Senja Merindu Pulang

Pulang.

Kata itu seperti mantra yang merasuk dalam pikiran bawah sadarku. Memompa semangat hidup yang mengalir dalam aliran darah. Membuat tubuh tua ini mendadak bugar dan bergas. Perawat-perawat  menggoda perubahan aura ini. Kutanggapi guyonan mereka dengan senyum kecil. Perawat di klinik ini mungkin usianya sebaya anak lelakiku, Trisno. Baru belakangan aku memperhatikan mereka dengan seksama, lalu timbul kerinduanku lagi pada anak semata wayangku itu. Menghabiskan nyaris seluruh hari untuk menghadapi sekumpulan orang gila dan depresi berat sepertiku tentu bukan pilihan yang menyenangkan.

Trisno, bocah lelaki satu-satunya hasil cinta antara aku dan istriku, Lastri. Perempuan yang kucintai sepenuh hati. Meski berpuluh tahun bersama, kami kerap bertatapan penuh kerinduan. Bagiku, Lastri bukan sekedar simbol keberhasilan seorang pemuda yang berhasil menyunting gadis paling cantik di kampung.  Ada energi kehidupan yang mengalir dari sosoknya yang hilir-mudik membereskan ini dan itu di setiap sudut rumah kami. Saat Trisno masih kanak-kanak, Lastri kerap mendongeng dengan kisah yang entah berasal dari mana. Mungkin ia merekanya sendiri, karena aku tak pernah mendengar  kisah-kisah itu sebelumnya. Saat itu, suaranya ringan mengalun naik-turun menghantarkan kehangatan yang menyihir. Tak hanya Trisno kecil, aku pun menatapnya tak berkedip. Terkesima.

Aku memuja istriku. Kenyataan yang menjadi sumber ejekan diantara kaum pria di desa kami. Mungkin di lubuk hati kawan-kawanku itu sebenarnya tumbuh bibit kecemburuan karena istri-istri mereka tak pernah menatap seperti Lastri menatapku.  Namun, tak hanya mereka, Tuhan pun kerap cemburu pada kebahagiaan yang Ia ciptakan sendiri.

Pada pagi yang buta, Ia memanggil Lastri pulang dengan lembut. Namun merenggut kebahagiaanku dengan kasar. Seolah tangan besar yang gaib, Ia mencerabut satu-satunya pohon tempatku meneduhkan segala kesah dan lelah. Hatiku rekah berdarah shubuh itu.

“Pak Darmo sudah bersiap untuk pulang, ya?” Perempuan berkulit terang dan berjas putih  itu menghampiriku di kamar. Di belakangnya seorang laki-laki bertubuh gemuk dan berwajah ramah mengikuti.

“Iya, Dok,” anggukku sambil menarik resleting tas.

Perempuan yang kupanggil ‘Dok’ dan lelaki tadi saling bertatapan.

“Begini Pak Darmo, saya sudah berbicara dengan pemilik yayasan klinik ini. Beliau mengijinkan jika Bapak menetap di klinik ini. Bapak bisa melakukan apa saja untuk membantu di sini. Seperti yang sudah Bapak lakukan selama ini.” Lelaki yang menjadi Kepala Klinik itu memegang pundakku. Setiap kata diucapkannya perlahan seolah takut menyakitiku. Aku menunduk, beberapa saat menekuri lantai kamar yang menguarkan aroma karbol.

“Terima kasih Pak Kemal, Dokter Linda,” Akhirnya kuangkat kepala dan tersenyum pada dua manusia berhati malaikat di depanku. “Hari ini sudah tahun ketiga saya di sini. Saya yakin, tahun ini Trisno akan menjemput saya pulang seperti janjinya.”

Terdengar tarikan nafas Dokter Linda.

“Tahun ini, Trisno akan datang menjemput. Saya yakin. Saya tahu itu,” ujarku sungguh-sungguh. Kugenggam telapak tangan kanan Dokter Linda agar ia bisa merasakan kuatnya keyakinanku. Sorot mata perempuan muda itu melembut, ganti ditepuknya genggamanku dengan sebelah tangannya yang lain.

“Saya mengerti, Pak. Saya mengerti.” ujarnya lamat-lamat.

“Sampai kapan pun, klinik ini terbuka untuk Pak Darmo.” Pak Kemal menyambung perkataan Dokter Linda.

