Ingatan Pukul Empat Pagi

Telah diunggah di http://www.tamanfiksi.com

 

Aku tahu beberapa ruh masa lalu memang tak pernah bisa benar-benar berdamai dengan takdir kehidupan. Sesekali mereka menyelinap menembus gerbang waktu untuk sekedar melampiaskan yang tertinggal. Amarah, kecemburuan, kesedihan pun juga kepahitan.

Aku tak pernah terkejut jika mereka tiba-tiba saja muncul di hadapanku hanya dengan suara letupan ringan mirip gabus penutup anggur yang terbuka. Dengan tubuh berdarah-darah akibat luka menganga dan sebilah pedang milikku yang masih menancap di dalamnya sembari melontarkan sumpah serapah. Atau terusik dengan serombongan hantu-hantu perempuan yang bergosip dengan suara nyaring seraya menatap dengan api kecemburuan. Percayalah, jangan pernah menyepelekan kecemburuan perempuan. Mereka rela bergentayangan untuk sekedar menghantuimu. Berharap melihatmu menangis tersedu ketakutan dan mengiba-iba meminta maaf. Sial bagi rombongan perempuan bergaun penuh renda itu, mereka tak akan mendapatkan hal itu dariku meski ratusan tahun menghantui.

Ruh-ruh yang menderita itu biasanya mengunjungiku pada kesunyian-kesunyian yang melelapkan sebagian besar manusia. Sesekali mereka berusaha memegahkan diri dengan mengirimkan aroma yang mereka sukai melalui angin yang hembusannya terlalu dingin sebagai penanda. Aku sebagai pihak yang menjadi sumber kekesalan sekaligus nasib buruk mereka, tentu memahami keinginan ini. Tak ada salahnya menyenangkan mereka yang telah mati. Terlebih bila semasa hidup mereka, kau adalah sosok yang mereka benci. Begitulah pikiranku dulu. Jadi kusiapkan dupa-dupa terbaik untuk menyambut dan kudaraskan mantra dengan segenap kasih sayang. Namun yang terjadi malah sebuah lingkaran besar berwarna merah muda keemasan bersinar mengelilingi melindungiku. Ruh-ruh masa lalu tertahan di sisi luarnya. Tak bisa mendekati, mereka lantas memandangku tajam sebelum membalikkan punggung tanpa suara. Mereka kesal dan aku iba.

Berikutnya kubiarkan saja mereka datang sesukanya tanpa sambutan ini dan itu. Kuijinkan mereka berteriak mencaci maki atau bergosip mencela penampilanku dengan suara yang mengalahkan dengung koloni lebah. Sampai mereka sendiri yang memutuskan meninggalkanku dengan perasaan puas dan lega. Begitulah caraku ‘meminta maaf’ pada mereka.

Tapi dini hari kali ini terasa sedikit asing dan membuatku gelisah.  Udaranya tak mengabarkan kedatangan ruh-ruh masa lalu, namun aku mencium wangi apak ingatan dari masa yang entah. Kuputuskan untuk mengunjungi tendaku di arena Gigir Perigi. Di sana aku bisa lebih tenang menyelidiki apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Aku menyelinap di antara tenda-tenda yang masih tertutup rapat. Saat ini nyaris seluruh penghuni Gigir Perigi terlelap tak menyadari apapun. Nyaris, karena satu dua penghuninya terlihat melintas sesekali. Aku kadang berpapasan dengan mereka namun lebih sering melihat dari kejauhan. Jika kalian menjalani ratusan bahkan mungkin ribuan episode kehidupan dengan mata, isi kepala dan perasaan yang sama, kalian pasti mengerti. Menjaga jarak dengan orang lain adalah hal yang harus dilakukan. Mereka yang bisa tahu dan mengerti benar apa itu “keabadian” sungguh bisa dihitung dengan jari. Satu di antaranya adalah Bejo, Pemilik GigirPerigi.

Aku melihatnya pertama kali di sebuah bangku panjang sebuah taman. Memandang lurus ke depan, menikmati senja yang kemerahan. Begitu tenang, begitu hening. Isi kepalanya tak terbaca olehku. Ia tenggelam dalam kebersamaan bersama jiwa istrinya yang duduk tak kalah tenang di sampingnya. Hanya mereka berdua.

