Yang Dikabarkan Hujan

Lika bertemu lelaki itu di sebuah kedai kopi yang ia lupa namanya. Saat itu hujan turun dengan deras di tengah cuaca yang sedang cerah-cerahnya. Ia yang tengah melenggang santai menyusuri trotoar menikmati deretan toko tua terpaksa berlari menghindar. Lika hampir berlari menyeberangi persimpangan untuk berteduh di emper sebuah toko yang tutup bersama sekumpulan orang-orang, kalau saja kalimat ‘kedai kopi’ yang tercetak di jendela kaca itu tak tertangkap ekor matanya. Dan dirinya berbalik, membuka pintu yang berdenting. Disambut aroma kopi yang menguar hatinya seketika menghangat. Itu sebabnya ia mencintai kopi. Tak peduli apapun yang tengah ia hadapi atau bagaimanapun suasana hatinya, segelas kopi selalu bisa membuatnya tenang.

Coffee is a hug in a mug. Lika tertawa kecil membaca hiasan yang tergantung di langit-langit kedai kopi itu. Ya, persis seperti itu. Kopi selalu bisa mengerti.

Akhirnya Lika memilih duduk di satu-satunya meja kosong yang tersisa. Ruangan kedai kopi itu tidak sempit meski juga tidak bisa dikatakan luas. Namun saat ini meja-meja yang seharusnya diisi oleh dua atau tiga orang hanya diduduki oleh satu orang saja. Mungkin kedai kopi ini tempat berkumpulnya para kesepian, pikirnya. Atau mungkin hujan yang turun tiba-tiba yang akhirnya memaksa untuk berteduh kemari, seperti dirinya. Lika memandang ke luar jendela, hujan masih turun dan cuaca masih cerah.

“Hujan yang turun di tengah cuaca cerah adalah pertanda yang tidak baik.” Begitu kata Pak Yosef, guru matematika-nya semasa masih bocah SD dulu. Lelaki keturunan Dayak itu memanggilnya masuk saat hujan turun di tengah sore yang cerah seperti sekarang.

“Pertanda yang tidak baik itu seperti apa?” Ia balik bertanya.

“Seperti pesan langit pembawa kabar yang akan membuat hatimu bersedih.” Gurunya menjawab sambil tersenyum dan mengusap rambut Lika. Lelaki-lelaki Dayak berhati lembut. Lika mengangguk. Tak sepenuhnya mengerti, tapi mata coklat teduh milik Gurunya menenangkan isi kepalanya. Hingga ia sangat yakin meski mengabarkan kesedihan, hujan yang turun di tengah cuaca cerah tak akan menyakitinya.

Pintu berdenting sekali lagi. Seorang lelaki dan perempuan yang bisa jadi adalah kekasihnya masuk sambil tertawa-tawa. Meja di hadapan Lika rupanya telah kosong. Mereka berdua segera menempatinya tanpa punya pilihan lain. Tak lama keduanya telah menentukan pesanan.

“Aku coklat panas saja.” Putus si wanita. Lelaki itu mengangguk dan mengulangi pesanan mereka berdua. Pelayan berbalik dan meninggalkan mereka kembali dengan percakapan-percakapan yang sepertinya menyenangkan. Lika menangkapnya dari sorot mata yang dipancarkan lelaki itu. Sesekali bibir lelaki itu tertarik mengembang dan bahu kurusnya berguncang karena tawa. Lika ikut tersenyum melihatnya. Entah mengapa. Ia suka melihat cara lelaki itu tertawa.

