baiklah. Mana tapih itu?”
Galuh tersenyum lebar penuh kelegaan. Marsha tampak gelisah.
“Mmm, Tapih Sasirangannya aku simpan dalam koperku,” Marsha menjawab malu-malu.
“Ya ampun, Marsha!”
“Tolong disiapkan ya, Kak. Biar kuambilkan segelas air putih dulu untuk menawari.”Galuh menengahi lalu beranjak ke dapur.

Kini kami bertiga berkumpul di tepi ranjang, Galuh duduk di samping Laika yang tengah tidur dengan gelisah. Tangan adikku itu memegang segelas air putih. Sempat kulihat bibirnya bergerak-gerak pelan seolah melafalkan sesuatu. Entah apa. Lalu ia membangunkan anakku,”Laika, minum dulu ya Nak, supaya tenggorokanmu tidak kering,”ujarnya lembut. Laika membuka matanya perlahan, Marsha membantunya mengangkat kepala, meminum air yang disorongkan Galuh kepadanya. “Bismillahirrohmanirrohiim…,” bisik Galuh saat bibir Laika menyentuh pinggiran gelas.
Laika kembali tidur. Hati-hati Galuh menyelimuti tubuh mungil anakku dengan Tapih Sasirangan milik Uma. Gerakannya sungguh takzim seakan dia sungguh seorang pananamba12). Kemudian ia kembali duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya memegang tasbih batu kecubung yang kukenali sebagai milik Abah.
“Kak, kalau pian handak guring13) pakai saja dulu ranjangku. Biar aku dan Kak Marsha yang menunggui Laika di sini.”
“Sudah, aku di sini saja. Aku juga ingin menunggui anakku,”ujarku sembari duduk di lantai kayu menyelonjorkan kaki.
Galuh dan Marsha tersenyum mendengar jawabanku.
Menit demi menit berlalu menjadi jam. Galuh tak henti mendaraskan Shalawat Nabi dari bibirnya. Tasbih kecubung milik Abah terus berputar di tangan kanannya. Marsha beberapa kali mengukur suhu Laika. Dari senyum dan gurat kelegaan di wajahnya, aku tahu suhu badan Laika mulai menurun. Dalam hati kupanjatkan syukur pada Pemberi Kehidupan. Suhu tubuh Laika telah stabil dua jam terakhir. Menjelang shubuh, Galuh bangkit dari duduknya, aku dan Marsha mengikuti. Dengan gerakan yang sama takzimnya, Galuh melipat kembali Tapih Sasirangan yang tadinya menyelimuti tubuh Laika.

Tiba-tiba Laika terbangun. Senyumnya lebar dan matanya berbinar, “Tadi malam Nenek menemani Laika. Ada Kai, Datuk, Nini… semua menemani Laika,”celotehnya riang. Aku, Marsha dan Galuh sontak berpandangan satu sama lain.
“Mmm…, Ayah, sebelum Nenek pulang ia ingin mengatakan sesuatu,”
Mata Laika terpejam lalu terbuka kembali sedetik kemudian. Ia bangun lalu duduk dengan punggung tegak. Raut wajahnya berubah. Ia Laika namun bukan Laika. Lengan kanan dan kiriku dicengkram kuat oleh Marsha dan Galuh. Kami bertiga terpaku tak bergerak menatap Laika. Sorot matanya melembut, dan suaranya pelan berkata,”Jangan dibawa kainku keluar, diandak di sini haja, Nak ai.” 14)

Suara Uma!


Keterangan:
1. Mun kena rubuh jua : Kalau nantinya malah rubuh.
2. Acil : Bibi/tante
3. Kai : Kakek
4. Uma : Ibu
5. Abah : Ayah
6. Bubuhan : Kerabat
7. Tapih : Kain
8. Sasirangan : Nama kain khas Banjar
9. Ulun Bepadah : Saya berkata
10. Datuk-Nini : Kakek Nenek
11. Wayah surup kayaini : Saat senja seperti ini
12. Pananamba : Penyembuh
13. Pian handak guring : Kalau anda ingin tidur
14. Jangan dibawa kainku keluar, diandak di sini haja, Nak ai : Jangan dibawa kainku keluar. Simpan di sini saja, Nak.

https://stocksnap.io/photo/E6A55845C9

Ingatan Tentang Fey

 

Gadis itu ternyata datang lagi. Kali ini ia mendekati pohon besar tempatku duduk. Ikut disandarkan tubuhnya begitu saja pada batang kokoh itu. Seolah aku adalah rengkuhan lebar yang menawarkan kenyamanan saat dirinya menelusupkan tubuhnya padaku. Aku diam tak bereaksi. Kubiarkan kepala gadis itu rebah padaku. Kucium aroma jeruk segar dari rambut panjangnya yang tak pernah kulihat rapi terikat. Bercampur wangi samar widelia dan imperata, aroma rambutnya seolah menjadi penanda lembah ini.

Padang rumput ini sepi. Hanya angin yang berhembus ringan sesekali menggoda rumpun mimosa di sela-sela rerumputan. Sekali dua daun mimosa menutup seolah gadis yang tertunduk malu saat angin genit menyentuhnya. Kami berdua masih sama-sama diam.

Namanya Fey. Entah bagaimana penulisannya. Mungkin namanya Faye, Fae atau Fay. Aku hanya mendengar mereka memanggilnya Fey.