Tak ingin mengganggu, aku memilih berdiri di samping bangku panjang menanti sampai Bejo dan istrinya menuntaskan perjumpaan.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” ujarnya pada akhirnya. Bejo menoleh ke padaku dan tersenyum begitu pun istrinya. Aku mengangguk dan membalas senyum Istri Bejo sebelum akhirnya perempuan itu perlahan memudar dan menghilang.

Aku kemudian duduk di samping Bejo.

“Tidak terlalu lama,” jawabku. Buatku waktu tak pernah benar-benar memberikan perbedaan.

Awal percakapan yang aneh untuk orang-orang yang tak pernah berjumpa sebelumnya. Tapi untuk beberapa orang termasuk aku dan Bejo, itu adalah hal yang biasa. Kami bisa saling mengenali dengan cepat. Pintu ingatan di kepala kami tak pernah benar-benar tertutup rapat. Sesekali ingatan-ingatan lampau menyelinap pelan atau melesat cepat  membuat tumbukan besar pada sel-sel syaraf yang menciptakan denyar-denyar hebat di kepala.

“Aku tak terlalu jelas mengingat, tapi rasa-rasanya penampilanmu tak berubah banyak.” Bejo menatapku keheranan. Kerut-kerut di dahinya bertambah.

“Aku memang tak berubah. Tak pernah berubah,” jawabku dengan tenang.

“Jangan bilang legenda itu benar. Astaga! Lalu, siapa namamu kali ini?”

Aku tertawa melihat ekspresi Bejo saat itu. Antara takjub, tak percaya sekaligus ngeri. Ekspresi matanya masih sama seperti yang kukenal beratus silam.

“Legenda jika kau tak pernah melihatnya. Namun jika dia ada di depan matamu, kau percaya atau tidak tentu kau sendiri yang memutuskan. Namaku, Milam.”

“Aku, eh… maksudku, namaku…,”

“Bejo.” Aku menukas menyebut namanya.

Bejo tergelak.

“Kau mengerikan.”

“Aku tahu.” Aku menjawab dengan cengiran lebar.

Detik berikutnya kami tenggelam dalam percakapan tentang impian Bejo akan Pasar Malam keliling. Tentang menemukan kembali mereka yang pernah berada dalam matriks kehidupan Bejo di masa lampau. Sore itu juga aku menyatakan diri untuk bergabung. Dalam perjalanan waktu, Bejo berhasil mengumpulkan mereka yang dicarinya dan menamai kumpulan ini dengan Gigir Perigi.

Jadi, sekarang kau pasti lebih paham alasanku enggan berakrab-akrab. Selain karena aku telah mengetahui sejarah ujung rambut sampai ujung kaki seluruh penghuni Gigir Perigi, ada hal yang lebih penting dari segalanya. Karena tak ada yang benar-benar mengerti dan kuat menanggung arti keabadian.

Aku melintasi tenda lumba-lumba. Kudengar kecipak air yang tak biasa. Suara nyanyian Namira menenangkan kawan-kawannya itu sayup-sayup sampai di telinga. Sesekali gadis itu membujuk dengan nada suaranya yang manis. Cam dan Bria tengah gelisah, terlalu gelisah hingga Namira, gadis laut yang nyaris tak pernah berbicara itu terpaksa bersenandung. Aku mengerti kegelisahan Lumba-lumba milik Namira itu. Aku pun merasakan hal yang sama.

Aku kembali meneruskan langkah, kali ini lebih cepat. Sampai tak sengaja aku menyenggol kumparan berbulu yang tengah meringkuk. Oreo, kucing itu menegakkan diri dengan cepat dan kesal. Namun setelah mata kami bertatapan ia mengeluarkan dengkur yang manja.

Tidak. Tidak malam ini Oreo.

Aku berbicara pada matanya.

Tidakkah kau sadar, malam ini terasa aneh? Oh kucing malas, kau sudah terlalu lama tak berlatih! Cam dan Bria bahkan jauh lebih baik darimu saat ini.