Lika tak tahu berapa lama ia tenggelam dalam novel yang sengaja ia bawa untuk dibaca sewaktu-waktu. Sore telah beranjak menuju senja sementara hujan telah benar-benar berhenti. Lika memasukkan kembali novelnya ke dalam tas, menyesap sisa kopinya yang dingin dan siap beranjak. Ketika sebuah kesedihan menahannya pergi. Lika meletakkan kembali pantatnya ke kursi. Pasangan di depannya kini terlibat pembicaraan yang serius. Raut lelaki itu tegang. Rahangnya terkatup rapat, senyumnya menguap entah kemana. Mungkin lenyap bersama hujan yang tadi berhenti tanpa sepengetahuan Lika. Gadisnya pasti tak kalah tegang. Lika melihat tangannya terus bergerak seolah menandaskan sesuatu. Kursi yang didudukinya bergeser, perempuan itu beranjak dan berlalu dengan gegas. Lelakinya membuang wajah ke jendela. Dan Lika merasakan kesedihan lagi-lagi menombak jantungnya. Perih.

Kejar. Lika berucap dalam hati.

Demi Aphrodite, kejar!

Lika merasa perlu menyebut nama Dewi Asmara itu. Berharap berkahnya bisa melunakkan hati lelaki keras kepala yang duduk di seberang mejanya. Tapi lelaki itu masih bergeming menatap ke luar jendela sampai sepuluh menit berikutnya. Jalanan mulai terang oleh lampu-lampu. Trotoar kembali ramai oleh lalu lalang. Lika menghela napas. Ia menyentuh dadanya yang masih terasa mampat.

 

Loving can hurt

Loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

 

Pintu kedai kembali berdenting-denting. Sepasang demi sepasang masuk dengan senyum. Dengan tawa. Dengan cinta. Membawa kelebat-kelebat merah jambu yang membuat bibir Lika kembali tersenyum. Kali ini ia benar-benar harus pergi. Lika pelan-pelan menggeser kursinya dan lelaki di depannya menoleh. Mereka bertatapan. Pikiran lelaki itu tak benar-benar terpusat padanya namun Lika merasa waktu miliknya berhenti sesaat. Ia memperhatikan raut lelaki di depannya dengan cermat. Pada rambut ikalnya yang berantakan, sepasang alis yang bertaut juga sorot kesepian yang menatapnya dalam. Lika bisa melihat kilas merah jambu membias dari tubuhnya sendiri dan merasakan kesedihan milik lelaki itu sekaligus. Memunculkan rasa yang aneh di tenggorokan Lika. Mirip syrup obat batuk yang kerap diberikan ibu saat ia masih kanak-kanak. Manis yang pahit atau pahit yang manis? Entahlah.

Mereka masih bertatapan. Lika menghadiahinya senyuman manis yang ringan. Seringan kecupan di kening. Untuk lelaki itu sebelum ia beranjak pergi.

 

So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans

Holding me closer ‘til our eyes meet

You won’t ever be alone wait for me to come home.

 

Pintu kedai berdenting lagi saat Lika melangkah keluar kedai dan meninggalkan lelaki itu bersama kesedihan yang memerihkan dadanya. Tak akan ada yang benar-benar bisa menyakitimu, Sayang. Bahkan juga kesedihan yang dikabarkan hujan yang turun tiba-tiba pada cuaca cerah. Lika berbisik lamat-lamat sementara kakinya terus melangkah lincah melewati genangan-genangan sisa hujan.

 

Loving can heal

Loving can mend your soul

And it’s the only thing that I know.

 

Lyric : Photograph by Ed Sheeran.

 

Credit:

https://stocksnap.io/photo/7K97QSBRNI

 

Advertisements

Gadis Hujan

Cerita hari ini dimulai pada cuaca mendung, gerimis seharian saat aku pertama kali melihatnya dari jendela toko rotiku. Berdiri di halte bercat merah di seberang jalan. Tubuh ramping dengan struktur tulang yang serupa model rupanya menjadi daya tarik gadis itu. Beberapa orang yang melintas menoleh ke arahnya. Bahkan pelangganku yang tengah menikmati sarapan bagel pun melakukan hal yang sama. Sekumpulan kecil pemuda  memperhatikan gadis  itu kemudian saling berbisik dan tertawa perlahan penuh rasa ingin tahu.