Fey datang seminggu yang lalu ke rumah besar di ujung bukit ini. Rumah putih yang bisa kulihat dari tempatku berdiri ini biasanya lengang. Hanya satu dua penjaga dan pembantu rumah tangga yang sesekali berseliweran melintas di halaman. Namun hari itu sebuah rombongan kecil datang berkunjung. Sekelompok orang dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan. Seakan sekumpulan cirrosstratus menggayut di kepala mereka. Membentuk halo yang muram.

Lalu Fey datang. Langkah kakinya lebar dengan ketukan ringan pada tanah dengan birama yang tepat. Gadis itu pasti seorang ballerina. Aku menyimpulkan begitu saja setelah kata ballerina berkelebat di pikiran. Dia mendekat lalu berdiri tepat di sebelahku. Pandangannya kosong menatap ke depan sementara pandanganku lekat ke wajahnya. Pada lekuk hidung, bibir kemudian dagunya yang runcing. Wajah tirus ini terlalu familiar.

“Mereka membawaku kesini,” suaranya jernih. Pandangannya terpaku ke arahku. Aku terkesiap sedetik. Tak siap tertangkap basah.

“Kata mereka aku harus beristirahat. Aku tak boleh mengajar anak-anak itu lagi. Murid-muridku di studio.” Suara jernihnya bergetar. Ia memalingkan wajah. Air mata mengalir ke pipinya yang kurus. Dia memejamkan mata menangis tak bersuara.

Lalu kami diam berjam-jam lamanya.

“Fey!” suara melengking memecah keheningan kami.

“Fey!” Gadis itu menoleh ke sumber suara di kejauhan. Dan kutahu ia bernama, Fey. Fey bergerak malas memutar tubuhnya.

“Mereka membawaku kesini karena mereka pikir aku gila.” Matanya tajam menusukku. Kemarahan keluar dari bola mata kecoklatan miliknya. Lalu dia berjalan pulang.

Hari-hari berikutnya Fey selalu datang ke tempatku. Pagi hingga sore. Ia tak pernah mau pulang sebelum burung-burung gereja berombongan terbang kembali ke arah atap rumah putih itu. Sarang mereka.

“Aku tidak ingin pulang. Aku ingin disini.” Lalu matanya lagi-lagi berkilat marah. Tangannya menepis kasar.

Perempuan setengah baya dari rumah putih itu ketakutan. Ia melangkah mundur dan berbalik arah. Sejak itu setiap tengah hari dia akan datang mengantar serantang penuh makanan. Untuk Fey. Dan gadis itu, terkadang ia menghabiskannya terkadang menyentuhnya pun tidak.

Aku menatap wajah yang sarat emosi dan kesedihan milik Fey. Sejuta keheranan mengikuti setiap kali kulihat ekspresinya yang berubah-ubah. Terkadang ia datang dengan senyum terkembang. Ocehannya deras tak putus-putus bercerita tentang suatu hari yang menyenangkan bersama lelaki itu. Kemudian bibirnya akan terkatup tiba-tiba seolah teringat sesuatu. Rahangnya mengeras dan sorot matanya berubah dingin. Sedetik kemudian air matanya akan deras meluncur seiring gerakan tubuhnya yang mengayun teratur ke depan dan ke belakang. Seolah pendulum.

“Aku tak tahu kehilangan ternyata begitu menyakitkan.” Suara Fey tenang. Sedu sedan sejam yang lalu entah menguap kemana.

“Manusia dilarang keras untuk terlalu bahagia. Sebab Tuhan akan menjadi iri dan merenggut bahagiamu dengan tiba-tiba.” Lirih dan sinis.

Aku mengerutkan kening tak suka mendengar ucapannya. Itu tidak benar. Tapi mulutku terkunci.

Fey mencabuti rumput-rumput di sebelahnya dengan kasar.

“Seperti ini.” Tangannya terus bergerak. “ Tak jadi masalah jika akarnya ikut terangkat. Kau akan melupakannya dengan baik.”

“Bagaimana jika ternyata akarnya tertinggal? Dia akan menjadi luka membusuk seperti gangren.”

Jika akarnya tertinggal maka akan tumbuh tunas yang baru. Dia bertahan hidup, Fey.

Aku berbisik di telinganya. Fey memejamkan mata. Entah ia bisa mendengarku atau tidak.

Tapi kuakui, Fey benar. Kehilangan itu menyakitkan. Setidaknya bagiku kehilangan ingatan itu menyakitkan. Ketika kau tiba-tiba terbangun dan berada di suatu tempat. Tempat yang asing dan benar-benar baru. Tanpa kau tahu kenapa dan apa yang harus dilakukan. Seperti bayi yang melupakan kenangan tentang rahim ibunya. Begitulah aku.

Menghabiskan waktu tanpa tujuan. Meski perbedaan siang dan malam tak berpengaruh untukku, aku lebih menyukai saat terang. Ketika Fey datang bersama segenap emosinya. Lihat, bahkan gadis paling aneh pun akan kau rindukan saat kau benar-benar kesepian.

Kau tidak akan pernah bisa menghargai sesuatu sampai kau kehilangannya. Siapa yang peduli akan ingatan? Sebagian orang berusaha sedemikian keras untuk menghilangkan kenangan. Ingatan akan masa lalu. Begitu keras hingga merasa perlu berpura-pura. Tertawa bahagia sementara hatinya masih meronta terluka. Sebagian yang lain memaksa membawanya kemana-mana seolah ia akan mati jika terlupa. Padahal ingatan itu menyakitinya.