Kata-kataku mungkin terlalu pedas. Oreo mengeong pelan dan membuang muka. Berbalik memunggungi dan melesat menghilang meninggalkanku sedetik kemudian. Entah karena sakit hati atau rasa malu. Aku tak ambil pusing. Ada hal yang lebih penting yang akan terjadi padaku dan mungkin juga Gigir Perigi.

Wangi sisa aroma dupa yang tertinggal menyambutku begitu aku menyibak tenda yang berwarna marun dengan bahan serupa beledu.

“Bahan sebagus ini kau jadikan tenda?” Bejo mengusap-usap gulungan bahan yang kuberikan padanya untuk dijahit sebagai tenda saat  dulu kami hendak memulai perjalanan Gigir Perigi yang pertama.

“Hei, kau akan membawaku berkeliling keluar dari rumahku yang nyaman. Maka hal pertama yang ingin kupastikan tentu adalah tenda dan karavan yang layak untuk kutinggali.” Aku bersikeras.

“Lagipula aku memiliki beberapa bahan serupa di gudang bawah tanahku. Kalau mau kau boleh mengambilnya satu. Tak ada yang bisa mengalahkan Bangsa Mongol dalam keindahan tekstil,” ujarku penuh perasaan.

“Mereka bangsa yang besar dan kuat. Menyebar menginvasi segala arah dengan megah.” Bejo membentangkan gulungan bahan yang kubawa. Mengukurnya dengan seksama.

“Namun sejarah tak pernah hitam putih. Selalu ada penderitaan di balik kemegahan. Persis seperti bisul-bisul yang disembunyikan para Kaisar di balik jubah agung mereka. Borok-borok yang tak pernah mereka sadari kelak akan terlahir kembali untuk menanggung yang telah ditutupi.”

Bejo mengakhiri kalimatnya yang panjang dengan satu helaan napas berat. Pandangannya menarawang menatap satu titik. Aku mengikuti arah mata Bejo.  Kulihat tubuh raksasa Igor di kejauhan. Pada DNA-nya rahasia-rahasia kelam leluhurnya tersimpan.

Aku duduk diam beberapa saat lamanya di tendaku. Mencoba menyelaraskan diri dengan sekitar. Mencoba mencari  tanda-tanda.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Sebuah guci kecil berwarna merah dengan lukisan bunga peony bergoyang pelan. Guci itu milik seorang selir Maharaja Tiongkok yang gantung diri entah oleh sebab apa. Sebagai benda kesayangan, guci merah peony itu dikubur bersama jasad sang putri. Sebuah banjir besar terjadi bertahun kemudian, makam yang kurang kuat dibuat itu menjadi rusak dan mudah dibongkar. Kemiskinan yang akhirnya mendorong para perampok makam merajalela.

Sang Putri mendatangiku pada suatu malam, menangisi guci merah peony miliknya. Esoknya kuperintahkan pelayan-pelayanku mencari guci yang kugambar dengan terkantuk-kantuk dengan sosok yang tak berhenti menangis di sampingku di malam sebelumnya.

Guci merah peony itu bergoyang lagi. Mengeluarkan desir udara yang hanya bisa didengar dan dimengerti olehku.

Aku mencium wangi dukacita. Hantu gadis muda.

Guci merah peony itu mengulang keluhan yang sama. Lirih dan sarat kesedihan.

Aku mengabaikannya. Kubiarkan ia mengulangnya terus-menerus di sudut tenda.

Wangi apak ingatan semakin kuat berkumpul di ujung hidung. Kali ini bercampur dengan aroma anyir yang tajam. Darah. Kepalaku mendadak terasa berat. Denyar-denyar berdentam semakin hebat di kepala. Sebuah ingatan meluncur cepat siap mendobrak pintu yang selama ini kugembok dengan kuat. Aku menahan sebisaku. Aku tak ingin ingat. Tidak!

Ingatan itu masih berputar terus dan kuat. Seperti mata bor yang melubangi kepala. Tubuhku berguncang mulai tak terkendali. Punggungku mulai basah oleh keringat dingin. Dengan gemetar jari-jariku melepas simpul ikatan di leher dan membiarkan begitu saja jubah panjangku lolos jatuh ke tanah. Jantungku mulai terasa nyeri. Segumpal kesedihan dan rasa bersalah merangsek naik ke tenggorokan dan mencekikku di sana. Napasku tersengal.