Beberapa minggu berikutnya, gadis bermantel itu kerap hadir di tempat yang sama. Seolah menanti sesuatu atau mungkin juga seseorang. Entahlah. Namun ada yang istimewa pada kedatangannya. Ia selalu menggunakan mantel panjang berwarna gelap dengan potongan yang melekat sempurna pada tubuh rampingnya. Dengan rambut coklat yang diikat seadanya. Penampilannya menjadi mencolok diantara para gadis yang berseliweran dengan gaun tipis. Berwarna cerah atau bermotif bunga-bunga. Ini musim panas. Dimana matahari berbaik hati melimpahkan kehangatannya pada kota kami. Tapi bukan penampilan yang berbeda itu yang menjadi keistimewaannya. Melainkan pada hujan yang setia mengiringi gadis itu.

Seapik apapun mantel yang tengah kau kenakan, jika di musim panas tentu akan mengundang cibiran. Begitulah. Beberapa orang memandang gadis itu dengan tatapan aneh ketika ia melangkah dengan anggun di trotoar menuju halte tempatnya duduk menunggu. Sepertinya gadis itu sadar penampilannya mengundang rasa ingin tahu. Tapi ia begitu tenang seolah tahu matahari akan berpihak padanya. Dan itulah yang kemudian terjadi. Matahari berkomplot. Ia menyilakan hujan turun kendati cuaca terang benderang. Sungguh aneh melihat gerimis turun dengan ritmis dihantar tiupan lembut angin yang terasa dingin di musim panas yang cerah.

Semenjak itu orang-orang memanggilnya dengan Gadis Hujan.

Kedatangan gadis hujan tak bisa ditebak. Ia hadir sesukanya, berdiri atau duduk menunggu di tempat yang sama. Beberapa pelangganku menjadikan kemunculannya dengan gurauan. Namun kebanyakan dari mereka lebih suka memandang dari kejauhan. Lalu saling berbisik mereka-reka cerita tentangnya. Seperti angin dingin yang mengikutinya, cerita rekaan itu menelusup keluar melewati celah pintu dan jendela toko rotiku. Perlahan menyebar merasuki pikiran setiap penduduk kota ini. Tak penting lagi apakah kisah itu rekaan semata, ketika semua orang meyakininya, itulah kebenaran.

Gadis hujan itu adalah seorang peri.

Itulah alasan kenapa tak seorang pun dari kami berani bertanya atau sekedar menyapa gadis itu. Ia seolah diselimuti aura magis yang membuat kami segan untuk mendekat. Kendati tak seorang pun dari kami memiliki firasat berbahaya atas kehadirannya. Begitu juga dengan diriku. Aku bahkan mulai menyukai gadis itu. Menyukai caranya melangkah datang, gayanya yang tenang juga wajahnya yang tak pernah jelas terlihat tertutup oleh riap rambut yang tertiup angin. Namun toh, aku lebih memilih melihatnya dari kejauhan. Pada awalnya.

Sampai suatu sore sesaat setelah ia datang, hujan turun. Lebih deras dari biasanya. Terlalu deras. Angin bahkan menerbangkan beberapa pot perdu rosemary milikku. Aku menatap cemas ke arah seberang jalan. Tempat dimana gadis itu duduk seorang diri. Masih dengan ketenangan yang sama seperti biasanya. Namun kini kancing mantelnya tertutup rapat. Ia kedinginan! Lantas dengan kecekatan yang mengalahkan barista aku segera meracik segelas latte dan membungkus beberapa bagel hangat ke dalam kantong kertas. Menyambar satu payung di ujung ruangan kemudian bergegas melangkah keluar menuju ke halte.

Hujan mendadak berubah menjadi gerimis dan angin tak lagi garang ketika aku melewati trotoar dan menyeberang jalan.

“Halo,” sapaku.