“Boleh saya menunggu Trisno di beranda klinik?” tanyaku padanya sembari merapikan letak peci.

“Tentu. Tentu, Pak Darmo. Silahkan.”

Entah sudah berapa jam aku duduk di bangku panjang berwarna putih di teras klinik. Secangkir kopi hitam telah tandas isinya. Ujang, salah seorang pasien yang dikaryakan di klinik ini setelah sembuh, datang menawarkan secangkir lagi. Aku menolak dengan ucapan terimakasih. Lastri tak suka jika aku meminum kopi terlalu banyak.

Sudah empat tahun lebih Lastri meninggalkanku tapi aku masih mengingat semua hal kecil tentang dirinya. Mungkin diamku selama setahun setelah kepulangannya itu berhasil mengendapkan segala keping kenangan. Sejak sehari setelah Lastri dimakamkan, bibirku seperti terkunci. Sepanjang hari aku berkeliaran di sudut-sudut rumah. Membisu meresapi setiap partikel udara yang menggumamkan aroma Lastri. Dengan tekun memungut ulang semua cerita bersama Lastri yang pernah terjadi di setiap penjuru rumah. Menyusunnya kembali menjadi sepotong kenangan yang utuh. Aku melakukannya dalam diam. Aku takut, jika aku bersuara maka kenangan itu akan ambyar keluar bersama suaraku. Persis seperti kepingan puzzle yang ditumpahkan seorang bocah.

Trisno terus mencoba mengajakku bicara. Aku bergeming. Aku telah kehilangan Lastri, aku tak ingin kehilangan kenangannya. Tetangga-tetangga, kawan-kawanku di kedai kopi datang silih berganti untuk memancingku membuka mulut. Mereka bergantian mengisahkan cerita lucu berharap aku terbahak. Kali lain mulut mereka berbusa dengan kalimat penghiburan untukku. Suatu hari mereka datang dengan gosip dan guyonan cabul tentang janda kembang dari desa sebelah.  Saat itu ingin kuhardik mereka karena telah lancang memadankan Lastri dengan perempuan yang sosoknya mengendap dalam pikiran liar setiap lelaki. Dengan mulut tetap terkunci, aku memukul meja dengan keras. Cangkir kopiku melompat, menumpahkan isinya yang tinggal setengah. Rupa-rupa kaget menatapku terperangah. Aku bangkit dengan kasar hingga kursi rotan yang kududuki terjengkang. Kutinggalkan tamu-tamu kurang ajar itu di teras rumah.

Dari ruang tengah, kudengar derum halus motor Trisno memasuki halaman. Lalu seperti dengung lebah, lelaki-lelaki yang kotor pikirannya itu menyambut kedatangan anakku dengan cerita tentang kemarahanku tadi.

“Bapakmu wis edan, Le!” pungkas mereka di ujung cerita. Tak ada sahutan dari Trisno. Dadaku berdebar menanti jawaban yang keluar dari anakku itu. Mungkin ia akan mengiyakan perkataan itu dengan rasa malu.

“Bapak tidak gila. Bapak mungkin terguncang dengan kepergian Ibu, tapi Bapak tidak gila.” ucap anakku jelas dan tegas. Hatiku seketika bungah mendengar bela rasa yang dilakukan anakku satu-satunya itu. Sosoknya yang jangkung kemudian memasuki rumah, menghampiri dan mencium tanganku. Tersenyum dan mulai bercerita tentang harinya seperti biasa. Sejak hari itu, tak ada lagi tamu yang mengunjungiku.

Hari semakin sore. Angin yang bertiup semilir semakin terasa teduh. Satu dua flamboyant berwarna senja gugur terbawa angin. Udin, satpam klinik mengawasiku dari posnya di gerbang pagar. Sesekali kulihat ia menggelengkan kepala.  Beberapa perawat yang sepertinya sengaja diperintah Pak Kemal melintas menyapaku. Bahkan Dokter Linda sesore ini belum juga pulang. Padahal jam kerjanya di klinik ini telah usai.

“Saya menunggu Pak Darmo benar-benar telah dijemput,” jawabnya saat kutanya. Aku terharu mendengarnya. Beberapa orang di dunia ini memang beruntung. Hidupnya dikitari oleh orang-orang yang penuh kasih. Aku termasuk mereka yang beruntung itu.