Ingatan seharusnya serupa kunci ajaib. Tahu kapan harus membuka pintu masa depan dan kapan harus menutup pintu masa lalu. Ingatan membawa petunjuk-petunjuk yang kau butuhkan saat ingin membuka pintu yang baru. Membuka pintu masa lalu sesekali dan menutupnya kembali rapat-rapat saat tak dibutuhkan. Kehilangan ingatan sama seperti kehilangan kunci. Tak tahu pintu mana yang harus dibuka atau ditutup.

Aku kehilangan ingatanku. Kunciku. Aku buta dan tersesat.

Seperti sebuah rutinitas yang menyenangkan lambat-laun kedatangan Fey selalu kutunggu. Wajah tirusnya, aroma rambutnya bahkan ketukan langkahnya. Semua tentang Fey menggelitik ingatanku yang terkubur dalam di suatu tempat.

Aku hanya merasa aku disini untuknya. Seolah Tuhan sengaja menempatkanku di tempat ini untuk menunggunya. Berada di sampingnya saat ia berteriak-teriak melampiaskan kemarahannya pada Tuhan. Mendengarkan keluh-kesah panjang berlumur kesedihan dari bibirnya. Lalu terpesona pada binar sepasang miliknya ketika ia mulai bercerita tentang lelaki itu.

Aku memeluknya. Memberikan bahuku untuknya menangis. Kadang kucium ujung rambutnya untuk menenangkan isaknya. Aku hanya tahu aku harus melakukan itu. Jauh di dasar hati, aku merasakan sebuah perasaan bersalah. Pada kesedihan yang harus di tanggung gadis itu.

Hari telah menjelang sore ketika Fey datang. Wajahnya lebih kacau dari biasanya. Tangannya menggenggam sebuah botol yang isinya tinggal separuh. Mata gadis itu berair dan ujung hidungnya yang memerah terlihat kontras di kulitnya yang putih. Aku mengerutkan kening mengenali botol yang ada di tangannya.

Dan ingatanku mendadak muncul seperti slide-slide film yang diputar ulang.

Gerimis nyaris tengah malam. Sepulang merayakan keberhasilan sebuah tender di pub aku menyetir pulang dalam keadaan sedikit mabuk. Tidak benar-benar mabuk sebenarnya. Aku masih bisa melihat jalanan yang kulewati dengan cukup jelas. Jalanan yang lengang menggodaku menaikkan kecepatan. Sebenarnya aku telah melihat mereka dikejauhan. Sepasang kekasih berjalan berpelukan di trotoar pada malam yang gerimis berangin. Hanya saja aku tak menduga jika angin cukup kuat untuk menerbangkan payung mereka. Dan si pria dengan sigap berlari ke tengah jalan untuk mengejar payung merah itu. Kekasihnya menoleh ke arah mobilku. Kami bertatapan sedetik dan kulihat wajah tirusnya memucat. Seiring teriakannya kubanting stir dengan cepat ke samping, namun tubuh lelaki itu terlanjur terlempar dihantam ujung mobilku. Jalanan yang licin, rodaku slip kehilangan kendali. Bunyi berdencit, hantaman keras dan hamburan pecahan kaca. Lalu senyap.

Aku jatuh terduduk. Lututku goyah. Fey, lelaki itu dan aku.

Rasa bersalah itu, wajah tirus yang kukenali dan mengapa aku disini. Semua tiba-tiba menjadi begitu masuk akal.

Fey mengangkat botolnya lagi dengan gemetar hendak menenggak sisa isinya ketika tanganku tiba-tiba bergerak menepisnya. Entah kekuatan apa yang merasuki tanganku namun botol itu nyatanya terlempar. Jatuh terguling menumpahkan isinya. Habis. Lesap dalam tanah. Fey ternganga. Aku ternganga.

Kemudian Fey mengamuk. Sungguh-sungguh mengamuk. Meneriakkan sebuah nama mungkin milik kekasihnya berulang-ulang. Menjerit memanggilnya. Matanya liar menyapu sekitar.

“Aaron! Kau disini kan?” Tubuhnya berputar ke segala penjuru.

“Jawab aku! Aaron!”

“Aaroooon!”

Airmata mengotori pipi tirusnya. Tubuhnya melengkung menahan jeri. Teriakannya tak berhenti. Bahunya berguncang keras menumpahkan isak. Fey histeris.

Gadis itu ternyata datang lagi. Kali ini ia mendekati pohon besar tempatku duduk. Ikut disandarkan tubuhnya begitu saja pada batang kokoh itu. Seolah aku adalah rengkuhan lebar yang menawarkan kenyamanan saat dirinya menelusupkan tubuhnya padaku. Aku diam tak bereaksi. Kubiarkan kepala gadis itu rebah padaku. Kucium aroma jeruk segar dari rambut panjangnya yang tak pernah kulihat rapi terikat. Bercampur wangi samar widelia dan imperata, aroma rambutnya seolah menjadi penanda lembah ini.

Padang rumput ini sepi. Hanya angin yang berhembus ringan sesekali menggoda rumpun mimosa di sela-sela rerumputan. Sekali dua daun mimosa menutup seolah gadis yang tertunduk malu saat angin genit menyentuhnya. Kami berdua masih sama-sama diam.

Fey menarik tubuhnya perlahan dan berdiri. Ujung rambutnya meriap tertiup angin. Seperti robot aku ikut berdiri di sampingnya. Ia menarik nafas sejenak.

“Aku tahu saat ini kau ada disini, Aaron.” Fey mengedarkan pandangan ke sekitar. Sorotnya lembut menembus sosokku.

“Kau pasti telah melihat saat-saat terburukku. Maafkan aku. Tapi kehilanganmu sungguh menyakitkan. Aku nyaris tak sanggup bertahan.” Suara Fey bergetar. Tenggorokanku tercekat. Tanpa kusadari tanganku terangkat menghapus airmatanya. Titik air itu tetap meleleh di pipinya.