Gadis itu mengangkat wajahnya. Kami bertatapan. Aku terpesona pada sepasang bening yang berwarna coklat madu yang tengah menatapku dalam-dalam. Seolah sarat kerinduan. Aku tercekat.

“Ini untukmu. Kau pasti kedinginan.” Aku menyorongkan segelas latte dan kantung kertas berisi bagel yang kubawa.

“Terima kasih.” Gadis itu tersenyum. Garis bibirnya lembut. Senyumnya manis seperti senyum kanak-kanak yang tak berdosa. Kali ini aku benar-benar tersihir.

Untuk beberapa saat aku masih terpaku pada senyumannya. Gadis itu lebih mirip peri daripada manusia. Mungkin aku akan terus berdiri menatapnya tak berkedip kalau saja Mario, suamiku tak berteriak memanggilku dari seberang jalan.

Masih terpukau pada wajah perinya, aku hanya berpamitan dengan mengangguk dan tersenyum kecil.

“Tunggu.” Suaranya yang jernih seperti lonceng itu menahanku.

“Carla, aku senang akhirnya kita bisa bertemu.”

Senyumku melebar. Dan kubalikkan tubuh bergegas pulang ke toko rotiku.

Berminggu-minggu berikutnya, aku baru menyadari satu hal, kami tak pernah saling mengenal. Darimana ia tahu namaku?

Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya semenjak pertemuan kami, gadis hujan tak pernah lagi datang. Beberapa saat lamanya beredar cerita rekaan versi menghilangnya gadis itu. Namun lambat laun kisah gadis hujan itu terlupakan. Tergerus oleh kisah-kisah baru yang lebih fenomenal. Seperti kisah tentang gadis biasa dari kota kami yang dipersunting menjadi anggota kerajaan. Kisah baru ini begitu membuai. Hingga para ibu mendadak menambahkan list permohonan dalam doanya. Agar anaknya memiliki nasib baik seperti putri baru itu.

“Aku tak akan pernah menjadi seorang putri, Mama.” Kata Inez, putriku yang lahir setahun setelah gadis hujan itu menghilang. Gadis kecil yang hari ini berusia lima tahun itu memandangku dengan sorot wajah prihatin.

“Sudah kukatakan berulang kali, aku seorang peri.” Wajahnya kini seolah putus asa. Ia memandang keluar jendela. Jemarinya mengetuk-ngetuk kaca yang penuh dengan butiran tempias hujan.

“Aku mencintai hujan. Mereka selalu datang di setiap ulang tahunku. Benarkan, Ma?”

Tanganku berhenti menguleni adonan roti. Inez benar, tak peduli  musim, hujan selalu datang saat ia berulang tahun.

“Mama. Aku sangat menyayangimu sejak pertama kali kita bertemu.” Suara kekanakan Inez menyentuhku. Hatiku penuh oleh rasa haru.

Kubersihkan jemariku dari sisa adonan dan kudekati Inez. Aku ingin memeluknya.

“Mama tak mengenaliku?” Inez mengerjapkan kedua matanya. Matanya tiba-tiba terlihat begitu bening. Ia menatapku tak berkedip. Aku seolah pernah melihatnya di suatu tempat.

“Mama juga sangat menyayangimu, Nak,” ujarku lembut.

“Aku tahu. Aku tahu sejak dulu. Itu sebabnya aku selalu menunggu mama di sana. Di seberang jalan itu.” Inez mengarahkan telunjuknya ke arah halte di seberang jalan.

Aku terkesiap. Tanganku terkembang ingin memeluknya.

“Aku senang kita bisa bertemu kembali, Carla. Latte buatanmu enak sekali.” Inez tersenyum. Senyum yang sangat manis dan membius. Yang sangat kukenali.

Tanganku sontak membeku di udara. Di luar, gerimis turun dengan ritmis.

