Yang Dikabarkan Hujan

Lika bertemu lelaki itu di sebuah kedai kopi yang ia lupa namanya. Saat itu hujan turun dengan deras di tengah cuaca yang sedang cerah-cerahnya. Ia yang tengah melenggang santai menyusuri trotoar menikmati deretan toko tua terpaksa berlari menghindar. Lika hampir berlari menyeberangi persimpangan untuk berteduh di emper sebuah toko yang tutup bersama sekumpulan orang-orang, kalau saja kalimat ‘kedai kopi’ yang tercetak di jendela kaca itu tak tertangkap ekor matanya. Dan dirinya berbalik, membuka pintu yang berdenting. Disambut aroma kopi yang menguar hatinya seketika menghangat. Itu sebabnya ia mencintai kopi. Tak peduli apapun yang tengah ia hadapi atau bagaimanapun suasana hatinya, segelas kopi selalu bisa membuatnya tenang.

Coffee is a hug in a mug. Lika tertawa kecil membaca hiasan yang tergantung di langit-langit kedai kopi itu. Ya, persis seperti itu. Kopi selalu bisa mengerti.

Akhirnya Lika memilih duduk di satu-satunya meja kosong yang tersisa. Ruangan kedai kopi itu tidak sempit meski juga tidak bisa dikatakan luas. Namun saat ini meja-meja yang seharusnya diisi oleh dua atau tiga orang hanya diduduki oleh satu orang saja. Mungkin kedai kopi ini tempat berkumpulnya para kesepian, pikirnya. Atau mungkin hujan yang turun tiba-tiba yang akhirnya memaksa untuk berteduh kemari, seperti dirinya. Lika memandang ke luar jendela, hujan masih turun dan cuaca masih cerah.

“Hujan yang turun di tengah cuaca cerah adalah pertanda yang tidak baik.” Begitu kata Pak Yosef, guru matematika-nya semasa masih bocah SD dulu. Lelaki keturunan Dayak itu memanggilnya masuk saat hujan turun di tengah sore yang cerah seperti sekarang.

“Pertanda yang tidak baik itu seperti apa?” Ia balik bertanya.

“Seperti pesan langit pembawa kabar yang akan membuat hatimu bersedih.” Gurunya menjawab sambil tersenyum dan mengusap rambut Lika. Lelaki-lelaki Dayak berhati lembut. Lika mengangguk. Tak sepenuhnya mengerti, tapi mata coklat teduh milik Gurunya menenangkan isi kepalanya. Hingga ia sangat yakin meski mengabarkan kesedihan, hujan yang turun di tengah cuaca cerah tak akan menyakitinya.

Pintu berdenting sekali lagi. Seorang lelaki dan perempuan yang bisa jadi adalah kekasihnya masuk sambil tertawa-tawa. Meja di hadapan Lika rupanya telah kosong. Mereka berdua segera menempatinya tanpa punya pilihan lain. Tak lama keduanya telah menentukan pesanan.

“Aku coklat panas saja.” Putus si wanita. Lelaki itu mengangguk dan mengulangi pesanan mereka berdua. Pelayan berbalik dan meninggalkan mereka kembali dengan percakapan-percakapan yang sepertinya menyenangkan. Lika menangkapnya dari sorot mata yang dipancarkan lelaki itu. Sesekali bibir lelaki itu tertarik mengembang dan bahu kurusnya berguncang karena tawa. Lika ikut tersenyum melihatnya. Entah mengapa. Ia suka melihat cara lelaki itu tertawa.

Lika tak tahu berapa lama ia tenggelam dalam novel yang sengaja ia bawa untuk dibaca sewaktu-waktu. Sore telah beranjak menuju senja sementara hujan telah benar-benar berhenti. Lika memasukkan kembali novelnya ke dalam tas, menyesap sisa kopinya yang dingin dan siap beranjak. Ketika sebuah kesedihan menahannya pergi. Lika meletakkan kembali pantatnya ke kursi. Pasangan di depannya kini terlibat pembicaraan yang serius. Raut lelaki itu tegang. Rahangnya terkatup rapat, senyumnya menguap entah kemana. Mungkin lenyap bersama hujan yang tadi berhenti tanpa sepengetahuan Lika. Gadisnya pasti tak kalah tegang. Lika melihat tangannya terus bergerak seolah menandaskan sesuatu. Kursi yang didudukinya bergeser, perempuan itu beranjak dan berlalu dengan gegas. Lelakinya membuang wajah ke jendela. Dan Lika merasakan kesedihan lagi-lagi menombak jantungnya. Perih.

Kejar. Lika berucap dalam hati.

Demi Aphrodite, kejar!

Lika merasa perlu menyebut nama Dewi Asmara itu. Berharap berkahnya bisa melunakkan hati lelaki keras kepala yang duduk di seberang mejanya. Tapi lelaki itu masih bergeming menatap ke luar jendela sampai sepuluh menit berikutnya. Jalanan mulai terang oleh lampu-lampu. Trotoar kembali ramai oleh lalu lalang. Lika menghela napas. Ia menyentuh dadanya yang masih terasa mampat.

 

Loving can hurt

Loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

 

Pintu kedai kembali berdenting-denting. Sepasang demi sepasang masuk dengan senyum. Dengan tawa. Dengan cinta. Membawa kelebat-kelebat merah jambu yang membuat bibir Lika kembali tersenyum. Kali ini ia benar-benar harus pergi. Lika pelan-pelan menggeser kursinya dan lelaki di depannya menoleh. Mereka bertatapan. Pikiran lelaki itu tak benar-benar terpusat padanya namun Lika merasa waktu miliknya berhenti sesaat. Ia memperhatikan raut lelaki di depannya dengan cermat. Pada rambut ikalnya yang berantakan, sepasang alis yang bertaut juga sorot kesepian yang menatapnya dalam. Lika bisa melihat kilas merah jambu membias dari tubuhnya sendiri dan merasakan kesedihan milik lelaki itu sekaligus. Memunculkan rasa yang aneh di tenggorokan Lika. Mirip syrup obat batuk yang kerap diberikan ibu saat ia masih kanak-kanak. Manis yang pahit atau pahit yang manis? Entahlah.

Mereka masih bertatapan. Lika menghadiahinya senyuman manis yang ringan. Seringan kecupan di kening. Untuk lelaki itu sebelum ia beranjak pergi.

 

So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans

Holding me closer ‘til our eyes meet

You won’t ever be alone wait for me to come home.

 

Pintu kedai berdenting lagi saat Lika melangkah keluar kedai dan meninggalkan lelaki itu bersama kesedihan yang memerihkan dadanya. Tak akan ada yang benar-benar bisa menyakitimu, Sayang. Bahkan juga kesedihan yang dikabarkan hujan yang turun tiba-tiba pada cuaca cerah. Lika berbisik lamat-lamat sementara kakinya terus melangkah lincah melewati genangan-genangan sisa hujan.

 

Loving can heal

Loving can mend your soul

And it’s the only thing that I know.

 

Lyric : Photograph by Ed Sheeran.

 

Credit:

https://stocksnap.io/photo/7K97QSBRNI

 

Ladang Bunga Matahari

Telah diunggah di http://www.inspirasi.co

 

 Ini Negeri Dongeng.

Satu-satunya tempat  Aku dan Kamu bisa bersama.

Atau setidaknya bisa saling bertukar tawa dengan leluasa.

Tempat aku dan  kamu bisa jadi segala.

“Pondokku ada di kaki bukit.”

Aku menunjuk bukit yang terlihat dari kejauhan. Matanya memicing mencoba melawan matahari mengikuti arah telunjukku.

“Kamu setiap hari datang kemari untuk berjualan susu?”

Aku mengangguk.

“Berjualan apa saja,” ralatku.

“Aku bisa menjual apa saja. Terkadang aku juga menjual bunga-bunga liar bahkan juga syal rajutanku.”

Ia menggeleng. Keningnya sedikit berkerut. Mungkin heran, mungkin juga tak setuju. Entahlah. Tapi yang jelas wajahnya jadi kelihatan sedikit terlalu serius. Aku menertawai tampang seriusnya.

“Anak perempuan seusiamu seharusnya tak tinggal sendirian di kaki bukit.”

Nada suaranya terdengar sungguh-sungguh. Ah, rupanya benar. Ia sedang serius. Aku mulai memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kulit pipinya cerah bersemu kemerahan. Sepasang berwarna coklat madu  cemerlang yang kuyakini tak pernah sekalipun berkabut oleh sisa airmata. Rambut mengilat rapi. Bahkan kuku jemarinya pun dipotong bersih.

Aku buru-buru menggenggam milikku. Mengkhawatirkan sisa-sisa tanah yang mungkin tertinggal di kuku.

“Lalu kenapa kau sekarang ada di sini? Bukankah seharusnya kau berlatih pedang bersama anak-anak lelaki kaum ksatria lainnya?” Aku mencoba mengalihkan perhatianku sendiri.

Ia mengedikkan bahu. Sebuah cengiran lebar terkembang di wajahnya. Mata yang cemerlang itu semakin berkilau oleh kilatan nakal.

“Aku bosan. Aku ingin tahu apa rasanya berada di luar pada jam seharusnya aku berlatih.”

Dia menjawab sebelum menandaskan isi botol susu terakhirku.

“Kau mau pulang?”

Aku mengangguk. Menerima botol sekaligus kepingan koin yang ia sodorkan untukku sebagai bayaran sebotol susu.

“Boleh kutemani?”

Ia mengambil alih keranjang kayu berisi botol-botol susu kosong yang kujinjing. Bahkan sebelum aku sempat mengiyakan permintaannya.

Kami berjalan bersisian menyusuri pinggiran desa menuju ke lembah tempat pondokku berada.

Hari itu kami habiskan bersama dengan riang. Kami bercerita tentang apa saja. Cerita kami mengalir di sela-sela tawa dan sesekali tiupan seruling rumput yang ia buat. Mungkin hanya perasaanku saja tapi sepertinya hari itu matahari terlalu cepat bergulir ke barat.

Warna jingga pekat menghiasi puncak bukit saat ia beranjak dengan wajah enggan.

“Terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini, eng… siapa namamu?”

Ia menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Mungkin merasa bersalah karena tak menanyakan namaku sebelumnya.

“Aimee.”

Aku menyebutkan namaku dengan malu-malu. Tersipu tanpa alasan yang jelas.

“Panggil aku, Kato. Nah, Aimee sampai jumpa lagi.”

Ia mengecup pipiku ringan sebelum meninggalkan pondok. Aku memandang punggungnya dan menyadari satu hal. Saat bertemu orang yang tepat, kau akan merasakan pada detik pertama kalian bersama. Bahkan sebelum kau mengetahui namanya.

Aku dan Kato semakin sering bertemu di hari-hari selanjutnya, di bulan-bulan berikutnya juga di tahun-tahun berikutnya.

“Waktu yang cukup lama.”

Aku menjawab pertanyannya tentang waktu kebersamaan kami sambil menyisiri rambut panjangku yang terurai sepinggang. Dalam tradisi kami, seorang gadis pantang menguraikan rambutnya di depan lelaki. Tapi beberapa waktu lalu, Kato tak hanya melihat rambutku. Ia bahkan telah menyusuri setiap lekukan yang kumiliki.

“Kau mengukurnya dengan panjang rambutmu?”

Kato menatapku dengan geli.  Aku mengangguk dan tersenyum.

“Bagaimana jika kita bersama dalam hitungan tak terbatas?”

Matanya kini penuh rasa ingin tahu.

“Akan kupintal jaring dari rambutku. Mungkin aku akan jadi Perempuan Laba-laba.”

Kato tertawa lepas mendengar jawabanku. Ia menatapku lekat-lekat. Aku yakin sekali pipiku kini berubah warna. Ada semburat rasa hangat yang melintas.

“Tak ada yang lebih bercahaya selain dirimu, Aimee.”

Langit mendadak gelap usai Kato berbisik. Begitu gelap hingga kami merasa takut dan dengan tergesa mengenakan pakaian.

Di tengah desa orang-orang sudah berkerumun. Melingkar mengelilingi  Nami, tetua di desa kami. Aku dan Kato berada di antara kerumunan. Tapi kami tak bersama. Kato berada di sana, bersama keluarga-keluarga berdarah ksatria. Sementara aku, Aimee si gadis desa berdiri di sisi lain bersama kaumku.

Nami duduk dengan takzim dengan memejamkan mata. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra-mantra yang aneh bunyinya. Genderang ditabuhkan mengikuti irama mantra Nami.

Aku menatapnya tak berkedip. Tanpa kusadari pikiranku menelusup masuk mendatangi Nami yang merasuk perlahan padaku.

“Aimee…,”

Suara tua milik Nami memanggilku di kepala. Aku menyahut panggilannya tanpa bersuara.

“Seharusnya kau tak boleh jatuh cinta sepanjang usiamu, Nak. Matahari akan cemburu. Lihatlah kulitmu yang berkilauan. Rambut panjangmu yang keemasan. Cinta membuatmu begitu cantik hingga Matahari mencemburuimu, Aimee.”

Matahari cemburu padamu.

Suara Nami bergema berulang-ulang di kepalaku. Menggasing seperti putaran angin yang mengamuk. Kepalaku berdenyar semakin cepat. Sementara telingaku menangkap irama tetabuhan yang semakin liar dan menghentak. Aku mendengar suara Nami di mana-mana. Udara mendadak terasa berat. Keringat dingin melengketkan rambut dan punggungku. Persendianku melunglai, aku ambruk ke tanah. Samar-samar aku menangkap suara Nami sesaat sebelum kegelapan memerangkap.

”Korbankan gadis itu pada Dewi Matahari!”

Pasti bukan aku yang ia maksud.

Saat aku membuka mata, aku telah berada dalam pondok Nami. Wangi udara pondok Nami sungguh mistis. Aroma  yang berasal dari aneka macam herbal kering yang digantung di langit-langit. Bercampur dengan asap dupa yang menguar kuat. Perempuan-perempuan tetua pasti telah mengganti pakaianku. Gaun panjang abu-abu katun kasar yang biasa kukenakan telah berganti dengan sutra muslin. Gaun yang khusus dikenakan oleh para gadis persembahan. Bergemerisik halus saat aku berusaha bangun dari lempeng batu yang halus dan dingin. Tempat tidur milik Nami.

Nami menoleh ke arahku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu kembali menekuri kuali berisi ramuan yang meletup-meletup di depannya.

“Kapan?”

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirku setelah beberapa saat keheningan tercipta di antara aku dan Nami.

Kepalaku masih sedikit berdenyut. Nami menyorongkan mangkuk batu berisi air yang ia tuang dari kendi dengan galur emas untuk merekatkan retakkannya. Aku menerima dan segera menandaskan air dari mangkuk batu itu. Rasa dingin yang menyegarkan menjalar dari kerongkongan ke syaraf-syaraf di kepala.

Nami duduk di bangku kayu berhadapan denganku.

“Kapan saatnya, Nami?”

Aku mengulangi pertanyaanku.

“Tiga hari dari sekarang.”

Aku menatap wajah Nami yang penuh kerut dan mencari rasa iba dari mata abu-abunya. Tapi kedua mata itu berkabut. Terlalu misterius untuk bisa kutebak. Raut wajahnya tenang tak menciptakan riak perasaan apapun. Aku menghela napas dengan berat. Pasrah.

Suara derap dan ringkik kuda terdengar dari luar pondok Nami membuyarkan keheningan kami. Perempuan tua itu bergegas ke luar.

“Berkati aku, Nami!”

Suara Kato! Aku menajamkan telinga.

“Kau akan pergi ke kuil?”

“Ya. Aku akan ke sana dan memasuki labirin rahasia untuk menemui Dewi Matahari.” Kato berkata lantang dan tegas.

“Tak seorang pun bisa memasuki labirin rahasia meskipun ia Putra Tahta Matahari.”

Suara Nami terdengar datar. Ia pasti memiliki ketenangan yang dalamnya tak terukur. Seperti kedalaman sungai kehidupan yang airnya baru saja kuminum.

“Tak seorang pun boleh merebut Aimee dariku, Nami!”

Jantungku berdentam. Dadaku sesak mampat oleh rasa cinta. Pipiku mulai lembab karena aliran air mata.

“Kalau begitu kau boleh pergi tanpa restuku.”

Nami bergeming.

Pintu pondok terbuka. Nami kembali masuk dan kembali sibuk menyibukkan diri pada ramuannya. Tak menghiraukan tatapanku yang mengejarnya dengan rasa panik. Di luar derap kasar dan ringkik kuda menjauhi pondok.

“Kita tak punya banyak waktu.”

Nami menggunting ujung rambutku. Menaburkan serbuk perak di atasnya dan menghujaninya dengan nyanyian mantra-mantra semalaman.

Pagi hari berikutnya aku melihat perempuan tua itu masih menggumamkan mantra dengan mata terpejam. Namun sebuah jaring-jaring laba-laba yang halus dan berwarna perak berkilauan kini terbentang lebar di hadapannya. Seakan tahu aku tengah memperhatikan dirinya, Nami menghentikan nyanyian mantranya. Ia membuka mata.

“Sementara ini pemuda itu aman. Ia tak akan pernah sampai di Kuil Matahari. Labirin itu akan membunuhnya. Tapi jaring laba-laba yang kusihir dari rambutmu ini akan menjaganya. Selama jaring ini membentang, pemuda itu hanya berputar-putar sesuai pola. Jaring rambutmu hanya bertahan sampai esok hari. Jika jaring ini robek maka sihir pelindungku pun lenyap. Katakan padaku Aimee, apa cintamu sebesar miliknya?”

Aku menganggukkan kepala cepat-cepat.

“Tentu. Aku tak ingin berpisah dengan Kato, Nami.”

Tiba-tiba saja aku merengek seperti bocah kecil yang takut kehilangan. Aku tak peduli. Aku tumbuh seorang diri dan kesepian. Kato satu-satunya yang kumiliki. Aku tak ingin kehilangan lagi.

“Tolonglah aku,” rengekanku berubah menjadi isak.

Nami menggelengkan kepala dan berdesah berat.

“Hanya ada satu cara, Nak. Tapi kau sungguh tak ingin berpisah dengannya apapun yang terjadi?”

Aku menjawab ‘Ya’ tanpa suara. Nami memandang lurus-lurus ke kedalaman mataku. Pada mata abu-abu miliknya aku melihat harga yang harus kubayar jika terus bersama Kato.

Apapun itu, Nami. Asalkan aku bersamanya, lakukan untukku.

Kali ini suara di kepalaku yang bicara. Nami mengangguk.

Malam itu aku berbaring di tengah pola bintang segi lima yang digambar Nami dengan kapur sihir di lantai dapurnya. Kristal dan nyala lilin di letakkan di titik-titik tertentu. Cahaya purnama menelusup melalui lubang udara di dinding batu. Nami akan memulai ritual.

Kita membutuhkan bantuan Dewa Bulan. Nami berujar saat mulai menggambari lantai dapurnya.

Aku mulai memejamkan mata. Nami duduk bersila berseberangan dengan tubuhku. Terdengar gumaman aneh dari bibirnya. Sayup-sayup lalu semakin nyaring menyerupai dengung dari segala penjuru. Ketimbang ucapan mantra, suara Nami lebih mirip dengung yang biasa kudengar pada malam yang hening. Dengung yang menghipnotisku perlahan-lahan.  Waktuku akhirnya tiba.

Kupandangi sekali lagi tubuhku yang terbaring tenang di lantai. Rasanya aku belum pernah melihat diriku secantik malam itu. Terlelap dengan wajah damai dan segurat senyum tipis. Esok tubuhku akan dihantarkan pada altar di Kuil Dewi Matahari. Tubuh yang detaknya samar namun tak berjiwa.

Dengung yang mengisi udara mulai meliuk mengajakku menari. Aku berputar ringan menyambut. Setiap putaran meluruhkanku menjadi serbuk-serbuk keemasan. Tubuh halusku kini menjelma butiran serbuk yang melayang di udara. Terpencar di antara partikel-partikel melayuk mengikuti desir angin. Kembali pulang ke bukit, kepada Kato.