Sebuah cahaya terang menyergap isi kepala. Pintu ingatanku terbuka sudah.

Sepasang mata kanak-kanak berwarna biru terang menatapku. Membelalak dan ketakutan.

Aku jatuh tersungkur.

“Pasar Malam ini seperti kumpulan orang-orang sakit, Bejo.” Aku menggeleng melihat daftar nama dan riwayat penghuni Gigir Perigi. Kusesap kopiku dengan putus asa.

Bejo tak menanggapi keluhanku. Ia masih terus mencorat-coret sesuatu di atas kertas.

“Lihat ini, Milam.” Ia menyorongkan kertasnya ke arahku. Penuh coretan anak panah ke sana ke mari dengan tulisan Paradoks dalam huruf kapital.

“Beginilah hidup yang kupahami. Sebagai satu kesatuan paradoks yang harmonis dan seimbang. Kamu benar, Gigir Perigi adalah sekumpulan orang-orang sakit. Orang-orang sakit yang berkumpul dengan satu tujuan. Menyembuhkan. Menyembuhkan diri sendiri dan orang-orang yang datang mengunjungi Gigir Perigi. Paradoks yang manis.” Bejo menatapku tajam.

Untuk pertama kalinya aku salah tingkah.

“Kau tidak akan bisa terus-terusan bersembunyi dan menolak kedatangannya, Milam.”

Aku tercekat. “Kau ingat?”

“Ingatan itu datang malam tadi.” Bejo merapikan kertas-kertasnya dengan tenang.

“Aku tidak menyangka dia ada di sana saat aku dengan tenang menancapkan belatiku di jantung perempuan itu.” Suaraku terdengar sedikit bergetar.

“Aku tahu. Kau hanya menjalankan tugasmu, Milam.”

“Tapi membunuh seorang perempuan di depan mata anaknya adalah perbuatan yang keji, Bejo!” Aku mulai tak terkendali.

“Milam, dalam ingatan itu aku melihatmu lagi. Saat kau masuk dengan mabuk. Meracau kesana-kemari tentang pekerjaanmu sebagai mata-mata yang berulangkali kau kutuk, perempuan yang kau bunuh dan anaknya yang memergoki kalian dan kau tinggalkan.” Bejo menyenderkan tubuh dan menatap mataku lekat-lekat. Matanya berkabut.

“Tak ada yang salah dengan tugasmu saat itu, Milam. Ratusan kelahiran lagi pun aku akan tetap mengatakan hal yang sama.”

Aku kembali menyesap kopi mencoba menenangkan diri. Ada banyak masa aku dan Bejo bersahabat baik. Dia mengenalku lebih baik dari beberapa orang di lingkaran dekatku.

“Tapi kali ini aku akan mengingatkanmu satu hal. Bukan pembunuhan itu yang mengejarmu. Tapi rasa bersalah karena meninggalkan bocah itu begitu saja di samping jasad ibunya. Kau meninggalkan yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.”

Kau meninggalkan apa yang seharusnya tak kau tinggalkan, Milam.

Suara Bejo yang terngiang di telinga adalah hal pertama yang kudengar saat kesadaran mulai memanggil.

Tubuhku masih lembab oleh keringat. Jadi rasa-rasanya aku hanya beberapa menit kehilangan kesadaran. Sepasang mata yang membelalak ketakutan itu akan datang menemuiku hari ini. Hidupnya yang sarat kesedihan di setiap kelahiran dimulai saat aku membunuh ibunya di depan matanya. Menerimanya datang ke hadapanku pasti membuka borok rasa bersalah yang selama ini kusembunyikan baik-baik.

Aku takut.

Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari bibirku. Kupejamkan mata menahan seberkas bening yang akhirnya tak terbendung meluncur menuruni pipiku yang tak pernah tersentuh kerut. Aku mulai terisak dan lambat laun bahuku berguncang sesenggukan.

Membuka ingatan agar bisa menutupnya kembali dengan baik. Menemui untuk melepaskan. Hidup adalah kesatuan paradoks yang indah, Milam.

