Rikam Utan Along

Gong mulai dibunyikan, berpasang mata kini terpaku ke panggung sederhana. Menanti dara yang perlahan-lahan melenggang mengikuti irama gong. Rikam meliukkan pinggulnya lembut dan anggun. Selangkah demi selangkah mendekati gong  berukuran sedang yang diletakkan di tengah panggung. Rangkaian Bulu-bulu Enggang terjepit di sela jemarinya.Tangan gadis itu seakan bersayap pada ujungnya. Sepasang mata kelam di antara penonton diam-diam merekam setiap gerakan gadis itu dari balik lensa kamera.

Suara Gong terakhir menandai usainya Tari Kancet Ledo*. Rikam merapikan rangkaian Bulu Enggang yang tadi dipakainya lalu beranjak meninggalkan panggung menuju ke Lamin *. David menjejeri langkah gadis belia itu.

“Pemuda itu tak lepas memandangimu sedari tadi,” David membuka percakapan. Rikam tak menyahut. Hanya mengedikkan bahunya sekilas.

“Kapan rombongan fotografer dari  Jakarta itu akan pulang?” Suara pemuda itu terdengar sedikit gusar.

“Mana aku tahu. Lagipula apa salahnya ia memandangiku. Kami menari untuk mereka tonton, kan?”

“Tapi sudah lima hari ini yang dia lihat hanya kamu, Rikam! Ia mengikutimu kemana saja seperti anak kucing. Memotret setiap gerak-gerikmu dari pagi sampai senja. Semacam tak ada lagi gadis lain di kampung ini!” Suara David meninggi. Langkah Rikam seketika terhenti di undakan pertama Lamin.

“Apa sekarang kau hendak bilang, kau sedang cemburu, David?” Sepasang mata badam itu menyorot tajam. Suaranya dingin menyengat. David tercekat tak menjawab.

Rikam membalikkan tubuh meneruskan langkahnya menaiki tangga Lamin. Di kejauhan, riuh bilah bambu Penari Pampaga* menandai akhir pertunjukan seni  di Desa Wisata hari ini.

Bram memperhatikan satu demi satu slide foto Gadis Dayak yang menjadi obyek di sebagian besar fotonya. Mata sipit gadis itu menghilang saat tertawa, juga dekik lesung pipinya yang dalam saat tersenyum malu-malu.

“Hati-hati Bram, gadis itu sudah ada yang punya,” ujar Reno dengan suara bassnya. Bram tersentak kaget. Lamunannya buyar.

“Sialan. Merusak suasana saja kamu.”

Reno terkekeh, sembari membaringkan tubuhnya di kasur.

“Aku serius. Jangan bermain-bermain dengan Gadis Dayak. Kecuali kau ingin pulang tinggal nama.”

“Kalau  begitu, tak perlu pulang sekalian,” balas Bram santai.

Reno memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Bram.

“Lalu bagaimana dengan Maya, Natasha, Rima dan satu lagi Gadis Arab itu, siapa namanya? Kau suruh aku mengatakan apa pada mereka? Bram tak pulang ke Jakarta. Tergila-gila ia pada gadis di Kampung Dayak yang ditemuinya selama seminggu. Begitu? Bah! Kau ini…,”

Sebuah bantal  melayang ke arah Bram yang segera ditangkis oleh pemuda itu.

“Apa salahnya kalau aku menetap disini?” ujar Bram kembali acuh tak acuh. Matanya menekuri editan foto Rikam di laptopnya.

“Tak ada salahmu. Selain menyukai seorang gadis yang telah ditunangkan dengan putra kepala adat desa ini. Itu saja. Sederhana tapi cukup kuat untuk menebaskan sebilah Mandau*.”

Bram mengangkat wajahnya. Reno menatapnya serius.

“Bukan ke lehermu tentu saja. Tapi cukup ke batang pisang yang telah dimantrai. Sekali tebas, habislah dirimu.”

Suasana hening beberapa detik.

“Gosip.” Bram menjawab pendek tak peduli.

“Keras kepala,” sahut Reno kesal.