Cahaya pertama mengilaukan embun. Aku meliukkan diri mengikuti arah datangnya silau keemasan. Kudengar langkah-langkah mendekat. Suara yang telah kukenal puluhan tahun. Langkah kaki kekasihku terdengar melambat. Tahun-tahun belakangan ini ia menua dengan cepat.

Ia tersenyum. Kerut-kerut di ujung matanya bertambah. Telapak tangannya yang kisut kasar dengan lembut membelai kelopakku. Ia menunduk menyentuhkan bibirnya. Kami bersentuhan. Ciumannya masih semanis yang kuingat.

“Berpuluh tahun ini kau pasti mengira aku tak mengenalimu.” Kato berbisik. Tangannya masih membelai kelopak-kelopakku.

“Hanya ada satu cahaya yang rela meredupkan dirinya demi diriku. Dan itu pasti kamu, Aimee.” Suara Kato bergetar. Ia terbatuk keras dengan tiba-tiba. Sesaat berusaha menarik napasnya yang berat dengan susah payah. Tangan rentanya tampak gemetar. Mata coklat madunya yang memesona  berkabut. Tatapannya melembut kemudian perlahan meredup  terkatup. Tubuh tua Kato ambruk ke tanah dengan bibir mengulumkan senyum. Aku memanggil namanya berulang kali dengan panik. Mencoba merunduk ke tanah untuk menggapainya. Sia-sia.

Senja hari penduduk desa menemukan Kato. Mereka menguburkannya di ladang bunga matahari yang tumbuh di kaki bukit. Mengembalikannya ke pelukanku. Aku menyambut tubuh kekasihku dengan sukacita.

Kelak jika kau melintas ladang bunga matahari di kaki bukit, berhentilah sejenak. Pikirkanlah tentang kami. Maka akan kau pahami, bahwa cinta akan selalu bersama apapun cara dan wujudnya.

“Tunggu, Aimee meleburkan dirinya menjadi bunga matahari untuk menyelamatkan Kato dan menemaninya menua sampai ajal, begitu?”

Riga menaikkan sebelah alisnya menghentikan kisahku. Aku mengangguk.

“Katamu Negeri Dongeng  akan menyatukan segalanya.”

Protesnya yang terdengar kekanakan membuatku tertawa.

“Mereka memang bersatu, kan?” jawabku masih tertawa.

Gawai Riga bergetar diiringi dering nada panggilan menghentikan tawaku. Dering nada yang sangat kami kenali. Riga memberi kode untuk menyingkir, aku mengangguk. Penuh pengertian seperti biasa.

“Sepertinya aku batal menginap Thena,” ujarnya beberapa menit kemudian. Ia  menghampiri dan memeluk pinggangku dari belakang.

“Raisa dan anak-anak mempercepat liburan mereka. Maafkan aku,” bisiknya di sela-sela rambut yang menutupi tengkukku. Bahuku merosot lemah. Kegembiraan sepagian karena akan bersama Riga  sepanjang akhir pekan ini pupus sudah.

Sekali lagi, selalu seperti ini.

“Tak apa,Riga. Aku mengerti,” bisikku lelah.

Kutepuk lembut punggung tangannya yang masih memelukku.  Menggigit bibir menahan genangan dari ceruk mata yang mendesak ingin tumpah.

Tak apa, Sayang. Hanya di Negeri Dongeng, kau dan aku bisa bersama  menjadi  segala.

 

 

 

Saat Cinta Butuh Tanda Seru

*Telah diterbitkan dalam Kumcer “Follower”

 

Julie  memainkan pena yang terjepit diantara jemari dengan gelisah. Sesekali ia mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ujung kuku. Matanya lekat menatap penanggalan yang digantung di dinding kamar. Lingkaran spidol merah menandai sebuah tanggal. 3 April. Tinggal tiga hari lagi, gumamnya risau. Mendadak ia merasa hawa di kamarnya terlalu hangat. Mungkin terbawa oleh suasana hatinya. Tangan gadis itu bergerak  cekatan menaikkan rambut ke atas tengkuk. Menyimpulnya menjadi sebuah cepol mungil. Membebaskan angin malam yang dingin menyentuh tengkuk sekaligus menenangkan hatinya.

Beberapa saat berlalu Julie tak jua melakukan sesuatu meski bisa dirasakan dadanya berdegup kencang. Ini barangkali hal paling gila yang pernah ia lakukan. Sejenak gadis itu memejamkan mata, mengatur nafas dan sedetik kemudian jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Mencoba bertarung dengan waktu dan mungkin juga takdir.

Sosok ramping itu tak henti mengajukan pertanyaan. Menuntut penjelasan detil dari orang yang ditanyainya. Sesekali mengangguk dan tersenyum puas mendengar jawaban-jawaban dari lawan bicaranya.

“Farah, beristirahatlah. Percayakan saja pesta pernikahanmu pada teamnya Mbak Sekar. Semua terkendali, kok. Mama juga kan ikut mengawasi.” Seorang perempuan paruh baya bertubuh subur  muncul menengahi.

Gadis yang dipanggil Farah itu tersenyum salah-tingkah.

“Iya, Ma. Maaf, bukannya Farah tidak percaya sama Mbak Sekar dan teman-teman. Farah nervous…,” ujarnya dengan pipi memerah.

Sekar tertawa renyah penuh pengertian. Profesi wedding organizer yang  ia geluti selama bertahun-tahun telah menempa kesabarannya. Sekar sangat piawai menyelami berbagai karakter klien. Termasuk yang detil dan perfeksionis seperti Farah.

Bunyi getar terdengar dari gadget Farah yang diletakkan di meja tamu. Getar yang kesekian kali. Nyaris dua jam lamanya sengaja Farah mengabaikan semua pesan dan notifikasi yang masuk.

“Sudah, masuk kamarmu sana, itu lihat gadgetmu dari tadi bergetar terus. Barangkali Awan mengirimkan pesan, mencarimu. Biar Mama yang antar Mbak Sekar ke luar. Mbak Sekar juga kudu istirahat. Capek, sedari tadi kamu interogasi.” Ibunya kini memberi perintah.

Farah mengangguk menurut. Meraih gadgetnya dan melemparkan senyum manis tanda terima kasih pada Sekar sebelum berlalu menuju kamar.

Di atas kasur, Farah berbaring menatap langit-langit kamar. Perasaannya kini bercampur aduk antara gugup, gelisah dan senang. Tiga hari lagi ia akan sah menjadi Ny. Farah Laksana. Istri dari Awan Laksana, lelaki yang dicintainya sepenuh hati. Bibirnya mengembang senyum.

Farah, perempuan muda yang mandiri, sedikit serius, cerdas dan memiliki karir yang cemerlang. Tipe yang tak mudah jatuh cinta. Namun hatinya luluh pada seorang musisi yang dikenalnya secara tak sengaja dari social media. Seorang teman kuliah men-tag dirinya pada poster sebuah perhelatan Jazz kecil-kecilan yang pada akhirnya dihadiri oleh Farah. Di pementasan musik yang dihadiri komunitas penggemar Jazz itulah ia berkenalan dengan Awan. Lelaki yang menurut Farah paling bertalenta yang pernah dikenalnya. Musisi sekaligus penggemar sastra. Kombinasi yang sanggup melelehkan hati perempuan di  mana saja.

Gadget Farah kembali bergetar. Sebuah Notifikasi  dari Facebook. Seseorang bernama Juliana Desma mengirimkan pesan.

Farah mengerutkan kening. Juliana Desma. Nama itu terdengar familiar. Buru-buru dibukanya pesan tadi.

Jadi, apa kau kini telah menjadi kekasihnya? Dan akan menjadi perempuannya juga?

Farah terhenyak membaca pesan yang begitu lugas itu. Segera ia menegakkan punggung dan meneruskan membaca

Apakah kalian benar-benar saling mencintai? Ah, Barangkali ini aneh. Aku hanya ingin memastikan, jangan sampai kisah kami yang pernah tumbuh, ternyata tetap berakar dan berkembang diam-diam pada halaman rumah kalian, kelak.

Farah menggigit bibir. Sebongkah rasa kini menyesakkan dadanya menimbulkan nyeri. Juliana Desma… Farah mengeja nama itu sekali lagi. Awan harus menjelaskan tentang ini!

“Halo, Awan? Kau sudah tidur?” Farah membuka percakapan dengan hati-hati.

“Hai, Sayang. Belum, aku belum tidur, masih recording. Kau juga belum tidur. Hati-hati, jangan sampai matamu berkantung karena kurang tidur. Kau membenci kantung mata, kan?” Suara Awan menggoda. Rasa hangat menelusup di relung hati Farah.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” ujar Farah perlahan. Ia sungguh tak ingin memulai pertengkaran.

“Tentu. Silahkan.”

“Juliana Desma. Siapa dia?” tanya Farah tanpa tedeng aling-aling.

Hening sejenak. Farah berdebar menanti jawaban dari Awan. Satu menit, dua menit menit… Farah mulai gelisah.

“Juliana Desma, itu Julie. Bukankah pernah kuceritakan tentangnya beberapa waktu lalu?” Awan menjawab sekaligus bertanya. Terdengar sedikit defensif di telinga Farah.

Julie? Farah mengerutkan kening mencoba memanggil kembali rekaman-rekaman percakapannya dengan Awan dari gudang memorinya.

“Julie kawanmu dari kecil? Kalian tumbuh dewasa bersama, saling jatuh cinta dan beberapa kali putus sambung sebagai kekasih. Julie yang itu?”

“Ya, Julie yang itu. Ada apa?”

“Emm…dia…,” Farah menggantung kalimatnya. Dia mengirimiku pesan di Facebook kendati kami tidak berteman. Dia bertanya seolah kalian berdua masih saling mencintai. Dia lancang sekali! Farah meneruskan kalimatnya bertubi-tubi dalam hati.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Farah sembari tersenyum. Mencoba menenangkan diri sendiri dan menutupi perasaannya yang berkecamuk.