Fey terisak, “Sikapku konyol sekali hingga kau terpaksa tertahan di sini demi aku.” Gadis itu mengambil jeda sejenak, mengangkat wajah dan mengulaskan senyum paling manis yang pernah kulihat darinya. “Pulanglah Aaron. Aku siap. Jangan khawatirkan aku.”

Fey membalikkan tubuhnya melangkah pergi meninggalkan lembah. Aku menatap punggung dan ayunan langkahnya yang terus menjauh.

Aku bukan Aaron, Fey. Tapi berjanjilah kau akan akan baik-baik saja.

Seberkas cahaya yang teramat terang memanggil. Aku tahu tugasku telah usai.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/DC5VUFBGV2

 

Rumah Ayah

Aku sebenarnya malas datang ke rumah ini kalau bukan Ibu yang memintaku dengan bersimbah air mata. Bukan aku tak menghormati almarhum ayahku, sama sekali bukan. Apapun yang telah terjadi, dia Ayahku. Ibu telah berusaha keras mendidikku untuk tidak menjadi seorang anak yang durhaka. Setelah banyak hal yang telah ia lalui dalam hidup ini, membuatnya kecewa adalah hal terakhir yang kuinginkan.

Rumah ini terlalu banyak berubah sepanjang ingatanku. Bahkan catnya pun memudar. Berwarna hijau tua yang kini telah mengelupas di beberapa bagian. Di sudut-sudut luar lapisan triplek plafon menganga karena lapuk. Paviliun di pojok belakang rumah pun kini terkesan angker, gelap dan tertutup. Entah berapa lama jendela-jendela jatinya tak dibuka. Rumput-rumput liar tumbuh merimbun di taman depan. Rumah ini jauh dari kata terawat.

Namun siapa hendak disalahkan? Rumah warisan turun – temurun dari buyutku yang memiliki pabrik gula di jaman Belanda ini sungguh luas. Butuh biaya dan tenaga khusus untuk merawatnya dengan baik. Keberuntungan buyut dan kakekku mengelola bisnis rupanya tak menurun pada ayahku, Acarya Halim. Ayah lebih suka menjadi guru sukarelawan dan sesekali menulis di surat kabar ketimbang mengurusi bisnis yang diwariskan oleh kakek dan ayahnya. Untunglah istrinya  – yang juga ibu tiriku – seorang wanita yang cakap dan terampil. Sangat piawai mengelola bisnis hingga suaminya memilih pembantu mereka yang lugu dan setia untuk mendengarkan puisi-puisi yang ditulisnya. Begitulah cara Ibuku, Laras, bertemu dengan suaminya. Ayahku.

“Dana!”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Shushu 1) Chandra bangkit dari kursinya dan kakinya yang mengecil sebelah karena polio itu tertatih menujuku. Aku menghampiri dan mencium tangannya yang keriput. Shushu Chandra sebenarnya bukan pamanku. Ayahku anak tunggal. Tapi Ayah dan Shushu bersahabat sejak kecil. Tak ada rahasia Ayah yang terlewat direkamnya. Termasuk kisah hidupku. Shushu Chan serupa Ayah kedua untukku.

Beberapa pasang mata menoleh ke arahku dan seperti biasa bisik-bisik mengikuti sesudahnya. Shushu Chan menarik tanganku. Mengajakku menyingkir ke taman samping.

“Ada apa shushu?” tanyaku heran.

Shushu tak menjawab. Ia merogoh ke dalam tas hitam berbentuk  mirip milik tas tukang pos yang selalu dibawanya kemana-kemana. Dikeluarkannya bungkusan kain merah beledu.

“Ini untukmu. Ayahmu menitipkan ini untuk kuberikan padamu sejak setahun yang lalu saat ia mulai sakit-sakitan.” Shushu menyorongkannya ke telapak tanganku dan menggenggamkannya.

Aku mengerutkan kening. Kubuka dengan cepat bungkusan kecil itu.

“Shushu… tapi untuk apa ini?” Mataku tertumbuk pada sebuah cincin besar terbuat dari giok. Permukaannya yang datar berukir nama marga Liem dalam karakter Hanzi. Cincin stempel keluarga Liem yang diwariskan turun temurun.

“Simpan sajalah, Ayahmu yang meminta. Aku hanya menyampaikan.” Shushu menepuk bahuku sebelum beranjak meninggalkanku seorang diri. Tercenung dengan cincin stempel keluarga Liem di tanganku.

Sosok perempuan langsing dengan gaun putih sederhana menyambutku begitu tiba di ruang tamu. Garis wajahnya  seperti Nyonya  dengan sepasang mata bersorot lembut seperti milik ayah. Nyonya, aku benci panggilan itu. Seperti memperjelas statusku sebagai anak haram keluarga ini. Namun ibu bersikeras aku harus memanggilnya Nyonya.

Dia Nyonya Besar Keluarga Liem, Dana. Kau harus menghormatinya. Begitu ucap ibuku. Selalu.

“Kau datang sendiri, Dana?” Mata Ci Julie menatap ke belakang tubuhku mencari seseorang. Aku paham maksud pertanyaanku Cici 2) keduaku ini.

“Ibu tidak ikut, Ci. Memilih berdoa di rumah saja.”

“Oh.”

Sorot kelegaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Aku tersenyum kecil.

