Perempuan Yang Menggerutu Sepanjang Hari

Perempuan itu gemar menggerutu. Kemarahannya terlihat jelas dari nada gerutuannya yang naik turun seperti kelokan tajam ngarai yang merontokkan jantung. Kali lain ia menggerutu dengan nada memelas pasrah. Bibit kemarahan yang ia semai di kepala berkecambah rindu di jantungnya.

“Bahkan perasaanku sendiri mengkhianatiku!” Ia menggerutu dengan gumam yang tak putus.

Esok dan esoknya lagi, perempuan itu masih saja menggerutu. Sambil terus menyirami bibit yang mengkhianatinya. Sampai suatu ketika bibit itu menjelma sebatang pohon yang berakar kuat di jantungnya. Setiap kali pohon itu bertumbuh, akarnya bergerak merobek jantung perempuan itu. Namun ia masih terus menggerutu sembari menahan nyeri jantungnya yang berderak berdarah-darah.

Semalaman tadi kudengar tangis dan gerutunya saling bersahutan tak berhenti. Tekadku membulat.

Pagi ini kuayun kapak dengan mata paling tajam sekuat tenaga. Pohon ini harus rubuh! Perempuan itu menangis melolong memintaku berhenti. Aku tak peduli. Harus kuakhiri segala gerutu dan tangis nyeri dari jantungnya yang terluka. Aku terus mengayun kesetanan.

Pohon keparat itu tumbang sudah. Napasku tersengal-sengal. Perempuan itu terdiam tak lagi menggerutu. Bibirnya lekat terkatup rapat. Tatapan matanya kosong dan kelam. Sehitam lubang yang ditinggalkan akar pohon yang kurenggut kasar dari jantungnya. Perempuan yang gemar menggerutu perlahan memudar dari balik cermin.

Kuraba dadaku yang berlubang menganga. Kurasakan sunyi yang gigil.

Aku telah salah mengeja gerutu sendiri.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/BG7CZQ5JRN

 

Advertisements

el(A)ngin(ku)

Dia menyebut dirinya Elang. Tapi aku lebih suka memanggilnya Angin. Yang datang dan pergi sesukanya. Seperti saat ia masuk di kehidupanku. Entah sejak kapan pintuku terbuka untuknya, tapi nyatanya dia sudah berdiam disana.

Selayaknya Angin, ia tak pernah benar-benar berdiam. Menyapukan dirinya padaku, menjelajah setiap relung. Dan meruntuhkan satu persatu keyakinanku tentang cinta. Serupa dedaunan yang  digugurkannya helai demi helai dari tubuhku yang meranggas di musim kemarau.

Mungkin Tuhan hendak mengajariku tentang cinta. Atau justru hendak menguji kesetiaanku pada janji yang kubuat antara diriku denganNya. Entahlah.

Tapi seharusnya Dia tak mendatangkan Angin untukku. Sebab dalam gersang, ciuman Angin terasa menyejukkan. lembut sekaligus memabukkan. Aku pun lena.

Lalu jiwa menjadi terbiasa. Pada bisikan, hembusan bahkan hempasannya kala membadai. Sering kucari Angin, saat jiwa menuntut rindu. Tapi dia adalah Angin. Akan menghampiri jika ia ingin, tapi takkan bisa kau cari saat ia ingin berlalu. Menjauh. Kadang ingin kuikuti perginya. Namun hembusannya memudar pada setiap jejak yang ingin kuikuti. Aku kehilangan arah. Selalu.

Lagipun aku tak akan pernah bisa mengikuti. Aku cuma bisa terpaku melihatnya datang dan berlalu. Tertahan oleh akar yang telah menopangku lebih dulu. Hanya menunggu daun-daun bergemerisik menandai bisikan yang dikirimkan Angin untukku. Atau diam-diam menangisi gigil jiwanya yang kurasa lewat dingin yang menusukku.

Aku dan Angin….

Setiap saat  bertukar rahasia lewat sentuhan tak terlihat dan bisikan tak terdengar.

Sebab dia adalah Angin yang selalu ingin pergi dan aku adalah pohon yang tertahan oleh akar. Aku dan Angin….

Cuma bisa bertukar rahasia. Tidak lebih.

Dunia lirang, 21/09/11