“Hmmm, aku tak yakin kamu berkata jujur. Tapi, apapun itu, abaikan saja dia. Ok?!”

“Ya, akan kuturuti pesanmu. Aku tidur dulu, ya. Kau juga beristirahatlah. Besok lusa kau harus menikahiku. Jangan sampai telat karena ketiduran.”

“Hahaha. Tentu, Sayang. Mimpi indah, ya. Bye.”

Bye.”

Farah menatap layar telepon genggamnya. Menghela nafas berat sembari merebahkan tubuh kembali. Pikirannya masih terus berkecamuk. Julie dan Awan memang sangat dekat, dulu.  Bahkan  seingat Farah, saat bercerita tentang Julie beberapa waktu lalu, mata Awan terlihat berbinar. Tak heran jika kini Julie nekat menghubunginya. Mungkin gadis itu merasa masih memiliki Awan. Atau mungkin mereka masih memiliki perasaan yang dalam seperti yang dilukiskan Julie dalam pesannya? Sebuah suara mengusik pikirannya. Farah memeluk guling erat-erat, memejamkan mata mencoba tidur. Pelipisnya kini berdenyut-denyut terasa ingin meledak!

Rubicon yang dikendarai Awan membelah melaju jalanan yang tak juga sepi meski malam semakin larut. Kehidupan seolah tak pernah berhenti. Tak heran jika kini manusia menua lebih cepat. Penat namun enggan beristirahat.

Malam ini adalah malam midodareni. Awan baru  saja usai melaksanakan tugasnya berkunjung ke rumah Farah bersama beberapa kerabat ketika sebuah Direct Message masuk ke akun Twitternya.

Juliana Desma @Ma_Julie                                                                                                          3h

Hai. Aku pulang. Baru saja sampai. Tak ada orang di rumah. Tubuhku demam, bisakah kau datang ke mari?

Permintaan klise yang telah dikenali Awan bertahun-tahun sebagai rengekan manja bocah perempuan yang mencari perhatian. Namun entah darimana datangnya, sejak bertahun-tahun lalu pula, sebentuk rasa serupa sayang bercampur keinginan untuk melindungi muncul. Membuatnya lagi-lagi  selalu menuruti permintaan gadis itu.

Awan memarkir mobil di pekarangan sebuah rumah lama dengan arsitektur Belanda. Rumah yang sejak kecil sering dikunjunginya saat mereka masih bertetangga. Dua kali dentang bel, pintu bercat putih itu terbuka. Julie berdiri dihadapan Awan, memakai piyama tebal dan rambut yang tergerai acak-acakan. Wajahnya terlihat pucat.

“Hai,” Awan merengkuh gadis itu dalam pelukannya. “Astaga, badanmu panas sekali.” Serunya saat pipi Julie menyentuh lengannya.

“Kau pikir aku berbohong?!” sungut Julie sambil melepaskan diri dari pelukan Awan. Memberi jalan bagi lelaki itu memasuki rumah.

“Kau ini aneh, tentu saja tak ada orang di rumah. Rumah ini hanya di kunjungi keluarga abangmu saat akhir pekan. Dan kamu pasti tak menghubungi mereka, kan?”

Julie mengedikkan bahu dengan ekspresi tak peduli. “Apa yang kau bawa?” tanyanya melirik bungkusan plastik yang ditenteng Awan.

“Makanan dan obat. Aku tahu kebiasaanmu yang sembrono.”

Julie nyengir lebar,”Kau memang keren. Selalu bisa diandalkan. Aku pusing sekali.” Tubuhnya kini meringkuk di sofa.

Kilatan cahaya tiba-tiba menyambar, suara petir yang menggelegar menyusul kemudian. Awan segera menutup tirai jendela yang masih terbuka. “Sepertinya akan hujan deras malam ini, langit mendung sekali.”

“Awan, bermalamlah di sini.”

Awan duduk di samping Julie, menyodorkan segelas air dan pil antipiretik.

“Tidak bisa, aku harus pulang.”

“Karena kau besok akan menikah?” tanya Julie setelah menenggak obatnya. Raut wajahnya terlihat kecewa. “Kamu tahu kan, sejak kecil aku selalu takut sendirian saat hujan deras dengan petir dan kilat menyambar-nyambar.”

Awan tersenyum tak menjawab.

“Baiklah, kalau hal itu tak lagi penting buatmu. Nggak apa-apa. Pulanglah.” Nada suara Julie merajuk.

Awan tertawa. “Kau tak pernah berubah. Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini,” ujar lelaki itu sambil mengacak pelan poni Julie.

Berkilo-kilo meter jauhnya, Farah tertidur setelah kelelahan menangis. Bantalnya lembab oleh air mata. Selama berjam-jam berulangkali ia mencoba menghubungi Awan namun tak berhasil. Telepon genggamnya dimatikan.

Di akun Facebook Farah, lima jam yang lalu, sebuah pesan masuk dari Julie.

Tahukah kamu, jika aku merindukannya, aku akan datang padanya dan ia akan memelukku. Begitupun sebaliknya. Begitulah, cinta yang kami tumbuhkan dalam kesunyian dan bahkan tak kami sadari.

Ketegangan di rumah Farah berdenyut-denyut  melebur bersama partikel udara yang menyebar ke penjuru rumah. Pengantin pria datang terlambat. Dan kini berada bersama pengantin wanita di kamar yang dikunci dari dalam. Segala pantangan perias tak digubris. Sekar mondar-mandir dengan gelisah. Farah si pengantin wanita meledak, mengamuk.

Di dalam kamar, Farah duduk di depan meja rias dengan mata berkilat marah.

“Kau semalaman bersamanya, kan?”

Awan diam, menatap Farah lekat-lekat. ”Ya,” jawabnya pelan.

Farah menghembuskan nafas dengan kesal. Wajahnya mengeras.

“Tahukah kamu, apa yang ia kirimkan padaku pagi ini? Ini!” Farah melempar gadgetnya ke kasur. Awan meraih gadget itu dan membaca pesan  di akun Facebook Farah.

Seperti yang kukatakan padamu, pada akhirnya semalam kami bersama. Akan selalu begitu. Kami akan saling mencari dan tidak akan bisa saling melepaskan.

Awan menghela nafas.

“Sudah kukatakan padamu untuk mengabaikannya, kan?”

“Demi Tuhan, Awan! Aku mengabaikannya! Tapi dia menerorku terus menerus-menerus. Perempuan sakit itu yang menghubungiku pertama kali padahal kami sama sekali tidak saling mengenal apalagi berteman.” Ucapan Farah menderas bersama gelombang kemarahannya.

“Kenapa tak kau block saja?” tanya Awan tak mengerti.

“Kenapa harus di block?” Farah balik bertanya. “Agar aku tak pernah mengerti kisah kalian berdua. Agar aku tak menyadari kebohongan yang kamu lakukan, begitu?” suara gadis itu melengking tajam.

“Lalu, apa maumu sekarang?”

“Pergilah. Aku masih cukup waras untuk tidak terperangkap dalam kehidupan yang penuh teror dari seorang perempuan sakit jiwa.” tukas Farah ketus.

Awan menatap perempuan di hadapannya dalam-dalam.

“Baiklah, jika itu maumu.” Awan membalikkan punggung dan berlalu keluar kamar.

Farah terperangah. Tak menyangka Awan begitu saja menyerah dalam hubungan mereka. Bibirnya bergetar menahan tangis dan seketika sepasang matanya tergenang airmata. Julie, perempuan itu mungkin sakit jiwa, namun nyatanya ia telah kalah olehnya. Sungguh-sungguh kalah. Lutut Farah goyah, tubuhnya limbung. Gelap menyerkap kesadaran

“Aku tahu kau akan berada di sini.” Julie menghampiri Awan yang duduk mencangkung memeluk lutut memandang langit senja jingga. Bukit di pinggiran kota ini adalah tempat favorit mereka berdua. Tempat terbaik untuk menatap senja. Julie melirik beberapa kaleng bir yang berserakan di samping Awan.

“Mabuk?”

“Apa kau sudah puas?” tanya Awan tak menggubris pertanyaan Julie. Matanya tak lepas menatap bola raksasa kemerahan yang bergulir semakin ke barat. “Sebenarnya apa maumu?”

“Entahlah. Menegaskan rasa, barangkali. Jiwa kita saling bertautan, kau tahu itu.” Julie kini ikut duduk di sebelah Awan.

“Aku tahu. Jiwa kita bertautan, lalu kau berontak tanpa sebab dan memilih menjauh. Datang lagi, kemudian menjauh lagi. Tidakkah kau lelah? Karena kau tahu, aku lelah. Jadi mulai sekarang, menjauhlah sejauh mungkin dari kehidupanku.”

Julie menoleh, “Kamu ingin aku pergi? Sungguh itu keinginanmu?”

Awan memalingkan tatapannya. Ditatapnya sepasang mata berbentuk badam milik Julie lekat-lekat.

“Ya, Aku ingin kau pergi,” tegasnya penuh kesungguhan.

Julie menghela nafas. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi. Ini undangan untukmu.” Gadis itu menyodorkan undangan berwarna krem keemasan. Awan mengerutkan kening tak mengerti.

“Seminggu lagi aku akan menikah.”

What?! Seminggu lagi menikah dan kamu melakukan semua kekacauan ini ? Astaga Julie… Kau sudah gila!” Awan menepuk keningnya dengan kesal. Tak paham dengan jalan pikiran gadis itu.

“Kau boleh menganggap aku gila. Silahkan bermain dengan pikiranmu. Tapi ini adalah hal yang paling benar yang pernah kulakukan seumur hidupku.” Julie berujar tenang. Ia bangkit dari duduk dan menepis rumput yang menempel di celana jeansnya.

“ Karena cinta tumbuh dengan berbagai pertanyaan, Awan, terkadang kita butuh tanda seru untuk menegaskannya. Kau telah sungguh memintaku pergi. Maka aku pergi.” Julie berbalik dan berlalu pergi.

Awan terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu. Lidahnya terlalu kelu untuk memanggil nama Julie meski hatinya teramat ingin. Nanar ditatapnya punggung gadis itu yang semakin menjauh lalu hilang. Menjelma asing yang sunyi.