Di tengah ruangan terbujur peti mati ayahku. Namun kakiku justru melangkah lebih dulu ke meja altar tempat  guci abu Tan Wen Hui disemayamkan. Aku menganggukkan kepala, di hadapan fotonya dan menyalakan dupa bagi wanita yang biasa kupanggil Ama itu. 3)

Selain Shushu, wanita inilah yang menjadi penopang kehidupan ibu dan aku. Dukungannya kepada ibu menyakiti perasaan Nyonya Besar rumah ini dan menjadi sumber kebenciannya yang abadi. Mungkin benar apa yang selalu dikatakannya ke semua orang. Bahwa Ama membela ibuku semata karena yang dilahirkannya  adalah anak laki-laki. Tapi Tuhan memang adil, tak pernah bisa kubayangkan apa yang akan terjadi pada ibuku saat itu  jika Tuhan memutuskan untuk menciptakanku dalam wujud anak perempuan.

Cici Julie menepuk bahuku dan berbisik, “Dana, berilah hormat pada Papa untuk yang terakhir sebelum peti ditutup. Setelah itu kita ke kamar kerja Papa sebentar. Ci Imel menunggu kita di sana.”

Aku mengangguk menuruti perintahnya.

Cici Imel, putri  sulung Keluarga Liem ini berjalan mondar-mandir. Ujung sepatunya yang runcing meninggalkan ketukan yang teratur berirama staccato pada lantai kayu. Di meja kerja ayahku duduk Rudi Wijaya, notaris yang biasa bekerja untuk Keluarga Liem. Keningnya berkerut-kerut. Ci Imel menoleh sejenak ke arah pintu saat aku dan Ci Julie memasuki ruang kerja Ayahku.

“Papa tidak meninggalkan apapun, Julie. Selain pabrik yang bangkrut dan berhutang 10 milyar kepada Bank.”

“Oh. Dia memberikan rumah ini pada si anak haram,” desisnya tajam. Dagunya terangkat sedikit menunjuk ke arahku.

“Cici!” Tegur Julie lalu menatapku dengan tatapan serba salah.

Alih-alih mengamuk. Aku justru  menyandarkan tubuh ke punggung kursi dengan nyaman. Hampir seluruh usiaku ini dihabiskan untuk menghadapi cacian dan sindiran Nyonya Besar dan putri sulungnya ini. Bahkan setelah aku dan ibu memilih untuk pindah dari rumah ini, teror mereka tidak berhenti. Jadi bisa dibilang aku telah kebal.

“10 Milyar, Julie! Kau bisa bayangkan bagaimana kita harus membayar hutang  Papa?” Wajah Ci Imel mengencang.  Ci Julie tak menjawab. Ia sibuk meremas-remas telapak tangannya sendiri dengan gelisah.

“Konyolnya lagi ia mewariskan harta satu-satunya ini kepada Dana!”

Kemajuan.  Kali ini Ci Imel tak memanggilku anak haram.

“Menurut Rudi, pabrik kita sudah berkali-kali dipinang pihak pengembang perumahan yang hendak meluaskan area. Namun ayah selalu menolaknya. Ia tak tega memecat ratusan karyawannya. Konyol sekali!” Cerocos Ci Imel tanpa jeda.

“Menutup piring nasi ratusan orang itu beban yang besar. Dan mempertimbangkan kehidupan orang lain sama sekali bukan pekerjaan konyol!” Aku menukas tajam.

“Haissh, Orang tua dan anak sama saja. Dasar lelaki-lelaki aneh. Tidak realistis!”

Langkah Ci Imel tiba-tiba berhenti di depan kursiku.

“Aku akan menjual pabrik itu. Dan Dana, karena rumah ini bagianmu, kau harus menjualnya!”

Aku sudah hendak membuka mulut untuk membantah, ketika tiba-tiba pintu terbuka. Salah-seorang Acim 4) melongokkan kepala, “Kalian bertiga keluarlah. Misa sebentar lagi dimulai.”

Sedan mewah milik Ci Imel ternyata tak bisa memberikan kenyamanan.  Aura ketegangan tak bisa diusir oleh hawa sejuk yang dikeluarkan pendingin mobil ini. Nyaris sepuluh menit lamanya, aku dan Ce Imel bersitegang soal hutang Ayah. Ini konyol sekali. Di depan kami, mobil jenazah yang membawa jasad Ayah belum lagi sampai di pemakaman. Dan di belakangnya kami mengiringinya sembari bersitegang mengenai hutang dan harta.

“Aku tak melihat ada cara lain untuk mengatasi hutang-hutang Papa, selain menjual aset-aset yang Papa miliki. Lebih baik aku berkonsentrasi pada bisnisku sendiri daripada harus mengurus pabrik yang hidup segan mati tak mau seperti itu,” keluh Ci Imel.

“Aku sama sekali tak paham dunia bisnis. Aku tak bisa membantu,” Ci Julie berkata lirih.

Ci Imel menepuk-nepuk punggung tangan Ci  Julie. Mungkin ia ingin menenangkan adiknya.

“Kau setuju untuk menjual rumah itu kan, Dana?” Ci Imel menoleh ke arahku. Nada kalimatnya lebih seperti mengintimidasi daripada bertanya.