Rikam  menatap pada bangunan mess khusus tamu di kejauhan dari jendela biliknya yang terbuka. Angin malam yang dingin memucatkan kulit wajahnya yang putih.  Seseorang menyibakkan tirai  pembatas bilik.

“Rikam,” suara ibunya memanggil. Lebih mirip bisikan daripada panggilan.

Rikam menutup jendela dan membalikkan tubuh.  Bersimpuh di lantai Lamin bersisian sangat dekat dengan ibunya. Mereka harus melakukannya jika tidak ingin angin mengabarkan pembicaraan pada seluruh penghuni Lamin. Dinding Lamin ini bertelinga. Nyaris tak ada pembicaraan yang berhasil dirahasiakan di sini.

“Seminggu lagi pesta panen, Nak,” Perempuan tua bertelinga panjang diberati anting-anting logam itu berkata lirih. Asei, satu dari beberapa perempuan tersisa yang masih meneruskan tradisi telinga panjang di kampungnya, menggenggam tangan putri bungsunya. Rikam mengangguk, pandangannya menunduk tertumbuk lengan keriput  ibunya yang dipenuhi rangkaian tato bermotif tanduk.  Serupa motif ukiran di tiang Lamin mereka.

“Berhati-hatilah. Jaga sikapmu pada Pemuda Jawa itu.”

Rikam mengangkat wajahnya, “Ibu tahu?”

Asei terkekeh pelan menertawai pikiran naïf putrinya. Meludah sebentar pada kaleng pengganti tempolong. Bibir keriputnya menyirih jingga.

“Rikam, kau anakku yang ke sepuluh. Lahir setelah hampir lima belas tahun dari kelahiran kakak laki-lakimu, Jantur. Ibu sudah setua itu ketika kau lahir. Kelahiran yang teramat sulit.”  Mata Asei yang mulai abu-abu karena rabun menerawang.

Rikam menyimak penuh perhatian. Kisah kelahiran yang berpuluh bahkan mungkin beratus kali telah ia dengar. Namun Asei tak hanya seorang ibu, ia juga wanita bijak dari Lamin mereka. Rikam dengan takzim mendengar kisah itu lagi. Serupa kaset yang terus diputar ulang di telinganya.

Kisah kelahirannya melegenda di Lamin mereka. Tentang ibunya yang tiga hari tiga malam tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir setelah melahirkan Rikam. Juga dirinya yang enggan menangis. Bertahan dengan tarikan nafas satu-satu yang lemah. Berdua mereka dibaringkan di tengah Lamin dalam upacara pengobatan yang dipimpin seorang Dayung*. Tepat saat Dayung tua hendak berucap Sio diman menyat tolong lait nyengau*, Luhung , putra bungsu Amai Pebulung* yang masih balita tiba-tiba berlari ke tengah lingkaran dan menyentuh pipi Rikam. Dan sontak dirinya menangis keras. Gong segera ditabuh dengan riuh menyamarkan tangis pertamanya. Agar binatang-binatang hutan tak mendengar tangisannya dan selamatlah hidup Rikam dari bala seumur hidup.  Entah karena pekikan tangisnya atau karena keriuhan gong yang ditabuhkan, ibunya turut siuman. Lamin geger. Ayah Rikam tersungkur sesenggukan penuh syukur.  Mata tua milik Dayung berkaca-kaca. Bahkan Amai Pebulung pun tak sanggup berucap sepatah kata. Menyaksikan Luhung, putranya duduk bersila mengusap-usap pipi Rikam yang masih terus menangis. Sejak malam itu, langit telah menentukan. Rikam adalah milik Luhung. Selamanya.

Rikam tekun menunduk mendengarkan Asei terus bercerita seolah memberikan penguatan bagi kegelisahan putrinya. Beberapa tahun lalu, Rikam masih mendengarkan kisah ini dengan hati berdebar dan mata berbinar. Menanti kepulangan Luhung yang meneruskan sekolahnya di Samarinda. Gelisah dan debar dara belasan tahun menanti kekasih hati yang telah ditetapkan langit untuknya.