“Diantara kita, Julie, selalu ada yang memanggul tawa dan menghela luka. Satu demi satu.” Awan berbisik, lelah. Angin merepihkan ucapannya ke penjuru sebagai penanda usainya sebuah kisah milik sepasang anak manusia.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/C9DBABA6EC

 

 

Ingatan Tentang Fey

 

Gadis itu ternyata datang lagi. Kali ini ia mendekati pohon besar tempatku duduk. Ikut disandarkan tubuhnya begitu saja pada batang kokoh itu. Seolah aku adalah rengkuhan lebar yang menawarkan kenyamanan saat dirinya menelusupkan tubuhnya padaku. Aku diam tak bereaksi. Kubiarkan kepala gadis itu rebah padaku. Kucium aroma jeruk segar dari rambut panjangnya yang tak pernah kulihat rapi terikat. Bercampur wangi samar widelia dan imperata, aroma rambutnya seolah menjadi penanda lembah ini.

Padang rumput ini sepi. Hanya angin yang berhembus ringan sesekali menggoda rumpun mimosa di sela-sela rerumputan. Sekali dua daun mimosa menutup seolah gadis yang tertunduk malu saat angin genit menyentuhnya. Kami berdua masih sama-sama diam.

Namanya Fey. Entah bagaimana penulisannya. Mungkin namanya Faye, Fae atau Fay. Aku hanya mendengar mereka memanggilnya Fey.

Fey datang seminggu yang lalu ke rumah besar di ujung bukit ini. Rumah putih yang bisa kulihat dari tempatku berdiri ini biasanya lengang. Hanya satu dua penjaga dan pembantu rumah tangga yang sesekali berseliweran melintas di halaman. Namun hari itu sebuah rombongan kecil datang berkunjung. Sekelompok orang dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan. Seakan sekumpulan cirrosstratus menggayut di kepala mereka. Membentuk halo yang muram.

Lalu Fey datang. Langkah kakinya lebar dengan ketukan ringan pada tanah dengan birama yang tepat. Gadis itu pasti seorang ballerina. Aku menyimpulkan begitu saja setelah kata ballerina berkelebat di pikiran. Dia mendekat lalu berdiri tepat di sebelahku. Pandangannya kosong menatap ke depan sementara pandanganku lekat ke wajahnya. Pada lekuk hidung, bibir kemudian dagunya yang runcing. Wajah tirus ini terlalu familiar.

“Mereka membawaku kesini,” suaranya jernih. Pandangannya terpaku ke arahku. Aku terkesiap sedetik. Tak siap tertangkap basah.

“Kata mereka aku harus beristirahat. Aku tak boleh mengajar anak-anak itu lagi. Murid-muridku di studio.” Suara jernihnya bergetar. Ia memalingkan wajah. Air mata mengalir ke pipinya yang kurus. Dia memejamkan mata menangis tak bersuara.

Lalu kami diam berjam-jam lamanya.

“Fey!” suara melengking memecah keheningan kami.

“Fey!” Gadis itu menoleh ke sumber suara di kejauhan. Dan kutahu ia bernama, Fey. Fey bergerak malas memutar tubuhnya.

“Mereka membawaku kesini karena mereka pikir aku gila.” Matanya tajam menusukku. Kemarahan keluar dari bola mata kecoklatan miliknya. Lalu dia berjalan pulang.

Hari-hari berikutnya Fey selalu datang ke tempatku. Pagi hingga sore. Ia tak pernah mau pulang sebelum burung-burung gereja berombongan terbang kembali ke arah atap rumah putih itu. Sarang mereka.

“Aku tidak ingin pulang. Aku ingin disini.” Lalu matanya lagi-lagi berkilat marah. Tangannya menepis kasar.

Perempuan setengah baya dari rumah putih itu ketakutan. Ia melangkah mundur dan berbalik arah. Sejak itu setiap tengah hari dia akan datang mengantar serantang penuh makanan. Untuk Fey. Dan gadis itu, terkadang ia menghabiskannya terkadang menyentuhnya pun tidak.

Aku menatap wajah yang sarat emosi dan kesedihan milik Fey. Sejuta keheranan mengikuti setiap kali kulihat ekspresinya yang berubah-ubah. Terkadang ia datang dengan senyum terkembang. Ocehannya deras tak putus-putus bercerita tentang suatu hari yang menyenangkan bersama lelaki itu. Kemudian bibirnya akan terkatup tiba-tiba seolah teringat sesuatu. Rahangnya mengeras dan sorot matanya berubah dingin. Sedetik kemudian air matanya akan deras meluncur seiring gerakan tubuhnya yang mengayun teratur ke depan dan ke belakang. Seolah pendulum.

“Aku tak tahu kehilangan ternyata begitu menyakitkan.” Suara Fey tenang. Sedu sedan sejam yang lalu entah menguap kemana.

“Manusia dilarang keras untuk terlalu bahagia. Sebab Tuhan akan menjadi iri dan merenggut bahagiamu dengan tiba-tiba.” Lirih dan sinis.

Aku mengerutkan kening tak suka mendengar ucapannya. Itu tidak benar. Tapi mulutku terkunci.

Fey mencabuti rumput-rumput di sebelahnya dengan kasar.

“Seperti ini.” Tangannya terus bergerak. “ Tak jadi masalah jika akarnya ikut terangkat. Kau akan melupakannya dengan baik.”

“Bagaimana jika ternyata akarnya tertinggal? Dia akan menjadi luka membusuk seperti gangren.”

Jika akarnya tertinggal maka akan tumbuh tunas yang baru. Dia bertahan hidup, Fey.

Aku berbisik di telinganya. Fey memejamkan mata. Entah ia bisa mendengarku atau tidak.

Tapi kuakui, Fey benar. Kehilangan itu menyakitkan. Setidaknya bagiku kehilangan ingatan itu menyakitkan. Ketika kau tiba-tiba terbangun dan berada di suatu tempat. Tempat yang asing dan benar-benar baru. Tanpa kau tahu kenapa dan apa yang harus dilakukan. Seperti bayi yang melupakan kenangan tentang rahim ibunya. Begitulah aku.

Menghabiskan waktu tanpa tujuan. Meski perbedaan siang dan malam tak berpengaruh untukku, aku lebih menyukai saat terang. Ketika Fey datang bersama segenap emosinya. Lihat, bahkan gadis paling aneh pun akan kau rindukan saat kau benar-benar kesepian.

Kau tidak akan pernah bisa menghargai sesuatu sampai kau kehilangannya. Siapa yang peduli akan ingatan? Sebagian orang berusaha sedemikian keras untuk menghilangkan kenangan. Ingatan akan masa lalu. Begitu keras hingga merasa perlu berpura-pura. Tertawa bahagia sementara hatinya masih meronta terluka. Sebagian yang lain memaksa membawanya kemana-mana seolah ia akan mati jika terlupa. Padahal ingatan itu menyakitinya.

Ingatan seharusnya serupa kunci ajaib. Tahu kapan harus membuka pintu masa depan dan kapan harus menutup pintu masa lalu. Ingatan membawa petunjuk-petunjuk yang kau butuhkan saat ingin membuka pintu yang baru. Membuka pintu masa lalu sesekali dan menutupnya kembali rapat-rapat saat tak dibutuhkan. Kehilangan ingatan sama seperti kehilangan kunci. Tak tahu pintu mana yang harus dibuka atau ditutup.

Aku kehilangan ingatanku. Kunciku. Aku buta dan tersesat.

Seperti sebuah rutinitas yang menyenangkan lambat-laun kedatangan Fey selalu kutunggu. Wajah tirusnya, aroma rambutnya bahkan ketukan langkahnya. Semua tentang Fey menggelitik ingatanku yang terkubur dalam di suatu tempat.

Aku hanya merasa aku disini untuknya. Seolah Tuhan sengaja menempatkanku di tempat ini untuk menunggunya. Berada di sampingnya saat ia berteriak-teriak melampiaskan kemarahannya pada Tuhan. Mendengarkan keluh-kesah panjang berlumur kesedihan dari bibirnya. Lalu terpesona pada binar sepasang miliknya ketika ia mulai bercerita tentang lelaki itu.

Aku memeluknya. Memberikan bahuku untuknya menangis. Kadang kucium ujung rambutnya untuk menenangkan isaknya. Aku hanya tahu aku harus melakukan itu. Jauh di dasar hati, aku merasakan sebuah perasaan bersalah. Pada kesedihan yang harus di tanggung gadis itu.

Hari telah menjelang sore ketika Fey datang. Wajahnya lebih kacau dari biasanya. Tangannya menggenggam sebuah botol yang isinya tinggal separuh. Mata gadis itu berair dan ujung hidungnya yang memerah terlihat kontras di kulitnya yang putih. Aku mengerutkan kening mengenali botol yang ada di tangannya.

Dan ingatanku mendadak muncul seperti slide-slide film yang diputar ulang.

Gerimis nyaris tengah malam. Sepulang merayakan keberhasilan sebuah tender di pub aku menyetir pulang dalam keadaan sedikit mabuk. Tidak benar-benar mabuk sebenarnya. Aku masih bisa melihat jalanan yang kulewati dengan cukup jelas. Jalanan yang lengang menggodaku menaikkan kecepatan. Sebenarnya aku telah melihat mereka dikejauhan. Sepasang kekasih berjalan berpelukan di trotoar pada malam yang gerimis berangin. Hanya saja aku tak menduga jika angin cukup kuat untuk menerbangkan payung mereka. Dan si pria dengan sigap berlari ke tengah jalan untuk mengejar payung merah itu. Kekasihnya menoleh ke arah mobilku. Kami bertatapan sedetik dan kulihat wajah tirusnya memucat. Seiring teriakannya kubanting stir dengan cepat ke samping, namun tubuh lelaki itu terlanjur terlempar dihantam ujung mobilku. Jalanan yang licin, rodaku slip kehilangan kendali. Bunyi berdencit, hantaman keras dan hamburan pecahan kaca. Lalu senyap.