Aku memejamkan mata. Ini seperti simalakama. Rumah itu bukan sekedar tempatku dilahirkan atau tempat kami berteduh. Ia saksi hidup dari sejarah Keluarga Liem.  Pada rumah itu kehormatan Keluarga Liem disematkan. Tapi apa peduliku?  Kalau boleh memilih sebenarnya aku tak ingin menjadi bagian keluarga ini. Keluarga yang menerimaku semata-mata karena aku laki-laki yang mereka butuhkan untuk menyandang nama Liem. Rumah itu juga tak memberi kenangan manis untukku.  Menghabiskan masa kecil dengan berada di persimpangan antara menjadi anak haram dan penerus keluarga, selain membingungkan juga jauh dari kata menyenangkan. Ci Imel benar, menjual rumah itu adalah cara terbaik dan tercepat memutus kenangan. Aku akan menjual rumah itu.

Langit mendung dan angin dingin yang bertiup lembut menjadi pengiring yang manis saat peti mati Ayah diturunkan pelan-pelan ke liang lahat. Mendadak kilasan-kilasan peristiwa bersamanya melintas. Kunjungannya  setiap tahun yang bisa dihitung dengan jari. Tawanya yang lebar saat aku bercerita tentang layang-layang buatanku yang habis terjual.

Tak sia-sia kamu menyandang nama Danadyaksa Halim, Nak.

Memangnya apa arti namaku, Yah?

Penjaga harta. Kelak, kamulah penjaga harta keluarga Liem, Nak. Kewajiban yang tak bisa Ayah penuhi. Hutang Ayah yang terbesar  kepada leluhur. Jagalah yang telah dicapai para leluhur untuk kalian anak cucunya.

Penjaga harta. Hutang terbesar Ayah kepada leluhur. Tiba-tiba saja airmataku merebak. Ucapan ayah terngiang-ngiang di telinga seolah sengaja dihembuskan angin dari tempat yang jauh.  Kurogoh saku celana untuk mengambil sapu tangan dan jariku menyentuh sebuah bungkusan kecil.

Stempel Keluarga Liem.

Keterangan:

  1. Shushu                    : Paman
  2. Cici                          : Kakak perempuan
  3. Ama                        : Nenek
  4. Acim                        : Adik Perempuan Ipar Ayah

 

Credit: https://stocksnap.io/photo/8QWWZNFNSX

 

Remah-remah

Di Sebuah Balkon Pada Suatu Sore

 tentang A

Di balkon kafe, kopi pahit di hadapan. Kenangan di seberang.

Percakapan kita sepahit kopi pagi hari. Kau bergerak melebihi angin.

Lembut berhembus, lalu meliuk menghempas. Tak tertebak.

Siapakah kau?

Percakapan kita tak lebih dari lima jemari. Tapi kau berubah berkali-kali.

Tidakkah kau lelah?

Kujelmakan kau dalam pahit yang kucecap, hingga hangat peluk

menanggalkanmu seluruh. Jadi utuh.

 —

Humsafar

Kepada W

Pada sebuah persinggahan kita bertemu. Berbincang, tertawa dan menggenggam tangan. Meredakan gelisah satu sama lain.

Hingga masa berganti. Kita terpaksa beranjak meski enggan. Sebuah pelukan menghantar perpisahan.

Sepasang di perjalanan senantiasa berjumpa lalu berpisah. Pada satu titik di setiap jalan yang harus ditempuh. Begitulah kita adanya.

Gadis Kecil di Selasar

:Gadis kecil menangis di selasar,

Rindu tak lagi selembut harum manis

Pelukan kini menjelma gemetar

:Gadis kecil menangis di selasar,

Bersama bisik angin di telinganya

Mari rayakan kehidupan dengan…

 kehilangan.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/AEOKEFZ5XP

Kelana Waktu

Perempuan itu duduk di tempat yang sama setiap kali berada di taman ini. Di sebuah bangku yang panjang yang terbuat dari besi bercat merah yang  mengelupas di  beberapa bagian. Setelah meletakan tasnya dengan hati-hati, jemarinya akan menghubungi sebuah nomor. Milik seorang lelaki yang beberapa bulan belakangan rutin bertemu dengannya.

Selama jeda waktu menunggu, ia akan memandangi bulatan-bulatan putih yang terlihat empuk di langit biru. Bentuknya yang berserabut lembut itu mengingatkannya pada gumpalan harum manis yang kerap dibelinya semasa ia kanak-kanak. Lalu ingatannya berlompatan ke masa lalu saat ia masih seorang gadis kecil berambut pendek.

Dia, entah mengapa menyukai masa lalu. Tenggelam di dalamnya selama beberapa waktu. Lalu merunut kembali semua peristiwa yang telah ia alami. Layaknya sebuah film tua yang diputar ulang. Kadang-kadang pikirannya terusik oleh kalimat ‘bagaimana jika…’ yang kerap kali muncul pada beberapa peristiwa. Seperti peristiwa pada sore itu. Betapa ia ingin mengoreksi satu bagian saja.

Jika waktu bisa diputar mundur…

Kelas sontak gaduh begitu punggung ibu dosen yang mungil itu hilang di balik pintu. Bunyi kursi digeser kasar beradu dengan langkah-langkah bergegas beradu cepat menuju pintu keluar. Tidak peduli masih bocah berseragam putih merah atau telah gagah menyandang status mahasiswa, kelakuan murid nyatanya tak berubah setiap kali kelas berakhir.

Lirang merapikan buku-bukunya dengan tenang. Tak terusik oleh kegaduhan sekitar. Kostnya tak jauh dari kampus. Hanya 10 menit berjalan dan 6,5 menit jika setengah berlari. Jadi ia tak tertarik untuk bergabung dalam adu cepat itu dan membiarkan dirinya keluar paling akhir dari kelas.

“Lirang!” Suara Billy menahan langkahnya sejenak.

“Boleh pinjam catatanmu?”

Lirang mengangguk dan mengangsurkan bukunya pada teman sekelasnya yang agak ‘kemayu’ itu.