Suara Bejo kembali terdengar dibawa angin. Bocah dari masa silam, ia akan datang hari ini. Apapun yang akan terjadi harus kutemui pemilik sepasang mata yang pernah kutinggalkan itu dengan berani.  Agar tuntas segala yang tertinggal.

Credit Photo:

https://stocksnap.io/photo/J3AE9LEMN3

Boneka Gipsi

Diterbitkan di Majalah KaWanku edisi 150/1-15 mei 2013

 

Lelaki jangkung itu bangkit dari duduk, mencangklongkan cerutu ke bibirnya yang setengah bergumam , “Tidak bisa, Sayang. Papa harus berangkat sore ini juga.”

“Tapi Pa…, Papa belum genap seminggu ada di rumah. Sekarang hendak pergi lagi?” mata gadis belasan tahun itu membola. Bibirnya mengerucut kesal.

“Rachel, Papa sudah tidak muda lagi sementara usiamu belum lagi genap 15 tahun. Perjalananmu masih panjang. Selagi  Papa masih sehat, Papa harus bekerja. Memastikan agar kelak hidupmu terus nyaman. Mengerti?” Lelaki jangkung yang rambutnya memutih nyaris sempurna itu memegang bahu putrinya dengan lembut.

“Well, Tuan Christopher Reindhart di usia anda yang senja, bukankah lebih baik jika menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama putri anda satu-satunya di Pasar Malam?” rajuk Rachel sambil mengulaskan senyum semanis yang ia bisa.

“Papa tidak setua itu, Rachel,” Chris tertawa sambil mengenakan mantel dan topinya.

“Aku serius soal pasar malam itu, Pa! Rombongan Gipsi itu baru sampai kemarin malam, mereka berkemah di lapangan  pinggir kota,” seru Rachel berlomba dengan tubuh jangkung ayahnya yang menghilang di balik pintu.

Rachel menghela nafas menatap pintu kamar kerja ayahnya yang  kini menutup sempurna.

“Kau bisa pergi dengan Nana, Rachel. Minta ia menemanimu.” Suara bariton Chris membuat Rachel terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati wajah ayahnya  yang muncul dari celah pintu yang terbuka kembali.

Rachel tersenyum lebar.

“Terimakasih Pa, hati-hati di jalan.”

Chris mengangguk. “Kau juga, Gadis Kecil,” ujarnya sebelum menutup pintu untuk kedua kalinya.

Udara malam ini terasa hangat. Sesekali terasa semilir angin malam yang bebas keluar masuk dari jendela kamar yang terbuka. Rachel sengaja membukanya lebar-lebar, berharap  hawa sejuk yang dibawa oleh hembusan angin bisa meredakan kekesalannya pada Nana. Wanita kulit hitam gemuk yang menjadi pengasuhnya sejak bayi tanpa diduga menolak mentah-mentah ajakan Rachel untuk pergi ke Pasar Malam.

“Apa? Pasar Malam di malam Bulan Biru seperti ini?” Nana berjengit dengan suara nyaring begitu mendengar ajakan Rachel. Tangannya yang gemuk dan kokoh berhenti  membolak-balik biskuit coklat yang tengah dipanggangnya.

“Memangnya ada apa dengan Bulan Biru?” Rachel meraih sekeping biskuit yang sudah jadi dan meniup-niupnya  untuk menghilangkan panas.

“Malam ini semua sihir bekerja. Sihir jahat, sihir baik…semua!” tandas Nana serius.

“Nana, para penyihir telah habis diburu sejak lama. Kau mengada-ada.” Rachel tergelak-gelak nyaris tersedak. Buru-buru diraihnya segelas lemon dingin dari meja dapur.

“Nana tidak pernah mengada-ada, Nona. Dan sihir para Gipsi tidak pernah benar-benar  lenyap. Jadi malam ini, baik-baiklah di rumah. Besok, saat hari terang  kita akan mampir sebentar ke lapangan pinggir  kota untuk memuaskan rasa ingin tahumu.”