Aku jatuh terduduk. Lututku goyah. Fey, lelaki itu dan aku.

Rasa bersalah itu, wajah tirus yang kukenali dan mengapa aku disini. Semua tiba-tiba menjadi begitu masuk akal.

Fey mengangkat botolnya lagi dengan gemetar hendak menenggak sisa isinya ketika tanganku tiba-tiba bergerak menepisnya. Entah kekuatan apa yang merasuki tanganku namun botol itu nyatanya terlempar. Jatuh terguling menumpahkan isinya. Habis. Lesap dalam tanah. Fey ternganga. Aku ternganga.

Kemudian Fey mengamuk. Sungguh-sungguh mengamuk. Meneriakkan sebuah nama mungkin milik kekasihnya berulang-ulang. Menjerit memanggilnya. Matanya liar menyapu sekitar.

“Aaron! Kau disini kan?” Tubuhnya berputar ke segala penjuru.

“Jawab aku! Aaron!”

“Aaroooon!”

Airmata mengotori pipi tirusnya. Tubuhnya melengkung menahan jeri. Teriakannya tak berhenti. Bahunya berguncang keras menumpahkan isak. Fey histeris.

Gadis itu ternyata datang lagi. Kali ini ia mendekati pohon besar tempatku duduk. Ikut disandarkan tubuhnya begitu saja pada batang kokoh itu. Seolah aku adalah rengkuhan lebar yang menawarkan kenyamanan saat dirinya menelusupkan tubuhnya padaku. Aku diam tak bereaksi. Kubiarkan kepala gadis itu rebah padaku. Kucium aroma jeruk segar dari rambut panjangnya yang tak pernah kulihat rapi terikat. Bercampur wangi samar widelia dan imperata, aroma rambutnya seolah menjadi penanda lembah ini.

Padang rumput ini sepi. Hanya angin yang berhembus ringan sesekali menggoda rumpun mimosa di sela-sela rerumputan. Sekali dua daun mimosa menutup seolah gadis yang tertunduk malu saat angin genit menyentuhnya. Kami berdua masih sama-sama diam.

Fey menarik tubuhnya perlahan dan berdiri. Ujung rambutnya meriap tertiup angin. Seperti robot aku ikut berdiri di sampingnya. Ia menarik nafas sejenak.

“Aku tahu saat ini kau ada disini, Aaron.” Fey mengedarkan pandangan ke sekitar. Sorotnya lembut menembus sosokku.

“Kau pasti telah melihat saat-saat terburukku. Maafkan aku. Tapi kehilanganmu sungguh menyakitkan. Aku nyaris tak sanggup bertahan.” Suara Fey bergetar. Tenggorokanku tercekat. Tanpa kusadari tanganku terangkat menghapus airmatanya. Titik air itu tetap meleleh di pipinya.

Fey terisak, “Sikapku konyol sekali hingga kau terpaksa tertahan di sini demi aku.” Gadis itu mengambil jeda sejenak, mengangkat wajah dan mengulaskan senyum paling manis yang pernah kulihat darinya. “Pulanglah Aaron. Aku siap. Jangan khawatirkan aku.”

Fey membalikkan tubuhnya melangkah pergi meninggalkan lembah. Aku menatap punggung dan ayunan langkahnya yang terus menjauh.

Aku bukan Aaron, Fey. Tapi berjanjilah kau akan akan baik-baik saja.

Seberkas cahaya yang teramat terang memanggil. Aku tahu tugasku telah usai.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/DC5VUFBGV2

 

Kelana Waktu

Perempuan itu duduk di tempat yang sama setiap kali berada di taman ini. Di sebuah bangku yang panjang yang terbuat dari besi bercat merah yang  mengelupas di  beberapa bagian. Setelah meletakan tasnya dengan hati-hati, jemarinya akan menghubungi sebuah nomor. Milik seorang lelaki yang beberapa bulan belakangan rutin bertemu dengannya.

Selama jeda waktu menunggu, ia akan memandangi bulatan-bulatan putih yang terlihat empuk di langit biru. Bentuknya yang berserabut lembut itu mengingatkannya pada gumpalan harum manis yang kerap dibelinya semasa ia kanak-kanak. Lalu ingatannya berlompatan ke masa lalu saat ia masih seorang gadis kecil berambut pendek.

Dia, entah mengapa menyukai masa lalu. Tenggelam di dalamnya selama beberapa waktu. Lalu merunut kembali semua peristiwa yang telah ia alami. Layaknya sebuah film tua yang diputar ulang. Kadang-kadang pikirannya terusik oleh kalimat ‘bagaimana jika…’ yang kerap kali muncul pada beberapa peristiwa. Seperti peristiwa pada sore itu. Betapa ia ingin mengoreksi satu bagian saja.

Jika waktu bisa diputar mundur…

Kelas sontak gaduh begitu punggung ibu dosen yang mungil itu hilang di balik pintu. Bunyi kursi digeser kasar beradu dengan langkah-langkah bergegas beradu cepat menuju pintu keluar. Tidak peduli masih bocah berseragam putih merah atau telah gagah menyandang status mahasiswa, kelakuan murid nyatanya tak berubah setiap kali kelas berakhir.

Lirang merapikan buku-bukunya dengan tenang. Tak terusik oleh kegaduhan sekitar. Kostnya tak jauh dari kampus. Hanya 10 menit berjalan dan 6,5 menit jika setengah berlari. Jadi ia tak tertarik untuk bergabung dalam adu cepat itu dan membiarkan dirinya keluar paling akhir dari kelas.

“Lirang!” Suara Billy menahan langkahnya sejenak.

“Boleh pinjam catatanmu?”

Lirang mengangguk dan mengangsurkan bukunya pada teman sekelasnya yang agak ‘kemayu’ itu.

“Jangan hilang, jangan terlipat dan jangan lewat dari seminggu,”  ultimatumnya pada Billy.

Billy nyengir. Mahfum pada kejudesan Lirang. Mau bagaimana lagi, hanya gadis ini di kelasnya yang selalu duduk paling depan. Mengikuti perkuliahan dengan tekun lalu merangkumnya pada sebuah catatan yang rapi.

“Kamu langsung pulang? Nongkrong dulu yuk bareng anak-anak,” ajak Billy pada Lirang. Meski ia tahu jawaban apa yang akan meluncur dari bibir gadis itu. Persis seperti dugaan Billy, Lirang menggelengkan kepalanya.

“Aku mau langsung pulang. Capek.” Senyum Lirang terkembang manis. Terlalu manis untuk menyiratkan kelelahan. Namun Billy mengiyakan tanpa banyak cakap. Mereka saling melambai sebelum berpisah di ujung lorong.

Lirang meneruskan langkahnya seorang diri. Sesekali bibirnya bergumam menyenandungkan potongan lagu yang tak pernah berhasil dihafalnya dengan sempurna. Kakinya kini tiba di ujung tangga. Dengan hati-hati ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Beberapa mahasiswa membentuk kelompok-kelompok berkerumun di sepanjang lorong. Masing-masing sibuk sendiri tak hirau satu sama lain. Lirang tersenyum sambil menajamkan telinga. Memastikan tak ada langkah kaki menaiki tangga yang akan berpapasan dengannya.

Dengan satu tarikan lembut ia menarik punggungnya. Memperbaiki postur tubuhnya menjadi lebih tegak. Mengangkat sedikit dagunya dan melangkah dengan anggun. Seirama dengan melody Bad’ner Madl’n dari Karl Komzak yang mengalun imajinatif di telinganya. Lirang menyukai permainan  konyol ini. Berpura-pura dirinya adalah seorang debutante yang tengah menuruni anak tangga menuju hall ruang dansa.

Tepat di tikungan tangga yang melingkar, Lirang melihat sosok itu melintas. Langkahnya terhenti. Simfoni Komzak di telinganya mendadak lesap di udara. Imajinasinya buyar seketika. Matanya lekat pada sosok kurus tinggi yang melenggang santai melintasi koridor kampus. Sesekali lelaki itu berhenti untuk menyapa beberapa orang sembari memperbaiki letak ransel di bahunya yang bidang.

Lirang mematung tak berkedip. Perutnya bergejolak aneh. Jantungnya berdebar lebih cepat. Gelombang rasa nyaman dan kebingungan menyergapnya bersamaan. Ia seperti pernah mengalami saat ini sebelumnya. Belum pulih dari kebingungannya, tiba-tiba Lirang mendengar bisikan halus namun memaksa di telinganya. Hampiri dia… demi Tuhan, panggil dia. Hampiri dia…

Suara itu seperti miliknya namun terdengar lebih halus dan memaksa. Seolah dikirim oleh angin dari dirinya sendiri di tempat yang berbeda. Suara yang begitu lirih namun penuh pengharapan. Seakan dirinya saat ini adalah penentu segalanya. Begitu mendesak dan menghipnotis.

Lirang mencengkram tali tas selempangnya dengan kuat. Sebelum bibirnya membuka tanpa sadar.

“Nayo!”

Lirang bersumpah panggilannya tak melebihi nada Mi dalam tangga nada. Namun lelaki itu bisa mendengarnya dan memutar punggung. Melihat ke arah anak tangga tempatnya berdiri saat ini. Menatapnya sekian detik dari balik kacamata lalu tersenyum padanya. Lirang terpukau. Dan lagi-lagi anggota tubuhnya bergerak di luar kuasa otaknya. Kakinya dengan ringan melangkah menyelesaikan anak tangga. Berjalan menghampiri lelaki itu. Mendekat ke arahnya.

“Hai,” sapa Lirang lembut. Kakinya lalu berjinjit.

Mendaratkan sebuah ciuman di pipi lelaki itu

__

Setelah ciuman itu, waktu bergulir dengan cepat. Mereka menjadi dekat. Dan ia mencintai lelaki itu begitu hebat. Hatinya begitu penuh akan dirinya. Tak menyisakan celah sedikit pun. Begitu melekat. Merasuk. Seakan ia telah mencinta berabad-abad lamanya.