“Jangan hilang, jangan terlipat dan jangan lewat dari seminggu,”  ultimatumnya pada Billy.

Billy nyengir. Mahfum pada kejudesan Lirang. Mau bagaimana lagi, hanya gadis ini di kelasnya yang selalu duduk paling depan. Mengikuti perkuliahan dengan tekun lalu merangkumnya pada sebuah catatan yang rapi.

“Kamu langsung pulang? Nongkrong dulu yuk bareng anak-anak,” ajak Billy pada Lirang. Meski ia tahu jawaban apa yang akan meluncur dari bibir gadis itu. Persis seperti dugaan Billy, Lirang menggelengkan kepalanya.

“Aku mau langsung pulang. Capek.” Senyum Lirang terkembang manis. Terlalu manis untuk menyiratkan kelelahan. Namun Billy mengiyakan tanpa banyak cakap. Mereka saling melambai sebelum berpisah di ujung lorong.

Lirang meneruskan langkahnya seorang diri. Sesekali bibirnya bergumam menyenandungkan potongan lagu yang tak pernah berhasil dihafalnya dengan sempurna. Kakinya kini tiba di ujung tangga. Dengan hati-hati ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Beberapa mahasiswa membentuk kelompok-kelompok berkerumun di sepanjang lorong. Masing-masing sibuk sendiri tak hirau satu sama lain. Lirang tersenyum sambil menajamkan telinga. Memastikan tak ada langkah kaki menaiki tangga yang akan berpapasan dengannya.

Dengan satu tarikan lembut ia menarik punggungnya. Memperbaiki postur tubuhnya menjadi lebih tegak. Mengangkat sedikit dagunya dan melangkah dengan anggun. Seirama dengan melody Bad’ner Madl’n dari Karl Komzak yang mengalun imajinatif di telinganya. Lirang menyukai permainan  konyol ini. Berpura-pura dirinya adalah seorang debutante yang tengah menuruni anak tangga menuju hall ruang dansa.

Tepat di tikungan tangga yang melingkar, Lirang melihat sosok itu melintas. Langkahnya terhenti. Simfoni Komzak di telinganya mendadak lesap di udara. Imajinasinya buyar seketika. Matanya lekat pada sosok kurus tinggi yang melenggang santai melintasi koridor kampus. Sesekali lelaki itu berhenti untuk menyapa beberapa orang sembari memperbaiki letak ransel di bahunya yang bidang.

Lirang mematung tak berkedip. Perutnya bergejolak aneh. Jantungnya berdebar lebih cepat. Gelombang rasa nyaman dan kebingungan menyergapnya bersamaan. Ia seperti pernah mengalami saat ini sebelumnya. Belum pulih dari kebingungannya, tiba-tiba Lirang mendengar bisikan halus namun memaksa di telinganya. Hampiri dia… demi Tuhan, panggil dia. Hampiri dia…

Suara itu seperti miliknya namun terdengar lebih halus dan memaksa. Seolah dikirim oleh angin dari dirinya sendiri di tempat yang berbeda. Suara yang begitu lirih namun penuh pengharapan. Seakan dirinya saat ini adalah penentu segalanya. Begitu mendesak dan menghipnotis.

Lirang mencengkram tali tas selempangnya dengan kuat. Sebelum bibirnya membuka tanpa sadar.

“Nayo!”

Lirang bersumpah panggilannya tak melebihi nada Mi dalam tangga nada. Namun lelaki itu bisa mendengarnya dan memutar punggung. Melihat ke arah anak tangga tempatnya berdiri saat ini. Menatapnya sekian detik dari balik kacamata lalu tersenyum padanya. Lirang terpukau. Dan lagi-lagi anggota tubuhnya bergerak di luar kuasa otaknya. Kakinya dengan ringan melangkah menyelesaikan anak tangga. Berjalan menghampiri lelaki itu. Mendekat ke arahnya.

“Hai,” sapa Lirang lembut. Kakinya lalu berjinjit.

Mendaratkan sebuah ciuman di pipi lelaki itu

__

Setelah ciuman itu, waktu bergulir dengan cepat. Mereka menjadi dekat. Dan ia mencintai lelaki itu begitu hebat. Hatinya begitu penuh akan dirinya. Tak menyisakan celah sedikit pun. Begitu melekat. Merasuk. Seakan ia telah mencinta berabad-abad lamanya.

Angin berhembus pelan membawa dingin yang menggigilkan, sisa hujan seharian. Lelaki itu merapatkan jaketnya. Lirang duduk memeluk lutut mencari tambahan hangat meski tubuhnya telah tenggelam dalam sweater. Dua cangkir coklat panas mengepul di antara mereka. Liukan tipis asap rokok yang dihembuskan lelaki itu seolah menyimpan pesan yang tak sanggup diucapkan. Lirang menandai dengan gelisah.

“Ada sesuatu?” tanyanya.

Lelaki itu menoleh. Mematikan rokoknya. Menarik nafas dengan berat dan menatap Lirang lekat-lekat.

“Aku ingin pergi.”

Kemudian, lelaki itu pasti mengucapkan begitu banyak kata yang menyakitkan. Karena hatinya terasa begitu ngilu. Perih bukan main. Hingga matanya bergenang seketika. Lalu tumpah tak terbendung.