 

Dunia Lirang, 21/03/2012

 

Sihir Hujan

Aku bosan. Sekarang sudah bulan ke sepuluh dalam peredaran matahari. Waktuku seharusnya sudah tiba. Ini saatnya aku bermain-main ke bumi. Bukannya bermalasan-malasan seperti sekarang. Setiap hari hanya duduk diam di depan cermin, menunggu Lilian menyisiri rambutku. Pekerjaan yang semakin hari semakin lama saja dikerjakannya.  Lihat! Bahkan rambut perakku sudah demikian panjang sekarang.  Sebentar lagi  kilau keperakan itu akan berubah menjadi seputih kapas. Saat itu aku tak bisa lagi bermain sebagai hujan. Hanya duduk tenang dan anggun sampai saudariku yang lain datang meneruskan tugasku.

Bukan, aku bukan dukun india tua yang rambutnya panjang penuh uban. Sebaliknya aku sangat cantik. Emm, tidak terlalu cantik sih. Tapi cukup cantik. Oh, oke baiklah! Aku tidak cantik. Sama sekali tidak cantik. Pipiku tidak bersemu kemerahan, aku juga tidak berkulit coklat keemasan atau berpenampilan mempesona seperti saudara-saudaraku lainnya. Penguasa-penguasa ke empat musim .  Aku  gadis kurus dan pucat dengan rambut perak yang panjang.  Menjelang akhir tahun aku akan berubah semakin pucat.  Kulitku, rambutku, gaunku, semuanya berubah menjadi putih. Pada saat itu aku duduk di singgasanaku dan tertidur. Sementara ujung-ujung rambut dan jemariku meneteskan bulatan-bulatan lembut putih yang mereka sebut Salju. Bisa kau bayangkan,  tertidur selama kurang lebih 3 bulan. Sungguh menjemukan!

Itu sebabnya aku lebih suka dipanggil Hujan.

Menjadi hujan adalah saatku yang tercantik. Rambutku masih berkilauan perak dan gaunku masih bertabur kristal cantik. Seperti saat ini. Ini saatku bermain-main tapi entah mengapa gerbang istana belum juga dibuka untukku. Mmm, mungkin sahabatku, angin utara bisa membantu. Ditambah sejumput bubuk sihir hujan, aku pasti bisa kabur melewati  jendela menara.

—-

Huaaa..!! Ini sangat menyenangkan!  Aku melebur bersama angin utara. Tubuhku nyaris tidak berwujud kecuali kau memiliki penglihatan yang luar biasa tajam. Kau akan bisa melihat gugusan lembut kristal-kristal air yang  bergerak seiring liuk angin yang dingin. Ya, itu aku!

Tentu saja, membujuk Angin Utara bukan pekerjaan mudah. Aku berjanji memberinya sesendok bubuk sihir hujan. Ditambah sumpah perlindunganku untuknya jika kami ketahuan. Jadi, inilah aku meliuk bersama Angin Utara yang membawaku terbang. Aku menyuruhnya mencari tempat yang tenang di  Bumi. Pada dimensi waktu dimana manusia tak sebanyak sekarang dan suara hati masih bisa mereka dengar dengan jelas.

Aku melihatnya. Lebih tepatnya aku mendengarnya. Lamat-lamat telingaku mendengar suaranya yang mendaraskan mantra. Tertutup oleh deras air terjun dan kecipak gerimis yang mengiringiku turun ke bumi. Penasaran aku mencoba mencarinya. Angin Utara masih bersamaku, ia membantu mencari asal suara.

Hati-hati, bisik Angin Utara. Aku mengangguk .

Dan kulihat dia, duduk bersila diatas batu besar pada gua dibalik air terjun. Matanya terpejam namun bibirnya tak henti mendaraskan mantera, semacam puja-puji bagi Ayahku. Aku mendekatinya perlahan. Sebagian tubuhnya basah terkena cipratan air terjun. Tapi dia bergeming. Aku tersenyum.

Jangan kau ganggu dia, bocah nakal! Angin Utara berdesis di telingaku.