Aku tahu, separuh penghuni klinik mengkhawatirkanku sore ini. Ini pertengahan April yang ketiga aku seharian duduk di bangku panjang putih di teras klinik. Menanti Trisno datang menjemput dan mengajakku pulang ke rumah seperti janjinya. Setelah ia menitipkanku di klinik ini saat akan memulai pekerjaannya di sebuah kapal pesiar.

Malam itu Trisno tiba-tiba bersimpuh di kakiku. Dengan terbata ia menceritakan tentang panggilan kerja di kapal pesiar yang ia terima. Juga kekhawatirannya jika meninggalkanku seorang diri selama berbulan-bulan.

“Kalau Bapak tidak berkeberatan, saya ingin menitipkan Bapak di sebuah klinik rehabilitasi gangguan mental dan kejiwaan. Saya ingin Bapak dirawat, dijaga dan mendapatkan pengobatan di sana selama saya berlayar.”

Aku terkesiap. Gangguan mental dan kejiwaan?

Aku menunduk mencari wajah Trisno dan kembali terkesiap. Kedua tangan anak itu gemetar mencengkram ujung sarungku.

“Maafkan Trisno, Pak. Sa-sa-saya rindu ngobrol dengan Bapak lagi seperti dulu,” ujarnya takut-takut. Lalu bahunya berguncang pelan lalu telingaku menangkap tangisannya yang lirih. Hatiku remuk. Anak laki-lakiku menangis oleh sebab aku. Aku pun  sebenarnya merindukan masa-masa itu. Beberapa  kali sempat aku ingin membuka percakapan. Namun kata-kata seolah tertahan di ujung tenggorokan. Rasanya seperti sebongkah kepedihan menjepit pita suaramu usai tangisan yang panjang.

Kuraih bahu tegap milik anakku itu. Kutatap dalam-dalam matanya dan kuanggukan kepala. Trisno benar, aku butuh perawatan dan pengobatan. Telah kubuat luka sendiri dan kukorek dari hari ke hari hingga meradang. Harus segera kuobati luka itu jika tak ingin bagian hidupku hilang diamputasi.

Jika waktu lalu anakku dengan tegas dan jelas membela kewarasanku maka hari itu kubela anakku dari cibiran tetangga sebagai anak durhaka. Kutegakkan punggung  dan  sekali lagi kuanggukkan kepala sembari tersenyum. Esoknya, aku resmi menjadi penghuni Panti sekaligus Klinik Urip Asih.

Senja semakin jingga. Angin sepoi kini terasa menggigiti tulang dan persendianku. Aku sudah semakin tua, Lastri, bisikku dalam hati. Anak lelaki kita mungkin terlalu sibuk untuk menjemputku. Sudah tiga tahun, barangkali ia sudah berkeluarga saat ini. Ah, kita mungkin sudah memiliki menantu atau bahkan cucu. Seorang cucu perempuan yang cantik dan periang. Itu yang kau rindukan, kan?

Aku memejamkan mata. Kelopak mata yang kendur dan penuh kerut itu semakin berat saja karena menahan genangan yang ingin tumpah.

Rupanya aku sungguh-sungguh telah menua Lastri. Seorang tua yang cengeng. Tapi ini sudah tiga tahun, Lastri. Aku kangen anakku. Aku ingin pulang…

Tubuhku berguncang. Aku terisak tanpa sanggup kutahan lagi. Bendunganku bertahun-tahun jebol sudah.  Bahuku melorot dan punggungku meringkuk bungkuk.

“Aku ingin pulang. Aku ingin pulang…” ucapku lirih di antara sedu sedan yang mirip tangisan bocah ketika sepasang lengan hangat penuh kasih sayang memeluk dan menuntunku kembali masuk ke klinik.

Di balik batang pohon Flamboyan, sepasang sosok tak kasat mata menatap tubuh tua Darmo dari kejauhan. Sosok mereka perlahan berangsur mengabur seperti kabut yang menipis di pegunungan. Lembut angin sore meniupkan wangi khas yang menandai kehadiran Lastri dan Trisno sepanjang sore itu. Pesan  untuk Darmo yang tak pernah sampai.