Rachel mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sudah 13 tahun ia dalam asuhan Nana. Ia tahu persis, jika Nana mengatakan sesuatu dengan mimik seserius saat ini, maka itu adalah perintah. Seisi rumah besar ini harus patuh. Bahkan ayahnya sekalipun. Entah karisma apa yang dimiliki perempuan tua gemuk yang penyayang itu, namun nyatanya Rachel memilih alasan ingin tidur lebih awal untuk mengunci diri di kamar ketimbang harus berdebat panjang dengan Nana.

“Ke Pasar Malam pada siang hari terang benderang? Huaaah, yang benar saja. Di mana letak keseruannya? Rachel menggerutu sendiri. Ia membolak-balik tubuhnya dengan gelisah. Berulangkali dicobanya memejamkan mata namun tak berhasil. Matanya justru nyalang menatap langit-langit kamar.

Tiba-tiba dengan gerakan cepat Rachel bangkit dari tempat tidur. Samar-samar telinganya menangkap alunan musik yang riang. Khas musik yang dinyanyikan Kaum Gipsi  diantara karavan-karavan mereka. Rachel  memejamkan mata, memusatkan konsentrasi pada pendengarannya. Nada-nada itu masih terdengar meski samar-samar. Perlahan ia kembali membuka mata dan menatap jendela yang terbuka. Tirai berenda putih itu melambai menandai gerakan angin yang menembus masuk ke kamar. Rachel merasakan hawa dingin pada tengkuk dan lengannya. Ia memutuskan untuk merapatkan daun-daun jendela itu ketika sekelebat ide melintas di pikirannya. Bergegas gadis itu menuju ke lemari besar di sudut kamar, tempat gaun-gaunnya tersimpan.

Rachel terengah-engah melangkah di setapak menanjak pada bukit kecil itu. Ia beruntung sebab purnama yang bulat sempurna membuat bukit menjadi remang keemasan. Cukup terang untuk dilewati tanpa bantuan lentera. Bagaimanapun juga memintas jarak melalui bukit ini jauh lebih aman ketimbang melewati jalan di tengah kota. Yang meskipun lebih nyaman namun akan membuatnya berpapasan dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengannya. Pasar Malam.

Sedikit binar jahil menyala di mata Rachel. Sungguh ini adalah hal paling gila yang pernah ia lakukan. Melompat dari jendela atau sesekali melarikan diri dari kamarnya adalah kenakalan kecil yang biasa ia lakukan. Namun tetap saja dilakukan di siang hari, bukan di malam hari seperti saat ini. Rachel terus melangkah melintasi padang bunga Daffodil. Mengikuti setapak kecil  di bukit yang berujung pada lapangan besar di pinggiran kota.

Suara gesekan biola yang riang ditingkahi gelak tawa riang pengunjung Pasar Malam semakin jelas terdengar. Rachel bahkan bisa melihat kerlip lampu karavan-karavan Gipsi juga liukan ujung api unggun besar yang menyala di tengah lapangan. Langkah-langkahnya semakin cepat dan bersemangat. Lagipula ia harus bergegas agar bisa menikmati keramaian Pasar Malam dengan leluasa sekaligus pulang tak terlalu larut. Bulan yang bergeser akan membuat bukit menjadi lebih gelap dan menyulitkan perjalanan pulangnya.

Rachel terpaku dengan bibir sedikit terbuka. Pemandangan  Pasar Malam yang riuh kini terpampang di depan mata. Hingar bingar musik, seliweran pengunjung diantara karavan dan tenda warna-warni.  Beberapa badut melintas dan muncul tak terduga mengagetkan pengunjung. Rachel menelan ludah melihat meja kecil yang penuh permen kapas warna-warni di salah-satu sudut Pasar Malam. Untunglah tadi ia sempat membawa dompet kecil tempat ia biasa menyimpan uang-uang koinnya.

Perlahan-lahan ia menyusuri pinggir perkemahan yang melingkar. Meski pengunjung Pasar Malam ini cukup ramai tetap saja ia tak ingin berpapasan dengan seseorang yang mengenalnya dan tertangkap basah berkeliaran sendirian. Hukuman yang akan diterimanya dari Nana bisa sangat berat dan membosankan. Dengan hati-hati Rachel melangkah menghindari kaleng-kaleng bekas cat yang bergelimpangan di rumput atau perabot milik para Gipsi yang diletakkan begitu saja di belakang karavan mereka.

Sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari balik tenda bergaris-garis biru di depannya. Seorang pemuda yang mungkin seumuran dirinya dengan banyak pisau yang tergantung pada sabuk kulit menatapnya dengan pandangan tajam menyelidik. Rachel membalas tatapannya dengan ekspresi terkejut. Pemuda tadi dengan matanya yang coklat bening menatap gadis di depannya dari rambut hingga ujung kaki. Lalu bibirnya membentuk tarikan di sudut dan berlalu begitu saja tanpa berkata-kata. Rachel menatap kepergian pemuda itu dengan dada bergemuruh akibat terkejut sekaligus takut melihat kantung-kantung kulit berisi pisau di pinggangnya.

“Astaga Rachel… bisa saja ia  cuma seorang pelempar pisau,” bisiknya pada diri sendiri lalu tertawa kecil menertawai kebodohannya.

Diteruskannya langkah, ia ingin memulai petualangan ini dari tenda yang paling ujung. Tenda berwarna marun dan emas itu menarik hati Rachel. Gadis itu telah melihatnya  tadi di kejauhan saat ia memasuki area Pasar Malam.

Di depan tenda yang ditujunya, Rachel masih berdiri terpaku. Tangannya tanpa sadar mengelus tenda marun dengan pinggir berwarna keemasan. Tenda yang berdiri sedikit menjauh dari tenda-tenda lainnya ini sungguh berbeda. Rachel tak mengerti bagaimana bisa beledu yang selembut dan setebal  ini bisa dijadikan tenda.

“Kamu yang berdiri di depan, masuklah!” Suara perempuan terdengar dari dalam tenda. Rachel menoleh ke samping kanan-kiri memastikan dirinyalah yang dimaksud.

“Iya, kamu, Gadis Kecil,” suara dengan logat Gipsi dan aksen Eropa Timur itu kembali memanggil.

Sosok perempuan peramal dengan gaun penuh sulaman bunga-bunga kecil dengan warna cerah menyambut Rachel yang memasuki tenda. Rambut panjang yang gelap dan ikal tertutup sebagian oleh syal berwarna merah. Bibirnya disapu warna merah yang sewarna dengan cat kuku di jemari tangannya. Perempuan itu tersenyum.

“Masuklah. Jangan takut. Kau telah menempuh perjalanan yang panjang untuk sampai kemari, Gadis pemberani,”ujar peramal itu melambaikan tangan memerintahkan Rachel untuk duduk di kursi kecil. Rachel menurut. Kini, ia dan si peramal duduk berhadapan. Sebuah meja kecil dengan taplak ungu yang panjang hingga menyentuh lantai  tanah berada diantara mereka.

“Coba kulihat telapak tanganmu.”

Rachel mengangsurkan tangannya.

Perempuan peramal  itu mengusapnya sebentar.  Keningnya berkerut sedikit lalu senyumnya terkembang.

“Apakah garis tanganku menyedihkan?” tanya Rachel sedikit khawatir.

“Tidak. Sama sekali tidak. Bagiku, garis tanganmu menyenangkan.” Peramal itu mengerling sembari tersenyum misterius. Rachel dapat melihat sepasang matanya yang sehijau zamrud itu begitu kontras dengan kulit wajahnya yang berwarna zaitun. Peramal yang cantik, bisik Rachel dalam hati.

“Terimakasih. Kau juga cantik, Gadis yang kesepian.”

Rachel berjengit kaget.

“Kau bisa membaca pikiranku? Darimana kau tahu aku sering kesepian?” tanya Rachel bertubi-tubi.

Peramal itu melemparkan senyum yang seakan berkata,  aku seorang peramal, yang membuat gadis itu tersipu telah bertanya hal yang konyol.

“Dulu aku pun kesepian. Tapi sekarang tidak lagi.” Telunjuk peramal itu mengarah pada sebuah rak kaca mungil yang penuh berisi boneka-boneka cantik. Bermata besar  dengan warna rambut dan kulit yang berbeda-beda.  Rachel memekik kecil karena riang.