Lelaki itu ingin pergi bukan karena ia tak mencintainya lagi. Tapi karena cinta Lirang yang begitu penuh. Menyesakkan. Begitu lekat hingga membuat langkahnya menjadi berat. Lelaki itu rindu kebebasannya. Air mata Lirang mengalir semakin deras. Yang ia tahu, ia mencintai lelaki itu utuh sepenuh. Membayangkan cintanya ternyata menakutkan bagi lelakinya, membuatnya terluka. Ia tidak bisa mengerti namun tak ingin pula menahan.

“Pergilah.” Bibirnya bergetar.

Lelaki itu menatapnya. Lirang menganggukkan kepalanya. Dan lelaki itu melangkah pergi. Menyisakan punggung yang sedikit demi sedikit menghilang di kelokan jalan. Juga sepasang mata yang menatapnya tak berkedip. Sepasang yang berair dan terluka.

Sore yang hangat. Taman penuh oleh bocah yang berkejaran dan berlarian. Sepasang manula melintas bergandengan tangan. Menatap penuh selidik pada perempuan yang duduk seorang diri di bangku hijau itu. Pandangannya kosong menatap satu titik lurus di depan. Wajahnya yang pias seolah tak dialiri darah itu menarik perhatian mereka. Wanita tua tadi ingin menyapa mencari tahu. Namun suaminya menahannya,”Mungkin ia sedang tak ingin diganggu.” Lalu keduanya berlalu dan berharap perempuan itu baik-baik saja.

Sebuah tangan yang besar menyentuh perempuan itu dari belakang. Dan ciuman ringan mendarat di ujung bahunya. Perempuan itu tersentak. Tersadar dari lamunan panjangnya. Lalu menoleh ke arah lelaki yang kini duduk di sampingnya. Lelaki yang sedari tadi ia tunggu.

“Apa kabar?” tanya lelaki itu lembut sembari meremas tangannya. Perempuan itu tersipu.

“Tanganmu kenapa dingin sekali? Sakit?”

Lelaki itu mencemaskannya.

“Tidak. Aku hanya melamun awalnya. Lalu tiba-tiba, aku seolah terseret di dalamnya. Semua kelihatan begitu nyata dan menyedihkan.” Suara perempuan itu melemah di ujung kalimat. Tercekat oleh rasa sedih yang tak asing

“Memangnya apa yang kau lamunkan?”

Perempuan itu ingin menceritakan semua. Tentang keingintahuannya. Apa yang terjadi jika ia menghampiri lelaki itu saat ia melihatnya pada suatu sore di kampus mereka dahulu. Tentang keinginannya kembali ke masa lalu. Juga lamunan yang  seolah menghisapnya pada satu rentang waktu. Tapi sesuatu yang berat menahan ujung lidahnya. Hingga akhirnya ia cuma berkata,”Mengapa kamu ingin kita bertemu? Bukankah baru 3 hari yang lalu kita bertemu?”

Laki-laki itu menatapnya. Ia balas menatap mata coklat yang kerap dirinduinya itu. “Aku ingin kita berpisah. Aku butuh ruang…,”

Perempuan itu terhenyak. Sekujur tubuhnya lunglai seakan tulang-tulangnya dilolosi. Keingintahuannya. Lamunannya yang seolah nyata. Kesedihan yang tak asing. Semua berputar dengan cepat. Dicerna dengan jelas oleh pikirannya.  Perempuan itu tiba-tiba mengerti satu hal.

Lelaki itu masih menjelaskan alasannya dengan runut dan hati-hati ketika perempuan itu tiba-tiba menyelanya.

“Pergilah.”

Lelaki itu menatapnya tak percaya. Terkejut dengan kepasrahan yang dimiliki perempuan itu.

“Begitu saja?” tanyanya memastikan. Perempuan itu mengangguk.

Lelaki itu diam. Perempuan itu diam. Hening diantara mereka.

“Cintaku membebanimu, kan?” bisik perempuan itu. Bibirnya bergetar susah payah menahan tangis. Lelaki itu tak menjawab. Namun ia mengangguk mengiyakan.

“Tapi aku mencintaimu.” Ego lelakinya terguncang karena kekasihnya melepasnya dengan begitu mudah. Kebebasan yang diinginkan terlihat sedikit melimbungkan. Ia goyah.

“Aku tahu.” Perempuan itu tersenyum. “Bisakah kau memelukku?” tanyanya sambil berdiri.

Lelaki itu ikut bangkit dari duduknya. Ia merengkuh perempuan itu ke dalam bahunya yang lebar. Perempuan itu memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam aroma parfum lelakinya yang bercampur tembakau.

“Baiklah.” Perempuan itu melonggarkan dekapan. Melepaskan pelukan. Matanya berkaca.

“Aku tahu kau begitu ingin pergi. Pergilah.”

“Kenapa?” Lelaki itu semakin gelisah. Perempuan itu tak menjawab, Keduanya saling menatap sesaat. Mengukur  kedalaman cinta masing-masing. Kemudian lelaki itu beranjak melangkah pergi.

Pertemuan dulu ataupun sekarang tak ada bedanya. Karena takdir tak akan berubah. Waktu yang berubah. Namun lakon manusia yang melewatinya tetap setia pada takdir. Perempuan itu menghapus airmatanya. Lututnya goyah ingin bergerak menyusul. Ia menggigit bibirnya yang ingin memanggil nama lelaki itu. Menggigitnya begitu kuat hingga asin yang merah terasa di ujung lidahnya.

“Pergilah. Agar di waktu kelak kita bisa saling mencintai dengan lebih baik.”

Perempuan itu berbisik pada sosok lelakinya yang telah lenyap. Angin menerbangkan kata-katanya. Mencatatnya sebagai janji yang tak tunai di masa depan.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/JQXVC6NQWG