Aku tidak mengganggu, Kakek bawel! Aku membalas tak kalah galak.

Angin Utara terkadang bisa sangat menyebalkan. Bawel seperti  seorang kakek tua. Aku berputar mengitari  lelaki itu. Kurasakan punggungnya dengan jemariku.

Panas. Bisikku pada Angin Utara.

Tentu saja, dia kan manusia.

Punggung lelaki itu meremang karena sentuhanku.  Mantera yang didarasnya semakin cepat seiring debar jantungnya. Aku bisa merasakannya.

Kau gila! Angin Utara terlihat gusar.

Dia pertapa?

Belum. Dia baru mencoba menjadi pertapa sampai kau datang dan mengganggunya. Lelaki muda yang malang. Angin Utara prihatin, bibirku merengut.

Kini aku menatap wajahnya lekat. Mereka-reka bentuk dan warna sepasang bola mata yang bersembunyi di balik barisan bulu mata yang pendek-pendek dan kaku. Mengamati bentuk bibirnya yang bergerak-gerak. Bertahan mendaraskan syair mantera. Debaran di dadanya kembali normal. Aku mengangkat jemari kiriku dan menjentikkannya. Debu bubuk sihir hujan keluar beterbangan, aku merangkumnya dengan tangan. Perlahan bubuk sihir hujan yang terkumpul itu kuhembuskan ke wajah lelaki di depanku. Kristal-kristal  gerimis yang menyertaiku berdenting. Sihirku dimulai.

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kusentuh  bahunya dan perlahan sekali kukecup ujung hidung lelaki itu. Denting kristal-kristalku semakin nyaring. Bibirku menyentuh ujung hidung miliknya. Aku merasakan aliran hangat nafasnya yang menerpa wajahku. Mataku terpejam beberapa detik sebelum kudengar  Angin Utara melengking.

Gadis bodoh! Apa yang kau lakukan!

Terkaget kubuka mataku. Dan sepasang mata berbentuk badam itu tengah menatapku dengan ekspresi terkejut. Sebelum kemudian jatuh tersungkur.

Sontak aku melangkah mundur. Bibirku bergetar.

Oh Dewa, apa yang telah aku lakukan? Sihirku… bukankah sihir hujanku seharusnya bekerja? Seharusnya lelaki itu tak merasakan apapun. Aku menutup wajahku dengan tangan. Ya ampun, tanganku berwujud. Samar tapi berwujud. Kristal-kristal di tubuhku meredup oleh aliran gelombang hangat yang lembut mengalir di tubuhku.  Aku pasti tidak sengaja telah menghirup gelombang kehidupannya!

Apakah dia juga menghirup energiku. Aku mulai panik.

Kau sungguh sembrono, gadis muda! Amuk Angin Utara. Berputar disekitarku dengan bising.

Sekelebat cahaya terang tiba-tiba berkilat menyambar tempat kami berdiri. Petir menggelegar beberapa detik kemudian. Angin ribut terdengar kencang  menggoyang pohon-pohon besar di luar sana. Aku mendengar beberapa diantara tumbang. Badai besar.

Ayahku tahu!

Aku gemetar ketakutan membayangkan amarahnya.  Kucoba  melebur bersama Angin Utara. Tapi ia menjauh dan tubuhku terlanjur berwujud.

Maafkan aku. Angin Utara berbisik pelan sebelum meliuk meninggalkanku.

Aku hendak menahannya, namun kulihat tubuh lelaki itu menggigil hebat.  Energiku terhisap olehnya terlalu banyak. Ia pasti tak kuat menahannya!  Aku berlari ke arahnya. Panik aku memeluk tubuhnya yang menggigil. Hawa dinginku kurasakan mengalir di tubuhnya. Tubuh manusianya menolak dengan mengeluarkan energi panas berlebihan.