Angin berhembus pelan membawa dingin yang menggigilkan, sisa hujan seharian. Lelaki itu merapatkan jaketnya. Lirang duduk memeluk lutut mencari tambahan hangat meski tubuhnya telah tenggelam dalam sweater. Dua cangkir coklat panas mengepul di antara mereka. Liukan tipis asap rokok yang dihembuskan lelaki itu seolah menyimpan pesan yang tak sanggup diucapkan. Lirang menandai dengan gelisah.

“Ada sesuatu?” tanyanya.

Lelaki itu menoleh. Mematikan rokoknya. Menarik nafas dengan berat dan menatap Lirang lekat-lekat.

“Aku ingin pergi.”

Kemudian, lelaki itu pasti mengucapkan begitu banyak kata yang menyakitkan. Karena hatinya terasa begitu ngilu. Perih bukan main. Hingga matanya bergenang seketika. Lalu tumpah tak terbendung.

Lelaki itu ingin pergi bukan karena ia tak mencintainya lagi. Tapi karena cinta Lirang yang begitu penuh. Menyesakkan. Begitu lekat hingga membuat langkahnya menjadi berat. Lelaki itu rindu kebebasannya. Air mata Lirang mengalir semakin deras. Yang ia tahu, ia mencintai lelaki itu utuh sepenuh. Membayangkan cintanya ternyata menakutkan bagi lelakinya, membuatnya terluka. Ia tidak bisa mengerti namun tak ingin pula menahan.

“Pergilah.” Bibirnya bergetar.

Lelaki itu menatapnya. Lirang menganggukkan kepalanya. Dan lelaki itu melangkah pergi. Menyisakan punggung yang sedikit demi sedikit menghilang di kelokan jalan. Juga sepasang mata yang menatapnya tak berkedip. Sepasang yang berair dan terluka.

Sore yang hangat. Taman penuh oleh bocah yang berkejaran dan berlarian. Sepasang manula melintas bergandengan tangan. Menatap penuh selidik pada perempuan yang duduk seorang diri di bangku hijau itu. Pandangannya kosong menatap satu titik lurus di depan. Wajahnya yang pias seolah tak dialiri darah itu menarik perhatian mereka. Wanita tua tadi ingin menyapa mencari tahu. Namun suaminya menahannya,”Mungkin ia sedang tak ingin diganggu.” Lalu keduanya berlalu dan berharap perempuan itu baik-baik saja.

Sebuah tangan yang besar menyentuh perempuan itu dari belakang. Dan ciuman ringan mendarat di ujung bahunya. Perempuan itu tersentak. Tersadar dari lamunan panjangnya. Lalu menoleh ke arah lelaki yang kini duduk di sampingnya. Lelaki yang sedari tadi ia tunggu.

“Apa kabar?” tanya lelaki itu lembut sembari meremas tangannya. Perempuan itu tersipu.

“Tanganmu kenapa dingin sekali? Sakit?”

Lelaki itu mencemaskannya.

“Tidak. Aku hanya melamun awalnya. Lalu tiba-tiba, aku seolah terseret di dalamnya. Semua kelihatan begitu nyata dan menyedihkan.” Suara perempuan itu melemah di ujung kalimat. Tercekat oleh rasa sedih yang tak asing

“Memangnya apa yang kau lamunkan?”

Perempuan itu ingin menceritakan semua. Tentang keingintahuannya. Apa yang terjadi jika ia menghampiri lelaki itu saat ia melihatnya pada suatu sore di kampus mereka dahulu. Tentang keinginannya kembali ke masa lalu. Juga lamunan yang  seolah menghisapnya pada satu rentang waktu. Tapi sesuatu yang berat menahan ujung lidahnya. Hingga akhirnya ia cuma berkata,”Mengapa kamu ingin kita bertemu? Bukankah baru 3 hari yang lalu kita bertemu?”

Laki-laki itu menatapnya. Ia balas menatap mata coklat yang kerap dirinduinya itu. “Aku ingin kita berpisah. Aku butuh ruang…,”

Perempuan itu terhenyak. Sekujur tubuhnya lunglai seakan tulang-tulangnya dilolosi. Keingintahuannya. Lamunannya yang seolah nyata. Kesedihan yang tak asing. Semua berputar dengan cepat. Dicerna dengan jelas oleh pikirannya.  Perempuan itu tiba-tiba mengerti satu hal.

Lelaki itu masih menjelaskan alasannya dengan runut dan hati-hati ketika perempuan itu tiba-tiba menyelanya.

“Pergilah.”

Lelaki itu menatapnya tak percaya. Terkejut dengan kepasrahan yang dimiliki perempuan itu.

“Begitu saja?” tanyanya memastikan. Perempuan itu mengangguk.

Lelaki itu diam. Perempuan itu diam. Hening diantara mereka.

“Cintaku membebanimu, kan?” bisik perempuan itu. Bibirnya bergetar susah payah menahan tangis. Lelaki itu tak menjawab. Namun ia mengangguk mengiyakan.

“Tapi aku mencintaimu.” Ego lelakinya terguncang karena kekasihnya melepasnya dengan begitu mudah. Kebebasan yang diinginkan terlihat sedikit melimbungkan. Ia goyah.

“Aku tahu.” Perempuan itu tersenyum. “Bisakah kau memelukku?” tanyanya sambil berdiri.

Lelaki itu ikut bangkit dari duduknya. Ia merengkuh perempuan itu ke dalam bahunya yang lebar. Perempuan itu memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam aroma parfum lelakinya yang bercampur tembakau.

“Baiklah.” Perempuan itu melonggarkan dekapan. Melepaskan pelukan. Matanya berkaca.

“Aku tahu kau begitu ingin pergi. Pergilah.”

“Kenapa?” Lelaki itu semakin gelisah. Perempuan itu tak menjawab, Keduanya saling menatap sesaat. Mengukur  kedalaman cinta masing-masing. Kemudian lelaki itu beranjak melangkah pergi.

Pertemuan dulu ataupun sekarang tak ada bedanya. Karena takdir tak akan berubah. Waktu yang berubah. Namun lakon manusia yang melewatinya tetap setia pada takdir. Perempuan itu menghapus airmatanya. Lututnya goyah ingin bergerak menyusul. Ia menggigit bibirnya yang ingin memanggil nama lelaki itu. Menggigitnya begitu kuat hingga asin yang merah terasa di ujung lidahnya.

“Pergilah. Agar di waktu kelak kita bisa saling mencintai dengan lebih baik.”

Perempuan itu berbisik pada sosok lelakinya yang telah lenyap. Angin menerbangkan kata-katanya. Mencatatnya sebagai janji yang tak tunai di masa depan.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/JQXVC6NQWG

Rahasia Kecil

Aku menatap wajah di hadapanku dengan seksama. Sudah belasan tahun kami tidak bertemu. Semua tentang raut wajahnya masih melekat erat di ingatanku. Bahkan setiap detil dari lekuk tubuhnya. Tentu saja aku merindukannya. Orang bilang, waktu memiliki ramuan rahasia yang mampu menyembuhkan perih yang timbul karena perpisahan. Namun untukku, waktu tak memiliki kuasa apapun. Jangankan untuk menyembuhkan, menjadikannya lupa pun tak  mampu. Waktu telah kalah oleh keras kepalaku. Bersikeras terus mengingat semua yang semestinya telah lewat.

“Apakah kamu baik-baik saja?” tanyaku memecah keheningan setelah pelukan canggung pertemuan kami.

Alis di wajahnya terangkat sebelah. Kebiasaan lama yang sama. Dia hanya mengangguk-angguk dan entah kenapa tak mengeluarkan suara. Mungkin karena pertanyaanku tak cukup penting. Sosok tubuhnya yang lebih berisi, penampilan yang masih tetap rapi dan wangi juga garis senyum yang bertambah di sudut bibirnya. Menandai kehidupannya yang nyaman dan tenang. Ada secubit  perih di sudut hatiku yang tak rela.

“Aku tidak menyangka masih bisa bertemu kembali denganmu,” ujarnya meneguk botol air mineral yang isinya tinggal setengah. Tidak lagi secangkir kopi. Kebiasaan baru. Batinku begitu saja mencatat.

“Sudah setengah tua. Terlalu banyak kafein bisa membunuhku perlahan-lahan.” Tawanya berirama seolah bisa membaca pikiranku. “Anakku masih kecil-kecil aku harus hati-hati menjaga kesehatan.”

Ah, anak. Tentu saja. Sudah 11 tahun sejak kami bertangisan di apartemenku malam itu. Menangisi takdir yang memasangkan kami dengan begitu serasi lalu menceraikannya begitu saja. Kami tak seharusnya saling menyukai apalagi mencintai. Seolah pertemuan kami terjadi tanpa campur-tangan takdir. Pada perpisahan kami, takdir bersikap seperti gadis muda yang berlagak pilon membiarkan kami berdua saling menyalahkan diri sendiri.

Aku melihatnya di pembukaan pameran lukisan. Matanya jeli mengamati setiap lukisanku yang terpajang. Berdiri bermenit-menit hingga setengah jam. Sesekali ia menoleh jika ada pengunjung lain yang mengajaknya bicara. Sekali dua aku hanya memandangnya di kejauhan. Pada pameran yang ketiga aku mendatanginya.

Dia cerdas. Jauh lebih cerdas dari kebanyakan pengunjung pameranku yang rela mengeluarkan ribuan dollar untuk membeli lukisanku. Ia mengenali lukisan-lukisanku dengan sangat baik. Tarikan kuas bahkan pulasan warna yang kupilih. Mudah ditebak, kami menjadi rekan diskusi yang hangat.

“Berapa jumlah anakmu sekarang?” tanyaku mengalihkan pikiran yang mulai berkelana menembus lorong-lorong waktu.

“Dua. Perempuan dan laki-laki.” Senyumnya merekah. Rona bangga terpancar dari raut wajahnya. Kebanggaan khas seorang Ayah.

“Anakmu yang laki-laki apakah juga menjalani Brit Milah?” tanyaku ngeri. Dia tergelak. Mungkin teringat peristiwa konyol  yang memalukan itu.