Lalu awal tahun lalu, Luhung pulang. Membawa ijazah bertuliskan nama David Nigau. Nama baru Luhung. Amai Pebulung tak berkomentar apapun. Asalkan Luhung pulang dan bersedia meneruskan tradisi, itu lebih dari cukup. Kemajuan jaman menghilangkan pemuda suku mereka satu demi satu. Membuat mereka tersesat, lupa jalan pulang ke kampung. Luhung atau David, pemuda itu tetaplah putranya.

Rikam menyambut kepulangan Luhung dengan suka cita. Memanggilnya dengan nama baru seperti yang diinginkan pemuda itu. Semua terasa manis bagi Rikam, ia percaya sepenuhnya langit telah menjodohkan mereka berdua. Hingga pada malam yang meriah seusai pesta panen tahun lalu, David bercerita tentang Grace. Gadis Manado teman kuliah yang dicintainya.

Malam itu sape*  dipetik mengiringi ngendau*. Riuh gelak tawa pemuda-pemudi dari halaman Lamin. Di biliknya, Rikam menangis sendirian. Meratapi hatinya.

Tak seorangpun di Lamin mengetahui kisah tentang Grace. Aku akan tetap menikah denganmu, janji David malam itu. Rikam ingin meludah mendengarnya. Apa artinya hidup bersama seorang lelaki yang tak pernah mencintai dirinya? Apa maksud lelaki itu bercerita tentang perempuan lain di hadapannya?

Rikam tak pernah berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, hanya kesadaran yang membuka mata hatinya bahwa ia tak dicintai. Sikapnya berubah dingin pada David meski pemuda itu selalu bersikap baik pada Rikam. Beberapa kali  Jantur, kakaknya menegur sikapnya. Namun Rikam enggan bercerita apalagi membela diri. Ia lebih suka berkutat dalam diam.

Kemudian Amai Pebulung mengabarkan serombongan tamu dari  Jakarta yang akan datang menginap di desa mereka yang kini berjuluk Desa Wisata. Rombongan fotografer dan jurnalis perjalanan  dari dalam dan luar negeri. Mereka akan menginap seminggu meliput kehidupan Masyarakat Dayak. Saat itulah Rikam mengenal Bram.

Awalnya Rikam terganggu dengan tingkah pemuda itu yang mengikutinya kemanapun ia pergi. Merekam setiap gerak-geriknya. Namun lambat-laun Rikam merasa tersanjung. Ada banyak gadis cantik di desanya, Nilam, Tunjung, juga Kori. Tapi Bram hanya memilih dirinya.

“Kenapa mengikutiku terus?” tanyanya suatu pagi. Mereka berjalan bersisian hendak menyisir ladang mencari akar-akaran.

“Kenapa kau mau kuikuti?” Bram balik bertanya. Rikam meliriknya, kesal.

“Aku sudah bertunangan.”

“Aku tahu. Sayang sekali.”

“Sayang sekali?” Rikam menaikkan sebelah alisnya. Tak mengerti.

“Iya. Sayang sekali matamu tak menyiratkan kebahagiaan itu. Kau mau menikah atau mau bunuh diri, sih? Berat sekali nampaknya.”

Rikam tercekat. Ia menoleh memandang lelaki yang sibuk memotret di sebelahnya.

“Sejelas itukah?” suara Rikam pelan.

“Sejelas itu. Ingat,  aku menatapmu setiap saat dengan ini,”Bram mengangkat kamera yang terkalung di lehernya. “Tak sekalipun matamu bercahaya. Coba tersenyum,” Bram memberi perintah.

Rikam menarik sudut bibirnya sedikit.

“Sedikit lagi. Lebih lebar, kau sedang tersenyum, bukan hendak buang angin, kan?”

Rikam tergelak. Bram dengan gesit membidiknya dengan kamera. Hari itu membawa kehangatan bagi hati Rikam. Begitu pun hari-hari selanjutnya.

“Rikam,” seraut wajah menyembul dari balik tirai bilik. Asei dan Rikam menoleh bersamaan.

“David mencarimu.” Kori menatapnya dengan pandangan menggoda. Rikam menghela nafas. Asei menggenggam tangannya.

“Temuilah sebentar, mungkin ada yang hendak ia bicarakan.”

Rikam mengangguk lalu beringsut keluar menuju tangga Lamin tempat David menunggu seperti yang dikabarkan Kori.