“Ada satu yang cocok untukmu.” Si Peramal berdiri dan membuka lemari kaca lalu mengambil salah-satu dari boneka-boneka cantik itu.

“Bagaimana menurutmu?”

Rachel menatap boneka yang kini telah berpindah ke tangannya dengan takjub. Rambut boneka itu berwarna pirang gelap seperti warna rambutnya. Bola matanya yang bulat juga berwarna biru terang sama serupa matanya. Bahkan juga tarikan bibirnya. Boneka itu serupa dirinya! Rachel seolah tersihir oleh hasrat yang begitu besar untuk memiliki boneka itu.

“Aku ingin memilikinya,”ujar Rachel. Matanya tak lepas memandang wajah boneka itu.

“Jangan.” Peramal itu menyahut pendek.

“Aku mau.” Rachel bersikukuh. Suaranya terdengar berat.

“Kau akan menyesal. Dia akan merebut jiwamu.”

“AKU TAK PEDULI!” teriak Rachel melengking. Dan tiba-tiba saja musik pasar malam terdengar lebih nyaring. Percakapan dan gelak tawa menjadi lebih riuh. Rachel merasakan sekelilingnya berputar cepat dan semakin cepat. Udara menjadi terasa berat dan gadis itu merasakan tubuhnya terhisap oleh sesuatu yang sangat kuat. Semakin ke dalam. Ia tercekik dan tak kuasa melawan. Matanya terasa berkunang-kunang, pandangannya mengabur. Samar-samar ia mendengar suara peramal itu berkata,”Nona muda yang kesepian dan pemberontak, selalu mudah terperangkap.”

Rachel tak sanggup lagi menyahut. Tubuhnya lemas dan kesadarannya setipis benang. Matanya seperti dibebani batu berton-ton beratnya. Suara-suara kini terdengar menjauh semakin jauh. Gadis itu terjatuh lunglai dan boneka ditangannya terlepas. Ia dan boneka itu tergeletak berhadapan dan dilihatnya mata biru milik boneka itu berkedip!

Rachel terkesiap bangun. Matanya terbuka nyalang menatap langit-langit. Dahinya terasa lembab dan rambut panjangnya lengket oleh keringat dingin. Mimpinya semalam mengerikan sekali. Ia bahkan tak mengira bahwa semua yang ia alami ternyata hanya  sebuah mimpi buruk. Terlalu nyata dan hidup! Kicau burung yang ribut, suara Thomas  si tukang kebun yang bertengkar dengan Nana merebut kesadarannya dengan sempurna. Rachel duduk bersandar pada kepala ranjang untuk meraih segelas air putih yang mungkin bisa meredakan debar jantungnya. Ingatan gadis itu melayang pada kedipan boneka gipsi di mimpinya semalam. Kengerian kembali mencekik tenggorokan.  Segera diteguknya tandas isi gelas itu lalu  ia hembuskan nafas panjang sesudahnya. Mencoba mengusir ketakutan.

Tiba-tiba matanya menangkap warna kuning dari kelopak Daffodil di ujung bawah selimutnya. Wajah Rachel seketika memucat dan jantungnya seolah berhenti.

Sebuah ketukan di pintu dan tubuh besar milik Nana memasuki kamar Rachel.

“Selamat pagi, Kenapa kau begitu pucat seperti baru melihat hantu?”

Rachel menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak ada apa-apa, Nana. Sungguh,”  ujarnya berusaha meyakinkan Nana.

“Apa itu yang kau bawa?” Rachel menunjuk bungkusan besar berpita yang dibawa Nana.

“Oh, seorang kurir mengantarkannya untukmu pagi ini. Tapi aku tak mendengar dengan jelas nama pengirim yang diucapkannya. Bahkan kartu kecil si pengirim entah menyelip kemana.” Nana menggelengkan kepala dengan rupa prihatin.

Rachel membuka simpul pita bingkisan itu, membuka kotaknya dan jantungnya mencelos. Sedetik kemudian jeritannya  melengking terdengar ke penjuru rumah. Kotak bingkisan itu terlempar keras, dan isinya terguling di lantai.

Sebuah boneka berambut pirang gelap dan bermata biru mengedip padanya.

 

Credit:

http://www.vividscreen.info