 

 

 

 

Senja Kala

Angin musim ini bertiup kencang menyisakan gemeletuk pelan di rahangnya dan ngilu tertinggal diantara persendian tulang. Dedaunan kuning kemerahan berserakan layu di jalan setapak lembab yang dilewatinya. Gadis itu melangkah cepat tak hirau pada selendang hangat yang  bergeser turun memamerkan bahunya yang terbuka. Kabut tipis sedikit demi sedikit mulai turun. Ia mempercepat langkahnya. Mengejar jingga matahari sebelum langit menurunkan tirainya yang biru beledu. Terengah-engah ia mendaki setapak menuju puncak.

Matahari tepat berada di batas horison ketika akhirnya ia sampai ke sisi gunung yang dituju. Senyum terkembang manis di wajahnya yang pucat dan basah oleh peluh. Perlahan disusuri lembah sisi gunung itu mencari tebing  milik kekasihnya. Tebing kekasihnya, begitu ia menyebut tebing di sisi gunung itu. Tebing dimana kekasihnya sering duduk  berjam-jam lamanya.

Apa yang kau lakukan disini selama berjam-jam lamanya? Tanya gadis itu suatu hari.

Aku bisa melihatmu dari sini, jawab kekasihnya.

Gadis itu lalu memicingkan matanya. Ia bisa melihat rumahnya yang berhalaman luas dan dikelilingi pagar yang tinggi. Rumah milik Sang Adipati.

Perlahan-lahan gadis itu melangkah mendekati ujung tebing.  Kini ia telah berdiri di ujungnya. Angin menderu-deru di telinga. Menebaskan ujung rambut ke wajahnya sendiri. Menyisakan perih serupa tamparan di pipinya. Atau mungkin itu memang perih tamparan? Yang ditinggalkan oleh tangan besar milik Sang Adipati di wajahnya. Gadis itu enggan memikirkannya. Langit hampir berubah warna. Ia memejamkan mata. Mengingat kilasan-kilasan kisah antara dirinya dan kekasihnya. Airmata merembes dari sela-sela bulu matanya, perlahan jatuh di pipi.

Sepenuh hati gadis itu mengumpulkan keberaniannya yang terserak bersama kepedihan dan getir hati. Kakinya kini bergeser semakin ke ujung. Angin masih menderu-deru namun kini seolah memanggil namanya. Namanya? Gadis itu itu berusaha menajamkan telinga. Hanya deru angin terdengar. Ia menghela nafas, menenangkan gemuruh hatinya. Sang Hyang Widhi  ampuni aku, di kehidupan berikutnya, aku mohon ijinkan kami. Sebuah nama meluncur dari bibir pucatnya yang bergetar. Lalu dalam hitungan detik gadis itu melemparkan tubuhnya ke jurang yang menganga dalam di bawah tebing

Langit kini sempurna biru beledu. Gadis itu membuka matanya. Tubuhnya mungkin penuh luka mungkin juga tidak, entahlah ia tak bisa merasakan apapun. Kecuali hawa dingin yang sedikit demi sedikit mengalir ke atas tubuhnya.

Sona.. Sona…  Sonakshi…

Ia tersenyum. Kekasihnya memanggilnya. Kekasihnya menjemputnya di sini, tempat yang sama di mana mayat lelakinya di jatuhkan.

SONAKSHIIIII…

Panggilan itu kini menjadi gema. Terlalu nyata untuk sebuah delusi.  Sonakshi mengenal suara yang terus-menerus memanggilnya. Semuanya kini terlihat begitu jelas.

Di tengah dingin yang kini terasa mencabik-cabik tubuhnya, Sonakshi tiba-tiba ingin tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang dipermainkan waktu.  Parakram belum mati. Mereka tak membunuhnya. Dia yang diinginkan untuk mati. Adipati keparat itu tahu ia akan melakukan hal tolol ini. Dan Parakram akan menangisi kematiannya sepanjang usia. Memisahkan mereka pada kehidupan yang berbeda dan membiarkan mereka saling menangisi seumur hidup, tak ada lagi pembalasan dendam yang lebih menyakitkan daripada ini.

Sonakshi merasakan nyeri terbakar di ujung nafasnya. Waktunya telah tiba, Sonakshi  berbisik pada dirinya sendiri.

Parakram, tunggulah aku. Tetaplah menungguku.

Senja telah usai dan gemintang berkelip satu-satu. Sonakshi menutup matanya pelahan. Diatas tebing, seorang lelaki mengeluarkan jeritan pilu memanggil namanya.

Credit:

https://stocksnap.io/photo/ISJPOX8JCR