David dan Rikam duduk bersisian dalam hening. Suara jangkrik nyaring memecah malam. Sementara Rikam menerawang menatap lampu mess tamu di kejauhan, menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Bram di sana.

“Rikam, seminggu lagi pesta panen digelar.”David membuka percakapan.  Rikam mengangguk. Ucapan David persis seperti perkataan ibunya. Seperti sengaja mengingatkan bahwa tiga hari setelah pesta panen mereka akan menikah.

“Maafkan aku. Mengenai Grace, seharusnya aku tak menceritakannya padamu. Saat itu aku hanya ingin bersikap jujur.” David meremas tangannya sendiri dengan gelisah.

“Kau mencintai Grace. Aku menyukai Bram. Lalu masihkah kita harus menikah?” Rikam menatap David lurus-lurus. David tak menjawab. Benaknya dipenuhi wajah Grace yang terus mengisi mimpinya setiap malam. Ia berusaha melupakan gadis itu namun tak berhasil hingga detik ini.

“Aku tak ingin menikah denganmu!” sergah Rikam tajam. Teringat ia akan Bram.

“Aku tahu. Tapi langit telah menetapkan kita, Rikam. Kau pikir aku suka kembali kemari, menghidupkan Lamin, menyalakan tradisi yang hampir lenyap ini?” David membalas tatapan Rikam dengan tajam.

“Dunia di luar begitu luas, Rikam. Aku ingin terbang menghampirinya. Tapi aku tak bisa. Kakiku tertancap di sini. Pada akarku aku harus pulang. Dan hanya denganmu, Rikam, aku bisa membagi beban ini. Mengertikah kau?”sorot mata David melunak.

Wajah Rikam memerah menahan tangis. Tenggorokannya tercekat.

“Lalu kehidupan  seperti apa yang akan kita jalani, David?”suara Rikam tersendat isak yang mulai mendesak keluar.

“Entahlah Rikam. Aku tak bisa menjanjikan. Namun ada yang lebih kuat daripada hidup itu sendiri. Ialah takdir. Percayalah Rikam, akulah takdirmu dan kamulah takdirku.”

Tangis Rikam pecah.

Hari ini rombongan tamu dari Jakarta akan pulang. Rikam melenggok di panggung diiringi sape dan nyanyian Leleng Utan Along*. Tak pernah sekalipun Leleng ditarikan sendirian, tapi David berhasil membujuk Amai Pebulung untuk mengijinkan Rikam menarikannya sendirian seperti permintaan gadis itu. Rikam berputar terhanyut suara penyanyi yang merintih melukiskan kepedihan Utan Along*.

Leleng … leleng  Utan Along

Leleng… leleng Utan Along… leleng…

Airmata perlahan turun membasahi pipi Rikam. Gadis itu berputar. Berputar dan terus berputar. Siang itu,  Rikam menjelma  Utan Along.

***

Keterangan:

*Kancet Ledo : Tari Gong. Tarian yang melukiskan keindahan batang padi yang tertiup angin. Ditarikan di atas gong.
*Lamin : Rumah Panjang. Rumah adat Suku Dayak.
*Pampaga : Tarian muda-mudi Suku Dayak yang menggunakan bilah bambu.
*Mandau : Senjata khas Suku Dayak. Terbuat dari bijih besi. Ujungnya beracun. Pegangannya berhias ukiran dan rambut manusia.
*Dayung : Dukun pemimpin upacara untuk penyembuhan.

* Sio diman menyat tolong  lait nyengau

: Mantra penyembuhan. Artinya kurang lebih, Tolong berikan air yang dapat menyembuhkan.
*Amai Pebulung : Kepala adat.
*Sape/Sampe : Alat musik petik khas Dayak
*Ngendau : Nyanyian berbalas-balasan muda-mudi Dayak
*Leleng  Utan Along : Lagu untuk mengiringi Tari Leleng. Ditarikan berkelompok, menceritakan kisah kesedihan Utan Along.
*Utan Along : Nama seorang gadis yang dipaksa menikah dengan lelaki yang tak disukainya. Lari ke tengah hutan. Dan menari berputar-putar di tengah hujan sembari menangis.