Aku menangis. Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan airmata. Butiran-butiran kristal kecil berjatuhan dari pipiku. Melumer begitu menyentuh kulit lelaki yang kudekap erat-erat. Di luar gua, badai masih mengamuk. Ayahku mengamuk.

Ampuni aku, Ayah. Tolonglah, dengarkan aku sebentar saja. Tolong aku…

Langit jernih. Bintang-bintang bertaburan cemerlang. Badai tak bersisa. Usai bersamaan kepergian ayahku. Aku duduk memeluk lutut.  Lelaki itu berbaring di dekat  api unggun. Nafasnya teratur, tubuhnya tak lagi menggigil. Suhu badannya kembali normal meski  ia masih terlalu lemah untuk siuman.

Bukankah ayah sudah melarangmu keluar menara, Nak?

Aku mengangguk tersedu.

Seharusnya aku tahu ini akan terjadi.  Aku tak akan bisa mengubah takdirNya. Ayahku mengeluh dengan suaranya yang berat dan dalam.

Jalanmu sudah kau pilih, Nak. Jalanilah hingga ujungnya.

Sendirian? Mendadak aku merasa ketakutan dan kesepian.

Bersamanya. Lelakimu. Mata Ayah tertuju pada tubuh yang terbaring di tengah gua.

Lelakiku?

Ya lelakimu. Kalian telah berbagi energi hidup. Kau tak bisa kembali sampai nanti waktumu tiba.

Bagaimana aku bisa tahu waktuku?

Kau terlalu banyak bertanya.

Ayah menarik kedua tanganku dan mengecupnya dengan sayang. Jemariku berpendar terang. Kemudian meredup. Ayah membiarkan sihir hujan menetap di jemariku. Identitasku terakhir sebagai  Penguasa Hujan.

Bunyi api merepih diiringi gemeretak kayu bakar. Aku memandangi wajah damai lelaki itu. Kini aku hanya memilikinya. Dia, aku dan takdir kami.  Mungkin kami akan bersama sebagai kekasih. Atau  malah akan berhadapan dengan tatapan penuh benci sebagai musuh. Apapun itu kami ditakdirkan untuk bersama. Bahkan di kehidupan berikutnya aku  tetap datang mencarinya. Sihir hujan mempertemukan kami. Sekarang dan di masa depan.

NotaBene:

@sihirhujan: nama yang sangat menginspirasi. Terimakasih! 🙂

 

Sang Lirang

Hujan dan sore hari. Tidak ada paduan yang lebih sempurna dari itu. Semesta mendadak hening. Tak ada kicau burung-burung yang  menandai kepulangan mereka ke sarang. Tak ada pekik riang sekumpulan bocah yang bermain berkejaran. Bahkan jalan depan rumahku pun terlihat lengang. Semua memilih meringkuk mencari hangat di rumahnya masing-masing.

Aku menyesap pelan pinggiran cangkir porselin. Paduan sempurna yang kedua, teh cina dalam cangkir porselin mungil. Sulungku membelikannya khusus untukku.

“Kopi tak baik buat orang-orang seusia mama,” ujarnya saat itu.

aku menurut.

Jadi, disinilah aku, duduk dipinggir jendela rumahku pada suatu sore. Ditemani secangkir kecil teh cina yang konon katanya berkhasiat dan hujan yang menyisakan gerimis. Akan kuceritakan kepadamu kisah tentang seseorang yang mungkin pernah kau temui atau kau kenal. Bahkan sebagian dirinya bisa jadi kau kenali sebagai dirimu sendiri. Entah dalam tawa atau kepedihannya. Atau pada cinta dan rindunya yang mengekal hangat layaknya nyala api. Mungkin juga pada mimpi-mimpinya yang terkadang absurd namun tak pernah bosan untuk dironcenya.

Ya, ini kisah  tentang kehidupan. Hidup milik seorang perempuan biasa yang bernama Lirang. Aku menyebutnya Sang Lirang.

 

Dunia lirang, 20/09/11