Aku mengajaknya ke acara Brit Milah keponakanku yang masih bayi. Sebenarnya aku enggan mendatangi acara-acara keagamaan seperti ini terutama Brit Millah. Bukannya aku menyangkal keYahudianku. Aku bangga menjadi bagian bangsa yang menggurita seperti Yahudi. Hanya saja semua keluarga besar memiliki kecurigaan yang bertendensi pada setiap lajang yang berkeliaran di acara-acara keluarga. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan, para wanita setengah baya itu serupa burung-burung nasar yang mengincar lajang untuk dicomblangi. Terlebih lagi di acara Brit Milah. Aku selalu ngeri membayangkan seorang bayi yang harus menjalani proses penting di alat kelaminnya dengan begitu tak berdaya.

“Proses itu sangat cepat dan tidak menyakitkan,” ujarnya saat itu.

“Tapi seharusnya si bayi memiliki hak untuk menentukan apakah ia ingin di sirkumsisi atau tidak.” tandasku sedikit emosional.

“Setiap manusia yang dilahirkan mengemban kewajiban agamanya masing-masing, Dear. Terberkatilah bayi-bayi yang disirkumsisi.” Ia mencandai sekaligus membujukku untuk hadir.

Akhirnya kami berdua datang ke Perayaan Brit Milah. Tepat pada saat Brit dilaksanakan oleh Sang Mohel, aku membuat kehebohan dengan terjatuh lemas. Mungkin ini tidak terlalu buruk seandainya saat itu aku bukan kvater dari si bayi.

“Sebagai muslim Rahm juga akan disirkumsisi. Tapi nanti setelah ia agak besar mungkin saat usianya 8 atau 9 tahun. Di sini kami menyebutnya dengan khitan.”

Aku mengangguk-angguk. “Rahm. Apakah wajahnya mirip denganmu?” tanyaku penasaran.

“Mmm… tidak. Dia lebih mirip Najma, ibunya.”

Ah, Najma. Setelah sekian belas tahun akhirnya kudengar nama perempuan itu, Najma.

“Jadi kau memutuskan untuk pulang?” tanyaku setelah isakku berhenti. Dia menganggukkan kepala.

“Aku tak punya pilihan lain. Keluargaku meminang gadis itu untuk Novel, adikku. Tapi ia menolaknya. Bagi Ummi ini adalah persoalan marwah. Harga diri keluarga. Aku harus mendapatkan gadis itu untuk kehormatan keluarga kami.” Pandangannya menerawang menembus jendela apartemen.

“Lama kelamaan tradisi membuatku muak. Penghambat modernitas. Bagaimana mungkin di tengah kemajuan teknologi seperti saat ini tradisi masih mengontrol kehidupan kita.?” Emosiku memuncak kembali.

Dia memandangku tajam.

“Bagi keluarga keturunan Arab, marwah adalah bagian penting dari tradisi kami. Di atas itu semua, bagi setiap muslim titah ibu adalah segalanya.”

Pekan-pekan selanjutnya kami seolah pesawat yang mengalami turbulensi. Saling mencintai menjadikan kami anomali dari tradisi yang melingkupi dan membesarkan kami. Kami gelisah. Ingin memberontak namun sekaligus tak ingin tercerabut.

Berulangkali Fawwaz melontarkan keinginannya untuk kabur. Lenyap meninggalkan keluarganya. Melepaskan beasiswa sekaligus ikatan dinas yang ia peroleh. Namun tak sekalipun ia memiliki keberanian untuk melakukannya.

Fawwaz tetap pulang ke Jakarta, ke rumahnya. Akarnya. Sesekali kami saling bertelepon. Namun tak ada yang berani mengutarakan kerinduan. Dinding di antara kami memang tinggi namun serapuh porselin Cina. Sekali saja kami mengetuknya dengan ucapan rindu maka runtuhlah segala kendali diri yang kami miliki .

“Apakah gadis itu menerima pinanganmu? Apakah keluarg Haddad akhirnya berhasil memilikinya?” tanyaku di telepon suatu malam. Dari seberang, Fawwaz mengiyakan. Perutku terasa mual. Kututup sambungan telepon dengan tergesa. Berlari ke kamar mandi memuntahkan isinya.

Lalu kami kehilangan kontak. Bertahun-tahun kemudian. Hingga kudapatkan emailnya dari salah seorang kenalan kami dahulu. Aku akan pameran di Jakarta, bisakah kita bertemu. Tulisku dalam email. Fawwaz mengiyakan. Jadi, di sinilah kami siang ini.

Telepon genggam Fawwaz berbunyi, ia mengangkatnya. Aku menunduk berlagak sibuk berusaha tak mencuri dengar.

“Najma dan anak-anak akan menyusul kemari,”katanya kemudian.

Aku mengangguk.

Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana keberanianku terkumpul. Untuk melihat perempuan yang berhasil merebut Fawwazku. Aku ingin melihatnya terakhir kali sebelum semua kenangan kusimpan baik-baik. Aku sudah terlalu lelah. Hidup dalam kenangan yang tak pernah redup.

“Papa!” suara melengking gadis kecil membuat Fawwaz menoleh. Senyumnya lebar terkembang.

“Hanna, princess papa,” panggilnya dan gadis kecil itu menghambur di pelukan Fawwaz. Binar matanya yang lebar dan gelap serupa milik Fawwaz.
Di belakangnya mengekor seorang perempuan berkerudung dengan kereta bayinya. Ia tersenyum ke arah kami berdua. Bayi montok di dalam kereta mengoceh tak berhenti. Itu pasti Rahm, tebakku dalam hati.

“Najma, Hanna, Om ini sahabat papa. Sam, ini keluargaku.”
Kuulaskan senyum hangat pada keluarga kecil di hadapanku.

“Halo. Saya Sam. Samuel Rubenstein.”

Dunia lirang, 01/02/2012

 

Senja Kala

Angin musim ini bertiup kencang menyisakan gemeletuk pelan di rahangnya dan ngilu tertinggal diantara persendian tulang. Dedaunan kuning kemerahan berserakan layu di jalan setapak lembab yang dilewatinya. Gadis itu melangkah cepat tak hirau pada selendang hangat yang  bergeser turun memamerkan bahunya yang terbuka. Kabut tipis sedikit demi sedikit mulai turun. Ia mempercepat langkahnya. Mengejar jingga matahari sebelum langit menurunkan tirainya yang biru beledu. Terengah-engah ia mendaki setapak menuju puncak.

Matahari tepat berada di batas horison ketika akhirnya ia sampai ke sisi gunung yang dituju. Senyum terkembang manis di wajahnya yang pucat dan basah oleh peluh. Perlahan disusuri lembah sisi gunung itu mencari tebing  milik kekasihnya. Tebing kekasihnya, begitu ia menyebut tebing di sisi gunung itu. Tebing dimana kekasihnya sering duduk  berjam-jam lamanya.

Apa yang kau lakukan disini selama berjam-jam lamanya? Tanya gadis itu suatu hari.

Aku bisa melihatmu dari sini, jawab kekasihnya.

Gadis itu lalu memicingkan matanya. Ia bisa melihat rumahnya yang berhalaman luas dan dikelilingi pagar yang tinggi. Rumah milik Sang Adipati.

Perlahan-lahan gadis itu melangkah mendekati ujung tebing.  Kini ia telah berdiri di ujungnya. Angin menderu-deru di telinga. Menebaskan ujung rambut ke wajahnya sendiri. Menyisakan perih serupa tamparan di pipinya. Atau mungkin itu memang perih tamparan? Yang ditinggalkan oleh tangan besar milik Sang Adipati di wajahnya. Gadis itu enggan memikirkannya. Langit hampir berubah warna. Ia memejamkan mata. Mengingat kilasan-kilasan kisah antara dirinya dan kekasihnya. Airmata merembes dari sela-sela bulu matanya, perlahan jatuh di pipi.

Sepenuh hati gadis itu mengumpulkan keberaniannya yang terserak bersama kepedihan dan getir hati. Kakinya kini bergeser semakin ke ujung. Angin masih menderu-deru namun kini seolah memanggil namanya. Namanya? Gadis itu itu berusaha menajamkan telinga. Hanya deru angin terdengar. Ia menghela nafas, menenangkan gemuruh hatinya. Sang Hyang Widhi  ampuni aku, di kehidupan berikutnya, aku mohon ijinkan kami. Sebuah nama meluncur dari bibir pucatnya yang bergetar. Lalu dalam hitungan detik gadis itu melemparkan tubuhnya ke jurang yang menganga dalam di bawah tebing

Langit kini sempurna biru beledu. Gadis itu membuka matanya. Tubuhnya mungkin penuh luka mungkin juga tidak, entahlah ia tak bisa merasakan apapun. Kecuali hawa dingin yang sedikit demi sedikit mengalir ke atas tubuhnya.

Sona.. Sona…  Sonakshi…

Ia tersenyum. Kekasihnya memanggilnya. Kekasihnya menjemputnya di sini, tempat yang sama di mana mayat lelakinya di jatuhkan.

SONAKSHIIIII…

Panggilan itu kini menjadi gema. Terlalu nyata untuk sebuah delusi.  Sonakshi mengenal suara yang terus-menerus memanggilnya. Semuanya kini terlihat begitu jelas.

Di tengah dingin yang kini terasa mencabik-cabik tubuhnya, Sonakshi tiba-tiba ingin tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang dipermainkan waktu.  Parakram belum mati. Mereka tak membunuhnya. Dia yang diinginkan untuk mati. Adipati keparat itu tahu ia akan melakukan hal tolol ini. Dan Parakram akan menangisi kematiannya sepanjang usia. Memisahkan mereka pada kehidupan yang berbeda dan membiarkan mereka saling menangisi seumur hidup, tak ada lagi pembalasan dendam yang lebih menyakitkan daripada ini.

Sonakshi merasakan nyeri terbakar di ujung nafasnya. Waktunya telah tiba, Sonakshi  berbisik pada dirinya sendiri.

Parakram, tunggulah aku. Tetaplah menungguku.

Senja telah usai dan gemintang berkelip satu-satu. Sonakshi menutup matanya pelahan. Diatas tebing, seorang lelaki mengeluarkan jeritan pilu memanggil namanya.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/ISJPOX8JCR